KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 59


__ADS_3

Dua laki-laki bertubuh tegap itu masih setia mengikuti Mora dan menunggu di depan toilet umum.


Beberapa saat di dalam toilet Mora keluar dan langsung di bekap oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap itu.


"Pingsan, tapi dia lagi hamil gimana dong?" Tanya salah satu dari mereka, sejenak mereka saling pandang.


"Hei mau kalian bawa kemana istriku!" hardik Alif membuat mereka tergesa mengendong Mora lalu berlari sedikit dan memasukkan kedalam mobil mereka.


Alif hendak menghentikan aksi dua laki-laki bertubuh tegap itu namun teringat pada Farid di dalam mobilnya tinggal seorang diri.


Laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih itu mengejar mobil yang membawa Mora, masih terlihat dari kejauhan, Alif mempercepat laju mobilnya namun ada seseorang menyeberang jalan membuat laki-laki berkulit putih itu kehilangan jejak Mora.


Alif menggerutu kesal lalu memukul stir beberapa kali karena gagal menjaga Mora, kejadian yang sama terjadi saat istrinya harus meregang nyawa di tangan musuhnya, Alif yakin kalau yang menculik Mora adalah musuhnya yang mengandalkan anak buahnya.


Laki-laki bertubuh tinggi itu merasa bersalah, ia merutuki kebodohannya saat ini. Pandangannya beralih pada Farid yang memanggil dan terus bertanya keberadaan Mamanya.


"Bentar. Kita lagi cari Mama, semoga Mama baik-baik aja," jelas Alif pada bocah balita itu yang sama sekali tak mengerti apa-apa.


.


.


Dalam mobil yang membawa Mora kedua laki-laki bertubuh tegap itu bingung cara menyadarkan Mora yang masih belum kembali kesadarannya efek obat bius dari sapu tangan mereka tadi.


"Kira-kira bos bakal marah ga ya?" Lagi-lagi mereka takut Mora tak akan sadar saat tiba di penginapan bosnya nanti.


"Marah ya terima, pokoknya ini wanita hamil udah berada di hadapannya nanti," jelas temannya sambil fokus menyetir.


Mulut Mora sudah di bekap dengan isolasi untuk menghindari agar Mora tidak berteriak. Salah satu dari laki-laki bertubuh tegap itu yang duduk di samping Mora memercikkan air mineral ke wajah wanita hamil itu membuat Mora mengerjap beberapa kali lalu hendak berteriak.


"Udah, Mbak. Ga usah berteriak. Kami jual orang jahat," ucapnya memperhatikan tingkah Mora yang terus saja menggelengkan kepalanya.


"Bener, Mbak. Kami cuma suruhan supaya Mbak kami bawa ketempat bos kami," jelas laki-laki yang sedang menyetir mobil.


Mora terus saja menjatuhkan bulir bening membuat mereka iba menatap kearah Mora karena mereka memang memiliki mata hati. Mora mengiba seolah ingin mereka melepaskan isolasi yang menempel di mulutnya.


"Kami lepaskan isolasi tapi Mbak jangan berteriak," ucap laki-laki yang duduk di samping Mora itu, Mora hanya mengangguk pelan, pashmina yang ia kenakan saat ini entah kemana membuat rambutnya sebagian menutupi wajahnya.


"Mau kalian bawa kemana aku?" tanya Mora lirih masih dengan sisa tangisnya.


"Mau kami bawa kerumah bos. Dikit lagi rumahnya kelihatan, Mbaknya jangan nangis kasian janin yang Mbak kandung," jelas laki-laki yang duduk di samping Mora, tangannya menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Mora.


"Hijab saya kemana?" tanya Mora sambil menyeka air matanya dengan bahunya karena tangannya masih terikat ke belakang.

__ADS_1


"Dia bilang apa, Bre?" Laki-laki bertubuh tegap yang ada di samping Mora bertanya pada temannya yang sedang mengemudi. Sebutan bre karena temannya itu berambut keriting halus.


"Ga tau, emang tadi lu buang benda apa dari tubuhnya?" tanya temannya dengan polosnya.


"Penutup kepalaku kemana, Mas?!" pekik Mora membuat keduanya menutup telinga sebentar.


"Dah ku buang, Mbak. Lagian itu penutup kepala nyangkut di leher saya, hampir innalilahi tadi saya," ucap laki-laki yang duduk di samping Mora itu.


Wanita hamil itu berdecak kesal namun tak dapat melakukan apapun, pasrah saat ini yang akan ia lakukan.


Tak lama mobil tiba di rumah kecil namun sedikit masuk kedalam gang yang tidak begitu sempit, bukan rumah sesungguhnya melainkan tempat persinggahan sementara laki-laki yang mereka sebut bos.


"Bos kalian kok miskin. Sok nyulik orang lagi," ucap Mora pelan namun mereka dapat mendengarnya.


"Ga miskin, Mbak. Rumah ini hanya tempat eksekusi korban," jawab mereka bersamaan membuat Mora menelan salivanya, takut karena saat ini ada junior kecil yang harus di jaga, jika dirinya sendiri maka ia tidak takut sama sekali.


Dua laki-laki bertubuh tegap itu membantu Mora keluar lalu berjalan beriringan menuju rumah kecil namun terbuat dari beton kokoh dan kedap suara karena memang bos mereka menyukai musik.


.


.


.


Di tempat yang berbeda Juna sedang beristirahat usai menyelesaikan administrasi dengan pemilik kosan yang betul-betul pelit juga banyak aturan, juna membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil yang sudah usang lalu merogoh sakunya dan mengambil gawainya.


Di layar depan terpampang jelas foto wajah Mora yang sedang tersenyum. Laki-laki bertubuh atletis itu membuka galeri lalu mengeser perlahan benda pipih miliknya yang memperlihatkan wajah cantik Mora yang sedang tersenyum manis.


Berlahan ia mengusap benda pipih itu lalu mengecupnya pelan.


"Kembalikan istriku ya Allah," lirihnya lalu menyimpan gawainya. Memejamkan matanya sejenak berharap bertemu dengan bidadarinya walaupun hanya sesaat.


Belum sampat ia terlelap satu panggilan masuk ke gawainya, nama Syaki terpampang jelas di sana.


"Ada apa Syaki?" tanya Juna sambil bergeser sedikit membenarkan posisi tidurnya setelah mengangkat panggilan dan menempel gawai di telinganya.


"Nyokap sama bokap lu nelpon gue, tanyain keberadaan lu sama gue. Gue jawab aja gua ga pernah kontekan sama lu dan kehilangan kontak lu. Sadis banget ya gue ...." selorohnya sesaat ia tergelak di sebrang sana namun Juna hanya diam terpaku.


"Maaf kalau gue salah, Bro," sambung Syaki di sebrang sana.


"Santai aja. Aku cuma ingin menenangkan diri dan menjauhi orang yang tak pernah menghargai diriku," kata Juna pelan, sesaat terkekeh kecil. Ada hati yang luka berusaha ia tutupi.


"Lu di mana?" Syaki bertanya serius pada Juna sekaligus berharap temannya masih mau mencari keberadaan istrinya seperti Syaki saat ini sedang mencari Mora walaupun Mora bukan siapa-siapanya.

__ADS_1


"Aku di Lampung," ucap laki-laki bertubuh atletis itu kesal. Ia tahu jika Syaki menanyakan keberadaan dirinya maka laki-laki bergelar sahabat itu sedang khawatir padanya dan Mora saat ini.


"Ouh. Ya udah, semoga Mora lekas ketemu sama lu," ucap Syaki datar.


"Ya." Setelahnya Juna mematikan panggilan sepihak tanpa salam.


Ia sengaja tidak mengganti nomor ponselnya agar Mora dapat menghubungi dirinya ke nomor yang sama walaupun sudah seminggu Mora masih sanggup untuk berdiam diri tanpa menghiraukan kekasih halal yang selalu memikirkannya saat ini.


Juna meletakkan gawainya lalu kembali memejamkan matanya, terlalu lelah dalam perjalanannya tadi malam terlebih sepanjang perjalanan ia tidak dapat memejamkan matanya karena udara dingin AC yang rusak dalam bus seakan menusuk tulang.


.


.


Di tempat lain Mora sedang menatap sosok asing di hadapannya yang tak pernah ia kenal sama sekali.


"Apa salahku sama kamu sampai tega kamu membahayakan janin dalam rahimku ini dengan obat bius hah?" tanya Mora dengan suara bergetar.


Laki-laki yang memakai penutup kepala itu menatap Mora lekat lalu mengalikan pandangannya pada anak buahnya yang seketika menunduk.


"Kurang ajar kalian, sudah kukatakan jangan lakukan apapun yang membahayakan janinnya," hardik laki-laki yang duduk di kursi kebanggaannya itu.


"Maaf, bos. Tadi laki-laki yang sedang bersama Nona ini hendak mengejar dan menggagalkan aksi kami," dustanya sedikit membela diri, padahal mereka sudah membius Mora sebelum kedatangan Alif tadi.


Laki-laki bertubuh tinggi yang memakai penutup kepala itu tak menangapi perkataan anak buahnya, ia beralih menatap Mora.


Berdiri dari duduknya dan mendekat kearah wanita hamil yang sedang menjatuhkan bulir bening di hadapannya.


Berlahan ia mengusap kepala Mora lalu mengangkat dagu wanita hamil itu hingga Mora mendongak menatap kearah laki-laki yang bukan mahram untuknya saat ini.


"Lepaskan saya," lirih Mora mengiba.


"Tidak akan. Saya tidak akan menyentuhmu, tidak akan menodaimu. Saya akan perlakukan kamu bagaikan ratu di sini asalkan kamu tetap bersama saya dan mau menuruti perkataan saya," jelasnya.


"Baik." Mora berdusta untuk kali ini, ia tak pernah ingin tinggal di sini terlebih tak ada ikatan pernikahan sama sekali, berbeda dengan Alif, ia bekerja pada laki-laki itu dan ada wanita lain di rumah yang ia tempati kemarin.


Sedangkan di sini suasananya begitu menakutkan, banyak bekas darah dan bau tidak sedap dan hanya dia satu-satunya wanita.


.


.


Berdusta untuk kebaikan tak apa, demi keselamatannya dan janinnya saat ini, saat laki-laki bertubuh tinggi itu lalai maka di situ kesempatannya melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2