KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 46


__ADS_3

Dua hari di rumah sakit Mora sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah sedikit membaik dan kandungannya juga ada perkembangan, jadi tidak akan diangkat.


"Assalamualaikum," Mora mengucapkan salam saat tiba di rumah Rani, Juna ingin Rani ada yang menjaganya, tidak sendirian di rumah.


Laki-laki bertubuh atletis itu memutuskan tinggal di rumah Rani untuk sementara waktu.


Bik Inah mempercepat langkahnya lalu memeluk tubuh mungil Mora dengan erat setelah sebelumnya menajwab salam.


"Maafin Bibik gak bisa jenguk Neng Mora," ungkap bik Inah sambil melonggarkan pelukannya.


"Ga apa-apa, Bik," Mora Cantika mengulas senyum, seperti rasa depresi sudah benar-benar hilang, tapi sebenarnya depresi yang ia derita belum benar-benar hilang.


"Maafin Mama juga," ucap Rani yang sedang duduk menonton televisi, ia mendekat kearah menantunya itu lalu memeluknya.


"Iya, Ma. Mora ngerti kalo mama lagi sakit," kata wanita mungil itu, kembali senyum mengembang, ia meraih tangan ibu mertuanya lalu menciumnya dengan takzim, setelah pelukan benar-benar longgar.


"Sana istirahat di kamar," ucap Rani pada menantunya itu, Mora mengangguk lalu menuju kamar yang biasa mereka tempati.


Wanita yang biasanya terlihat modis itu kini terlihat begitu lemah, beberapa kali ia menyentuh kepalanya saat sedang berbicara dengan Mora, sementara sepasang kekasih yang belum halal itu menatap tak suka kearah Mora yang berjalan tertatih menuju kamarnya.


"Ma, itu mumi dari mana?" Juna yang baru saja masuk sambil membawakan tas milik Mora memandang keambang pintu melihat Yazid dan Yuli tersenyum manis kearah mereka. Sejenak Rani tergelak mendengar pertanyaan anaknya itu yang kelakuannya tak jauh berbeda dengan Cika.


"Itu Yuli dan suaminya, suaminya jadi tukang kebun di sini," jelas Rani, wanita modis yang sedang kurang sehat itu melihat sekilas ke ambang pintu, Yazid dan Yuli masih memandang kearah Rani dan Juna.


"Semoga kejadian yang sama seperti dulu ga akan terulang kembali ya, Ma." Juna merasakan firasat yang tidak enak saat ini, terlebih istrinya baru saja mengalami depresi, sementara Rani hanya mengangguk.


Rani dibantu oleh Juna menuju kamarnya, setelahnya ia pun menuju kamarnya untuk menemui istrinya.


.


.


.


Yuli dan Yazid menuju dapur, mereka merencanakan Rani terlebih dahulu yang akan mereka singkirkan.


"Bagaimana? Sekarang wanita yang angkuh itu sudah terlihat hampir sekarat. Apa kita lancarkan aksi pada Mora? Mumpung dia di sini," bisik Yazid di telinga Yuli, mereka tertawa kecil.


"Sabar. Pelan-pelan, kamu mau kita ketahuan?" Lirih Yuli pada laki-laki yang ia akui sebagai suaminya itu.


"Iya deh," laki-laki itu mengambil apel lalu mengunyahnya.


Di rumah Rani tak membatasi siapa saja boleh makan asalkan tidak membuang-buang makana, sementara dalam kamar Juna, Mora dan bik Inah sedang berbincang-bincang, wanita paruh baya itu melihat Yuli memasukkan sesuatu kedalam minuman Rani yang sudah bik Inah siapkan.

__ADS_1


Dilihat sekilas seperti bik Inah yang melakukan rangkaian kejahatan pada Rani, memang begitu kelakuan manusia licik.


"Bibik lihat sendiri, Den," ucap bik Inah setelah menceritakan semuanya, termasuk sat Yuli menyiram minyak kelantai agar Rani terjatuh, tapi bik Inah sigap membersihkan sebelum Rani dan Yudha menginjak minyak yang Yuli tuangkan di lantai granit itu.


"Hati-hati aja, Bik. Berarti benar firasat saya bahwa mereka bukan orang baik," kata Juna mengeram, mengepalkan tangannya dan meninju udara.


"Iya, Den. Bermula saat Bibik lewat kamar mereka, katanya mbak Yuli itu ingin balas dendam sama Nyonya," jelas bik Inah dengan suara yang pelan.


"Balas dendam?" Juna mengernyitkan dahinya.


"Balas dendam sama aku mungkin, Mas," celetuk Mora yang dari tadi hanya diam menyimak.


"Katanya sama Nyonya, Non." Bik Inah beralih menatap Mora.


"Namanya sama kayak Mbakku," kata Mora.


"Bisa jadi, pernah juga kamu bilang Yasna mirip Yuli, apa mungkin mereka orang yang sama?" Juna menganggukkan kepalanya, sejenak hening, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


Laki-laki bertubuh atletis itu punya rencana besar nanti malam, ia akan segera mengusir sepasang suami istri yang tidak ada ikatan pernikahan itu.


.


.


.


Malam kembali merangkak naik, setelah makan malam Mora kembali ke kamarnya untuk beristirahat, tubuh mungil itu masih terlalu lemah, begitu juga dengan Rani, sementara ayah beranak dua itu berangkat ke butik Rani karena ada konsumen yang protes.


Juna Andara saat ini benar-benar terlihat bingung, satu sisi ia tidak ingin menyakiti hati Rani karena wanita modis itu begitu percaya pada Yuli dan Yazid.


"Ya-Allah, cobaan apa lagi ini," lirihnya, laki-laki bertubuh atletis itu mengacak rambutnya kesal, ia bangkit dari duduknya lalu menuju lantai atas, kamar yang sudah beberapa bulan tidak ia tempati.


Menarik handel pintu, ia mendekati laci yang biasa menyimpan berda berpelatuk miliknya, kini niatnya sudah mantap ingin melenyapkan Yuli dan Yazid secara bersamaan, kini ia tinggal memikirkan di mana tempat yang akan di laksanakannya rencana.


Juna meninggalkan kamarnya lalu turun tergesa menuju ke dapur, terlihat bik Inah masih memasukkan beberapa buah kedalam kulkas.


"Bik!" Suara Juna membuat wanita paruh baya itu terperanjat.


"Eh ... Copot ... Copot ...." Wanita paruh baya itu menyentuh dadanya lalu menoleh kearah Juna yang tersenyum menatapnya, bik Inah ikut tersenyum.


"Bibik kenapa belum tidur?" Tanya Juna pada wanita yang sedang sibuk merapikan kulkas tersebut.


"Masih belum selesai beres-beres Den," jawab bik Inah, wanita itu kembali melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


"Bik bisa panggilkan Yuli sama Yazid?" Juna mendesis kecil di telinga bik Inah, seketika mata wanita paruh baya itu membola sempurna.


Tanpa berpikir panjang bik Inah meninggalkan bekerjanya, menuju kekamar Yuli dan Yazid, memanggil kedua insan manusia yang berbuat dzalim itu menemui Juna, tepatnya mereka akan menemui ajalnya sesat lagi.


"Bisa kalian datang ke toko bunga di persimpangan jalan sana?" Tanya Juna pada Yazid dan Yuli yang kini berada di depan Juna, dapat Juna lihat kulit wajah Yuli yang masih mulus karena perban tidak menutup wajahnya dengan sempurna, karena mereka tadi terburu-buru sebab bik Inah memanggil mereka mendadak.


"Bisa, saya antarkan Yuli ke kamar dulu," kata Yazid ingin mendorong kursi roda Yuli menuju kamar.


"Tidak ... Tidak, saya ingin kalian berdua berdua datang ke sana, nanti saya akan datang ke sana, saya mau memberikan hadiah pada kalian berdua karena sudah menjaga kedua orangtua saya dengan baik," papar Juna sedikit mengulas senyum pada wanita berbibir tebal itu dan laki-laki berbadan gempal yang ada di hadapannya saat ini.


"Baik," ucap keduanya bersamaan, senyum bahagia begitu terpancar dari wajah Yazid.


"Berbahagialah sebelum ajal menjemput kalian," batin Juna lalu meninggalkan mereka, sementara bik Inah di landa gundah, bagaimana tidak, ia begitu takut jika Yuli dan Yazid yang justru akan mencelakai Juna.


"Lindungi Den Juna Ya Allah." Bik Inah menengadahkan lalu mengusap mukanya pelan.


Juna mengegelus benda berpelatuk miliknya saat sudah masuk kedalam mobil, ia menunggu Yuli dan Yazid di persimpangan jalan.


Tak lama tubuh gempal itu tiba bersama Yuli si wanita licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Masuk!" Perintah Juna saat tak ada siapa pun yang melihat dirinya, bahkan di jalan ini tak ada cctv sama sekali, keduanya mengangguk mantap, tak ada rasa curiga sama sekali mereka akan dibawa kemana.


Mobil Juna membelah jalanan malam yang lenggang, gerimis rintik-rintik membasahi kaca mobil. Dua insan yang kini akan menjemput ajalnya mengulas senyum bahagia, sementara Juna yang melirik sekilas tersenyum miring.


Beberapa jam perjalanan mereka tiba di suatu tempat, rumah kosong yang biasa ia gunakan dulu untuk menghabiskan nyawa manusia yang munafik.


"Minum dulu," titah Juna memberikan mereka jus apel instan yang baru ia beli di supermarket terdekat, tanpa curiga mereka menegak hingga tandas, Juna telah menyuntikkan obat penenang pada jus tersebut yang ia dapat dari kamar mereka, tak butuh waktu lama mereka hilang kesadaran.


"Tidurlah, aku akan pulang. Besok akan kembali," kekehnya setelah mengikat sekuat mungkin tubuh kedua dengan tali dan membekap mulut mereka.


"Jaga mereka, jangan sampai lolos!" Perintah Juna pada kedua anak buahnya yang dulu sempat ia pekerjakan, mereka sudah tiba terbih dahulu di rumah itu saat Juna memberi kabar pada mereka di rumah tadi.


"Baik, Bos," jawab keduanya serentak. Juna tersenyum miring lalu meninggalkan rumah tua itu.


"Duit gede nih," kekeh kedua anak buah Juna setelah Juna benar-benar meninggalkan rumah tua itu.


.


.


.


Berhentilah bermain-main pada orang yang tak pernah mempermainkan dirimu, sekalinya ia bertindak maka akan menghancurkan mental bahkan fisikmu.

__ADS_1


__ADS_2