
Mata hari semakin meninggi namun suasana sejuk pedesaan masih terasa, wanita hamil itu enggan menyentuh air untuk mencuci piring bekas sarapan pagi mereka.
"Dingin banget di sini ya, Mas?" Mora memakaikan kembali sweater yang tadinya hendak ia lepaskan.
"Iya. Namanya juga desa, kamu istirahat aja. Biar aku aja ya yang cuci piring," jawab Juna sambil mendaratkan kecupan sekilas di pipi mulus Mora.
"Jangan, Mas. Masa aku ga ada gunanya jadi istri." Keluh Mora menghentikan langkah Juna menuju wastafel.
"Ga apa-apa, Sayang. Kamu nyapu halaman aja, banyak daun rambutan tuh yang berguguran," kata Juna lalu memberikan sapu lidi baru pada istrinya, Mora mendelik lalu tersenyum kearah Juna sambil mengambil sapu lalu meninggalkan Juna di dapur.
Wanita hamil itu tak menolak apa yang di perintahkan oleh Juna, karena saling berbagi tugas saat ini.
Dengan cekatan Mora menyapu halaman setelah selesai tubuh yang gampang lelah itu duduk di kursi yang terbuat dari bambu di bawah pohon rambutan, Mora menghela napas panjang.
Tak lama sepeda motor memasuki halaman rumah mereka, ojek online dan seorang wanita cantik berambut pirang.
"Siapa sayang?" Pekik Juna yang berada di dalam saat menyadari ada suara sepeda motor.
"Ga tau, Mas," jawab Mora setengah berteriak menyusul suaminya kedalam dan mempersilahkan wanita itu duduk di tempat ia duduk tadi.
Juna kembali keluar bersama Mora, sepasang suami istri itu terlihat begitu menyebalkan di mata wanita berambut pirang itu.
"Putri," lirih Juna menatap kearah wanita berambut pirang yang membawa anak berusia tiga tahun yang begitu menggemaskan.
"Sayang!" Pekik wanita itu saat melihat Juna semakin dekat, wanita bernama Putri itu berhambur kedalam pelukan Juna, laki-laki bertubuh atletis itu dengan kasar mendorong tubuh tinggi semampai yang memeluk tubuhnya.
"Mas. Kenapa selalu menghilang dari hidupku?" Wanita itu berdecak kesal, lalu beralih menatap Mora dengan tatapan tidak suka.
"Aku sudah menikah. Lupakan saja masa lalu yang pernah ada," ungkap Juna, lalu tangannya mengusap rambut halus bocah imut itu.
"Akui dia anakmu, jangan buat aku merasa bersalah," ungkap wanita tinggi semampai itu.
"Aku ga bisa, tes DNA mengatakan bisa jadi dia anak orang lain," Juna berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan bocah kecil bernama Cika ini.
"Aku berani bersumpah dia anakmu!" Tegasnya membuat mata Mora membulat sempurna.
"Bukankah kamu dulunya memiliki pacar lebih dari satu?" Ucap Juna memukul telak perkataan wanita berambut pirang itu.
"Ya sebelum kenal sama kamu." Wanita cantik semampai itu mengelak, Mora yang tak sanggup mendengarkan perdebatan mereka memilih untuk melihat anak-anak bermain bola di samping rumah mereka.
__ADS_1
"Baiknya kamu pergi dari sini Putri, jangan pernah ganggu kebahagian kami!" Ucap Juna tegas.
"Aku membencimu, Juna Andara. Sungguh aku membencimu," wanita semampai itu menyeka sudut matanya yang berair, tak pernah menyangka jika cinta berujung petaka, yang ia harapkan dulu adalah hidup bahagia bersama laki-laki bertubuh atletis itu.
"Dari mana dia tau alamat baruku," lirih Juna mengacak rambutnya kasar setelah sepeda motor yang membawa pergi wanita semampai bersama anaknya itu menjauh.
Niat hati Juna dan Mora menepi di desa untuk menenangkan diri dari orang yang membuat hidupnya semakin rumit dan berantakan.
"Semoga istriku tidak marah," batinnya. Tubuh atletis itu masuk kedalam rumah, mencari keberadaan istrinya namun tidak ia temukan.
Kepanikan melanda hatinya, mereka orang baru di sini, tak mengenal satu orang pun, bahkan tempat ini masih terasa asing untuk Mora.
"Mora." Juna memekik begitu keras membuat beberapa tetangganya keluar medengar suara Juna.
"Kenapa, Mas?" Tanya tetangganya yang berjarak tak jauh dari rumahnya.
"Ibu lihat istri saya tidak?" Dengan wajah panik Juna mendekat kearah wanita yang seusia dengannya itu.
"Istri mas yang tubuhnya kecil dan wajahnya imut itu bukan?" Wanita itu bertanya balik pada Juna, karena memang ia tak mengenali seperti apa wajah Mora.
"Bener, Bu," jawab Juna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum paksa kearah wanita itu.
"Ouh. Terimakasih, Bu." Juna mengulas senyum kembali dan menyusul kearah sungai, yang berada tak jauh dari mereka.
Juna sudah beberapa kali ke desa ini saat melakukan petualangan dulu, jadi ia hafal arah menuju sungai.
Tak butuh waktu lama ia sampai ke sungai, dari atas ia dapat melihat anak-anak sedang mandi dan menangkap ikan, begitu juga dengan istrinya yang tertawa lepas saat berhasil menangkap ikan dalam jaring khusus yang di buat oleh anak-anak.
"Yey ... Mbak aku dapat belut," ucap anak laki-laki bertubuh gemuk sambil mendekat kearah Mora, namun ekspresi wajah Mora seketika berubah masam. Wanita hamil itu geli pada belut yang licin.
"Menjauh. Geli sekali ...." Ucapannya terjeda karena Mora mengeluarkan isi dalam perutnya. Seketika anak-anak yang tadinya riuh mendadak mematung karena Mora terlihat seperti orang sakit dan begitu pucat.
Juna melihat suasana menjadi tegang langsung turun kebawah mengahmpiri anak-anak dan istrinya juga terlihat seperti seorang bocah.
"Sayang. Kamu ga apa-apa?" Juna menyentuh dahi Mora, seketika Mora menepis tangan Juna.
Laki-laki bertubuh atletis itu mengira Mora marah padanya karena kejadian tadi di rumah, padalah wanita itu menjaga mata anak-anak yang memperhatikan dirinya dan Juna.
"Aku baik," ucap Mora lalu memercikkan air bening itu kewajah suaminya sambil tertawa puas.
__ADS_1
"Nakal." Juna membalas memercikkan air ke tubuh Mora dan wajahnya, juga ke tubuh anak-anak yang dekat dengannya membuat anak-anak dan istrinya itu berlari kesana kemari, sungai yang dangkal membuat mereka asik bermain dan menangkap ikan kecil hingga lupa waktu.
Adzan dhuhur berkumandang, dua manusia yang sudah dewasa saling memandang satu sama lainnya, mereka menyadari terlalu lama sudah bermain air.
"Hei. Anak-anak pulang, udah siang ga tau rumah," teriak seorang ibu-ibu yang berdiri di atas tebing sungai yang tinggi, sungai yang agak turun kebawah membuat anak-anak, menatap mendongak kearah wanita yang memanggil mereka.
"Mampus Mak kamu tuh Emi," celetuk anak laki-laki bertubuh gendut yang menampakan belut pada Mora tadi.
"Yah jangan gitu. Aku pulang duluan." Emi pamit dan pulang duluan, anak kecil itu begitu takut jika ibunya marah, sementara yang lainnya juga ikut pulang setelah mendengar instruksi dari Juna.
Mora dan Juna berada di belakang anak-anak kecil itu karena mereka juga ikut pulang, setelah anak-anak itu berlarian dan tak lagi terlihat, Juna segera gendong tubuh mungil Mora di belakang.
Laki-laki bertubuh atletis itu paham jika Mora saat ini merasakan lemas, karena sarapan tadi pagi habis ia muntahkan.
Tak lama mereka tiba di rumah sederhana namun terlihat indah dan mewah, laki-laki bertubuh atletis itu menurunkan tubuh Mora perlahan dan melucuti pakaian basah yang istrinya kenakan. Wanita cantik itu terlihat malu-malu dan wajahnya bersemu.
"Biar aku mandi sendiri aja, Mas," ucap Mora memindahkan tangan Juna yang menyeka setiap inci tubuh mungil itu.
"Diam dan ga usah banyak bicara!" Kata Juna tanpa memperdulikan apa kata istrinya itu.
Juna yang berusaha membuat hati istrinya semakin tersentuh atas perbuatannya. Laki-laki bertubuh atletis itu teramat sangat mencintai istrinya, melebihi cintanya pada dirinya saat ini. Ia menyuruh Mora berhudhu, wanita mungil itu hanya mengangguk lalu berwudhu kemudian menuju kamar, setelah Juna membersihkan dirinya, laki-laki bertubuh atletis itu menyusul istrinya kedalam kamar untuk melaksanakan salat.
Usai melaksanakan salat keduanya merasakan lapar, tak ada makanan yang bisa mereka makan karena belum berbelanja.
"Aku keluar dulu ya, Sayang?" Juna menatap istrinya yang masih berbalut mukena.
"Mau ngapain?" Tanya Mora tanpa rasa bersalah, seolah wanita itu tak merasakan lapar.
"Cari makan, masa ia cari istri lagi," selorohnya membuat wanita hamil itu tersenyum simpul.
"Hati-hati, Mas," ucap Mora lalu mengecup bibir Juna sekilas. Terlihat genit untuk suami sendiri tak jadi suatu masalah untuknya.
Juna meninggalkan halaman rumah setelah menyambar kunci mobil dan dompetnya, laki-laki bertubuh atletis itu meninggalkan ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Beberapa panggilan masuk ke gawai suaminya namun Mora abaikan, malas berurusan jika yang menelpon adalah temannya.
Satu pesan di aplikasi hijau milik Juna membuat Mora semakin penasaran, dirinya khawatir jika itu sesuatu yang penting menyangkut Rani.
"Sayang. Jadi kita ketemuan?" Pesan diiringi beberapa emot hati. Wanita cantik itu memilih tak membalas dan meletakkan kembali ponsel milik Juna di atas nakas.
__ADS_1
Hatinya mulai gundah, takut jika suami yang telah mengaku berubah dan bertaubat malah kembali ke kubangan dosa seperti dulu.