KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 18


__ADS_3

Tiga hari berlalu Aqila masih dalam masa berduka, dirinya tak beranjak dari rumahnya, sementara Yuli tak ada di rumah semenjak kejadian malam itu.


"Kak, kamu di mana?" Lirihnya, tubuh itu duduk di teras sambil menatap rumput yang bergoyang seolah sedang mendengarkan irama syahdu. Beberapa warga juga masih ada di rumah Aqila sekedar menemaninya bercerita.


"Mbak, Qila. Ada yang nyariin nih!" Seru Iin, bocah itu masih kelas lima SD sedang mengandeng seorang laki-laki buta, tangan kirinya membawa tongkat tangan kanannya membawa plastik hitam yang entah apa isinya.


"Siapa?" Aqila mengernyitkan dahi. Pasalnya dirinya tak pernah mengenal siapa laki-laki itu. Iin dan laki-laki itu semakin dekat kearahnya.


"Maaf mengganggu waktunya. Akhir-akhir ini mbak Narsih tidak pernah berjualan lagi di dekat saya mengemis," ujarnya lalu menyodorkan kantung plastik hitam kesembarang arah.


"Ibu saya sudah pergi meninggalkan saya selamanya. Mohon maafkan segala kesalahannya, Mas," ungkap Aqila. Laki-laki itu terlihat salah tingkah dan menyentuh dadanya, usia keduanya tak jauh berbeda.


"Harusnya Mbak yang memaafkannya. Kalo saya ga ada masalah apa pun sama saya," ujar laki-laki itu tersenyum manis. Seolah tak ada beban di hatinya, sebenarnya ia tahu jika Narsih sudah meninggal tapi pura-pura tidak tahu.


"Ibu saya tak pernah berbuat salah pada saya, Mas. Tak ada alasan untuk saya memaafkannya," mata Aqila terus saja memandang laki-laki tuna netra itu. Aqila seperti mengenal dirinya.


"Saya akan sering mengunjungi kamu Aqila, begitu pesan ibumu pada saya semasih dia hidup," jelasnya dengan wajah datar.


"Apa kita pernah kenal sebelumnya, suara Mas seperti tak pernah asing di telinga saya," kata Aqila. Gadis itu menyentuh dadanya yang seperti tertusuk jarum sesaat.


"Oh, tidak. Ini kali pertama kita bertemu," jelasnya berdusta. Aqila hanya mengangguk lalu mempersilahkan laki-laki itu masuk walau ada penolakan sebelumnya. Tetangga yang menghidangkan teh dan biskuit seadanya, Aqila begeas mandi mengingat hari sudah mulai gelap. Laki-laki itu pergi tanpa berpamitan pada Aqila.


Gadis itu penasaran dengan bungkus plastik yang di bawa oleh laki-laki itu, tergesa Aqila dan tetangganya yang menginap di rumahnya membuka bungkusan itu, hanya beberapa baju lama dan sebuah kalung yang menurutnya sama sekali tak berharga. Gadis bertubuh mungil itu kembali membungkus plastik lalu memasukkannya kedalam lemari ibunya, mungkin suatu saat akan ia butuhkan, pikirnya.


Saat memasukkan bungkusan itu kedalam lemari ia menemukan kotak kecil yang sudah usang. Rasa penasaran di hatinya kian kuat, jika ibunya masih ada maka tak akan berani dirinya membuka yang bukan menjadi haknya.


"Saya tidur duluan ya, Mbak," kata tetangganya, Aqila hanya mengangguk.


Kotak berdebu tipis itu ia usap perlahan, lalu membukanya. Ada beberapa lembar foto usang, dua anak kecil yang saling merangkul. Mata Aqila mengembun, dirinya yang ada di dalam foto itu begitu akrab tidak seperti saat Sekarang ini. Tangan Aqila memngambil anting kecil dan batu berlian kecil yang ukurannya sama, Aqila kembali yakin bahwa anting ini miliknya dan sang kakak.

__ADS_1


Air matanya tak dapat ia bendung lagi, mengingat betapa dirinya sangat menyangi ibunya. Tangan Aqila membuka sepucuk surat yang terselip di sana, dengan berat hati ia buka perlahan.


"Untuk anak ibu, Aqila. Semoga saat kamu membaca surat ini ingatanmu sudah kembali, Sayang. Ibu tau tak banyak waktu lagi untuk hidup di dunia ini. Penyakit yang terus saja setiap hari menggerogoti raga ibu membuat ibu tak sanggup melawannya.


Entah kenapa saat memanggil dan menyebut namamu hati ibu kian terasa sesak. Mungkin karena nama yang ibu sematkan padamu adalah nama anak kandung ibu yang telah lama tiada.


Aqila, maafkan ibu. Tak ada niat hati ibu untuk membohongi kamu, tak ada niat hati ibu untuk menutup jati dirimu. Ibu mencintai dan menyayangimu melebihi ibu menyayangi Yuli, akan ada nanti laki-laki tuna netra yang akan setia menemanimu dan menceritakan jati dirimu yang sebenarnya. Maafkan ibu angkatmu ini yang selalu membohongimu."


Tubuh mungil Aqila luruh kelantai, air mata itu berlomba turun di pipi mulusnya, menyadari dirinya saat ini bukanlah Aqila yang sebenarnya, pantas saja Yuli membenci dirinya dan sang ibu. Aqila memegang kepalanya yang begitu nyeri, sekelebat bayangan mengerikan dan bayangan manis menari dalam ingatannya sekilas.


FLASHBACK


Tiga tahun lalu Narsih sebagai seorang ustazah ditunjukkan untuk memandikan jenazah, dia dipanggil oleh keluarga Rani untuk memandikan jenazah yang baru tiba dari rumah sakit, karena di sekitar rumah Rani ustazahnya sedang sakit dan tak dapat melakukan kewajibannya.


Tergopoh-gopoh wanita tua itu datang ke kediamannya Rani sambil membawa kembang untuk memandikan jenazah, saat ia tiba di rumah yang terbilang kaya itu Narsih melihat jenazah sudah berada di belakang rumah, pemandian di luar rumah dengan tenda seadanya seperti pada umumnya, jenazah yang akan ia mandikan sudah berada di atas ranjang khusus pemandian, tapi tak ada satu orang pun yang menunggunya di sini saat Narsih tiba.


Jenazah yang Narsih lihat pucat pasi seperti mayat pada umumnya, namun jarinya yang bergerak berulang kali membuat Narsih sedikit takut, dengan hati was-was ia mendekat lalu meraba tubuh ringkih yang terbaring itu namun alangkah terkejutnya Narsih tubuh itu terasa hangat dan nadinya berdenyut, tidak seperti mayat pada umumnya. Jemari tubuh ringkih itu masih terus bergerak seolah meminta pertolongan.


"By tolong Ibuk," kata Narsih dengan suara bergetar.


"Ada apa, Buk?"


"Tolong ambil jenazah tanpa identitas di rumah sakit. Akui saja itu keluargamu, akui saja dia Yuli keluargamu dan segera bawa ke rumah Rani," jelas Narsih dengan panik.


"Tapi saya ...."


"Jangan menolak demi keselamatan satu nyawa, bawa lewat pintu pagar belakang. Ambulans kalau bisa agak jauhan dikit," bisik Narsih lagi di gawainya.


Mendengar perkataan itu Roby tak banyak mengatakan apa pun lagi. Dirinya menerima konsekuensinya yang akan ia tanggung bersama Narsih nantinya jika ketahuan. Hampir satu jam menunggu Roby tak kunjung tiba, sepertinya anak itu sedikit susah membujuk dokter.

__ADS_1


"Ustadzah. Apa jenazah sudah selesai dimandikan?" Tanya Adiba dengan lembut. Pengantin baru itu terlalu sibuk mempersiapkan tamu yang datang tanpa memperhatikan apa yang terjadi di belakang.


"Sebentar lagi," jawab Narsih dengan suara bergetar. Takut, itu yang ia rasakan saat ini.


Matanya masih memandang pintu pagar belakang, senyumnya mengembang saat Roby tiba dengan tiga orang perawat membawa jenazah, persis keinginannya Narsih, jenazah wanita yang Roby bawa hampir sama dengan jenazah yang akan ia mandikan.


Roby segera meletakkan jenazah wanita itu di pembaringan pemandian dan mengambil tubuh ringkih yang masih bernyawa itu menaruhnya di tandu. Roby dan perawat meninggalkan rumah Rani tanpa sepengetahuan Rani, jasad yang masih bernyawa itu Roby bawa ke rumah sakit tadi di mana ia mengambil jenazah wanita tanpa identitas tersebut.


"Mas. Wanita ini sepertinya kritis," ucap perawat sambil menatap tubuh ringkih itu lalu beralih melihat wajah Roby yang begitu panik.


"Iya, Mas. Kalau bisa lebih cepat kita sampai di rumah sakit maka lebih baik." Roby memukul kepalanya sendiri.


"Bertahanlah," lirihnya. Mata Roby berkaca-kaca, entah apa yang dirinya pikirkan saat ini. Apakah rasa sakit hati itu masih ada atau sudah sirna.


Sampai di rumah sakit tubuh ringkih itu segera di tangani di UGD dan tak lama setelahnya memasuki IGD tubuh itu butuh penanganan khusus, sementara Narsih memandikan jenazah dengan cekatan dan meminta beberapa orang wanita mengangkat tubuh wanita itu agar bisa dikafani, Rani tak juga melihatnya saat Narsih mengafani sedangkan tetangganya tak begitu mengenali wanita yang ada di rumah Rani, Juna terlalu terhanyut dalam dukanya hingga separuh nyawanya seakan hilang.


Semua sudah usai Narsih kerjakan, sekarang giliran bapak-bapak yang membawa jenazah itu keperistirahatan terakhir.


Semua berjalan dengan lancar, hati Narsih begitu lega mengingat tak akan ada penyiksaan lagi untuk wanita yang ia tolong. Diposisi ini dirinya tak bersalah karena fitnah dari Roby mengatakan Rani menyiksa wanita yang tinggal di rumahnya.


Narsih pulang setelah menerima upahnya, sebenarnya ia tak berharap sama sekali tapi Rani memaksanya dan menyuruh Narsih kembali besok untuk sekedar menjenguk Rani dan Juna, Narsih hanya mengangguk setuju.


Buru-buru wanita yang lebih dari empat puluh tahun itu pulang, hati dan pikirannya tertuju pada wanita yang baru ia selamatkan. Kembali ia merogoh gawainya dan menelpon Roby, beberapa kali panggilan baru ada diangkat oleh si pemiliknya.


"Roby bagaimana keadaan wanita itu?" Tanya Narsih panik. Dirinya takut jika wanita yang telah ia tolong tak selamat.


"Kritis, Buk. Perawat menyuruh membayar administrasi tapi saya tak ada uang," jelas Roby. Benar kenyataannya dirinya tak ada uang karena ia juga datang dan merantau di kota.


"Nanti ibu kesitu, kirim alamat rumah sakit kesini," ucap Narsih. Walaupun dia sudah tua tapi masih cekatan, gesit dan pintar.

__ADS_1


Mengambil uang tabungannya untuk umroh, kartu keluarga, KTP Yuli dan surat keterangan kehilangan Yuli tanpa sepengetahuan anaknya itu, karena memang Yuli suka pergi kemana ia suka jadi kepala desa mau membuat dengan suka rela.


Bersambung....


__ADS_2