KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 52


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mora sudah melaksanakan salat lalu mengganti pakaiannya dengan dres terbaik yang ia punya, tak lupa pasmina ia pakai dengan warna yang senada dengan dres miliknya.


Semua telah ia persiapkan dengan matang, belahan ia menguncangkan tubuh Juna, mendekatkan wajahnya begitu dekat hingga embusan napas Juna dapat ia rasakan.


"Jangan terlalu dekat, nanti cintanya melekat," gumam Juna pelan hingga Mora tersenyum dan tersipu malu.


"Bangun, mandi solat terus kekantor," lirih Mora lalu mencium pipi Juna dengan penuh kasih sayang.


Berharap pada Tuhannya semoga ini bukan akhir dari rasa cinta yang ia punya.


"Baik, Bidadariku." Laki-laki bertubuh atletis itu mendaratkan kecupan di pipi Mora dengan lembut setelahnya ia berlalu kekamar mandi.


Sedangkan Mora menyentuh pipinya pelan, bulir bening itu luruh seketika. Tak sanggup menahan sesak yang kian mendera jiwanya saat ini.


Mora memilih diam, ia tak ingin mengutarakan keinginannya saat ini, terlalu sakit jika ia mengatakan apa yang ia rasakan dan Mora juga tidak ingin membuat Juna bersedih karena dirinya.


Beberapa saat Juna sudah keluar dari kamar mandi, sedangkan Mora masih duduk menatap wajahnya di cermin. Juna mendekat kearah Mora lalu mengulas senyum kearah cermin.


"Istriku sudah cantik, yakin mau belanja pagi-pagi, Sayang?" Juna menyentuh pundak istrinya lalu mengecup pucuk kepala wanita hamil itu.


"Yakin, Mas. Nanti keburu siang pasti panas," kata Mora, lalu ia bangkit dari duduknya menghadap kearah Juna yang masih mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya saja.


Dengan aksi liar yang baru saja Mora pelajari di drama Korea yang kemarin ia tonton kini ia coba di tubuh laki-laki bertubuh atletis itu.


Berlahan tangan mulus Mora mengelus dada bidang Juna berjalan pelan menyentuh pipi laki-laki bertubuh atletis itu, sementara Juna hanya diam lalu tersenyum menatap Mora dalam-dalam.


Selama ini wanita yang ia cintai itu tak pernah liar, yang ia ingat Mora adalah wanita pendiam dan lembut.


"Nanti malam aja kita tempur, Sayang," ucap Juna lalu menggenggam tangan Mora dan mengecupnya. Wanita hamil itu hanya menggumam pelan lalu membenarkan hijabnya yang sedikit berantakan.


Laki-laki bertubuh atletis itu mengenakan pakaian yang telah Mora persiapan di atas ranjang.


Selesai mengganti pakaian sepasang kekasih halal itu menuju meja makan, menyantap makanan sederhana lalu Juna berpamitan untuk pergi.


Mora mengulas senyuman teramat manis agar Juna tak pernah melupakannya kelak, setelah Juna benar-benar pergi, Rani memanggil menantunya itu untuk berbicara dengannya sesaat, mereka duduk di ruang tamu dan Yudha ikut serta.


Kembali wanita hamil itu tersenyum merekah saat Rani memanggil dirinya, ia berpikir Rani akan membatalkan rencananya menikahkan Juna dengan anak sahabatnya.


"Ada apa, Ma?" Mora duduk di samping wanita yang telah melahirkan suaminya itu.

__ADS_1


"Ini penting, kamu harus tau juga," kata Rani membuat wanita hamil itu bingung.


"Iya, Ma," ucap Mora pelan, karena ia tahu jika orang yang ia segani saat ini ingin menjodohkan putranya dengan anak sahabatnya.


"Mama akan menikahkan Juna dengan anak sahabat Mama, ini semua di luar dugaan kami semua karena kedatanganmu yang tiba-tiba hadir lagi kerumah ini membuat Mama harus terpasa mengikhlaskan Juna menikah denganmu!" Papar Rani dengan lembut tapi sukses membuat hati Mora terhantam batu besar.


Baru ia sadari sekarang ternyata Rani hanya terpaksa menerima dirinya di rumah ini, tak ada sama sekali kebaikan orang-orang kaya di rumah ini.


Sejenak wanita hamil itu mematung, mencerna ucapan Rani sekaligus mengatur napasnya sebelum memulai pembicaraan.


"Aku ikhlas jika mas Juna harus berbagi kasih," ucapnya pelan lalu menyentuh dadanya yang seperti penuh kerikil, berusaha menahan agar air mata tak luruh dari tempatnya, sementara ayah mertuanya hanya diam tanpa kata.


Secepatnya Mora bangkit dari ruang tamu yang menjadi saksi bisu atas perkataan Rani yang membuatnya begitu lemah. Kembali ia masuk kedalam kamar lalu mencuci muka untuk menyamarkan tangisnya dan menggunakan kembali make up tipisnya.


Kali ini hanya make up yang akan ia pakai dan akan ia bawa, ia mengulas senyum saat menatap cermin di hadapannya. Tangan mulus itu mengoles sedikit lips di tangannya lalu menggambarkan di cermin.


"Aku mencintaimu, Mas," hanya kata itu yang mampu ia goreskan.


Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi namun Mora sudah berangkat, ia memberi beberapa dres sederhana. Sebelumnya bia sudah berpamitan pada bik Inah untuk berbelanja.


Sambil menahan sakit di hatinya dan sakit bagian punggung yang terasa begitu nyeri Mora berjalan tertatih, akan ia ulang kisah yang pernah ada dulu.


Wanita cantik bertubuh mungil itu sama sekali tidak ingin kembali kerumah Rani, uang di kartu ATM miliknya juga sudah ia ambil sebagian, cukup untuk bertahan hidup dalam waktu sembilan atau sepuluh bulan menunggu buah hatinya lahir kedunia.


Tangganya melambai ke arah bis tujuan yang sama sekali ia tidak tahu, ia baru di kota besar ini, begitu juga dengan pengalaman baru yang akan ia mulai.


"Bismillah," ucapnya saat kaki itu benar-benar masuk kedalam bus.


Beberapa pasang mata menatap kearahnya namun ia tak peduli, wanita hamil itu duduk di samping wanita paruh baya seusia Rani namun berpakaian syar'i.


Suasana senja menghiasi langit dengan warna keemasan yang begitu indah, seseorang menguncangkan tubuh Mora pelan.


"Dek, bangun! Sudah di terminal," ucap laki-laki itu lalu mengulurkan tangannya meminta ongkos saat mata wanita hamil itu sudah terbuka sempurna.


Mora merogoh tas kecilnya lalu ia mengeluarkan beberapa lembar pecahan seratus ribu dan memberikannya pada laki-laki yang seusia Juna itu.


"Kembalinya, Neng." Memberikan beberapa pecahan uang lima ribu dan dua ribuan. Wanita hamil itu hanya mengangguk lalu mengambil uang kembalian dan keluar dari bus.


Kembali ia merogoh tak kecil miliknya sambil memasukkan uang kembalian kedalam tas ia mengambil gawainya. Ia terperanjat saat puluhan panggilan dari nomor Juna dan beberapa pesan yang enggan ia buka.

__ADS_1


Wanita cantik itu yakin jika membuka pesan dari suaminya itu hatinya akan luluh dan pasti akan kembali kerumah itu. Dengan tertatih ia berjalan menuju rumah makan terdekat, kakinya keram dan perutnya terasa sangat lapar karena dari pagi ia belum makan nasi sama sekali, hanya makan cemilan ringan saat dalam bus tadi.


Memesan satu porsi nasi goreng dengan segelas teh manis lalu ia kembali mengambil gawainya dan mematikannya saat satu pesan dari Juna kembali masuk, bulir bening jatuh saat kartu SIM dari ponselnya itu, ia keluarkan dan ia patahkan.


"Maafkan aku, Mas," lirihnya hampir tidak terdengar.


Tak lama pesanannya datang, wanita hamil itu menyantap habis makanannya tak tersisa. Ia duduk cukup lama di rumah makan itu memikirkan kemana langkah yang akan ia ayunkan sebentar lagi sementara waktu semakin larut.


Tak ada kata menyerah untuknya, ia menyambar ponselnya lalu bangkit dari duduknya, membayar tagihan makanan yang baru saja ia santap lalu pergi meninggalkan rumah makan itu.


.


.


.


____


Di rumah Rani bik Inah terlihat cemas begitu juga Rani, wanita yang dulunya modis itu merasa bersalah atas apa yang ia ucapkan tadi pagi, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Mora bisa senekat itu meninggalkan suaminya.


"Kemana kamu, Sayang?" Juna mengusap wajahnya kasar, keadaannya saat ini benar-benar kacau.


Juna membanting nastar yang baru saja ia beli ke lantai karena ia merasa begitu emosi. Entah pada siapa amarahnya saat ini ia juga bingung harus menggambarkan seperti apa.


"Ma, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi sebelum kepergian Mora?" Laki-laki bertubuh atletis itu menatap lekat manik mata wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh intimidasi.


"Mama cuma mengatakan apa yang seharusnya Mama katakan. Bukankah ia harus tau jika kamu akan menikah lagi?" Tutur Rani pelan, ada raut penyesalan di wajahnya namun ia berusaha agar tetap terlihat berwibawa di depan Juna.


"Mama tidak punya hati sama sekali, siapa yang setuju atas pernikahan yang Mama tentukan itu hah?" Laki-laki bertubuh atletis itu memekik begitu keras membuat Rani menundukkan wajahnya, sementara sang ayah berusaha menenangkan Juna.


"Kita cari Mora sama-sama," ucap Yudha sambil menepuk bahu anaknya itu pelan.


"Aku akan mencarinya sendiri!" Juna berjalan dengan hati yang begitu sakit, meninggalkan Rani yang mulai sesugukan.


"Jangan keras kepala, Juna. Papa akan membantumu mencari Mora, jika mencarinya bersama maka peluang menemukan Mora bisa lebih cepat," imbuh Yudha namun tak ada tanggapan dari Juna, ia masih terlalu kesal pada Rani dan Yudha juga menjadi pelampiasan kekesalannya.


.


.

__ADS_1


Cinta sejati tak harus memiliki, cukup mengangumi dalam kejauhan dan dengan untaian doa.


__ADS_2