KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 53


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Putri sedang bersama Amar sudah hampir lupa pada Juna dan Mora, mereka terlalu asik menikmati masa indah dalam cinta mereka, putri yang sudah sering di ajak oleh ibu-ibu pengajian karena pakaian syar'i yang ia kenakan, awalnya ia tidak suka ikut semakin hari semakin sering diajak sehingga Putri terbiasa dan meresapi apa yang diajarkan di pengajian.


Ia sudah bisa berbenah diri dan sedikit demi sedikit menjaga jarak dengan Amar, wanita itu memantapkan hatinya mendalami ilmu agama, Amar mendengar penjelasan putri merasa sangat senang. Dalam waktu dekat Putri akan ia nikahi.


.


.


.


____


Hingga pagi menjelma namun Juna masih sepanjang jalan mencari Mora, ia menegak kopi terus menerus agar tidak diserang kantuk tak peduli walau perutnya kini sudah kembung.


"Mora di mana kamu," lirihnya memukul stir mobil beberapa kali. Tak ada yang sanggup kehilangan orang yang ia kasihi. Terlebih Mora saat ini dalam keadaan hamil dan moodnya gampang berubah.


Juna turun dan memperlihatkan gawainya yang terpampang foto Mora namun mereka menggeleng karena memang tidak melihat Mora.


Nomor wanita hamil itu juga tidak dapat dihubungi, dada Juna semakin sesak dibuatnya.


"Sudah ketemu?" Sesaat setelah panggilan ia angkat.


"Belum, Pa," lirih Juna menyeka keringat di pelipisnya, karena mentari pagi tepat membakar kulitnya tanpa pelindung.


"Kita lapor polisi aja, tepat nanti jam sembilan," ucap Yudha di sebrang sana.


"Ya." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir indahnya setelah itu panggilan berakhir.


Rosan juga tak kalah panik saat Mora hilang, ia menghubungi beberapa rekannya untuk mencari keberadaan Mora.


Laki-laki bertubuh atletis itu memandang lekat foto di layar gawainya, senyum indah Mora beberapa hari yang lalu masih terlihat indah bahkan seakan tak ada niat Mora meninggalkan dirinya.


"Kenapa harus meninggalkan aku," lirihnya lalu masuk kembali kedalam mobil.


Dengan kecepatan sedang laki-laki bertubuh atletis itu memacu kendaraannya menuju kantor polisi, sudah ada Yudha yang menunggu di sana.


Menceritakan kronologi kehilangan Mora sampai tempat terakhir ia kunjungi.


"Baik, kami akan menyelidiki kasus ini, Pak," papar petugas kepolisian pada ayah dan anak itu.


Ayah dan anak itu meninggalkan kantor polisi, mereka akan menunggu Akbar secepatnya, Juna sebagai pembunuh berdarah dingin saja tidak terendus oleh polisi saat ia melapor atas kasus kehilangan Mora, begitu pandai Juna bermain cantik untuk melenyapkan mangsanya.


.


.


.


___


Di pedesaan terpencil Mora bersama dengan seorang wanita tua yang berjalan tertatih, wanita tua itu sudah terlihat sedikit bongkok.


Awal pertemuan keduanya saat Mora membeli rujak yang di jual nenek itu, nenek itu yang melihat Mora memakan rujak di sampingnya tanpa beranjak dan terlihat kebingungan akhirnya Mora diajak pulang kerumahnya.


"Nenek tinggal sendiri?" Mora bertanya sambil mengemasi barang-barang sang nenek lalu memasukkannya kedalam kantong plastik besar untuk di bawa pulang, karena hujan yang begitu lebat tak memungkinkan nenek tersebut berjualan.


"Iya. Anak nenek merantau ke Malaysia sudah sepuluh tahun lebih dan tidak ada kabar sama sekali," jawabnya, matanya berkaca-kaca menahan kerinduan pada sang anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Maaf, Nek. Ga bermaksud membuat Nenek bersedih," kata Mora pelan.


Keduanya berjalan kaki menuju kediaman nenek yang beberapa kilometer jauhnya.


Rumah kecil yang hanya di terangi lampu teplok jaman dulu menjadi penerang rumah tua itu, senyum sang nenek sumringah saat saat rumah mungilnya terlihat dari kejauhan.


"Ini gubuk Nenek. Nak," ucapnya saat mereka benar-benar sudah memasuki rumah kecil yang hanya berlantai tanah.


Jujur sebenarnya Mora tak ingin merepotkan siapa pun saat persalinannya nanti, tapi keadaan mereka saling membutuhkan saat ini.


"Istirahat, Nak. Pasti kamu lelah," ucap sang nenek lalu mengambil pisau dapur lalu menggosoknya.


"Nenek mau kemana?" Hati wanita itu mulai tidak tenang, tas kecil milik Mora yang hanya berisi beberapa pakaian ia simpan tak jauh darinya.


Pasalnya Mora menyadari ia tak membeli ikan atau daging bahkan ayam saja tidak terlihat di samping rumah tua ini.


"Istirahatlah," lirihnya.


Mora yang merasa hatinya tidak enak langsung berlari keluar sambil menenteng tas kecil miliknya, air matanya tak dapat ia bendung, beberapa kali terjatuh ia bangkit dan kembali berlatih tak ada orang yang benar-benar baik pikir Mora, rasa takut pada sang nenek membuat dirinya begitu kuat untuk berlari beberapa puluh kilometer untuk menghindari bertemu kembali dengan sang nenek, Mora menyadari ada kekurangan pada sang nenek tersebut.


.


.


.


Dengan napas terengah-engan ia kini sampai di pinggir kota yang sudah banyak penjual dan padat penduduk. Mata Mora tertuju pada satu rumah bertuliskan 'Dikontrakkan', ia tergesa mendekat ke rumah tersebut dan mengintip ke dalam.


"Mau ngontrak ya, Nduk?" Seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya npelan sehingga membuat dirinya terperanjat.


Setelah tawar menawar akhirnya kontrakan ia dapatkan, Mora hanya perlu membeli beberapa perlengkapan dan alat masak juga kebutuhan kecil yang akan ia gunakan nantinya.


Sediri di kota tanpa ada seorang pun yang menemaninya saat hamil seperti ini, bukan bodoh. Hanya saja kekasih halalnya Juna Andara yang berada di sini, saat ini sedang ingin memberikan waktu untuk orang-orang terdekatnya.


"Kita berjuang bersama demi kesehatan kamu dan Bunda, kamu anak kuat. Bunda percaya suatu saat nanti kita akan raih kesuksesan seperti mereka yang menghina kita," lirih wanita hamil itu sambil mengusap perutnya dan tersenyum.


Memasuki kontrakan yang masih kosong tanpa ada alas sama sekali, ia merasa lega saat pemilik kontrakan mengantarnya selembar tikar, sapu dan makanan untuknya.


"Ini Ibuk pinjamkan untuk kamu, Nduk. Ini makanan untuk makan siang kamu," ucap wanita itu sambil menyodorkan dan tersenyum kearah Mora.


"Terimakasih, Buk. Saya bersyukur masih di pertemukan dengan orang baik," kata Mora, tangannya mengambil sapu dari tangan wanita paruh baya yang memang pantas ia panggil ibu.


"Kok hamil sendirian? Suami kamu memengnya kema, Nduk?" Wanita itu ternyata dari tadi memperhatikan perut Mora yang terlihat sedikit buncit di balik gamisnya.


"Suami saya kerja, Buk," jawab Mora setelahnya ia mengulas senyum kecut, mungkin selama tinggal di sini ia akan terus berbohong.


"Kalo ada apa-apa panggil Ibuk aja ke rumah Ibuk yang catnya biru itu, tanya aja buk Eka pasti mereka para tetangga kenal," jelasnya, tarlihat sedikit banyak bicara tapi sepertinya wanita paruh baya yang bernama Eka itu baik.


"Baik, Bu." Mora mengangguk pelan, sementara wanita paruh baya itu meninggalkan Mora yang masih berada di teras.


"Kita mulai," lirihnya, wanita hamil itu mengambil sapu dan mulai membersihkan setiap sudut bahkan satu kamar yang terlihat banyak sobekan kertas.


Wanita hamil itu haus kuat apapun yang terjadi besok dan seterusnya, ia sudah selesai membersihkan ruangan sampai kamar mandi, sekarang tinggal halaman rumah yang belum ia bersihkan.


Perutnya saat ini sudah minta di isi makanan karena jam dinding sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Jangan pilih-pilih makanan ya, Sayang," lirihnya sambil mengusap perutnya lembut.

__ADS_1


Mora membuka bekal yang di berikan oleh Bu Eka lalu menyantapnya hingga habis tak tersisa.


"Alhamdulillah," ucapnya sesaat setelah mengeluarkan gas yang ada dalam rongga perutnya melalui kerongkongan.


Tak ada tempat bermanja lagi seperti dulu, bahkan teman mengobrol saja ia saat ini tidak punya selain janin kecil yang ia kandung saat ini.


Kembali seperti beberapa tahun silam saat keadaan tak pernah berpihak pada dirinya. Ia tersenyum menatap foto dirinya bersama kekasih halalnya. Hanya foto sementara yang mampu mengobati rindu.


.


.


.


____


Di rumah Rani, ia tersenyum menatap wanita yang akan di jodohkan dengan Juna, wanita yang berpakaian seksi dan memperlihatkan buah dadanya untuk umum.


Mereka menemui Rani karena tidak sabar untuk perjodohan yang akan di laksanakan secepatnya.


Padahal Juna sama sekali tidak menyukai wanita yang mengumbar aurat termasuk ibunya sendiri.


"Pa, Juna. Kemarilah," Rani melambaikan tangan kearah dua laki-laki berbeda usia tersebut yang baru saja pulang.


Baru saja Juna masuk kedalam rumah bersama Yudha mereka sudah di panggil oleh Rani, laki-laki bertubuh atletis itu terlihat begitu berantakan begitu juga dengan Yudha yang terlihat memasang wajah tak suka kearah istriya.


"Duh, yang kerja ga kenal waktu terlihat kusut banget ya?!" Rosa menatap wajah kedua laki-laki berda usia itu secara bergantian.


"Demi membayar hutang pada, Anda," ungkap Juna membuat mata Rani mendelik kearah Juna begitu juga wanita yang mengatakan hal tersebut.


Juna berlalu dan tersenyum sinis setelah menerima senggolan kecil dari sang ayah.


Ia tak peduli pada mahluk yang membuat dirinya tak berharga sama sekali, bahkan wanita yang melahirkannya tak menghargainya saat ini.


"Sebentar ya, Jeng. Saya susul Juna dulu, saya suruh mandi biar mereka berdua bisa jalan-jalan, hitung-hitung pendekatan. Jeng di sini dulu sama Adiba," jelas Rani, ia berlalu pergi kekamar Juna dan meninggalkan Rosa bersama dengan Adiba di ruang tamu.


.


.


Rani beberapa kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari anaknya itu.


"Jun, kamu baik? Boleh Mama masuk?" Rani mengetuk kembali pintu kamar anaknya itu.


"Ya," ucap Juna dari dalam. Rani tergesa membuka handle pintu dan menatap kearah Juna yang terbaring di tempat tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Jorok banget ih, keringatan gitu ga mandi malah langsung tidur," kata Rani rambil meletakkan kedua tangannya di dada, walau masih menggunakan sweater dan shal ia sanggup untuk mengeluarkan kata-kata yang banyak plus panjang dikali lebar.


"Aku ngantuk dan lelah, biarkan aku beristirahat dan tidur dua jam saja, Ma. Aku nanti akan mencari Mora lagi," lirihnya tanpa membuka mata sama sekali.


Rani berdecak kesal mendengar perkataan anaknya itu, saat ini ia harus memikirkan alasan untuk mengatasi amarah Rosa jika anaknya tidak jadi jalan-jalan dengan Juna.


.


.


Kita boleh saja merencanakan sesuatu tapi Allah yang mengatur segalanya, kita bergerak saat ini semuanya atas kehendak dan keinginan dari-Nya.

__ADS_1


__ADS_2