
Laki-laki bertubuh atletis itu panik saat berbalik melihat istrinya telah tidak ada lagi di belakangnya, bertanya pada penjaga apotek mereka bilang tidak tahu, Juna mengira bahwa Aqila cemburu dirinya menerima panggilan dari Yasna.
Dengan kecepatan penuh laki-laki bertubuh atletis itu memacukan mobilnya agar segera sampai kerumah.
"Bik Aqila mana?" Saat Juna masuk dan langsung menuju dapur, karena bik Inah selalu di dapur jarang wanita itu berada di ruangan lain.
"Belum pulang, Den," jawab bik Inah santai.
"Aqila tadi menghilang di apotek. Ini obat kamu Yasna." Juna melirik Yasna yang duduk di meja makan lalu melemparkan obat yang dipesan Yasna secara kasar. Wanita itu mengulas senyum Sabil melihat-lihat obat itu yang tak berguna sama sekali, senyum kemenangan.
Hati itu semakin gundah saat menekan dan menelpon Aqila tapi tak bisa terhubung, tak lama Yasna melangkah menuju kamarnya, wanita itu menekan panggilan dan menelpon laki-laki yang tadi dan memberikan nomor Juna.
Berseleng beberapa detik panggilan masuk ke gawai Juna.
"Wanita yang kamu cari bersama kami." Mereka terbahak di sebrang sana.
"Lepaskan. Atau kalian tanggung akibatnya," kata Juna tak main-main, singa yang telah tertidur lama mereka usik kembali.
"Bawa tebusan seratus juta, Pak. Kami dengan senang hati akan melepaskan wanita cantik ini." Mereka Kembali tergelak.
"Baik, di mana tempatnya?" Tanya Juna serius. Mereka menyebutnya dan Juna percaya sepenuhnya, panggilan pun berakhir. Yasna yang mengintip tersenyum puas, lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
Beberapa saat panggilan masuk kembali ke gawai Juna.
"Kamu di mana?" Dengan panik ia bertanya takut terjadi hal buruk pada Aqila. Wanita cantik itu menjelaskan di mana dirinya saat ini dan panggilan terputus sepihak. Juna merutuki kebodohannya, lagi-lagi dirinya merasa gagal menjaga istrinya.
Membuka laci yang sebelumnya ia kunci, benda berpelatuk itu masih tersimpan rapi. Bukankah siapa yang bermain api ia akan terbakar?
Laki-laki bertubuh atletis itu turun dari tangga dengan tergesa, dirinya melewati kamar Yasna. Tanpa sengaja dirinya mendengar percakapan Yasna dengan seseorang. Terdengar jelas saat Yasna mengatakan hasilnya nanti akan kita bagi dua, namun Juna abai karena merasa itu urusan perempuan tak pantas dirinya ikut campur.
Setengah berlari Juna menuju garasi mobil, menyalakan mobilnya lalu menuju apoteker kemarin. Biasanya Yasna akan menghalanginya saat hendak pergi ke kantor jika Aqila tidak ada, tapi hari ini dirinya abai.
"Bertahanlah, Qila," gumamnya. Memacu mobil dalam kecepatan tinggi, membelah jalanan yang sedikit lenggang.
Beberapa menit Juna tiba di apotek kemarin, ia merogoh sakunya dan menekan panggilan ke nomor tanpa nama yang menghubunginya tadi, terhubung lalu mereka memberi arahan pada Juna agar laki-laki itu segera masuk kedalam hutan, Juna sudah mempersiapkan ini sebelumnya, koper kosong dan benda berpelatuk miliknya ia selipkan di pinggang bagian belakan.
Juna menatap benci ke arah dua pereman itu.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Juna tanpa basa basi.
"Tidak ada. Kami butuh uang." Mereka tergelak, tertawa lah sebelum kalian berdua mati.
__ADS_1
"Bulsyit ... Jangan munafik...." Juna meludah ke tanah, membuat laki-laki itu saling pandang.
"Berani sekali kau menghina kami," hardik para pereman itu dengan suara begitu lantang, sementara Aqila sebagai Rapunzel hanya memandang dari jarak jauh.
Segera laki-laki bertubuh atletis itu melemparkan koper pada pereman itu, mereka tersenyum sesaat sebelum ekspresi mereka berubah saat menatap koper kosong.
"Sialan!" Mereka membanting koper dan berlari bersamaan ingin menyerang Juna, laki-laki itu secepatnya menghindar, begitu peluang untuknya ada ia menarik benda berpelatuk itu lalu ia tembakkan ke arah kepala keduanya secara bergantian. Aqila berteriak histeris saat suara tembakan terdengar begitu nyaring di hutan tanpa penghuni.
Juna kini harus berikut keras untuk menurunkan Rapunzel dari atas sana, yang sudah menagis sesugukan, dengan nekat tubuh kekar itu naik menggunakan tali tambang berada tak jauh dari rumah pohon itu, tali tambang yang ia lemparkan pada Aqila lalu wanita itu mengikatnya dengan kuat pada batang pohon.
Aqila tersenyum lega saat Juna ada di hadapannya saat ini, wanita cantik itu berhambur kedalam pelukannya, tanpa pikir panjang Juna segera menggendong Aqila di punggungnya.
"Pegangan yang kuat, Sayang," ucap Juna saat tubuh mengil Aqila ada di gendongan belakang.
"Iya," jawab Aqila masih dengan sisa sesugukan.
Perlahan tubuh itu turun menahan beban di punggungnya hingga mereka lompat bersamaan saat sedikit lagi kaki mereka hampir menyentuh tanah.
"A...." Teriak Aqila saat ia melihat tubuh kedua laki-laki itu sedang tidak bernyawa. Juna segera menempelkan jarinya yang sedikit lecet di bibir Aqila, mereka menjauh dari TKP.
Wanita cantik itu menghela napasnya kasar saat mereka tiba di mobil, tubuh Aqila masih bergetar.
"Maafin, aku," ungkap Juna menatap Aqila dengan tatapan sendu. Tatapan yang sulit untuk Aqila artikan.
"Intinya kamu harus maafkan aku," ucap Juna menarik dagu Aqila hingga wanita cantik itu menatap manik matanya.
"Ya. Tapi harus ganti rugi, masa aku pulang dalam keadaan seperti ini," kata Aqila melihat bajunya yang berlumpur. Aqila tidak ingin membuat orang lain menghawatirkan dirinya.
"Kita ke hotel, terus biar aku aja yang beli baju. Bidadari harus istirahat, badan habis bentol-bentol. Kasian sekali istriku," kata Juna menyalakan mesin mobil lalu pergi.
"Ngapain ke hotel? Jangan macam-macam."
"Mau ganti rugi," ucap Juna, setehnya ia tergelak, sementara Aqila hanya tersenyum simpul.
Wanita cantik itu seakan ingin melupakan sejenak apa yang ia lihat barusan, melupakan kekejaman Juna saat melesatkan isi benda berpelatuk itu kearah kepala dua manusia yang bermain-main dengannya.
Hari begitu cepat berlalu, kini kedua insan itu berada di hotel seperti pasangan sedang berbulan madu.
"Kamu suka di sini?" Tanya Juna saat Aqila sedang duduk di balkon menghadap ke arah mata hari tenggelam, wanita itu sudah bersih dan wangi.
"Suka, Mas," jawabnya singkat, tubuhnya kini menghadap laki-laki bertubuh atletis itu.
__ADS_1
"Kamu engga risih kalau saya sedekat ini?" Tangan Juna merangkul bahu Aqila, detak jantung keduanya berpacu lebih cepat. Ada getaran cinta yang bersemi di sana.
Aqila menghela napas panjang.
"Mas. Jika aku istrimu kenapa tidak memanggilku dengan namaku?" Tanya Aqila dengan tatapan sendu.
"Bukankah kamu sendiri tidak menginginkan aku panggil nama aslimu?" Juna balik bertanya, sejenak wanita cantik itu berpikir.
"Kenapa engga paksakan aja kehendakmu?" Wanita yang masih istri sah Juna Andara itu menatap lekat manik mata suaminya.
"Dengar! Aku tak ingin memaksa siapa pun, termasuk kamu, karena aku begitu mencintaimu, tapi jika dia menentangku karena tak suka atau benci, maka bersiaplah menjemput ajalnya," paparnya. Tangannya menyentuh lembut pipi istrinya.
"Maaf...." Hanya itu yang keluar dari bibir ranumnya.
"Jangan minta maaf kalo ga salah. Ingat! Kita dalam satu ikatan harus saling memahami," jelas Juna, kini mata mereka saling menatap, menyelami seberapa besar cinta mereka masing-masing.
"Besok apa bisa kita akad nikah ulang?" Tanya Juna, laki-laki itu kini sudah benar-benar takut untuk melakukan zina, walau itu istri sahnya tapi sebagian mashab mengatakan jika tiga bulan berturut-turut tidak memberikan nafkah maka akan jatuh talak. Wanita cantik itu mengangguk malu, karena memang cintanya pada Juna sudah tumbuh seiring berjalannya waktu.
Laki-laki bertubuh atletis itu semakin mendekat kearah Aqila. Ah bukan Aqila tepatnya Mora Cantika, berlahan tangan laki-laki bertubuh atletis itu meraba tengkuk Mora lalu bibirnya mendekat, mata keduanya terpejam, sesaat mereka terlarut dalam suasana kenikmatan.
Beberapa detik kemudian Mora mendorong tubuh atletis itu pelan, mengatur nafasnya, sementara Juna hanya tersenyum manis.
"Kamu suka itu, Mora?" Tanya Juna saat melihat pipi istrinya itu bersemu, wanita itu hanya menunduk malu dan berlalu kedalam.
Dengan kasar Mora menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Aku sakit." Gumamnya pelan. Bukan sakit karena ciuman yang memabukkan, tapi jantung dan pikirannya yang merasa sakit. Juna menyusul dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Mora.
"Mora," panggil Juna, laki-laki itu menatap langit-langit kamar.
"Heum."
"Jangan seperti itu. Tidak keberatan kan jika kupanggil Mora?"
"Tidak, tapi jantungku sakit," kata Mora, laki-laki bertubuh atletis itu berbalik lalu mengusap rambut Mora yang tak menggunakan hijab.
Cintanya kini begitu besar pada Mora Cantika, jika dunia mesisahkannya lagi maka Juna tak akan memaafkan dirinya.
Dunia terasa hampa tanpa belahan jiwa, dulu pernah separuh jiwa ini pergi, namun ia kembali membalut lagi luka yang pernah tergores.
Separuh nafas pernah berhenti, baginya saat itu dunia seakan tiada berarti.
__ADS_1
Bersambung....