
Dalam perjalanan Juna terbahak melihat ekspresi Aqila yang seperti orang kebingungan.
"Kok ketawa?" Tanya Aqila polos.
"Kamu lucu. Ga lihat tadi ekspresi Yasna saat kupanggil kamu dengan sebutan sayang," kata Juna Sabil menahan tawanya.
"Benarkah? Sayang sekali aku ga lihat muka ondel-ondel itu," kata Aqila membuat Juna kembali tertawa.
"Sehari sama Bik Inah dah ketularan," ungkap Juna melirik kearah Aqila sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"Ye ... Biarin. Bik Inah baik tau," kata Aqila sambil membenarkan pasminanya. "Serasa dia kayak ibuku aja," sabung wanita cantik itu.
Ah. Bukankah memang mereka sudah saling mengenal dan sudah seperti anak dan ibu, seperti ada ikatan diantara keduanya.
"Kita ke bukit aja ya?"
"Engga."
"Ke pantai?"
"Ga juga."
"Ke danau?"
"Ga juga."
Ke KUA?" Juna yang tadinya tidak melihat sama sekali kini melirik Aqila untuk melihat ekspresi wajah kekasih halalnya. Benar saja Aqila melihat tak suka kearah Juna, namun lirikan Aqila membuat Juna mengulum senyum.
"Ngapain?" Aqila balik bertanya rencananya wanita cantik itu ingin memukul mental Juna.
"Nikah lah," jawab Juna enteng.
"Dikira nikah enak," kata Aqila dengan nada ketus.
"Enak. Bisa indehoy tiap malam," sahut Juna sambil tersenyum, matanya menatap lurus ke depan. Aqila memukul lengan Juna menahan malu, kini dirinya merasa benar-benar malu atas perkataan Juna yang tak berbobot.
Pandangannya ia alihkan menatap keluar jendela, rintik gerimis kecil membasahi kaca, meninggalkan titik-titik air kecil di jendela bening itu. Berlahan aqila mengembuskan napasnya kearah jendela, lalu tangannya mengukir love pada embun yang telah buat dengan napasnya.
"Love untukku? Dengan senang hati aku menerimanya," celetuk Juna dengan percaya diri.
__ADS_1
"Ih. Kepedean." Dengan cepat tangan putih bersih itu membersihkan embun yang hampir saja menghilang. Juna menepikan mobilnya di pinggir jalan yang ada pejul cilok dan batagor.
"Aqila." Kebiasaan laki-laki itu selalu memangil namanya, karena jawaban Aqila itu candu baginya.
"Heum."
"Aku mencintaimu," kata Juna sambil menatap manik mata Aqila yang bening bagaikan telaga.
"Apa?" Tanya Aqila, wanita cantik itu seakan tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut laki-laki yang sedang bersamanya saat ini.
"Saya mau makan cilok," kata Juna sambil menatap gerobak cilok.
"Ayo!" Ajak Aqila bersemangat. Wanita cantik itu lupa apa yang di ucapkan Juna barusan. Entahlah mungkin pura-pura lupa untuk mengalihkan rasa gugupnya.
Mereka keluar dan membeli cilok lalu masuk lagi kedalam mobil, walau kehidupan mereka terbilang berada tak pernah rasa jijik jika harus jajan makanan pinggir jalan.
Aqila terus mengunyah cilok dengan lahap, sementara Juna mempertikan wajah cantik Aqila agar momen berharga saat ini tak terlewatkan.
"Qila."
"Heum," jawabnya sambil terus mengunyah.
"Aku mencintaimu," ungkapnya, seketika Aqila tersedak karena cilok dalam mulutnya. Tergesa Juna mengambil air mineral yang berada di depannya dan memberikan pada Aqila. Wanita cantik itu meneguknya hingga tandas.
"Kenapa?" Tanya Aqila pada Juna, wanita cantik itu memegang dadanya. Aqila tak dapat mengontrol detak jantungnya yang berpacu dua kali lebih cepat saat ini.
"Itu air mineral bekas saya minum," kata Juna memindai keseluruhan wajah Aqila.
"Tidak." Berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu.
"Kita secara tidak langsung sudah bercumbu," ucap Juna. Aqila mendengar itu memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela, padahal mobil masih belum berjalan, masih gerobak cilok yang terpampang jelas di luar jendela.
"Qila."
"Heum." Jawaban yang membuat candu disetiap ingatan Juna, darahnya berdesir dengan kata-kata yang sederhana namun indah di telinganya.
"Jawab Qila. Mulai hari ini, jangan ada lagi kata-kata formal diantara kita," jelasnya. Mata Juna masih melihat tubuh Aqila yang membelakanginya.
"Saya ... Aku. Pak, ini terlalu buru-buru," ungkap Aqila. Juna meremas jemari Aqila, desiran darah dan jantung keduanya berpompa lebih cepat seakan dunia berhenti berputar. Wanita cantik itu berusaha menarik tangannya namun genggaman Juna begitu erat hingga Aqila tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Rani itu ibuku, wanita yang kamu lihat tadi. Kamu bisa menebak sendiri aku siapa," kata Juna dengan suara bergetar menahan hasrat yang kian membara.
"Kamu suamiku?" Aqila membalikkan badannya, wanita cantik itu tak lagi menatap keluar jendela. Manik mata bening itu beralih menatap Juna lekat, tatapan keduanya beradu.
"Ya. Jika kata teman ibumu itu Rani orang yang menerimamu dan Rani menikahkannya denga anaknya. Maka akulah anak Rani itu, anak yang menikah denganmu dengan dasar cinta," jelas Juna dengan hati-hati, sungguh laki-laki bertubuh atletis itu berharap Aqila saat ini menerima kenyataan bahwa dirinya sudah milik Juna.
Laki-laki bertubuh atletis itu sangat takut jika ada laki-laki lain yang akan mendekati Aqila dan Aqila juga membalasnya.
Sesat wanita cantik itu berpikir, menarik tangannya secara paksa dari genggaman Juna yang sudah mulai melonggar, menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, sesaat setelahnya tubuh mungil Aqila tergugu.
"Qila maaf," ucap Juna. Jika Aqila sakit lagi maka Juna tak bisa memaafkan dirinya saat ini.
"Pak. Jika bapak cinta sama saya, bagaimana dengan nasib saya," ucap Aqila disela isaknya.
"Aku mencintaimu, Aqila. Siapa pun penghalang akan aku lewati demi bersamamu." Mengusap rambut Aqila yang terbalut dengan pasmina.
"Saya masih tidak tau apa saya mencintai bapak atau tidak. Saya ragu jika selama ini perasaan saya hanya sebatas teman," ungkap Aqila, wanita cantik itu menyeka sudut matanya.
"Apa pun itu. Cinta atau hanya sebatas sahabat saja, saat ini aku ingin kamu bersamaku. Rasanya melihatmu sakit aku ikut sakit, Aqila. Terlebih saat di kantor kemarin, sakitmu membuatku lupa apa tugas dan kewajibanku sebagai atasan. Aku berharap kamu paham, Qila," jelas Juna dengan suara bergetar begitu hebat. Embun di matanya seakan hampir luruh dalam satu kedipan.
Aqila diam, mencerna perkataan Juna sesat.
"Buka hatimu untukku, Aqila. Aku janji akan membahagiakanmu."
Laki-laki bertubuh atletis itu menyalakan mobil dan meninggalkan pangkalan jajanan yang mangkal di pinggiran. Sepanjang perjalanan hening, mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing.
Beberapa menit perjalanan mereka tiba di halaman rumah Aqila. Wanita cantik itu turun dari mobil tanpa menunggu Juna membukakan pintu untuknya, biasanya Juna dengan cepat turun dan membukakan pintu untuk tuan putrinya.
Membuka pintu rumah dan membersihkan sisa-sisa makanan yang ia tinggalkan sebelumnya, Aqila kembali membuka almari ibunya dan memandang kalung yang diberikan oleh laki-laki tuna netra itu, berlahan ia pejamkan mata dan merabanya, dalam benaknya berputar kecelakaan suram yang pernah ia alami, Aqila berteriak histeris dan melempar kalung itu kelantai dengan cepat, mendengar teriakan Aqila Juna bergegas masuk kedalam rumah dan melihat Aqila terbaring di lantai sambil memegang kepalanya.
Mendekat lalu mendekap tubuh mungil Aqila, matanya tertuju pada kalung itu. Juna berpikir dari mana kalung itu Aqila dapatkan hingga bayangan masa lalu yang suram kembali muncul dalam pikiran Aqila, meraih kalung itu dan memasukkannya kedalam saku celana Juna, lalu kembali memeluk Aqila yang menagis tergugu.
"Tak perlu berkemas, aku akan membelikan apa pun keperluanmu nanti, ayo ke mobil!" Sebuah kecupan mendarat di kepala aqial sebelum Juna memapah tubuh mungil Aqila menuju mobil.
Juna menarik handel pintu dan menguncinya, masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin mobil meninggalkan halaman rumah Aqila, seseorang dengan tongkat mematung di ujung jalan, hatinya merasakan Aqila menjauh. Tubuh tegap yang menggunakan tongkat itu perlahan menjauhi rumah Aqila kembali.
"Maafkan aku Mora. Harusnya aku saat ini bersamamu menemani setiap langkahmu, tapi aku sadar akan diriku tak pantas bersanding dengan manusia sesuci dirimu," tubuh tegap itu tergugu menahan tangis. Seulas senyum menghiasi bibir laki-laki tuna netra itu, walaupun hatinya begitu terluka dengan keadaan.
Kini dirinya menyadari, kenyataan tak sesuai harapan. Dunianya seakan hancur saat ini.
__ADS_1
Terkadang suatu pengorbanan tidak selamanya untuk sebuah balasan, bahkan cinta tak selamanya harus memiliki.
Bersambung....