KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 28


__ADS_3

Di rumah Yasna cemas karena nomor yang ia hubungi tidak aktif sama sekali, Yasna mengira uang yang mereka dapatkan dari Juna dibawa kabur oleh mereka.


"Kurang ajar banget, bisa-bisanya setelah dapat uang mereka melarikan diri, awas aja kalo jumpa," lirihnya, di meja makan sambil menatap gawainya.


"Siapa yang kurang ajar?" Tanya bik Inah menatap kearah Yasna, wanita berbibir tebal itu terlihat panik.


"Iya, siapa yang kurang ajar?" Timpal Rani, ia menuju kearah meja makan juga.


"Temen, Ma. Dia bilang mau kesini, tapi ga jadi ngantar uang yang dia pinjam. Eh sekarang ga aktif nomornya," dusta Yasna. Jika dirinya jujur maka habislah Yasna saat ini, tak akan dapat lagi tinggal di rumah mewah ini, Rani mengabaikan penjelasan Yasna.


"Juna mana, Bik?" Tanya Rani pada bik Inah.


"Kemarin pergi buru-buru setelah nanya Aqila mana, Aqila belum pulang, den Juna juga belum pulang," kepala bik Inah.


"Semoga ga terjadi apa pun. Hati saya tidak enak dari semalam," kata Rani. Hatinya begitu peka, seperti beberapa hari yang lalu dirinya menyusul suaminya, karena tak enak hati, benar saja suaminya di sana sedang sakit.


"Aamiin..." Jawab bik Inah.


Merek melanjutkan makan dan Rani berpamitan untuk berangkat ke perusahaan Juna, dirinya penasaran dengan perusahaan yang anaknya rintis. Mereka terbiasa mandiri tanpa harus ada sopir pribadi begitu juga Juna.


Sampai di kantor Rani masuk dengan elegan, semua karyawan menunduk.


"Bos besar tuh datang," ucap mereka saling menyenggol.


"Eh, apa jangan-jangan pak Juna udah ga masuk lagi ya?"


"Ga tau tuh, mungkin pak Juna udah dipecat sama Bu Rani kali."


"Hust. Aku ga mau kehilangan cintaku," kata Lolita membuat Rani menoleh kearahnya.


"Apa kamu bilang?" Tanya Rani mengernyitkan dahinya.


"Anu ... Pak Juna sering bermesraan sama sekretarisnya itu," jawabnya, beberapa kali Lolita memang pernah melihat Juna begitu dekat dengan Mora di kantor, bahkan Lolita juga melihat saat Mora mengelus punggung Juna saat mengolesi minyak kayu putih, gadis semampai itu hanya melihat sekilas saat manik baju Juna terbuka dan Mora di sisi Juna. Mungkin jika orang lain yang melihat juga akan berpikiran sama.


"Nanti akan saya tegur, semua berkumpul kita ada meeting mendadak hari ini," ucap Rani, setelahnya ia berlalu ke ruangan Juna. Saat pertama masuk Rani langsung duduk di kursi yang biasa Juna gunakan.


Tangan wanita paruh baya yang masih terlihat modis itu langsung memengan komputer milik Juna, saat layar menyala sempurna foto Mora dengan senyum yang indah terpampang jelas di sana.


"Dasar bucin." Rani terkekeh. Wanita cantik itu mengecek beberapa data masuk dan keluar, lalu mengecek penghasilan perusahaan yang lumayan menunjukkan perkembangan bulan ini, dirinya merasa bangga karena tak sia-sia Juna kuliah.


Usai mengotak atik komputer Juna lalu dirinya beralih ke meja Mora. Ia tak begitu penasaran dengan isi komputer Mora karena data yang ada pasti sama, semua data sudah disalin ke komputer Juna.


Wanita cantik itu menjatuhkan bokongnya di kursi yang biasa Mora duduki. Membuka laci lalu mendapat surat dari amplop putih dan membukanya, Rani terlalu penasaran.

__ADS_1


"Kamu bisa berbangga bisa dekat dengan pak Juna saat ini, kupastikan akulah yang akan menikah dengannya."


Satu pesan singkat, Rani mengernyitkan dahinya. Tak ada dari siapa, mulai ada teror untuk Aqila atau Mora Cantika. Rani memijit pelipisnya yang mendadak sakit.


"Semoga Allah selalu bersamamu dan Juna, semoga Allah meridhoi pernikahan kalian," lirihnya. Wanita cantik itu seakan lupa bahwa ia mengatakan ada meeting di mendadak barusan.


"Bu. Mereka suda di ruangan meeting dari tadi," kata salah satu karyawan yang datang. Mereka mengira pasti Bu Rani lupa pada janjinya.


___


Dua insan yang sedang dimabuk asmara kini sudah keluar dari hotel dan mereka segera pulang.


"Mora," panggil Juna saat mereka dalam perjalanan menuju rumah.


"Heum..."


"Bagaimana kalau kita akad nikah ulang besok?" tanya Juna pada wanita cantik yang berhijab di sampingnya saat ini.


"Tapi ... Aku...." Belum sempat Mora menjawab tangannya sudah diraih oleh pangeran berwajah Korea itu.


"Dengar! Jika kita terus seperti ini maka aku seperti berdosa, aku ingin kita akad ulang karena aku yakin kamu juga sudah mencintaku," jelas Juna, laki-laki yang tampan dan bertubuh atletis dan juga bergelimang harta, mana ada wanita yang tidak jatuh hati padanya.


Cinta Mora tulus padanya, seandainya Juna adalah orang miskin dan hanya menghalalkannya dengan surah Ar Rahman sekali pun ia akan ikhlas.


Selama ini dunia seakan menghakimi dirinya atas perbuatannya masa lalu, tak pernah ada titik cahaya surga yang menyilaukan untuknya.


"Baiklah." Mora menyeka sudut matanya yang mulai mengembun, wanita itu terlalu cengeng bila berhadapan dengan cinta.


Juna tak langsung pulang ia akan memutar kenangan lama dengan datang datang ke taman yang tidak jauh dari rumahnya.


"Mau apa kesini?" Tanya wanita cantik itu heran.


"Duduklah di sini, aku ke sana akan membelikan jasuke," jelas Juna, seketika Mora menyentuh dadanya pelan lalu duduk di rumput yang terlihat seperti lapangan bola, sementara Juna langsung berangkat membeli jagung susu keju, laki-laki bertubuh atletis itu mengenang indahnya masa bersama Mora yang dulu.


Tak lama Juna kembali dengan dua cup jagung susu keju di tangannya, meraih tangan Mora lalu memberikan cup itu pada Mora. Wanita cantik yang dari tadi memejamkan matanya kini menatap kearah cup lalu menatap Juna.


"Kenapa?" Tanya Juna. Walau sebenarnya ia tahu Mora sedang memikirkan dan mengingat sesuatu.


"Aku seperti pertah ke tempat ini," ungkap Mora, lalu tangannya menyedok jagung susu keju itu kedalam mulutnya.


"Apa yang kamu lihat barusan?"


"Aku seperti bersama seorang laki-laki dan kejadiannya persis seperti yang Mas lakukan tadi," jelas Mora.

__ADS_1


"Kita pernah kesini saat senja akan menjelma, kita habiskan waktu berdua. Kejadiannya memang tak salah seperti saat ini, karena yang bersamamu adalah aku," jelas Juna. Laki-laki itu berharap Mora mau menerima dirinya dan tidak menolak atau membatalkan untuk melakukan akad nikah ulang.


"Iya." Hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Makanan sederhana favorit Juna sudah habis, mereka akan pulang kerumah yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter, sementara di rumah ada hati rapuh yang menunggu dengan cemas.


Sesaat mobil Juna menepi di depan rumah, Yasna yang dari tadi menunggu dengan cemas di teras tergesa ia membukakan pintu pagar. Mata wanita berbibir tebal itu membola sempurna karena terkejut saat Mora ada di samping Juna duduk dengan manis tanpa lecet sedikit pun.


"Minggir, aku mau masukin mobil." Juna melambaikan tangannya ke arah Yasna yang masih terlihat syok.


"I ... iya...." Jawabannya tergagap.


"Sialan! Kukira dia mati," gumamnya.


Rasa benci Yasna pada Mora Cantika yang di anggap Aqila oleh ibu kandung Yasna begitu dalam, tiap detiknya di pupuk dengan kebecian yang disebabkan oleh Narsih.


Tanpa mendalami ilmu agama maka hati akan buta dengan nafsu dan dendam, bahkan yang berilmu saja bisa melakukan yang seharusnya tidak ia lakukan, begitu pentingnya agama dalam diri manusia, tapi kembali lagi pada diri masing-masing sanggup atau tidaknya mengontrol emosi yang berlebihan.


"Sayang ayo masuk," ucap Juna sambil merangkul pundak Mora, wanita berbibir tebal itu menatap kearah mereka tak suka. Terbakar rasa cemburu itu sungguh sangat menyakitkan juga menyiksa.


Kini benih kebencian Yasna pada Mora akan kembali terpupuk karena Juna, dirinya merasa bahwa Mora adalah wanita yang menjadi penghalang untuk masa depannya.


Terkadang manusia selalu menilai bahwa nusia lainnya adalah penyebab terjadinya sesuatu, tanpa mereka sadari di balik itu semua ada campur tangan Allah didalamnya.


Wanita berbibir tebal itu ikut masuk kedalam rumah walau hatinya saat ini panas karena melihat mereka bermesraan di depannya.


"Qila tunggu. Semalam kok kamu ga pulang?" Tanya Yasna berusaha untuk menutupi rasa kecewanya. Sekaligus menjatuhkan Mora di depan Juna.


"Eumm ... Aku nginap di rumah temen," dustanya, selama hidupnya tak ada teman yang setia, hanya Juna Andara laki-laki yang selalu setia menemaninya saat ini.


"Mas Juna juga ga pulang, kan?" Kini pertanyaan yang tak berguna sama sekali ia tanyakan pada laki-laki bertubuh atletis itu.


"Saya pulang atau tidak, sama sekali bukan urusan kamu," jawabnya lalu memutarkan bola matanya malas dan berlalu meninggalkan dua wanita yang berbeda karakter itu, pipi Yasna bersemu karena malu.


"Mas tunggu!" Yasna mengejar Juna dengan cepat lalu bergelayut manja, persis seperti adik kandungnya, jika adik kandung Mora bisa bertoleransi tapi ini siapa? Bukan siapa-siapa Juna, sepupu saja bukan, Mora kesal melihat Yasna yang bertingkat seperti itu.


Cemburu sudah pasti, karena benih cinta itu sudah mekar seiring dengan berjalannya waktu, dengan hati yang kesal Mora masuk kedalam kamar lalu menjatuhkan tubuhnya dekan kasar di atas ranjang.


"Murahan sekali," gumamnya dengan suara yang tertutup dengan bantal.


Mungkin semua wanita akan merasakan hal yang sama karena wanita di ciptakan denga rasa cemburunya yang luar biasa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2