KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 30


__ADS_3

Malam menjelama bintang tak muncul sama sekali seakan tahu kegundahan hati dua insan saat ini, dua anak manusia itu masih dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku, Mora," ucap Juna saat tubuhnya ia jatuhkan di atas ranjang yang sudah berhiaskan bunga. Itu kelakuan bik Inah.


"Seharusnya jika tidak mencintai aku, katakan. Tak perlu paksakan cinta yang masih berada dimasa lalu," ungkap Mora, ia melucuti gaun pengantin sederhana itu. Kini tubuh Mora hanya terbalut handuk.


"Aku begitu mencintaimu," kata Juna. Laki-laki itu mendekat kearah Mora lalu mendekapnya.


"Lepaskan!"


"Kenapa? Apa kamu membenciku sekarang?" Laki-laki berwajah Korea itu menuding istrinya.


"Tidak. Cari saja kebahagiaanmu, Mas." Mora menepis tangan Juna lalu menuju kamar mandi.


Tubuh mungil itu ia guyur berjam-jam, menumpahkan air mata dan sesak di dadanya. Mungkin ini salah satu ujian pernikahan, sementara Juna terlelap karena terlalu lama menunggu pujaannya, sedangkan Mora masih dalam kamar mandi menghabiskan waktunya.


"Sayang. Kamu baik-baik saja?" Tanya Juna sesat telah terbangun dari tidurnya dan tak mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Terlebih suara gemercik air masih terdengar begitu jelas di dalam.


"Are you okay?" Juna mengetuk lebih kencang. Hatinya mulai gundah, ia memutuskan untuk mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.


Pintu telah terbuka sempurna, Mora duduk di bawah guyuran air shower yang dingin. Tubuh mungil itu tergugu, sudah dua jam ia di sini.


"Jika ada masalah. Cari solusi, bukan seperti ini caranya," ucap Juna. Mengendong tubuh Mora yang masih terbalut handuk basah.


"Biarkan saja saya mati perlahan, Pak Juna Andara," ujar Mora dengan suara bergetar hebat. Tubuh mungil itu mengigil.


"Hust ... Diamlah...."


Melepaskan handuk basah dari tubuh Mora dengan paksa, kini tubuh mungil itu tanpa benang sehelai pun, Juna menutup tubuh Mora dengan selimut, ia juga ikut masuk dan memeluk tubuh mungil Mora.


"Menyingkir dari saya," kata Mora, tangannya mendorong tubuh kekar Juna dengan kuat tapi ia tak mampu. Tubuh mungil Mora kini begitu merasakan kedinginan yang luar biasa. Setelahnya ia terpejam.


Di kamar lain wanita berbibir tebal itu sedang menari-nari merayakan kemenangannya, berhasil menghancurkan kebahagiaan Mora walau masih hanya secuil.


"Ini belum seberapa ******," gumamnya. Sebenarnya siapa wanita ****** di sini? Dirinya atau Mora?


Bersenandung sambil menuju dapur, wanita berbibir tebal itu merasakan lapar. Membuka kulkas lalu mencari makanan namun tidak ada apa pun yang bisa ia makan selain buah.

__ADS_1


"Apa bik Inah ga masak ya?" Lirihnya.


Memang benar bik Inah tidak memasak karena ia demam sekaligus lemas. Yasna berdecak kesal karena perut yang lapar tepaksa ia isi hanya dengan buah.


Yasna terus saja mengunyah buah dan segelas susu, tanpa ia sadari sepasang mata menatapnya di kegelapan.


Dor....


Isi dari benda perpelatuk itu menembus jam dinding yang terpasang di dapur, kacanya berserakan di lantai granit itu. Yasna memekik begitu kencang, suara tembakan dan teriakan Yasna membuat Rani dan bik Inah terbangun dan menghampiri Yasna yang masih duduk di meja makan sambil memeluk lututnya.


"Kekacauan apa ini Yasna?" Tanya bik Inah menatap tajam kearah Yasna, wanita paruh baya itu mengira Yasna dalang dari kekacauan ini.


"Ada yang mau bunuh aku, Bik. Aku takut," kata Yasna pelan.


"Mungkin peluru kesasar," ucap bik Inah datar, dia tahu saat menatap jam dinding itu yang sudah tembus hingga temboknya sudah ikut berlubang.


"Yasna takut, Bik." Wanita berbibir tebal itu segera berlari ke kamarnya, sementara Juna menyeringai di samping tembok yang tidak terlihat siapa pun. Ini akibat jika mengganggu macan yang sedang tertidur, ini masih permulaan sebagai ancaman.


Bik Inah dan Rani menuju kamar mereka masing-masing karena masih mengantuk, sementara Juna duduk di ruang tamu dalam suasana remang-remang, laki-laki bertubuh atletis itu sedang memikirkan cara bagaimana agar Yasna segera pergi dari rumah ini.


Membuka aplikasi hijau miliknya lalu mengirim pesan pada seseorang.


"Assalamualaikum." Juna mengirimkan pesan pada temannya dulu saat ia belum bertaubat. Teman tetap teman walaupun penilaian dalam agama berbeda.


"Eh. Tumben pake salam, diiringi beberapa emot tertawa."


"Mau minta tolong," balas Juna.


"Minta tolong apa? Lu butuh baru hubungi gua."


"Maaf. Serius besok kita ketemuan di cafe yang dekat sawah."


"Oke. Ga perlu minta maaf. Gua butuh uang bukan butuh maaf, kalo maaf bisa-bisa gua sakit lambung karena ga makan," balasnya panjang lebar tak lupa menyelipkan emot tertawa.


Juna Andara laki-laki yang begitu keras kepala, tubuh atletis itu bangkit dari duduknya lalu menuju kamar dengan gontai, rasa semangat dalam dirinya seakan hilang saat melihat pujaan hatinya terpuruk.


Saat Juna membuka kamar ia begitu terkejut tidak mendapatkan Mora di tempat tidur, ia yakin Mora juga terbangun mendengar kegaduhan yang ia buat, tergesa ia menuju kamar mandi dan mengeceknya namun tidak ia temukan Mora, setengah berlari Juna menuju dapur dan mendapati Mora sedang membuka kulkas, sepertinya Mora lapar karena mereka sama-sama belum makan, sebenarnya Juna juga merasa hal yang sama tapi ia sanggup menahannya.

__ADS_1


"Yuk cari makan di luar!" Celetuk Juna saat Mora hendak berbalik. Mora secepay kilat menyentuh dadanya yang hampir copot.


"Udah larut malam," Mora masih menjawab walau hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Walau larut kan masih buka."


"Angin malam ga bagus untuk kesehatan."


Laki-laki bertubuh atletis itu hanya menjawab 'oh' saja. Mata laki-laki bertubuh atletis itu terus saja menatap Mora dengan sendu, ia begitu menyadari karena perlakuan Yasna hati Mora terluka.


Juna kembali ke kamar Mora, wanita mungil itu mengekor di belakang laki-laki yang ia sebut suami itu, jika ia kembali ke kamarnya lantai dua maka Mora tak akan menyusulnya karena ia sadar suasana hati istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Mas tidur di sofa aja," perintah Mora membuat mata Juna terbelalak.


"Yakin?" Tanya Juna pada Mora, wanita cantik itu mengangguk mantap. Juna menghela napas panjang, baru pertama kalinya ia di atur oleh wanita setelah ibunya.


"Kenapa Mas menakuti ondel-ondel itu?" Tanya Mora tiba-tiba membu laki-laki bertubuh atletis itu terperanjat.


"Kamu lihat?" Wanita cantik itu mengangguk pelan.


"Aku kesal. Rencananya aku ingin melubangi mulutnya hingga tembus ke belakang," papar Juna dengan kesal.


"Apa karena dia menciummu?"


"Ya."


Maaf, Mas," Mora mendekat kearah Juna, menunduk lalu mengecup pipinya pelan.


"Maaf kenapa? Andai aku di posisimu saat itu, aku pasti akan merasakan sakit yang luar biasa juga," ungkap Juna, tangannya meraih tangan Mora yang berdiri di hadapannya lalu mencium pelan.


"Maafkan aku yang belum bisa menjaga perasaanmu," lanjutnya menarik tangan Mora sedikit kasar hingga tubuh mungil Mora terhuyung dan jatuh di pelukannya.


"Cinta sejati tak pernah mengkhianati," kata Mora lirih.


"Ya. Aku tidak akan berkhianat, jika aku berkhianat maka akan kupastikan dunia dan seisinya akan membenciku," papar Juna, mata keduanya saling beradu, darah berdesir membuat jantung keduanya dua kali lebih cepat berpacu.


"Aku mencintaimu." Demi apa seorang piskopat berubah menjadi sebucin ini. Wajah Juna mendekat kearah Mora hingga tak berjarak, mata Mora terpejam merasakan hangatnya napas yang saling memburu, Juna menatap istrinya itu penuh arti, bibir keduanya kini menyatu sempurna, ******* bibir ranum Mora. Akankah malam ini menjadi malam syahdu untuk mereka?

__ADS_1


__ADS_2