KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 7


__ADS_3

Disisi lain insan yang sedang merasakan kebahagiaan sedang memikirkan cara menaklukkan hati orang tuanya. Berusaha memikirkan beribu alasan agar sang ibundanya setuju atas pernikahan yang ia inginkan.


"Hallo, ma. Mama di mana?" Tanya Juna saat panggilannya diangkat.


"Mama ada di butik, mau pesan apa biar mama belikan?"


"Ga, ma. Juna mau nyamperin mama kesitu boleh?"


"Boleh. Mama tunggu di sini," jawab Rani. Panggilan pun berakhir.


Sungguh menggantungkan harapan hanya pada Tuhan, jika Allah menghendaki maka semua akan terjadi. Tugasnya saat ini membujuk sang bunda agar percaya padanya, selanjutnya meluluhkan hati wanita yang mengandung benih yang ia titipkan secara paksa.


Gegas laki-laki bertubuh atletis itu memasuki kamar mandi lalu berwudhu setelahnya melaksanakan salat duhur. Selesai melaksanakan salat tangannya ia tadahkan ke atas.


"Ya-Allah ampuni hamba, berikan kemudahan dalam urusan hamba. Hamba tau hamba tidak pantas untuk meminta apa pun dari-Mu. Hamba manusia keji," lirihnya. Matanya berembun, mengusap kedua tangannya di muka. Beralih menatap gawainya yang dari tadi terus saja menjerit, ada puluhan panggilan dan pesan dari sahabatnya di sana.


Seraya melepaskan sarung yang ia kenakan untuk salat, tangannya meraih gawai miliknya.


"Jun, besok ada job besar. Duitnya gede, bisa nyogok lu tuk jadi artis!"


"Lu mau ga, Jun?"


"Biasanya lu ga pernah absen, cuma ngabisin kecoa kecil doang." Tertera beberapa emot tertawa.


"Nanti malam gua tunggu di club, banyak cewek cantik juga bro. Kita bicarakan nanti sambil sedikit minum!"


Tak ada niat hati Juna untuk membalas pesan dari sahabatnya itu, berniat mengabaikannya dan datang ke butik milik orang tuanya.


Juna turun dari lantai atas, tak ada niat untuk menemui gadis cantik yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kekasih halalnya. Tak ingin membuat orang tuanya terlalu lama menunggu ia bergegas memacu mobil miliknya menuju butik orang tuanya yang hanya butuh waktu dua puluh menit saja.


Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia, dulu yang terlihat buruk kini menjadi baik. Juga Allah menutupi aib manusia itu sendiri. Kemarin Juna datang untuk mendengarkan tausiah ustadz yang ia temui di beranda aplikasi biru miliknya, saat tausiah berlangsung dia mendengarkan dengan seksama, tak ada terlewatkan sedikit pun. Bahkan saat sang ustadz mengatakan 'manusia diciptakan hanya untuk bersujud pada-Nya bukan melanggar apa yang di larang oleh-Nya'. Kata-kata itu seperti memukul telak dirinya, rasa dalam hatinya seperti jutaan duri yang tertancap.


___


'Masih ada mobil mama,' gumamnya lirih. Berharap sepenuh hati agar sang ibunda merestui niat baiknya walau ini semua begitu mendadak.


"Ma. Juna mau bicara serius," celetuknya pada wanita cantik yang sedang menggambar desain baju.


"Ngagetin aja sih ni anak ga ada sopannya dari dulu," gerutunya sambil memukul kepala sang putra pelan.


"He, maaf. Juna mau bicara serius," kekehnya, membuat ibunya menggelengkan kepala karena tidak biasanya putranya berbica hal serius padanya. Bahkan beberapa bulan yang lalu Juna tak berbicara sama sekali.


"Sini duduk." Melirik sofa di sampingnya. Juna yang masih berdiri gegas duduk di samping wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ma, Juna ingin berbuat baik. Mama setuju?" Tanyanya, tangannya menyentuh lembut punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Setuju. Asalkan kuliahmu ga terbengkalai, Sayang," ucapnya. Senyumnya merekah memandang wajah sang putra yang semakin hari semakin tampan dan semakin dewasa.


"Boleh kan Ma aku menikahi Mora." Dengan ragu akhirnya kata-kata itu ia lontarkan dengan sangat berat. Hatinya begitu gundah, takut jika sang bunda merasa marah dan mengusirnya dari rumah.


Mendengar perkataan anaknya itu, Rani tersenyum simpul, ada rasa yang tak bisa ia gambarkan. Satu sisi dia sayang juga pada gadis itu, di sisi lain bagaimana dengan anaknya kelak menanggung beban, menikahi wanita tuna netra memiliki resiko, hidupnya akan tidak terurus, jika memiliki anak juga pasti yang ikut mengurus adalah putranya.


"Kamu yakin. Apa kamu mencintainya? Bahkan kamu juga tau sendiri dia sedang mengandung."


"Juna yakin, Ma. Juna mulai merasa iba dan juga mencintainya," jelas putranya dengan wajah yang begitu tenang.


"Apa pun keputusanmu. Mama dukung," terangnya. Laki-laki itu sangat bahagia mendengar penuturan wanita yang telah melahirkannya.


Dengan hati yang gembira ia melangkah keluar dari butik, jika bisa berteriak maka ia akan lakukan agar hatinya terasa lega.


Mungkin ini cara Tuhan menyadarkannya, memberikannya suatu kesempatan untuk bertaubat.


Langkahnya terhenti mendengar satu panggilan masuk di gawainya. Putri memanggil dengan Poto profil wajah Juna terpampang jelas di sana. Masih terbalut dengan masa lalu, dirinya dengan wanita bernama Putri. Wanita itu salah satu anak dari teman mamanya.


"Mati gua!" Lirihnya. Ingin mengangkat panggilan itu rasanya ia begitu malas dan enggan jika harus berbicara panjang lebar tentang pernikahan yang wanita tinggi semampai itu inginkan, walau sebenarnya Juna juga sudah pernah menjamahi seluruh tubuh wanita itu tanpa terkecuali tapi niatnya untuk menikahi gadis itu tak pernah ada dalam benaknya.


Dunia laki-laki berwajah bak artis Korea itu kini hanya seputar Mora si gadis malang, juga tentang bayi mungil yang akan lahir nantinya.


"Gua tunggu di club malam ini," pesan dari sahabatnya kembali tampil di layar atas gawai miliknya.


"Ya. Gua akan datang. Tapi tidak untuk minum," balasnya singkat.


"Nanti kita bahas."


Pesan terakhir darinya. Lalu memacu kendaraannya dalam kecepatan sedang, wajah bahagia tergambar jelas di mukanya. Bagaimana tidak, dia akan menemui bidadari yang pernah ia nodai dan mengatakan bahwa ibunya setuju untuk menerima Mora si gadis tuna netra sebagai menantunya.


___


Malam memperlihatkan rembulan, beberapa awan bergelantungan manja, pertanda hujan tak lama lagi akan membasahi bumi tempat dimana insan manusia berada. Namun dua hati itu belum bertemu, belum bertukar kabar.


Wajah cemas Mora tergambar jelas, bik Inah yang melihatnya ikut merasakan kekhawatiran yang sama.


"Mikirin Den Juna?" Tanya bik Inah pada wanita cantik yang sedang meraba beberapa buku untuk ia baca.


"Iya, Bik. Tuan menjanjikan sesuatu kepada saya," jawabnya dengan suara bergetar menahan tangis.


"Bentar lagi juga pulang," kata bik Inah. Walau ia tahu biasanya anak dari majikannya itu sering kali pulang pagi dalam keadaan mabuk berat.


"Semoga aja." Meletakkan buku, berniat untuk tidur walau hati dan pikirannya berkelana jauh.


Pagi sudah menjelma, namun orang yang di tunggu dan memberikannya janji tak kunjung datang. Gundah yang tak bertepi, berusaha tetap tenang dalam keadaan apa pun.

__ADS_1


Melakukan aktivitasnya seperti biasa, bik Inah yang biasanya terlihat banyak bicara kini juga diam tanpa kata, mulutnya seolah terhipnotis untuk mode diam, begitu juga Mora, wanita itu segan jika harus bertanya tentang Juna yang berjanji akan menikahinya.


"Semalam nyonya ga pulang. Den Juna juga kan, Bik?" Tanya wanita cantik itu sambil meletakkan piring yang baru saja ia cuci.


"Iya, semalam nyonya telpon. Katanya den Juna mengalami kecelakaan," jawab bik Inah menahan isaknya. Wanita paruh baya itu sudah menganggap anak majikannya itu sebagai anaknya sendiri, jadi tak heran jika kadang ada kata Juna yang menyakiti hatinya dia tidak terlalu ambil pusing.


Mendengar perkataan itu dada Mora bergemuruh, ada rasa sesak yang teramat dalam. Mengapa ia menggantungkan harapan pada manusia, Mora tahu jika berharap pada manusia maka ia akan merasakan kecewa. Kini sudah terbukti, memegangi dadanya dan membekap mulutnya sendiri agar tak terdengar suara isakannya.


"Tuhan, tak pantaskah jika janin ini memiliki sosok ayah," lirihnya. Napasnya terengah-engan, tubuh mungil itu terduduk di lantai.


"Nanti kita kerumah sakit. Tenanglah, Neng." Memapahnya berdiri lalu duduk di lesehan. Bik Inah mengambilkan makanan dan beberapa buah untuk ibu hamil, walau bagaimana pun wanita itu butuh gizi untuk tenaganya.


"Makan dulu. Nanti den Rosan akan jemput kita."


"Mora ga lapar, Bik."


Gadis itu terus saja memainkan jemarinya, tanda kecemasan yang teramat dalam. Mungkin saja rasa cinta itu sudah tubuh di hati Mora atau hanya sekedar memikirkan harapan yang akan segera pupus dari agan.


Tak lama laki-laki berwajah Turki itu datang dengan memasang wajah cemas, wajah yang tak pernah bik Inah lihat sebelumnya membuat wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh menghampiri anak majikannya itu.


"Den Juna gimana keadaannya, Den. Sebenarnya apa yang terjadi sampai dia bisa masuk kerumah sakit?" Brondong bik Inah dengan sedikit mengguncangkan tubuh tinggi Rosan.


"Juna sudah sedikit membaik," Jawabnya seraya menghela napas berat. "Ada segerombolan bajingan mengeroyoknya," lanjutnya.


"Setau Bibik den Juna jago bela diri," imbuh bik Inah lagi.


"Beda kasus, kondisi Juna sedang mabuk saat itu. Juga mereka main keroyokan," timpal laki-laki bertubuh tinggi itu.


"Kamu Mora!" Serunya membuat wanita cantik itu terperanjat.


"Sa ... Saya kenapa?" Tanyanya terbata.


"Siapkan diri. Juna ingin kalian melaksanakan akad besok di rumah sakit." Menghela napas berat ia meninggalkan kedua wanita beda usia yang tengah mematung di hadapannya.


"Tunggu, Den." Tergopoh-gopoh bik Inah mengejar Rosan yang sedikit lebih cepat berjalan.


"Apa, Bik?" Laki-laki berwajah Turki itu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Saya ingin lihat Den Juna," lirihnya. Mata wanita paruh baya itu menjatuhkan bulir bening yang terus saja berlomba berjatuhan.


"Baiknya ga usah, Bik. Dokter tidak mengijinkan siapa pun masuk kecuali mama, aku aja terpaksa pulang, Bik," jelasnya. Wajah lesu itu kembali meninggalkan tubuh yang sedang tergugu itu.


Hanya doa yang bisa mereka panjatkan untuk kesembuhan Juna saat ini, luka koyak pada bagian wajah dan pangannya harus melakukan jahitan serius dan tidak di perbolehkan pulang walau Juna memaksa.


Luka koyak di wajah Juna tak sebanding dengan syatan luka di hati Mora, seakan karma sedang bertindak padanya. Menguji cinta dan juga imannya.

__ADS_1


Iman keduanya diuji oleh sang pemilik hati, doa keduanya bertemu di langit, pertemuan keduanya atas kehendak sang maha cinta. Garis takdir mereka mungkin harus bersama, atau tidak akan pernah selamanya.


Bersambung....


__ADS_2