
Rani begitu risau karena anaknya itu sudah jarang masuk kantor, hanya Mora sesekali yang mengawasi. Karyawan tidak segan pada Mora sama sekali membuat Rani khawatir jika aset perusahaan di permainkan bahkan di korupsi oleh karyawan curang.
"Mama kok pulang?" Tanya Juna heran saat wanita yang melahirkannya berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Yasna berdiri di samping Rani menatap kearah dua sejoli itu dengan tatapan tidak suka.
"Ga masuk kantor, merasa hebat kamu Juna Andara." Tatapan datar dari wajah Rani membuat Juna sungkan begitu juga Mora, wanita cantik itu begitu menyanyi Rani, ia tak pernah ingin jika Rani membencinya.
"Masuk kok, Ma. Seminggu sekali," ia terkekeh sendiri, sementara Mora masih segan untuk berbicara.
"Kalau kamu bosan masuk kantor biar Yasna yang menggantikan kamu," kata Rani masih dengan muka datar, sementara Yasna yang berada di samping Rani tersenyum sinis.
"Apa kupingku salah?" Juna menanyakannya pada sang bunda sambil mendekat.
"Ga salah. Mama percaya jika Yasna akan lebih baik dari pada kamu," ucap Rani ketus disambut dengan anggukan kemenangan oleh Yasna.
"Tapi, Ma."
"No. Tak ada bantahan apa pun, keputusan mama sudah bulat. Keuntungan hak kamu akan mama berikan, terserah mau Jualan cilok, bakpau atau bakso silahkan!" Juna mengernyitkan dahinya, merasa perjuangannya selama ini tak pernah dianggap ada.
"Oke. Baik, selamat mengasuh anak kesayangan mama," ungkap Juna dengan hati pilu.
"Iya." Rani menahan bulir bening yang hampir luruh dari kelopak matanya.
"Ma, kami mau liburan, paling lama lima hari paling cepat satu satu bulan," selorohnya membuat Rani tersenyum simpul untuk sesaat begitu juga dengan Mora yang dari tadi hanya membisu.
"Ga pulang juga ga apa-apa," jawab Rani datar.
"Baik," jawab Juna singkat.
Hati wanita modis itu begitu pilu, menyadari betapa dirinya bersalah pada Mora saat ini, tapi ini semua harus ia lakukan demi keutuhan rumah tangga putranya.
Wanita cantik itu berlalu dari teras rumah lalu masuk ke dalam menyusul suaminya yang hendak mengemasi beberapa pakaian mereka, sementara Rani masih duduk bergeming di kursi santai depan teras.
"Ga apa-apa kok, Ma. Paling seminggu Mas Juna bakalan balik lagi." Wanita berbibir tebal itu mengelus punggung Rani, seolah ia merasakan apa yang Rani rasakan. Mana mungkin hati yang keras itu berubah lunak dalam waktu dekat.
Rani hanya menganggukkan kepanya, meraih tangan Yasna agar tak lagi menggosokkan punggungnya.
"Jaga baik-baik. Kembangkan usaha Mama," kata Rani dengan sungguh-sungguh.
Betapa bahagianya Yasna saat ini, tidak sia-sia dirinya datang ke butik Rani dan mengadukan apa yang terjadi bahkan laporan tidak masuk kantor juga Yasna yang melaporkan.
.
.
.
.
_____
__ADS_1
Dua hari berlalu, di pantai berpasir bersih nan indah, dua insan manusia sedang duduk memandangi riuh ombak yang saling bersahutan. Harapan keduanya biduk rumah tangga mereka setenang embun tak seperti ombak yang selalu menabrak karang.
"Sayang." Tubuh atletis itu mendekat kearah pujaannya, meraih jemari lentik Mora lalu mengecup punggung tangan wanita cantik itu lembut.
"Heum ...." Jawaban yang membuat laki-laki bertubuh atletis itu candu, memabukkan hati yang sebelumnya rapuh, bunga-bunga di hati keduanya telah mekar kembali.
"Dua hari lagi kita liburan ga apa-apa kan?" Laki-laki tampan itu begitu ingin menghabiskan waktu banyak berdua bersama sang istri sebelum pekerjaan menuntut mereka.
"Jangan dong. Ingat kita bakalan pindah dari rumah Mama?" Wanita cantik itu enggan menatap suaminya yang terkadang suasana hatinya tak menentu.
"Ya ingat. Tapi aku masih ingin bersama, Sayang," ungkap Juna menoleh kearah Mora.
"Ya tapi ...." Jemari Juna menempel pada bibir ranum Mora.
"Mas aku mau pulang." Mora menjatuhkan bulir bening membuat mantan psikopat itu merasa bersalah.
"Maaf. Ya kita pulang. Jangan menangis, nanti jelek," seloroh Juna membuat Mora tersenyum getir.
Malam ini mereka akan kembali pulang ke Jakarta, mencari kedamaian di sudut kota yang penuh hiruk pikuk mungkin lebih baik.
Mendengarkan Rosan bahagia tinggal di perkampungan membuatnya juga ingin merasakan suasana perkampungan juga.
"Ini udah mau magrib ayo masuk. Ga baik ibu hamil sore masih di luar," ucap Juna saat menyadari matahari sudah mulai menguning.
"Mau lihat sunset," ujar Mora memandang kearah mata hari tanpa berkedip. "Indah," lirihnya, sementara Juna memandang wajah cantik istrinya tanpa kedip.
Tuhan menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya. Tak ada celah untuk Juna meninggalkan tubuh ramping yang kini tepat berada di sampingnya.
"Kita pulang malam ini?" Tanya Juna pada pujaan hatinya itu.
"Iya dong. Besok nyari rumah kan? Ngontrak juga ga apa-apa," kata wanita hamil itu dengan senyuman.
"Mora."
"Heum."
"Apa kamu siap hidup miskin bersamaku?" Tanya Juna dengan hati yang pilu. Laki-laki itu takut jika wanita yang bersamanya saat ini akan meninggalkannya.
"Demi alam dan seisinya aku tak akan meninggalkanmu wahai sang penyejuk jiwa," ungkap Mora begitu puitis membuat Juna mengulum senyum dan segera memeluk istrinya. Dua insan manusia itu sedikit larut dalam suasana romantis sehingga satu panggilan di gawai Juna berdering. Laki-laki bertubuh atletis itu melirik sekilas kearah gawainya yang memekik, nama Putri terpampang jelas di sana.
'Tuhan mengapa ada saja gangguan dalam rumah tangga hamba,' gumamnya. Beruntung Mora tak menaruh curiga sama sekali, melihat ada panggilan di gawai Juna wanita cantik itu beranjak menuju kamar mandi, sementara Juna merasakan kegelisahan. Satu sisi takut Mora marah di sisi lain takut jika Putri memberitahu pada Mora bahwa anak yang bersama Putri kemungkinan adalah anaknya.
"Halo, Juna Andara." Saat panggilan masuk ke gawai milik Juna sudah di angkat dan menempel di telinganya.
"Ada apa?"
"Kemana aja?" Tanya di sebrang sana tanpa menjawab pertanyaan Juna terlebih dahulu.
"Ada, jangan cari aku. Aku tak akan pernah mengakui jika Cika adalah anakku," ungkap Juna pelan, laki-laki bertubuh atletis itu sangat takut jika Mora akan mengetahui masa lalunya yang kelam.
__ADS_1
"Kenapa?" Suara di seberang sana mulai meninggi. Laki-laki bertubuh atletis itu mematikan gawai miliknya saat Mora keluar dari kamar mandi.
Mata laki-laki bertubuh atletis itu terpejam, menghirup aroma tubuh ratu yang bertahta di hatinya.
"Kenapa?" Mora merasa heran dengan tingkah Juna yang mengendusnya.
"Ga ada." Segera tangan kekar itu merengkuh dari belakang tubuh mungil Mora hingga wanita cantik itu kesusahan.
"Gih mandi, biar pulang," kata Mora berbalik arah lalu mengecup pipi suaminya.
"Baiklah." Dengan langkah berat Juna berlalu kekamar mandi, bersiap agar mereka bisa pulang.
Tiga puluh menit kemudian mereka keluar dari dalam kamar hotel yang mereka pesan, hotel dengan nuansa pemandangan yang memperlihatkan lautan dan pemasangan indah lainnya yang dapat memanjakan mata.
Juna Andara tak segan memeluk pinggul istrinya saat berjalan keluar menuju lantai bawah dan membayar semua tagihan.
.
.
.
.
Di tempat lain Yasna merayakan kebahagiaan yang tak pernah ia duga, sangat memuaskan jika ia dapat menyingkirkan mahluk tuhan yang ia benci, sebenarnya hati kecilnya menyesal jika Juna harus pergi dari rumah orang tuanya karena cintanya begitu besar pada Juna Andara, di sisi lain ia juga jengah dengan kemesraan mereka.
"Makasih Mama udah percaya sama Yasna," ucap Yasna sesaat setelah ia di perkenalkan sebagai manager pada karyawan kantor milik Juna Andara.
"Sama-sama, Sayang," wanita modis itu menampilkan senyum tipis, sebenarnya ada luka di lubuk hatinya mengingat Mora harus mengalah pada keadaan.
Wanita modis itu berpamitan pada Yasna dan mencium pipi kanan dan kiri wanita berbibir tebal itu. Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa.
Sesaat setelah Rani keluar dari ruangan yang biasa di tempati oleh Juna da Mora, gadis berbibir tebal itu merogoh tas kecil miliknya lalu mengambil gawai dan menelpon seseorang.
"Halo, bisa lakukan perintah saya sekarang?"
"Siap, Mbak!"
Yasna tersenyum penuh kemengan, ia begitu berharap tujuannya kali ini berhasil tak kurang satu apa pun.
__
.
.
.
.
__ADS_1
Berniat buruk pada seseorang tak akan membuat kita bahagia selamanya, ada campur tangan tuha dalam segala urusan hambanya. Intinya berhati-hati pada bisikan setan yang dapat merusak iman dan menjerumuskan pada kesesatan.