KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 26


__ADS_3

POV Aqila


Jangan tanya seberapa hancurnya hatiku saat mengetahui kenyataan pahit bahwa aku bukan anak kandung buk Narsih, aku hanya wanita sekarat yang ia selamatkan untuk mengantikan anaknya yang telah lama tiada.


Ya Allah kenapa sampai sekarang aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mas Juna Andara adalah suamiku, bahkan namaku saja masih kuakui sebagai Aqila.


Terkadang aku berpikir dosa apa yang telah aku perbuat hingga Allah mengujiku, bahkan diriku tak mengenali ibu Rani yang telah menyayangiku sepenuh hatinya.


"Ngelamun aja." Juna Andara yang mengaku sebagai suamiku menepuk jidatku dengan penuh kasih sayang.


"Ga kok. Lagi mikirin lips, aja," ucapku berbohong pada laki-laki bertubuh atletis yang selalu wangi itu. Tak dapat kupungkiri bahwa diriku kini sudah mencintainya, tapi hatiku juga masih ragu karena takut jika perasaan ini hanya sebatas sahabat.


Setiap embusan napasnya didekatku membuat desir darah mengalir begitu cepat menuju jantungku, hingga jantungku berdetak dua kali lebih cepat, bahkan genggaman tangannya saja bisa membuatku berkeringat.


"Nanti kita beli, Sayang," ucapnya yang membuatku candu, wajahnya yang mulus bagaikan artis Korea membuatku selalu ingin mengecupnya, tapi nyatanya nyali seorang wanita tak sebesar laki-laki.


Benar seperti dikatakan oleh nenek bahwa perempuan diciptakan dengan rasa malunya agar kehormatannya terjaga, kembali kepalaku terasa sakit saat laki-laki tuna netra itu mengatakan kenangan pahit yang kualami.


"Jangan bengong nanti kesambet," kata laki-laki berwajah Korea itu, wajahnya tak berjarak saat ini, napasnya begitu terasa. Kembali jantung ini tak karuan, aku menepis wajahnya pelan, walau bagaimanapun ini adalah kantor. Aku sadar betul bahwa Lolita tak pernah suka kami dekat, sedikit menjaga hati karyawan aku menjaga jarak denga suamiku. Ah, rasanya canggung sekali memanggil dirinya sebagai suami karena aku belum ingat di mana dan kapan acara di adakan.


Beberapa saat aku bergelut dengan komputer yang sudah mulai biasa kau gunakan kini aku semakin paham dan tahu pungsinya.


"Ayo pulang!" Seru laki-laki berwajah tampan di hadapanku saat ini.


"Kok cepat?" Tanyaku heran karena jam masih menunjukkan pukul sebelas.


"Yasna sakit," kata mas Juna dengan ekspresi biasa saja. Mungkin dirinya tak begitu menyukai Yasna yang mirip pesis seperti anaknya buk Narsih itu.

__ADS_1


"Ya udah. Ayo!" Aku bangkit dari duduk lalu mengambil tasku dan berjalan beriringan menuju mobil mas Juna, walaupun beberapa mata karyawan memandang kearahku tapi aku bersikap biasa saja.


"Nanti kita ke apotek beli obat Yasna," ungkap mas Juna berjalan mendahuluiku. Terkadang ada rasa tak suka pada Yasna yang suka cari perhatian pada mas Juna, wanita itu terlalu senang membuatku jengkel.


Dalam perjalanan, mas Juna terus diam, mungkin hatinya risau pada Yasna, tapi entahlah aku tidak boleh mengasumsikan sesuka hatiku.


Tak lama kami pun tiba di apotek yang Yasna sebutkan, mas Juna menunjukkan resep obat lalu membayarnya. Aku melihat ada dua orang berdiri di depan mas Juna dan satu lagi di belakangku. Kembali gawai mas Juna berdering.


"Siapa, Mas?" Tanyaku heran.


"Yasna.


"Angkat." Mas Juna mengangguk dan mengangkat telpon dari Yasna, entah apa yang mereka bicarakan aku tak dapat mendengar karena mas Juna terus melangkah menjauh dariku menuju mobil, kedua orang itu menyeretku dan membekap mulutku hingga aku tak bisa bersuara atau berteriak, tubuhku semakin jauh dari mas Juna.


Suasana dekat apotek memang terbilang sepi, tak ada kendaraan lalu lalang bahkan pemilik apotek itu diam saja saat tubuhku diseret secara paksa, apa yang ia pikirkan tak berniatkah menolong seorang wanita.


Terus saja mereka berdua menyeretku sampai semak belukar dan banyak di tumbuhi pohon pinus, mereka menolak tubuhku kasar hingga terjerembab ketanah becek dan berlumpur.


"Kami menjalani ini demi tugas dan uang," selorohnya, Sura mereka terbahak memecah keheningan hutan yang gelap ini.


"Kumohon lepaskan aku." Aku mengiba, kutangkupkan kedua tanganku pada merek.


"Ini hutan pinus, mau mati di terkam binatang buas?" Tanya laki-laki bertubuh hitam namun tinggi. Aku menagis dan beteriak, berharap ada manusia yang akan menolongku saat ini, namun nihil.


Hanya suara burung dan binatang buas yang saling bersahutan.


"Tuhan tolong hamba," lirihku, berharap sang maha cinta segera mengakhiri penderitaanku yang tiada akhir.

__ADS_1


"Kita bersenang-senang aja di sini manis," kata laki-laki bertubuh tembun itu, membuatku bergidik ngeri. Berniat mereka menggauli tubuhku, baiknya aku mati saja di sini jika harus menyerahkan diriku pada laki-laki lain.


"Jangan. Kita cuma di perintahkan untuk memeras laki-laki itu, duit akan kita bagi dua sama si bos," kata laki-laki tinggi hitam itu. Bos? Bos siapa yang mereka bicarakan.


Ya Allah siapa yang menaruh kebencian teramat dalam pada diri ini, sedangkan sisiku tak pernah sekali pun membuat seseorang terluka. Kembali merek menyeret tubuhku yang sudah begitu lemas, karena aku belum makan sama sekali, samar kulihat mereka menaikkanku keatas pohon yang ada tangga dan ada rumah di atasnya.


Mataku terpejam, setelahnya aku tak ingat apa pun.


____


Pagi mecapa dan kicauan burung berada seakan di atas kepalaku, kusentuh kepalaku yang terasa begitu berat, kupandang sekitar tempat yang asing, aku baru ingat kemarin aku di sini bersama dua orang laki-laki yang tidak kukenal dan sekarang sudah berganti hari, berarti aku cukup lama tertidur. Ah, mungkin saja aku pingsan.


Saat hendak turun aku terkejut melihat ke bawah, pohon ini tak memiliki tangga, jadi mereka sungguh berniat memenjarakan diriku di sini seperti Rapunzel.


"Makan lah, Tuan Putri," suara itu berasal dari bawah. Mereka mengirim makanan melalui tali yang tergantung. Cukup keren ide mereka untuk membuatku layaknya tahanan terasa seperti piknik, setidaknya aku sedikit menikmati suasana sejuk di hutan ini, aku melahap habis makanan yang mereka berikan tanpa sisa, setidaknya aku harus kuat jika suatu saat ada kesempatan untuk melarikan diri.


Aku merogoh saku rokku yang sudah penuh dengan noda lumpur, minyak kayu putih yang selalu setia bersamaku dan ponselku yang sudah habis baterai, aku memilih mengoleskan minyak kayu putih terlebih dahulu di hidung dan kaki bekas gigitan serangga, karena terasa begitu panas dan gatal.


Segera kunyalakan paksa ponselku dan behasil, walau dengan daya baterai hanya satu persen. Segera ku tekan nomor mas Juna untuk kupanggil dan langsung diangkat.


"Mas, tolong." Kata-kata itu yang pertama aku ucapkan.


"Kamu di mana?" Suara mas Juna terdengar begitu panik.


"Aku di hutan belakang apotek kemarin, Mas," jelasku sambil mengis, sangat takut jika mereka mendengar lalu memperkosaku dan aku mati di sini, gawaiku benar-benar padam tak bisa di nyalakan lagi.


"Mas. Tolong aku, setelah ini apa pun permintaan darimu aku akan menurutinya," gumamku, aku memeluk lututku, hujan melai turun begitu deras, aku Rapunzel yang tak bisa apa-apa di sini, tak ada selimut bahkan termpias masuk kedalam rumah Rapunzel ini.

__ADS_1


Cemburu dapat membutakan mata hati seseorang, bahkan terkadang mampu menjadikan yang haram menjadi halal hanya karena demi memenuhi keinginannya dan nafsunya.


Bersambung....


__ADS_2