
Di tempat lain, Monik mengamati dua insan yang sedang bahagia, betapa jiwa itu menyesali karena telah menelan mentah-mentah perkataan temannya. Monik melihat Rosan bergandengan mesra dengan Adiba.
"Harusnya di samping Rosan saat ini aku," lirihnya. Berlalu meninggalkan Rosan, rencananya Monik akan menemui Rosan dan meminta maaf namun ia urungkan karena melihat Rosan bersama orang yang begitu ia cintai.
___
Seminggu sudah Rosan dan Adiba pulang dari rumah sakit.
Rosan terus berjalan menuju sebuah caffe bersama istrinya, rencananya mereka berdua akan makan seafood agar kandungan Adiba lebih sehat. Dengan rutin makan makanan bergizi kini kandungan Adiba berkembang dan semakin menunjukkan tanda-tanda semakin baik. Raut wajah bahagia terpancar jelas dari kedua insan manusia itu.
"Selain Seafood apa lagi, Sayang?" Tanya Rosan pada Adiba yang sedang asik membaca buku. Selama hamil Adiba rajin membaca terkadang mengaji.
"Mau bakso tahu," jawabnya tanpa menoleh.
Rosan menggelengkan kepalanya tak percaya, Adiba begitu terobsesi pada buku, semoga kelak anaknya pintar. Mereka makan dalam keheningan, salah satu adab makan. Rosan memainkan ponselnya sesaat karena ada notifikasi masuk.
"Sayang aku minta maaf, atas kekeliruan dalam hubungan kita tiga tahun yang lalu." Pesan dari Monik membuat Rosan salah tingkah, dirinya takut jika Adiba akan salah paham.
"Ya. Itu sudah tiga tahun berlalu, aku memaafkannya."
"Jadi kita mulai dari awal lagi bagaimana?"
"Tidak. Saya sudah menikah, karena kebodohan kamu saya mendapatkan istri Soleha."
"Jangan munafik, Sayang. Aku tau kamu masih begitu mencintaku."
"Rasa cintaku sudah kamu bawa pergi. Pergi bersama kenangan."
Rosan tak lagi memperdulikan gawainya, laki-laki berwajah Turki itu begitu mencintai istrinya saat ini. Adiba wanita tegar, penyabar dan penyayang. Adiba dulu yang menyadari Rosan tak memakan makanan buatannya bahkan tak menyentuhnya selama satu bulan lamanya karena tak ada rasa cinta antara mereka, dengan sabar Adiba menerima kenyataan pahit atas dasar perjodohan. Seiring berjalannya waktu dua insan itu kini tak dapat lagi di pisahkan.
Mereka membayar makanan lalu berjalan sebentar keliling pasar malam yang di adakan pesta perayaan.
"Yank. Mau itu," kata Adiba menunjuk puzzle.
"Yakin, Sayang?" Tanya Rosan tak percaya, pasalnya Rosan tahu jika istrinya itu tak pernah suka mengatur puzzle, bikin pusing kata Adiba.
__ADS_1
"Yakin. Biar anak kita pinter," jawabnya santai seolah selama ini dia ahli mengatur puzzle. Rosan menuruti keinginan Adiba mengingat orang hamil moodnya yang gampang berubah-ubah.
Paginya Adiba tak memasak, tapi dirinya sibuk dengan Puzzle ukuran jumbo, anak-anak pondok berkerumun menyaksikan Adiba yang sibuk mengatur puzzle yang selalu salah dan kadang terbaik. Sesekali mereka tergelak begitu juga Adiba, suasana di pondok pesantren begitu damai dengan anak-anak yang akhlak dan adab yang baik. Rosan hanya memperhatikan sambil tersenyum, perut lapar itu seolah kini terasa kenyang.
Melangkah ke dapur mencari beberapa sayuran dan apa saja yang bisa ia masak. Matanya mengintai seluruh lemari pendingin, namun Rosan hanya menemukan sebutir telur. Laki-laki berwajah Turki itu baru sadar bahwa akhir-akhir ini mereka sering makan di luar.
Tangannya cekatan mengulek bawang putih dan cabai, rencananya laki-laki itu akan membuat nasi goreng dan telur dadar saja lalu makan bersama sang istri. Dulu Rosan sering di manja bahkan selalu ada bik Inah yang memasak kesukaan Rosan.
Semenjak bersama Adiba, wanita berhijab syar'i itu melarang Rosan memperkerjakan orang lain di rumah. Alasan sederhana, uang yang seharusnya membayar ART akan Adiba pergunakan untuk pondok pesantren.
Begitu beruntungnya Rosan memiliki istri yang berhati bidadari.
"Nasi goreng spesial untuk tuan putri," kata Rosan sambil membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dengan telur dadar di atasnya dan segelas susu khusus ibu hamil.
"Sweet banget. Diah kalo dah dewasa mau punya suami sebaik, Kak Rosan, ah," celetuk Diah anak pondok pesantren sekaligus temannya Adiba. Wanita berhijab syar'i itu hanya tersenyum manis menanggapi perkataan Diah. Jika Diah tahu perjuangan Adiba mempertahankan Rosan, Ah mana mungkin Diah kecil akan paham prihal perjuangan cinta.
"Oh, My husband. Terimakasih," ucap Adiba membuat mata Rosan membola menatap istrinya itu juga pipi yang merona, karena anak-anak tersenyum kearah Rosan. Dengan menahan malu laki-laki berwajah Turki itu tersenyum menampakan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Cie ... Cie. Kita balik ke pondok yuk! Ga asik, Mbak Adiba mau mesra-mesraan," ejek para bocah-bocah itu sambil berlari. Entah apa dipikirkan mereka mengatakan bermesraan padahal Rosan hanya menyuguhkan nasi goreng seadanya. Keduanya terbahak melihat tingkah lucu para santri wati yang masih terbilang anak-anak.
"Bentar lagi ada jadwal periksa ke dokter," ucap Adiba sambil mengunyah nasi goreng buatan suaminya itu.
"Lupa." Laki-laki berwajah Turki itu menggaruk tengkuknya.
"Enak nasi gorengnya, Yang. Besok bikin lagi ya," pinta Adiba dengan wajah mengiba.
"Iya." Rosan tersenyum kearah Adiba yang terus mengunyah tanpa jeda.
_____
Siang menyapa, mentari begitu terik seakan bumi dan seisinya matang merata. Juna melonggarkan dasinya dan membuka dua manik bajunya, menyetel AC dalam kantornya dengan suhu 18° rasanya tubuh atletis itu begitu gerah seperti habis berolahraga padahal hanya duduk di kantor menatap laptop.
Melirik kearah Aqila sambil menatap tak percaya, bahwa Tuhan benar-benar mencintai dirinya dan Allah kembali mempertemukan dua cinta yang masih dalam satu ikatan suci pernikahan.
"Qila," panggil laki-laki bertubuh atletis itu pada wanita pujaan di hadapannya.
__ADS_1
"Ya, Pak. Kenapa?" Herannya karena Juna tiba-tiba memanggil dirinya yang sedang mencocokkan data.
"Qila. Punggung saya rasanya sangat sakit, sepertinya saya masuk angin," dustanya. Padahal dirinya saat ini sangat ingin diperhatikan oleh Aqila, karena Juna tahu Aqila adalah istri sahnya walau dalam beberapa mashab berbeda pendapat ada yang mengatakan mereka harus menikah sekali lagi.
"Baik." Aqila beranjak dari duduknya dan mendekati Juna yang pura-pura lemah dan lesu.
"Saya izin mematikan AC. Baiknya orang masuk angin tak memakan AC supaya tak bertambah parah," jelasnya Aqila. Tangannya merogoh saku roknya untuk mengambil minyak kayu putih setelahnya membalurkan ke punggung Juna dengan lembut.
Tak dapat dipungkiri nafsu sebagai orang masih dalam keadaan normal memuncak hingga membuat tubuhnya sedikit meringkuk dan mengaduh.
"Kita ke klinik aja," pinta Aqila, dia mengira bosnya itu benar-benar sakit, padahal menahan hasrat yang kian menggebu.
"Tidak. Ini sudah lebih baik," ujar Juna beralih menatap Aqila dengan tatapan sayu, tatapan mengiba untuk suatu hal yang lebih salam lagi.
"Ya sudah," Aqila meninggalkan laki-laki yang sedang dilanda kecemasa dalam urusan cinta itu. Aqila kembali duduk di kursinya dan kembali berkutat dengan komputer.
Matanya Juna terus menatap Aqila dan tangannya meraba AC lalu menyetel suhu delapan belas derajat Celcius. Hari ini Juna beralasan akan lembur padahal dirinya begitu ingin selalu berdekatan dengan Aqila karena dia akan berjanji akan menjaganya dan tidak akan kehilangan Aqila untuk kedua kalinya. Rutinitas Juna selain masuk kantor akan mengantar dan menjemput istrinya yang masih hilang ingatan.
Sebenarnya Juna ingin merebut hati Aqila dalam kondisi hilang ingatan agar dirinya tak pernah ingat masa lalu yang begitu kelam.
"Qila. Nanti temani saya makan malam sama beberapa teman saya bisa ga?" Tanya Juna sambil sesekali mengusap bahunya seolah dirinya benar masuk angin.
"Bisa. Tapi Qila pulang dulu ganti pakaian dan mandi," jawabnya. Sungguh tak mungkin jika makan malam dengan pakaian seperti sekarang ini dan bau badan yang sedikit mulai terasa asam karena terik matahari membuat keringat bercucuran.
"Ga perlu. Nanti kerumah saya madi di sana dan saya akan membelikan pakaian terbaik untuk sekretaris saya," jelas Juna membuat Aqila terperangah.
"Tapi ... Pak."
"Ga pake tapi. Ini perintah dari atasan," Juna mengulum senyum. Mana ada atasan memerintah urusan pribadi karyawannya.
"Baik." Aqila mengerucutkan bibirnya.
Entah bagaimana reaksi Rani jika Aqila wajahnya mirip dengan Mora, Juna tidak pernah menceritakan apa pun pada Rani, karena Rani terlalu sibuk dengan bisnisnya begitu juga dengan Juna terlalu sibuk dengan cintanya.
Bersambung....
__ADS_1