KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 13


__ADS_3

Malam berganti dengan pagi, suasana hati masih tak berubah. Gundah itu masih ada, rasa rindu masih sama. Tangan kekar itu menyibak gorden kasar, mentari menebus jendela kaca kamarnya.


Hari ini dengan malas tapi terpaksa harus masuk kantor, perusahaan rintisan dari ibunya berkembang pesan saat di tangannya. Dulu tak mau kuliah dengan bermacam alasan, sekarang ilmu di bangku kuliahan sangat berarti baginya.


Jam menunjukkan pukul delapan, usai mempersiapkan dirinya kini laki-laki bertubuh atletis itu turun ke lantai bawah untuk sarapan, langkahnya ia percepat mengingat hari ini ada pertemuan dengan salah satu ustadz untuk kajian peribadi antara mereka berdua.


Di dapur hanya bik Inah sendiri duduk di lesehan, mengunyah beberapa lebar roti, wanita paruh baya itu akan terasa begitu lapar saat adzan subuh berkumandang.


"Pagi, Bik Inah," sapa Juna, lalu laki-laki itu menarik kursi di meja makan, duduk dan meneguk susu yang sudah tersedia.


"Pagi juga Den," jawab bik Inah dengan suara pelan, mulutnya susah berbicara karena sedang mengunyah.


"Mama mana, Bik?" Tanya Juna. Penasaran karena beberapa hari ia tak melihat ibunya.


"Nyonya di kamar, Den. Kemarin beliau bilang mau menyusul bapak keluar negri, katanya rindu. Tapi nyonya ga bilang sama bapak, karena mau buat kejutan untuk bapak. Besok kan ulang tahun bapak, Den," jelas bik Inah, sementara Juna hanya menganggukkan kepalanya, rasanya malas membahas laki-laki yang selalu hanya mementingkan uang dan uang.


Usai memakan beberapa lebar roti Juna melangkah menemui ibunya, Juna ingin memastikan bahwa Rani baik-baik saja, bukan dalam keadaan gundah menyusul sang ayah.


Tok ... Tok....


"Ma, boleh Juna masuk?"


Juna mengetuk pelan pintu kamar Rani, kemudian membuka handle pintu setelah suara dari dalam menyahut. Juna kini jauh mementingkan adap, berbeda dengan dulu suka semena-mena masuk ke kamar orang tuanya bahkan mengacak-acak barang Rani jika uang yang Rani berikan tidak sesuai keinginannya.


"Mama mau yusul papa ke Turki?" Tanya Juna ragu, takut jika wanita yang melahirkannya itu kenapa-kenapa dalam perjalanan.


"Iya, Sayang. Mama kangen banget," ucap Rani berbohong, bagaimana mungkin Rani bercerita jika hatinya saat ini sedang gundah, memikirkan sang suami dan terus saja bermimpi buruk tentang keadaan suaminya di sana.


"Baiknya tunggu Juna selesai menyimpan data laporan akhir bulan, kita akan pergi bersama," jelas Juna, laki-laki bertubuh atletis itu juga tak ingin jika terjadi sesuatu pada sang bunda dalam perjalanan.


"Mama ga apa-apa juga berangkat sendiri. Keadaan Mama saat ini cukup sehat untuk naik pesawat," ungkap Rani. Tangannya menyentuh tangan buah hatinya.


"Oke. Kalau begitu kabari Juna jika Mama udah sampai. Jangan banyak pikiran di sana. Jangan makan makanan sembarangan, Juna ga mau Mama sakit," jalas Juna menatap manik mata sendu milik ibundanya.


Laki-laki itu sedikit tahu jika saat ini ibundanya sedang gundah. Rasanya hampir semua wanita tak sanggup menahan gejolak di dada dan emosi jika harus berbulan-bulan berpisah dengan sang suami. Juna meninggalkan Rani stelah berpamitan dan mencium punggung tangan wanita yang melahirkannya dengan takzim.

__ADS_1


_____


Menyesuaikan laporan membuat kepalanya berdenyut. Sepertinya ia sangat membutuhkan asisten pribadi saat ini, pernah mengajak Rosan sang kakak namun di tolak mentah-mentah oleh Rosan karena dia lebih nyaman tinggal di lingkungan pesantren daripada harus memikirkan debit kredit setiap harinya.


Memijit pelipisnya pelan, tangannya beralih mengambil intercom dan menghubungi karyawan lainnya menyuruhnya membawakan dirinya segelas kopi.


"Pak, ini kopinya," ucap Lolita sambil meletakkan kopi di meja Juna, pintu ruangan Juna memang terbuka, jadi wanita itu merasa tak perlu mengetuk pintu hanya sekedar mengantarkan kopi pesanan Juna.


"Baik. Silahkan kembali bekerja," ujar Juna tanpa menoleh kearahnya. Padahal Lolita juga menyimpan rasa pada Juna, tapi dirinya sadar sebagai karyawan biasa tak pantas merebut hati pemilik perusahaan. Siapa yang tak jatuh cinta pada pria bertubuh atletis dan berwajah Korea. Wanita itu hanya memendam rasa yang tak akan pernah ia utarakan.


Juna segera menyeruput kopinya panasnya agar otaknya sedikit plong. Sedikit lagi pekerjaannya akan usai, menatap jam dinding di ruang kerjanya hampir menunjukkan pukul dua belas, sebentar lagi akan istirahat makan siang dan siang ini ada janji menemui ustadz yang ia undang untuk membahas masalah pribadinya. Ustadz itu tak pernah tampil di lelevisi tapi ia cukup terkenal di media sosial.


Bergegas Juna menuju parkiran dan memasuki mobil miliknya lalu melajukan kendaraan roda empatnya ke tempat tujuan.


Memboking satu restoran tak membuat dirinya rugi untuk kenyamanan ustadz yang akan ia tanyakan banyak hal. Beberapa menit terhalang macet jalanan karena beberapa memang suasana makan siang.


Setelah sepuluh menit menunggu suasana macet lenggang akhirnya dia sampai di restoran yang ia janjikan, di sana sudah ada ustadz bersama dua santrinya duduk. Juna segera mendekat dan mencium punggung tangan ustadz dengan takzim. Menghargai guru akan mendapat pahala, begitu ceramah yang pernah ia dengar.


"Maaf saya terjebak macet tadi, Ustadz," jelas Juna berharap ustadz tak marah pada dirinya dan masih mau menemuinya di lain waktu.


"Saya mau bertanya banyak hal sama ustadz, semoga berkenan," ucap Juna membuka percakapan.


"Apa pun selama saya bisa menjawabnya pasti akan saya jawab. Kecuali saya sendiri masih belum mempelajarinya," jelas sang ustadz. Sementara dua santri hanya menyimak.


"Bagaimana hukumnya jika anak yang lahir di luar nikah, maksud saya nasabnya bagaimana dan sepenuhnya tanggung jawab siapa? Berdosakah jika yang menghamilinya tak bertanggung jawab?" Tanya Juna tenang padahal hatinya kacau saat ini.


"Baik. Yang kita tau anak itu tidak berdosa, nasab anak jatuh pada ibunya dan tanggung jawab ibunya sepenuhnya. Soal dosa dan tidaknya saat melakukan zina saja sudah dosa apa lagi menelantarkan anak manusi yang tak berdosa. Tapi kembali lagi pada tanggung jawab dia sepenuhnya tanggung jawab ibunya, lihat keadaan ibunya juga. Saya harap paham!" Jelas ustadz. Laki-laki bertubuh atletis itu mengangguk pelan, mungkin kurang puas dengan jawaban yang ustadz berikan.


Tak lama makanan datang di meja mereka. Ada banyak makanan mewah tersaji di sana, ustadz hanya menggeleng pelan, mungkin merasa heran dengan cara Juna yang melebihan.


Matanya terus saja menatap pelayan dengan tatapan sendu.


'Mora," batinnya. Ragu untuk menyapanya karena pak ustadz bersamanya, jika tak ada ustadz maka ia akan dengan sigap menahan wanita itu. Pak ustadz mendehem, menyadari tatapan Juna tertuju pada gadis muda itu.


"Baiknya temui kelurganya. Jika memandang wanita bukan mahrom maka jatuhnya zina, diantaranya zina mata, zina hati," jelas ustadz yang kini meraih air putih lalu meneguknya hingga tandas.

__ADS_1


" Tapi saya masih terbelenggu masa lalu, Ustadz. Saya takut nanti akan menjadi bumerang untuk saya sendiri," kata Juna, jujur saja bayangan Mora masih terbayang setiap saat bahkan dalam mimpinya. Wajah istrinya itu selalu menari di pelupuk mata.


"Matantapkan hati, tundukkan pandangan. Pelan-pelan lupakan masa lalu. Jika baik maka ikhlaskan, jika buruk maka lupakan."


"Baik. Akan saya coba, Ustadz."


Masa lalu dan kenangan sulit di lupakan apa lagi jika kenangan itu sudah melekat dalam hati.


Mereka menyantap makanan dalam hening, salah satu adab makan mengurangi bicara. Usai melempar gurau pada Juna, ustadz pamit terlebih dahulu untuk mengajar di pengajian dengan yayasan yatim piatu. Mengantarkan sampai depan restoran sampai pak ustadz menghilang di persimpangan jalan. Kembali kaki Juna di ayunkan memasuki restoran tersebut lalu duduk di meja yang berbeda.


Beberapa karyawan berbisik, karena mereka juga tahu juga restoran ini sudah di booking oleh Juna.


Laki-laki bertubuh atletis itu sengaja ingin melihat wajah istrinya pada gadis itu. Juna mengangkat tangannya saat salah satu pelayan menatapnya, pelayan itu menatapnya ragu perlahan mendekat.


"Mau pesan apa lagi, Pak?" Tanya pelayan itu lembut sambil memberikan buku menu lain.


Juna menunjuk beberapa menu lalu memberikan buku menu itu pada pelayan.


"Saya ingin di temani makan oleh teman kalian tadi yang mengantarkan makanan," jelas Juna. Mata pelayan itu melebar, seolah tak percaya.


"Bisa?" Tanya Juna lagi.


"Bi ... Bisa...." Ia mengayunkan langkahnya meninggalkan Juna.


Beberapa menit menunggu akhirnya makanan datang, benar yang menyajikan adalah Aqila wanita yang mirip sembilan puluh delapan persen dengan wajah Mora.


"Silahkan makan, Pak. Biar saya temani," ucap Aqila lalu duduk di hadapan Juna. Sedangkan laki-laki bertubuh atletis itu menatapnya tanpa berkedip.


"Pak ... Anda dengar saya?" Dengan ragu Aqila meninggikan sedikit suaranya. Juna tersentak dari lamunannya. Cara bicaranya seperti Mora membuat Juna sedikit kesal, seperti kesalnya pada mendiang istrinya dulu.


"Ga usah ngegas." Kata Juna, membuat mata wanita cantik itu membola sempurna.


",Habisnya di tanya diam aja, ngegas dikit doang biar bapak ga ngelamun aja," jelas Aqila. Membuat Juna sedikit tertantang poda wanita pemberani.


"Kamu saja yang makan. Saya kenyang," jawab Juna santai. Nyatanya memang begitu. Ini hanya trik darinya agar ada waktu untuk mereka berdua walau mungkin nanti tak akan bertemu lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2