KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 39


__ADS_3

Di rumah sederhana kawasan pedesaan Juna dan Mora tiba di sana dengan hati berbunga-bunga. Juna telah mendapatkan Ridha dari kedua orangtuanya untuk pindah rumah, sepasang pengantin baru itu beralasan bahwa mereka ingin suasana sejuk pedesaan.


Rani mengantarkan Juna dengan rasa haru, hatinya pilu mengingat bahwa dirinya kini harus tinggal sendiri jika suaminya berangkat ke Turki untuk menjalankan bisnisnya.


"Sayang baik-baik di sini," perintah Rani pada anaknya yang tak lama lagi akan berpisah dengannya.


"Pasti, Ma," jawab Juna memeluk erat tubuh Rani yang hendak berpamitan pulang.


"Kalau Juna nakal telpon mama ya, Sayang!" Wanita modis itu beralih memeluk tubuh mungil Mora, keduanya larut dalam balutan air mata.


"Kami akan sering jenguk Mama, seminggu sekali kalau bisa setiap hari," jelas Mora, wanita mungil itu menyeka air matanya.


"Jaga kehamilannya, jangan banyak beraktivitas. Kalo capek suruh bodyguard nyuci, ngepel sama nyetrika juga masak," papar Rani di sambut tawa oleh putranya. Rani menyadari anaknya tak memiliki peralatan rumah tangga seperti di rumahnya.


"Siap Nyai Ratu," seloroh Juna membuat suasana sendu sedikit mencair. Rani berpamitan pulang kerumahnya meninggalkan anak dan menantunya untuk memulai kehidupan mereka yang baru.


Mobil mewah Rani berhanan berputar meninggalkan halaman kecil kediaman Juna Andara, atas izin Allah dirinya bisa hidup dan bersama dengan belahan jiwanya saat ini. Keduanya masuk kedalam rumah saat ibunya Juna Andara itu telah benar-benar hilang dari pandangan mereka.


"Mas," ucap Mora melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dengan begitu manja.


"Ya, sayang." Juna menyentuh pelan hidung kekasih halalnya itu.


"Aku khawatir mama tinggal sendirian," jelas Mora dengan raut sedih.


"Ada bik Inah. Papa juga katanya ga akan balik ke Turki, semalam saat aku dan papa duduk di balkon ...." Juna menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Papa mau menjual semua kebun anggur sekaligus pabrik pembuat selai miliknya, walau sayang karena itu usaha turun temurun tapi papa harus ikhlaskan demi mama, karena mama dari dulu ga pernah mau pindah ke Turki," papar Rosan dengan raut sedih, perlahan tubuh mungil Mora ia gendong menuju sofa dan duduk, lalu memangku kekasih halalnya layaknya anak kecil.


"Lalu?" Wanita cantik yang sedang hamil itu memandang wajah suaminya lekat.


"Lalu papa dan mama akan bulan madu seperti kita," seloroh Juna, setelahnya Juna tergelak. Mora hanya tersenyum kecil.


Juna menangkupkan tangannya di wajah Mora, rasanya ia seperti bermimpi memiliki kekasih halal yang setia bersamanya saat ini.


Tujuan juga pindah ke desa juga tak lain untuk menghindari Putri dan keluarganya, bukan takut mereka mengancam tapi lebih takut jika kekasih halal yang telah ia perjuangkan meninggalkannya suatu saat nanti. Bukankah jika mengetahui dari orang lain masa lalu orang yang kita cintai itu lebih menyakitkan.


Laki-laki bertubuh atletis itu sebelum pindah ke desa juga sudah menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang pernah mengontrak di rumah mendiang Narsih, Mora tak melihat kakak angkatnya itu tapi ia merasakan curiga saat orang yang mengontrak di situ mengatakan Kakaknya meninggalkan kopernya di sini dan koper yang di tunjukkan sama seperti milik Rani yang pernah ia lihat. Masih berpikiran positif thinking, mungkin warna sama karena di toko tak selamanya menjual limited edition. Yang limited edition itu suaminya Mora, laki-laki garang dan galak yang berubah lembut dan menjadi budak cinta.

__ADS_1


Jangan melamun," ucap Juna menguncangkan tubuh Mora yang menatap kosong kearah jendela.


"Eh. Aku hanya kepikiran sama mbak Yuli," ujar Mora mengutarakan isi hatinya.


"Biarkan dia dengan kehidupannya dan kamu bersamaku," kata Juna mempererat pelukannya, namun wanita hamil itu hanya diam.


"Mora." Panggil Juna saat menyadari kekasih halalnya itu terdiam kembali.


"Heum." Jawaban candu itu membuat Juna ingin memangsa Mora secepatnya.


"Jika masa laluku begitu buruk, apa kamu masih sanggup bertahan denganku?" Kata Juna, tangannya menarik dagu sang istri agar menatap dirinya.


"Aku menerima apapun masa lalumu, Mas." Mora menjatuhkan bulir bening mengingat perkataan Rani saat di rumah sakit.


"Jangan menangis!" Laki-laki bertubuh atletis itu memeluk Mora, membiarkan kekasih halalnya menumpahkan kekesalan di dada bidangnya. Mengiring pelan tubuh mungil Mora menuju ranjang.


"Mas, seberapa buruk masa lalumu?" Tanya Mora mengangkat wajahnya dan menatap manik mata suaminya.


"Sangat buruk dan aku menyesal," ungkap Juna.


"Ceritakan padaku, aku siap mendengarkannya." Mora menepuk tempat ranjang di sebelahnya menyuruh Juna Andara berbaring di sampingnya.


Juna menghela napas panjang dan berbaring di samping kekasih halalnya, tubuhnya kini tak berjarak, napas keduanya saling terasa.


"Aku penzina dan pembunuh ...." Ucapan Juna tertahan saat istrinya membekap mulutnya sendiri.


"Sayang. Apa kamu masih sanggup mendengarkan?" Sambung Juna menatap manik mata yang berembun itu. Mora Cantika hanya menganggukkan kepalanya.


"Wanita yang bernama Putri mengatakan aku telah menghamilinya dan anaknya sekarang berusia tiga tahun lebih kurangnya. Aku ragu anak itu bukan anakku, karena berdasarkan hasil ters DNA mengatakan bisa jadi dia anakku dan bisa juga bukan," papar Juna, setelahnya nghela napas berat.


"Terus?" Tanya Mora pada laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu. Hanya itu yang mampu ia ucapkan, karena sesak di dadanya begitu terasa.


"Demi Allah aku menyesalinya, aku menghilangkan banyak nyawa hanya demi uang," jelas Juna sambil menyeka sudut matanya yang berair. Tangan bidadarinya ikut mengusap sisa bulir bening di mata Juna.


"Aku pernah memaksa lalu merengut paksa kesucian seorang gadis tuna netra dulunya ...." Lagi-lagi tenggorokan Juna tercekat, begitu juga Mora merasakan seperti ada bongkahan batu besar di tenggorokannya saat ini.


"Apa wanita tuna netra itu aku, Mas?" Tanya Mora, wanita cantik itu bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


"Aku berharap wanita yang telah kurenggut paksa kesuciannya tak pernah sembuh dari hilang ingatannya saat ini," kata Juna, laki-laki bertubuh atletis itu ikut bangkit dari tidurnya agar bisa menatap kkeasih halalnya.


"Aku sudah ingat semuanya, Mas, saat kecelakaan itu berlahan mengembalikan ingatanku," uncap Mora pelan, bulir bening terus berlomba turun dari kelopak mata cantik Mora.


"Jangan membenciku aku siap jika harus kamu perlakukan kasar dan tidak manusiawi asalkan aku mampu menebus dosaku padamu," kata Juna dengan suara bergetar, tubuh atletis itu memeluk erat tubuh Mora yang tergugu.


"Bagaimana bisa aku membenci suamiku. Aku sudah berjanji aku akan melupakan masa lalumu, Mas." Mora menyeka sudut matanya yang masih berair.


Tuhan menciptakan hati selembut sutra dan bening seperti telaga, suci seperti bayi. Mora wanita langka yang Allah takdirkan untuk mengubah sikap dan prilaku bejat Juna.


Keduanya terlarut dalam keadaan haru dan sendu. Keduanya terlelap tanpa ada adegan sensor suami istri, hati yang masih menyisakan perih tak mampu untuk bersatu sementara waktu.


Malam terus merangkak naik, semakin kelam lalu berganti pagi yang indah.


Susana mendung mencekam, awan hitam bergelayut manja, seperti layaknya hati manusia yang dalam satu ikatan merasakan kesedihan yang luar biasa. Mora yang berniat mbalaskan dendamnya namun ia urungkan karena orang itu kini sudah bertahan dan bertahta di hatinya.


"Selamat pagi, bidadariku," bisik Juna di telinga Mora di iringi kecupan lembut di pipi Mora saat mentari sudah sedikit tinggi.


"Astagfirullah." Mora menyentuh kepalanya dan dadanya.


"Apa aku terlihat seperti hantu?" Tanya Juna memandang heran kearah istri mungilnya, sementara Mora tersenyum kecil menanggapi perkataan suaminya itu.


"Aku kebablasan ga salat subuh," Mora menepuk jidatnya beberapa kali.


"Tidurmu terlalu nyenyak. Aku ga tega bangunin," jelas Juna berekspresi memelas, dirinya merasa bersalah.


"Mas. Kamu berkewajiban menuntun istri menjadi lebih baik, bukan tambah buruk!" Kesal Mora hanya di tanggapi anggukan oleh suaminya itu.


Juna sudah melaksanakan salat dan meminta ampunan pada sang maha kuasa lalu menghidangkan roti bakar ala kadarnya karena mereka belum berbelanja ke pasar yang agak jauh dari kediaman mereka.


.


.


.


Terkadang cinta juga dapat menghilangkan akal sehat manusia.

__ADS_1


__ADS_2