
Di kamar kecil berukuran dua kali dua itu, Mora tertidur dengan alas tidur sederhana, tak pernah ia bayangkan sebelumnya ia akan di sekap di kota yang begitu asing untuknya, tak ada tempat untuk meminta tolong kali ini, ponselnya juga tertinggal di mobil Alif saat berbelanja tadi.
Hari semakin beranjak sore hampir menjelang magrib, laki-laki yang memakai penutup kepala itu keluar untuk mencari makanan sedangkan dua laki-laki yang membawa mereka kemari sedang berjaga di luar kamar.
Wanita hamil itu ingin segera pergi dari sini, ia berjalan pelan dan membuka pintu kamar tapi nihil, pintu terkunci rapat dari luar.
Ia berdecak kesal lalu kendang pintu hingga terdengar suara dentuman besar sampai mengejutkan dua anak buah laki-laki itu.
"Kenapa Nona?" Tanya salah satu dari mereka yang mendekat kearah pintu.
"Buka!" pekik Mora dari dalam kamar.
"Maaf tidak bisa. Bukannya kamar mandi ada di dalam, makanan ringan dan teh botol juga ada untuk mengganjal lapar sementara, semua sudah tersedia kan?" Tanya laki-laki bertubuh tegap itu yang berdiri di depan pintu tertutup.
"Ada. Tapi mukena ga ada," kata Mora, ia memelankan suaranya. Salad asharnya sudah terlewati saat ini.
"Saya akan hubungi bos dan menyuruh membawanya kesini, jadi tunggu saja di sini dan saya mohon jangan berisik." Laki-laki bertubuh tegap itu meninggalkan kamar tidur Mora lalu kembali ke ruang tengah.
.
.
Wanita hamil itu memperhatikan jendela kecil yang begitu tinggi, muat jika untuk tubuh mungilnya namun ia ragu apa yang ada di balik jendela itu nantinya akan membahayakan keselamatannya dan janinnya.
Wanita berbibir ranum itu menyeka sudut matanya lalu mengusap perutnya pelan.
"Kita berjuang lagi, Nak. Malam ini atau besok kita main petak umpet," lirihnya lalu perlahan tubuh mungil yang teramat lelah itu ia baringkan.
Menatap langit-langit kamar ia terbayang wajah Juna yang sedang bermesraan dengan wanita lain selain dirinya.
"Selamat berbahagia, Mas." Tak sanggup ia menahan bulir bening saat mengingat laki-laki yang telah menyentuh hatinya dan mengikat jiwanya saat ini bahagia tanpa dirinya.
Entah sampai kapan Mora Cantika akan berada di ambang penderitaan, tubuh mungil dilatih jiwa militer itu yang ia rasakan saat ini.
Detak jam terus seirama dengan detak jantungnya saat ini hingga adzan Maghrib berkumandang. Nyatanya wanita hamil itu sudah berada dalam kamar ini berjam-jam lamanya.
Beberapa kali terdengar ketukan pintu kamar yang di tempati Mora, wanita hamil itu dengan malas mengizinkan yang ada di luar untuk masuk.
"Ini mukena, segera laksanakan perintah Tuhanmu setelahnya kita makan!" Perintah laki-laki yang memakai penutup kepala itu, saat ini matanya memindai lekuk tubuh Mora lalu beralih ke wajahnya.
Mora hanya menatap nyalang kearah laki-laki itu lalu menyambar mukena yang ada di tangan laki-laki itu, sementara laki-laki yang memakai penutup kepala itu hanya menatap lalu tersenyum kecil.
__ADS_1
.
.
Dengan hikmat wanita hamil itu melaksanakan salad magrib lalu berdoa untuk keselamatannya dan keselamatan kekasih halalnya, walaupun sama keadaan susah ia masih memikirkan keadaan suaminya saat ini. Susahnya bukan karena orang lain karena keras kepalanya yang membuat dirinya berada dalam kesusahan.
Dua puluh menit laki-laki yang menggunakan penutup kepala itu memperhatikan gerakan salad Mora hingga salam sampai doa yang ia panjatkan ia dengarkan.
Wanita hamil itu terperanjat saat melihat laki-laki itu dalam kamarnya saa ini dan sedang terbaring sambil mengulas senyum kearah Mora.
"Kenapa?" tanyanya tanpa bersalah, satu kamar dengan wanita yang bukan mahramnya saat ini.
"Kita bukan mahram," jawab wanita hamil itu pelan lalu membuka mukenanya dan melipatnya.
"Apa itu mahram? Kalau begitu aku mau jadi mahrammu," ungkap laki-laki yang memakai penutup kepala itu lalu bangkit dari baringnya lalu mendekat kearah Mora.
"Jangan mendekat!" Mora mundur beberapa langkah hingga menabrak punggungnya ke meja kecil.
"Oke ... Oke ... Ayo kita makan malam!" Dengan sigap laki-laki yang memakai penutup kepala itu menarik pelan tangan Mora hingga membuat wanita mungil itu sedikit terhuyung.
Laki-laki yang memakai penutup kepala itu sama sekali tak tahu tentang agama mungkin karena ia tak pernah belajar dari orang tua atau bahkan enggan mencari guru dan belajar, sama halnya seperti Juna dulu, semenjak bertemu dengan Mora ia dapat menjadi laki-laki lebih baik lagi.
Mereka makan malam sederhana, hanya nasi bungkus biasa dengan lauk ikan, sedangkan Mora khusus ayam goreng dan banyak lauk lainnya.
"Nona, kalau lauknya ga habis boleh untuk kita dong?!" Laki-laki bertubuh gempal yang duduk di samping Mora itu melirik kearah makanan dan lauk yang ada di piring Mora.
"Heh. Dia lagi hamil, kalau kalian hamil aku akan belikan juga!" hardik laki-laki yang memakai penutup kepala itu, setelahnya menyuapkan nasi terakhirnya dalam mulut.
Wanita hamil itu tak menjawab sepatah kata pun, ia menyantap makanan seolah tidak dalam keadaan tertekan, ia ingin kuat berjuang untuk melarikan diri dari orang yang ia anggap begitu menyiksanya saat ini.
"Aduh," lirih Mora sambil menyentuh perutnya setelah menabrak meja makan kecil yang hanya muat untuk empat orang, sementara laki-laki yang memakai penutup kepala itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Bos, kayaknya perutnya kena tuh." Dua anak buah laki-laki itu membantu Mora duduk kembali.
"Sakit banget," lirih Mora sambil terus memegang perutnya dan merintih tanpa jeda.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?" Ucap laki-laki yang memakai penutup kepala itu sambil menap Mora terus tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kayaknya sih, Bos. Nanti kalo kenapa-kenapa dengan janinnya bakal bahaya juga sama ibunya, kayak pendarahan gitu," ucap anak buahnya pelan, ia begitu takut jika penjelasannya di bantah oleh bosnya itu.
"Emang kamu dokter tau seperti itu?" Benar saja, laki-laki bergelar bos itu mengatakan hal yang mereka khawatirkan.
__ADS_1
"Istri saya pernah seperti ini," ucapnya lagi berharap bosnya itu percaya.
"Ya sudah. Bawa, saya ikut." Laki-laki yang bergelar sebagai bos itu bangkit dari duduknya dan menyambar jacket kulit miliknya lalu menuju mobil yang terparkir di samping rumah.
"Ayo, Nona!" Dua laki-laki bertubuh tegap itu membantu Mora berdiri lalu berjalan keluar dari rumah.
Mereka memasuki mobil bersamaan, meninggalkan rumah. Mora mengulas senyum kecil saat sudah berada di luar rumah, tak perlu menunggu besok untuk melarikan diri dari orang yang ingin berbuat jahat dengannya.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah sakit terdekat, suasana rumah sakit masih begitu ramai dan masih banyak orang berjualan di depan rumah sakit.
Segera dua laki-laki bertubuh tegap itu mengantar Mora kedalam IGD dan mereka menunggu di sana, sementara laki-laki yang memakai penutup kepala itu menunggu di dalam mobil.
"Bapak-bapak ini silakan keluar dulu, Pasien akan kami periksa," ucap perawat lalu mengangkat gamis sedikit gamis kotor yang Mora kenakan.
Keduanya keluar dan duduk di kursi tunggu, menanti Mora selesai diperiksa dan akan kembali masuk kedalam.
Perawat mencari keberadaan dua laki-laki yang mengantarkan Mora tadi lalu memberikan resep obat dan vitamin untuk Mora.
Wanita hamil itu melihat mereka lengah, ia menghidar lalu mendekat dengan keluarga pasien lain yang hendak pulang dan meminjam kain panjang milik keluarga pasien lain itu untuk menutupi kepalanya yang tidak memakai hijab ini sekaligus dapat menyamarkan dirinya agar tidak mudah ditemukan.
Keluarga pasien yang berada di sampingnya tadi hendak pulang dan ia ikut serta bersama mereka, dengan langkah panik wanita mungil itu mempercepat langkahnya hingga ia tidak menyadari orang yang ia ikuti menghentikan langkahnya lalu berbelok ke parkiran.
Laki-laki yang memakai penutup kepala itu memperhatikan gelagat aneh wanita yang berjalan tak jauh darinya ia curiga itu Mora lalu berteriak hingga Mora menoleh.
"Berhentilah!" teriaknya membuat Mora semakin panik dan berlari.
Perut bagian bawah wanita hamil itu terasa begitu nyeri karena selesai makan di bawa untuk berlari, terlebih saat sedang hamil.
"Bertahanlah junior," lirihnya lalu bersembunyi di gerobak bakso kosong di pinggir jalan yang sudah begitu jauh dengan rumah sakit.
Suasana sedikit sepi, hanya ada kendaraan saja yang berlalu lalang.
"Hei, keluar! Atau kamu mau jika ketemu nanti aku akan menyiksa dan menyayat kulit mulusmu," teriak laki-laki yang memakai penutup kepala itu dengan napas terengah-engan.
Laki-laki itu sama lelahnya dengan Mora saat ini, berlari kejar-kejaran seperti kucing dan tikus.
Di samping gerobak bakso itu banyak belatung membuat wanita hamil itu ingin mengeluarkan isi perutnya yang baru saja ia makan, sedikit meringsut mundur hingga ia kini ada di semak-semak atau lebih tepatnya taman kecil tidak terawat, ia menahan panasnya agar tak terdengar.
Wanita hamil itu berteriak saat sekor ular kecil keluar dari sela-sela penutup parit, dengan sigap seseorang menutup mulutnya dari belakang dan menyeretnya ke tempat gelap menjauh dari gerobak dan jalanan.
"Tolong jangan siksa dan bunuh aku," lirih Mora dengan mata terpejam dan bulir bening yang berlomba turun.
__ADS_1