
Seminggu sudah berlalu, laki-laki bertubuh atletis itu masih mencari keberadaan Mora ke tempat yang sama dan berkali-kali juga Rani menyuruh anaknya itu untuk pulang dan melayani Wulan, seolah hal yang lucu saat mendengar Wulan menceritakan bagaimana kekesalan Juna saat Wulan menyuruh ini dan itu.
Hari ini tepat hari Rani berkunjung kerumah sahabatnya untuk melangsungkan lamaran sekaligus pertunangan yang telah ia rencanakan. Wanita modis itu tampil paripurna seperti tidak kelihatan sedang sakit sementara Juna masih terlihat acak-acakan, ia begitu malas mengurus dirinya karena tubuh dan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Juna. Buruan, Sayang," pekik Rani dari ruang tengah, sedangkan Juna masih memindai wajahnya di cermin.
Berjuta penyesalan dalam hatinya karena gagal menjaga bidadarinya berkali-kali.
"Akan kita mainkan drama ini sebentar, bersabarlah," lirihnya lalu berpakaian seadanya, kemeja putih dan jas hitam dan jeans hitam.
Laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum miring, ia tak ingin menyalahkan keadaan saat ini, ia begitu menyadari bahwa wanita yang melahirkannya itu begitu egois.
Juna keluar dari dalam kamar dan menemui Rani yang sudah ada di teras, wanita cantik itu terlihat menyunggingkan senyum manis kearah Juna sementara sang ayah hanya menatap nanar kearah anaknya itu. Keputusan terbaik untuk Juna ada di tangan Rani, bukan di tangan Yudha saat ini.
.
.
Mobil mewah milik Rani membelah jalanan yang sedikit macet, gerimis kecil membasahi bumi. Hati yang sedang gundah itu menatap sayu kearah luar jendela.
Setelah berkutat dengan kemacetan tak lama mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah Rosa, sahabat Rani yang tidak pantas di sebut sebagai sahabat.
Jam dinding masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, sementara tamu yang menghadiri pertunangan mereka sudah begitu ramai.
"Senyum dikit dong," ucap Rani sambil menyenggol anaknya yang sedang berdiri menatap kearah rumah yang sudah berhiaskan bunga-bunga. Juna menyunggingkan senyum paksa.
"Harus sopan!" Rani berjalan beriringan dengan Juna karena Rosan tak mau ikut sebab ia menolak keputusan Rani menjodohkan adiknya dengan wanita berpakaian kurang bahan, terlebih Juna masih memiliki istri saat ini.
"Ganteng banget," kata teman-teman Wulan saling menyengol satu sama lain. Mereka terpesona akan ketampanan Juna walaupun ia tampil sederhana.
Wulan juga tak kalah cantik sebenarnya, ia tampil dengan gaun putih dengan makeup yang tidak terlihat menor sama sekali.
"Tuh cantik banget calon istri kamu," kata Rani sambil membenarkan jas yang dipakai Juna padahal tidak berantakan sama sekali.
Laki-laki bertubuh atletis itu mendekat kearah Wulan, wanita cantik itu tersenyum bahagia melihat Juna mau menerima pertunangan mereka.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Juna langsung memeluk Wulan membuat beberapa teman-teman Wulan berteriak seperti sedang melihat artis.
"Tenang-tenang, berhubung calon tunangannya sudah datang kita mulai acaranya," jelas pembawa acara membuat mereka terdiam seketika.
Pembawa acara menanyakan kesiapan keduanya, Juna dan Wulan mengangguk mantap seolah tak ada yang memaksakan mereka, mikrofon di serahkan kepada Wulan untuk mengatakan kata-kata terakhir yang ingin ia sampaikan pada Juna.
Wanita cantik yang berpenampilan seksi itu mengambil mikrofon dan tersenyum manis kearah orang yang menatap kearah mereka berdua.
"Saya Wulan anak pengusaha make-up terbesar di Jakarta siap menjalin hubungan lebih serius dengan Juna Andara ..." Wulan menjeda ucapannya lalu menatap kearah Juna sedangkan Juna tersenyum miring mendengar perkataan calon tunangan yang sama sekali tidak ia inginkan, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Rani sementara Rani mengangguk menatap kearah Wulan yang tersenyum.
"Saya akan menerima kekurangan pasangan saya dan akan mencintainya sampai akhir hayat dan saya tidak mau di madu," sambung wanita cantik itu lalu menyerahkan mikrofon kepada pembawa acara.
"Sekarang giliran Juna Andara," kata pembawa acara lalu memberikan mikrofon kepada Juna yang terlihat seperti orang linglung.
"Satu satu aku punya istri, dua dua aku kawin lagi ... Ye kawin lagi ... Kawin lagi ... Mama suruh kawin lagi, kawin lagi," kata Juna sambil melompat kegirangan tak ubahnya anak TK yang baru mendapatkan eskrim setelahnya ia tergelak.
Semua tamu undangan tercengang melihat tingkah Juna begitu juga Rani yang terlihat syok dan memegang dadanya.
Pembawa acara mundur beberapa langkah karena laki-laki yang bergelar ayah Wulan itu mendekat dan merebut mikrofon dari tangan Juna yang memasang wajah sedih.
"Cukup!" Mirza-- ayahnya Wulan itu menatap tak suka kearah Juna dan Rani.
"Saya, selaku ayahnya Wulan membatalkan acara pertunangan ini dan pernikahan tidak akan pernah terjadi dengan anak dari saudara Rani," ucap Mirza pelan lalu meletakkan mikrofon di atas meja kecil dengan kasar.
Banyak dari tamu undangan yang bersorak kesal, bahkan teman Wulan mengolok Wulan karena hanya melihat ketampanan tapi nyatanya laki-laki gila, lalu mereka meninggalkan rumah Rosa sementara Rani mematung menandang Juna tak percaya, bulir bening terus saja berjatuhan membasahi kedua pipinya yang berhiaskan makeup.
Wanita cantik nan modis itu berlari menuju mobilnya, rasa malu karena Juna bertingkah seperti orang gila membuat Rani sangat malu dan tak tahu harus menaruh mukanya di mana saat ini.
"Jalan aja, Pa. Tinggalkan aja Juna," pinta Rani pada Yudha yang sudah menyalakan mesin mobilnya hanya tinggal menunggu Juna menuju mobil, karena laki-laki bertubuh atletis itu sudah di ambang pintu saat ini.
"Kasian loh, Ma." Yudha membelai rambut Rani pelan, lalu mengusap bahu wanita yang melahirkan anaknya itu.
"Ya udah, Mama naik ojek aja kalau Papa ga mau berangkat sekarang," hardik Rani, wanita modis itu ingin membuka pintu mobil namun di cegah oleh Yudha.
"Oke. Kita berangkat!" Laki-laki berjambang tebal itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Yudha laki-laki penyabar dan terkesan tak peduli dalam segala hal. Suasana apapun ia anggap enteng termasuk keadaan seperti sekarang ini.
.
.
Laki-laki bertubuh atletis itu membuka jasnya lalu berjalan menyusuri trotoar pejalan kaki, jika ia bisa menghabisi wanita yang telah melahirkannya maka sudah ia lakukan.
"Semoga denga begini Mama ga maksa aku lagi," lirihnya, tak lama setelahnya tukang ojek yang ia pesan sudah tiba.
Laki-laki bertubuh atletis itu akan meninggalkan semua fasilitas pemberian dari Rani. Tujuannya saat ini adalah rumah lamanya yang akan ia jual, hanya itu harta yang sah miliknya.
.
.
"Mas. Kalo ke daerah ini ongkos ojek bukan tarif normal lagi, udah keluar dari kota besar ini," kata tukang ojek sesat mereka telah tiba di rumah lama Juna yang terlihat begitu tidak terurus.
"Aman itu, Kang. Tunggu di sini dulu saya akan masuk sebentar dan mengambil beberapa barang lalu ke rumah kepala desa," jelas Juna, sementara tukang ojek hanya mengangguk paham.
Tak lama Juna keluar sambil membawa tas kecil lalu berangkat ke arah yang telah Juna tunjukkan.
Juna masuk kedala rumah pak kepala desa yang tak begitu jauh dari rumahnya sebelumnya ia sudah memberikan salam, ia memberitahu pada kepala desa tentang maksud dan tujuannya datang bahwa rumah akan ia jual dengan harga miring, kepala desa hanya mengangguk mengiyakan, sedikit bertukar cerita lalu laki-laki bertubuh atletis itu pamit pulang.
Jika mengatakan pulang entah pulang kemana ia saat ini, tak ingin lagi menginjakkan kaki di rumah wanita yang telah melahirkannya itu, Rani sama sekali tak pernah menghargai keputusan Juna sebagai anak laki-laki.
Tak lama menempuh perjalanan akhirnya Juna tiba lagi di kota membayar ojek dengan tarif tinggi karena perjalanan yang begitu jauh, ia kini berada di halte bus tujuan Lampung, ia memutuskan tingga di sana sambil mencari keberadaan kekasih halalnya.
Adzan ashar berkumandang sedangkan laki-laki bertubuh atletis itu belum melaksanakan salat duhur.
"Astagfirullah, duhurku di mana?" Lirihnya lalu tergesa menuju masjid terdekat.
Setelah berwudhu ia melaksanakan salat menjadi makmum karena pahala salat di masjid begitu besar, usai melaksanakan salat ia menumpahkan doanya pada Tuhannya, tanpa terasa air mata yang susah payah ia tahan luruh begitu saja, terlebih mengingat keberadaan Mora yang tidak memperlihatkan titik terang.
Laki-laki bertubuh atletis itu mengayunkan langkah meninggalkan Masjid, ia kembali ke hate untuk menunggu bus tujuan yang ia inginkan, tak lama lagi akan datang.
__ADS_1
"Bismillah, kita mulai hidup baru," lirihnya saat langkah pertama naik kedalam bus tujuan yang ia inginkan.
Mengotak-atik ponselnya lalu memblokir nomor nomor wanita yang telah melahirkannya itu juga nomor ponsel sang ayah, Rosan dan nomor kakak iparnya. Ia memilih hidup tenang tanpa gangguan dari orang-orang yang katanya peduli tapi menyakiti hati.