
Malam begitu dingin, sedingin hati Juna saat ini, bahkan cahaya rembulan saja tak mampu membuat hati laki-laki bertubuh atletis itu tenang.
Wanita hamil itu sedang memandang rembulan yang begitu bersih. Juna memeluk tubuh mungil Mora dari belakang, rasa takut kehilangan kembali hadir di dadanya.
"Jangan pernah tinggalkan aku," lirih Juna mengecup tengkuk wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan embun sesejuk dirimu," ungkap wanita yang pandai bersyair itu.
Mora Cantika membalikkan tubuhnya, kini pandangan keduanya beradu. Wanita yang sedang hamil itu tersipu malu, namun nekat mendaratkan kecupan di pipi Juna.
"Semoga setelah ini kamu tidak akan meninggalkanku," ucap Juna pelan, laki-laki bertubuh atletis itu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Mora sehingga wanita itu menyipit.
Tak lama suara ketukan pintu kamar mereka terdengar begitu keras.
"Den!" Bik Inah terdengar begitu panik. Juna tergesa membuka pintu kamar, benar saja napas bik Inah terlihat seperti orang meraton.
"Ada apa, Bik?" Juna bertanya pada bik Inah yang terlihat bingung.
"Barusan Nyonya muntah, sekarang terlihat lemah dan lagi di urut punggungnya sama bapak. Nyonya menolak di antar kerumah sakit, Den," jelas bik Inah tergesa-gesa, berlahan ia mengatur napasnya lalu melanjutkan ucapannya.
"Nyonya cuma mau Aden menemuinya sekarang," lirih bik Inah pelan.
"Baik," ucap Juna, kakinya melangkah menuju kamar ibundanya. Tanpa ia sadari Mora mengikuti dirinya.
Rasa kesal menyelimuti hatinya tapi tak mungkin jika harus memendam sejuta amarah pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mama kenapa ga mau kerumah sakit?" Juna menyentuh lembut jemari Rani lalu mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Tidak perlu, jika cepat mati maka lebih baik," ucap Rani pelan lalu menepis tangan Juna pelan.
"Jangan seperti anak kecil, Ma. Juna sayang sama Mama," kata laki-laki bertubuh atletis itu lalu duduk di samping Rani dan menoleh kearah ayahnya.
Yudha hanya mengangguk melihat Juna menatap kearahnya.
"Kamu ga sayang sama Mama, jadi buat apa mama bertahan. Bukan hanya kita akan bangkrut tapi kita akan di permalukan oleh sahabat Mama itu," papar Rani dengan suara lemah.
"Sahabat macam apa itu," ucap Juna kesal, sementara di luar kamar ada sepasang telinga mendengar pembicaraan mereka, Mora tidak berani masuk karena Juna tidak mengajaknya tadi.
"Apa susahnya kamu menikah sama dia, bisa rahasiakan dari Mora agar hubungan kalian baik-baik saja," sahut Rani melirik ke arah suaminya agar Yudha membantunya berbicara.
__ADS_1
"Benar kata ibumu, dulu Papa ..." Ucapan Yudha terjeda menyadari itu hanya masa lalu.
"Dulu Papa kenapa?" Heran Juna menautkan kedua alisnya dan menatap lekat kearah ayahnya itu.
"Dulu Papa juga Mama suruh poligami karena Mama cuma punya dua anak, tapi papa ga mau," dusta Rani, wanita itu mengulas senyum pada Juna yang membuat Juna tersenyum sinis.
"Fokus pada kesehatan Mama, akan kupikirkan nanti," ucap Juna lalu bangkit dari duduknya.
"Jangan lama-lama, anak sahabat Mama itu sudah terlalu matang usianya untuk menikah. Dia terus mendesak Mama," lirih Rani menatap punggung Juna yang semakin menjauh. Juna tak menjawab sama sekali hatinya begitu sulit jika harus membagi kasih untuk wanita lain selain Mora.
Wanita hamil itu duduk meringkuk di samping vas bunga besar dekat kamar Rani sehingga laki-laki bertubuh atletis itu tidak dapat melihatnya sama sekali.
Jutaan bulir bening luruh dari mata indah Mora Cantika, detak jantungnya seakan berhenti menahan sesak yang kian menyiksa jiwanya, tubuh mungil itu tergugu.
"Apa semua orang kaya memperlakukan orang miskin sepertiku layaknya sampah?" Mora bergumam kecil, ia menyeka air matanya lalu berjalan menuju taman belakang yang banyak di hiasi lampu-lampu membuat taman bunga kecil itu terang bagaikan siang.
Setidaknya bunga-bunga yang sedang bermekaran mampu mengobati sedikit hatinya yang sedang terluka saat ini.
Matanya menatap setangkai mawar merah berduri, berlahan Mora mendekat lalu meremas tangkai mawar itu hingga mawar dan tangkainya tercabut.
"Kamu indah tapi bisa menjaga dirimu dengan durimu, kenapa aku tidak bisa menjaga diriku hingga aku selalu berakhir dalam derita," lirih Mora, tangannya sudah dipenuhi darah karena tertusuk oleh duri.
"Lepaskan!" Juna berusaha melepaskan tangkai bunga yang di genggam Mora begitu kuat.
Wanita hamil itu tersenyum simpul, memandang lekat wajah suaminya yang mungkin nanti akan jarang ia tatap, tak lama lagi mereka akan ada jarak yang memisahkan.
"Sayang. Apa yang membuatmu seperti ini?" Juna menatap nanar kearah Mora yang terus saja menjatuhkan bulir bening sambil tersenyum, tak lama setelahnya tubuh mungil itu limbung.
Juna yang panik berteriak memanggil bik Inah untuk membantunya membuka pintu, tubuh mungil itu ia baringkan di tempat tidur.
"Ada apa denganmu, Mora?" Juna membersihkan sisa duri yang tertinggal di telapak tangan istrinya itu, bik Inah berusaha membalur minyak kayu putih di hidung dan pelipis Mora.
Selang beberapa saat wanita hamil itu mengerjap lalu membuka matanya perlahan, wanita hamil itu berharap ini hanya mimpi namun saat melihat luka di tangannya ia menyadari ini semua nyata.
Sekuat tenaga ia menahan bulir bening agar tidak lagi tumpah, ia sadar saat ini tak lebih hanya menumpang di rumah ini.
Wanita cantik itu mengulas senyum yang tidak dapat di artikan oleh Juna.
"Kamu kenapa seperti ini, Sayang? Juna memeluk tubuh Mora, wanita cantik itu hanya diam, ingin membalas pelukan tapi ia ragu.
__ADS_1
Menikmati setiap detak jantung Juna adalah candu untuknya, aroma khas tubuh suaminya adalah penenang baginya. Ia tak akan ikhlas jika harus berbagi untuk wanita lain. Mora melonggarkan pelukannya lalu tersenyum manis kearah suaminya.
"Aku hanya terlalu mengagumi mawar berduri itu, Mas. Sehingga aku lupa konsekwensi yang harus kutanggung," ucapnya lembut.
"Lain kali berhati-hati, Sayang." Laki-laki bertubuh atletis itu menasehati Mora, namun wanita itu hanya mengangguk dan mendalami perkataan Juna kali ini.
Jika harus berhati-hati maka ia harus waspada pada keadaan yang menyakiti dirinya saat ini, perkataan Rani menjodohkan Juna dengan anak sahabatnya masih terngiang-ngiang di telinga wanita hamil itu.
Satu sisi ia takut kehilangan Juna sisi lainnya ia tak ingin berbagi kasih, Mora juga paham bahwa Juna tak bisa menolak keputusan Rani karena tak ingin durhaka juga tak ingin jatuh miskin, biarlah kali ini ia akan mengalah demi menjaga keluarga Rani agar tetap utuh dan ia juga akan menjaga buah cintanya dengan Juna.
"Mas, boleh aku berbelanja? Aku ingin beli dres karena perutku sudah sedikit terlihat," celetuk Mora di saat suasana kamar yang kian hening karena Juna sibuk dengan laptop miliknya, ia mengerjakan di rumah karena Rani sakit.
"Bisa. Kita besok pergi jam berapa?" Walaupun matanya memandang laptop tapi telinganya mendengar jelas apa yang di katakan oleh Mora.
"Aku pergi sendiri aja, di toko ujung persimpangan jalan sana aja," lirih Mora menatap wajah Juna ragu.
"Yakin?" Juna beralih menatap Mora lalu megusap rambut wanita cantik itu pelan, Mora mengangguk mantap.
"Ambil kartu ATM di laci itu besok," kata Juna sambil menunjuk nakas yang berisikan beberapa berkas di sana.
Wanita cantik itu sama sekali tidak berniat mengambil yang yang di berikan Juna karena selama ini Juna masih memberikannya nafkan dengan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening atas nama Mora Cantika.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun mata indah Mora masih enggan terpejam karena memikirkan keadaan yang akan sulit ia hadapi nantinya.
Besok, lusa dan seterusnya ia harus bisa menjadi wanita yang lebih kuat agar bisa menghidupi anak yang Juna titipkan di rahimnya.
Berlahan tangan kekar itu melingkar di perut Mora, ini kehangatan terakhir yang akan ia rasakan setelah ini keadaan akan memisahkan mereka sementara atau mungkin untuk selamanya.
Wanita hamil itu menjatuhkan bulir bening, mengenang setiap kata yang Juna ucapkan membuat dadanya semakin sesak, segera ia usap bulir bening itu lalu berbalik menatap kekasih halalnya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, hatinya benar-benar hancur saat ini, tak ada lagi pegangan yang kuat yang mampu menguatkan dirinya lagi.
Berlahan tangan Mora membelai wajah mulus Juna lalu tersenyum. Dua sisi pikiran yang berbeda saat ini sedang berseteru, pelukan seperti ini akan selalu ia rindukan nantinya. Perlahan ia memejamkan mata dengan hati yang gundah gulana.
.
.
.
Puing-puing yang dulunya sudah ia rakit kini harus hancur kembali karena satu alasan.
__ADS_1
Sayap cinta yang telah lama ia rajut kini kembali patah, cinta yang sudah terpatri pada sang pemilik hati terpaksa ia pahat kembali agar tidak menjanjikan air mata kepedihan yang tiada ujung penantian.