KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 12


__ADS_3

Juna dengan hati yang gundah setelah pertemuan sekian kali dengan Putri betapa kini ia menyadari bahwa dirinya egois. Bimbang di hatinya terus menyelimuti, ia raih gawainya di nakas menelpon nomor seorang dokter yang begitu ia kenal.


"Erin, bisa ga kamu bantu aku?" Tanyanya ragu.


"Bantu apa, Pak Juna Andara?" Kekehnya membuat Juna mengulum senyum. Erin sahabatnya yang baru pulang dari Hongkong kini bergelar dokter.


"Kebiasaan manggil Pak. Perasaan ga tua banget."


"Tua kamu kan? Buktinya kita beda lima tahun."


"Iya deh iya, terserah anda. Aku mau cek DNA seseorang," ungkapnya.


"Berapa usianya?" Tanya Erin memastikan agar yang di cek tidak keberatan.


"Masih bocah, usianya masih tiga tahun. Aku ragu dia bukan anakku," terangnya. Memang itulah kenyataannya.


"Baik. Ambil saja rambutnya atau kukunya," jelas Erin.


"Playboy lu ga habis-habi. Dasar buaya," kekehnya. Membuat Juna ikut terkekeh. Memang dia banyak melakukan dengan wanita yang menyukainya tapi dia tak pernah mencintai wanita itu, anjing jika di kasih danging pasti dimakan dengan lahap.


_____


Di tempat lain wanita dengan penampilan modis selalu tampil cantik itu hadir di sebuah acara yang di adakan temannya. Banyak emak-emak seusia dirinya mengandeng putrinya dalam acara tersebut. Sedangkan Rani hanya datang sendiri dengan balutan dres merah marun membuat tampilannya semakin menawan.


"Rani...." Seseorang melambaikan tangan kearahnya.


"Hei, Rosa."


Wanita itu mendekat kearah Rani bersama seorang wanita muda cantik yang usianya masih dua puluh dua tahun.


"Anaknya, Jeng?" Ucap Rani melirik dan memperhatikan wanita muda itu.


"Ya, cantik kan?" Kekehnya membuat Rani ikut tersenyum dan gadis itu menunduk malu.


"Anak Jeng yang duda itu kayaknya cocok tuh," sambung temannya Rani itu.


"Tau tuh. Betah banget jadi duda," jawabnya kesal. Sudah sering memang Rani menyuruhnya menikah lagi agar Rani ada yang menemani shopping atau sekedar makan bersama bahkan Rani begitu rindu ingin memiliki cucu.


"Besok kita kenalin aja, Jeng."


"Boleh-boleh," jawab Rani setuju. Setelahnya mereka melanjutkan makan dan pulang.


_____


Juna melajukan mobil menuju kediaman Putri, bukan rindu melainkan ingin mengambil rambut Cika untuk melakukan tes DNA agar hati dan pikirannya tak terganggu dan juga merasa puas.


Berhenti di toko mainan, membeli beberapa mainan juga boneka bear besar untuk balita itu agar hatinya senang. Melalui rak yang tersusun rapi di toko sambil membawa boneka beruang besar tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita muda berhijab, hingga barang yang dia bawa terjatuh dan memungutnya sendiri. Juna berusaha membantu namun wanita itu terlebih dulu mengambil barang miliknya hingga tangan keduanya bertaut.

__ADS_1


"Maaf."


Kata itu keluar dari mulut mereka bersamaan. Manik mata keduanya saling bertemu. Mata Juna menelisik keseluruhan wajah cantik itu.


"Mora," ucapnya, hingga wanita yang mendengar itu menautkan kedua alisnya.


"Maaf, Mas." Wanita itu bangkit setelahnya berlalu meninggalkan Juna yang mematung.


"Mora tunggu," teriaknya, hingga langkah wanita itu terhenti dan beberapa pasang mata mantap kearahnya.


"Maaf, nama saya Aqila," tersenyum kecil kearah Juna.


Juna terpaku tanpa berkedip. Wajahnya bersemu, ada getar hebat di dalam sana. Bongkahan kecil itu berdetak begitu cepat tanpa bisa ia kendalikan, laki-laki berwajah Korea itu menyentuh dadanya getaran itu membuatnya sulit melangkah hingga wanita yang dipandang menghilang dari pandangan.


"Mas, kita mau lewat. Jangan halangi jalan dong. Dah tau sempit," celetuk emak-emak di belakang tubuh sispack Juna.


"Maaf, Mbak," kata Juna lalu berlalu menemui kasir dan membayar mainan dan boneka yang ia beli.


Pikirannya masih pada wanita tadi. Pipi hidung, bibir bahkan senyuman itu sangat mirip dengan istrinya hanya saja wanita ini dapat melihat. Bukankah memang di dunia ini ada kembaran tujuh rupa yang sama, mungkin ini salah satu kembaran wajah Mora.


Melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan sedikit padat di sore hari, semua demi bukti yang masih ia ragukan.


Pikirannya kacau, masih terbayang gadis yang ia tubruk di toko mainan itu. Gadis atau milik orang ia tak peduli, saat ini hanya ingin bertemu hanya sekedar untuk mengobati rindu.


Lima belas menit perjalanan akhirnya sampai di rumah Putri, wanita itu tinggal sendiri, ia tak pernah ingin merepotkan ibunya atau ayahnya. Mandiri lebih baik kata wanita cantik itu.


Wanita cantik itu tersenyum kearah Juna, sosok yang selalu ia kagumi. Juna turun tanpa mengulas senyum sedikit pun, menenteng boneka dan beberapa mainan anak-anak.


"Kamu kenapa, Sayang?" Wanita cantik itu memulai percakapan dengan laki-laki yang ia anggap kekasih, padahal Juna tak pernah menggap begitu.


Mana Cika?" Bukan menjawab tapi justru bertanya keberadaan anak yang membuat dirinya penasaran.


"Di dalam. Kaget dia dengar suara mobil kamu kali," jawabnya seolah apa yang ia katakan benar adanya. Padahal Putri menyuruhnya masuk karena dia ingin berdua dengan Juna.


"Aku mau kasih ini untuk Cika."


"Nanti aja, biar aku yang kasih."


"Aku mau bertemu dia, paham!" Jawab Juna penuh penekanan.


"Cika!" Teriak Juna di ambang pintu. Bocah kecil yang sedang duduk di ruang televisi langsung berlari kearahnya.


"Ya. Papa," jawabnya sambil berlari dengan suara yang begitu menggemaskan.


"Papa bawa hadiah," ujar pria berwajah Korea itu, dengan berat hati mengatakan dirinya papa, tubuhnya berlutut mensejajarkan diri dengan bocah kecil yang polos itu. Memberikan banyak mainan dan boneka besar tak membuatnya merugi.


"Rambut Cika kok ada rumah laba-laba, Cika habis main di mana?" Tanya Juna seolah benar adanya. Tangannya mengusap kepala Cika sedikit kasar seolah membersihkan sarang laba-laba, padahal ia lakukan agar rambut Cika rontok beberapa helai.

__ADS_1


'Beres,' batinnya. Ia bangkit lalu mengusap sekali lagi rambut Cika. Putri hanya diam saja dan duduk di bangku teras memperhatikan tingkah mereka, tak menaruh curiga sama sekali ada ayah biologis anaknya itu.


"Kalo begitu aku permisi, ada banyak hal yang harus kukerjakan," katanya pada Putri.


"Aku masih kangen," sahutnya dengan nada manja, namun Juna abai dan berlalu.


Tangannya melambai pada Cika yang melihat kearahnya lalu bocah itu kembali sibuk memainkan mainan baru yang banyak di hadapannya. Ia keluar dari rumah itu dengan perasaan bersalah. Jika menelan mentah-mentah perkataan wanita cantik itu ia takut jika anak itu bukan anaknya. Jika memberitahu pada Putri tentang tes DNA yang bia lakukan ia juga takut jika Putri akan berbuat licik atau bahkan menukar hasil tes DNA tersebut.


Juna tak langsung kembali ke kediamannya. Melainkan menemui sahabatnya Erin di rumah sakit. Erin yang kebiasaan tidak pernah bertemu dengan laki-laki di luar membuat dia paham betul harus menemui sahabatnya di mana.


"Rin, aku di RS tempat kamu tugas." Satu pesan ia kirimkan pada sahabat semasa ia kecil dulu.


"Ya, aku kedepan sekarang." Tak lama langsung ada balasan dari wanita tinggi dan hitam manis itu. Beberapa detik menunggu Erin keluar dengan gamis dan jilbab putih dan perut sedikit menonjol, wanita itu menghampiri Juna menatap kearahnya tersenyum bahagia.


"Hamil? Anak aku bukan?" Kekehnya membuat Erin terbahak.


"Kita tak pernah satu kamar, Bos," jawab Erin membuat Juna terbahak memegang perutnya.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Erin memulai obrolan serius. Mengingat banyak pasien menunggunya dan pekerjaan menumpuk.


"Ini, beberapa rambut anak itu. Entah kenapa walau aku seperti ada ikatan batin pada anak itu tapi hati kecilku mengatakan dia bukan anakku," jelas Juna panjang lebar, agar sahabatnya itu mengerti keadaan dirinya saat ini.


"Halah. Tinggal nikah aja, emaknya pasti cantik. Aku tau banget sifat kamu, uang aja harus yang bagus kalo ga bagus ngamuk. Wanita pasti cantik juga. Jangan bilang suka sama wanita burik," kekehnya membuat Juna tersenyum simpul.


"Nikah ga semudah apa yang kamu pikirkan," jawabnya singkat. Padahal hatinya masih terpaut pada wanita cantik yang mampu meluluh lantakkan hatinya. Erin menerima beberapa helai rambut yang telah ia masukkan ke dalam plastik.


"Hasil akan keluar satu atau dua Minggu," jelas Erin memperhatikan helai rambut halus itu.


"Ga bisa lebih cepat Buk Dokter?" Tangan genit itu menyentuh hidung Erin dan segera wanita itu tepis.


"Berani sekarang?"


"Ga takut. Aku juga selama kamu tinggal sudah jago bela diri," Juna mengedipkan matanya pada sahabat semasa kecilnya itu.


Plak....


Erin menampar wajah Juna lalu meninggalkannya sendiri memengang pipinya yang terasa nyeri sambil tersenyum menoleh kearah Erin. Tak pernah sahabatnya masa kecilnya itu benar-benar marah. Wanita hitam manis itu jago bela diri, saat Juna kecil mengganggu dirinya dulu dengan sigap Erin menendangnya hingga terjungkal lalu kembali menolongnya lagi. Begitulah wanita dalam amarahnya masih terselip rasa belas kasih. Laki-laki bertubuh atletis itu kembali ke parkiran, mengambil mobilnya dan pergi meninggalkan rumah sakit, ia akan kembali dua Minggu kemudian kesini.


Dalam perjalanan pikirannya terus mengingat wanita yang bertemu tanpa sengaja, persis seperti pertemuan dirinya bersama Mora di tempat tak sama namun denga keadaan yang berbeda, Juna saat ini sikap dan prilakunya jauh lebih baik. Beberapa menit dalam perjalanan kini ia sampai di rumah, menuju kamarnya, tak menghiraukan panggilan dari bik Inah yang baru saja pulang dari kampung halamannya. Biasanya Juna begitu antusias menemui bik Inah hanya untuk bertukar cerita saat di kampung, karena ia begitu suka suasana damai perkampungan, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota yang padat.


Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membuka sepatutnya dan melempar kesembarang arah.


Matanya menatap langit-langit kamar, wajah wanita yang menyebut namanya Aqila. Balutan gamis dan hijab syar'i bisa di pastikan dia anak dari orang yang memiliki ilmu agama yang baik.


'Aqila. Baik, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekali pun,' lirihnya. Berlahan mata itu terpejam dengan kegundahan memikirkan pujaan hatinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2