KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 19


__ADS_3

Di rumah sakit Roby begitu khawatir akan keselamatan wanita yang ia bawa, beberapa puluh menit menunggu Narsih akhirnya tiba di rumah sakit dengan wajah lelahnya ia segera membayar administrasi rumah sakit. Jenazah tanpa identitas itu akan Narsih akui sebagai Yuli saja, agar pihak rumah sakit tak menuntut kelak jika ada pihak keluarga korban datang ke rumah sakit itu.


Dengan langkah gontai Roby mendekati Narsih seolah dirinya merasa iba pada manusia yang baru saja ia tolong.


"Buk." Panggil Roby, melirik kearah Narsih yang duduk termenung di kursi tunggu.


"Ya. Ada apa?" Tanya Narsih tanpa menoleh.


"Saya ingin mendonorkan kedua bola mata saya untuk gadis itu," jelas Roby membuat bola mata Narsih membuat sempurna.


"Jangan gila. Kamu masih sehat dan kuat, masa depanmu masih panjang," kata Narsih menolak tak setuju.


"Saya dari dulu memang sudah gila padanya, Buk. Sampai saat ini kegilaan saya yang dulunya benci sekarang menjadi ...." Roby menjeda ucapannya. Punggung tangannya mengusap bulir bening yang belum sempat luruh.


"Jelaskan saja pada dokter. Saya gak berani ngomong apa-apa jika itu udah keinginan kamu," sahut buk Narsih, pikirannya kalut tidak mendengarkan apa maksud dari pembicaraan Roby saat ini.


Dokter keluar setelah memeriksa keadaan wanita yang sengaja Roby rahasiakan namanya, seolah dirinya benar tidak mengetahui identitas wanita itu.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya wanita empat puluh lima tahun itu.


"Anak ibu mengalami koma, ada benturan di kepalanya membuat dirinya begitu lemah melewati masa kritisnya. Kemungkinan juga anak ibu akan mengalami hilang ingatan sementara," jelas dokter.


"Apa anak saya akan segera sadar, Dokter?" Setelah mendengarkan penjelasan dokter kini Narsih benar-benar yakin bahwa Rani melakukan kekerasan fisik pada wanita itu.


"Berdoa, Bu. Saya akan berusaha memberikan perawatan terbaik. Pasien butuh istirahat juga butuh doa dari ibu. Hanya itu, selebihnya kehendak Allah," terangnya lagi.


"Terimakasih dokter," laki-laki berpakaian putih itu berlalu dari hadapan Narsih setelah mengangguk.


"Dok tunggu!" Panggil Roby, langkahnya mengejar dokter yang berhenti tak jauh dari mereka. Roby menatap manik mata dokter itu seakan ada rasa ragu apa yang ingin ia sampaikan.


"Dok. Apakan manusia sehat bisa mendonorkan matanya untuk orang sakit, ah bukan. Maksud saya untuk orang buta?" Tanya Roby dengan kata yang tak beraturan.


"Maksud anda. Anda ingin menjadi pendonor mata untuk gadis itu tadi?" Tanya dokter kembali, Roby mengangguk matap.

__ADS_1


"Kalo ini bukan bagian saya. Silahkan tanya bagian bedah, setau saya jika orang sehat melakukan donor mata maka ada serangkaian persyaratan agar tak menimbulkan tuntutan berbentuk apa pun nantinya," jelas dokter itu seadanya, Roby kembali menganggukkan kepalanya.


"Baik, Dokter. Terimakasih," ucapnya. Dokter mengangguk lalu pergi dari hadapan Roby.


Kini keyakinan Roby sudah mantap ingin memberikan bola matanya pada orang yang pernah ia zalimi.


____


Bulan berganti hari, biaya rumah sakit semakin membengkak, Narsih sudah tak memiliki tabungan apa pun, terlebih Roby yang hanya sebagai karyawan bengkel biasa gajinya pun sesuai motor yang datang untuk diservice. Narsih menjual semua sawahnya untuk pengobatan wanita yang akan menggantikan putrinya yang telah tiada, namun aksinya membuat Yuli murka dan semakin membenci Narsih.


Kondisi wanita yang dirahasiakan namanya boleh Roby itu sudah sadar, sudah bisa mengerakkan tangannya untuk meminta sesuatu. Rasa bahagia di hati Narsih begitu besar, berharap wanita yang ia tolong adalah jelmaan putri kecilnya yang telah tiada.


Narsih menemui wanita cantik yang sudah ringkih itu, kulitnya sedikit mengkerut berat badannya hanya tinggal tiga puluh lima kilo gram.


"Kamu sudah sadar, Nak?" Tanya Narsih pada wanita yang ada di hadapannya saat ini. Wanita itu hanya mengangguk lemah.


"I ... Ibu ...." Ucapnya terputus. Tenggorokannya terasa sakit, dengan cepat Narsih memberikan minum untuk wanita yang ia anggap anak itu.


"Ibu, apa ibuku?" Tanyanya.


"Iya. Aku ibumu, ibu yang melahirkanmu." Dustanya. Bulir bening luruh berlomba-lomba dari pelupuk mata Narsih, betapa dirinya rindu akan putri kecilnya dulu. Segera tubuh ringkih itu ia peluk, sementara yang dipeluk tak melakukan penolakan sama sekali. Merasakan dan meresapi apa yang sebenarnya terjadi.


"Nama saya?" Wanita itu bahkan lupa namanya, tangannya meraba wajahnya layaknya bayi baru terlahir kedunia, baru menyadari dirinya di mana.


"Nama kamu Aqila, kamu punya kakak namanya Yuli," jelas Narsih, namun wanita cantik itu memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


Perawat yang dari tadi berdiri memberikan kode pada Narsih untuk berhenti berbicara, mengingat kondisinya belum stabil. Perawat menyuruh wanita cantik bitu beristirahat dan Narsih keluar dari ruangan, dirinya merasa sedikit lega, setidaknya wanita itu menjadi pengganti putrinya dan nama putrinya juga yang ia sematkan, sementara Roby tak terlihat batang hidungnya sama sekali.


Rasanya Narsih sangat ingin memberikan kabar gembira ini pada Roby anak angkatnya itu, ia merogoh sakunya lalu mengambil gawai miliknya menekan nomor lalu menghubungi Roby.


Beberapa saat menunggu panggilan diangkat.


"By. Kamu di mana?" Tanya Narsih tanpa basa basi.

__ADS_1


"Saya liburan, Buk." Selorohnya sambil tertawa ringan.


"Kabar gembira. Wanita cantik itu kini sudah sadar. Kamu tak tau mananya juga kan? Jadi namanya ibu kasih Aqila saja, nama anak Ibuk yang udah lama ga ada," jelas Narsih sambil tersenyum kecil.


"Syukurlah, Buk. Besok saya pulang ke situ dan katakan padanya untuk bersiap menerima donor mata," ungkap Roby dengan nada bergetar. Ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan.


"Tapi ...."


"Tak perlu pake tapi, Buk," potong Roby lalu mematikan panggilan sepihak.


Sebenarnya Roby saat ini mengunjungi kediaman ibunya, meminta restu untuk keselamatannya. Dirinya berbohong akan berangkat ke Taiwan untuk bekerja, pada kenyataannya ia akan mendonorkan matanya untuk Aqila anak angkat Narsih yang sama seperti dirinya, jika ia jujur maka tak pernah orang tuanya menginginkan dirinya mengorbankan diri untuk orang lain.


____


Beberapa Minggu sudah berlalu, Roby kembali untuk memenuhi janji, surat-surat sudah ia persiapkan sepenuhnya.


Roby dan Aqila memasuki ruangan operasi, keduanya akan dilakukan operasi secara bersamaan agar urat mata tak mengalami kerusakan, semua berjalan dengan baik tanpa sedikit pun ada kesalahan dalam pelaksanaan operasi.


Waktu berganti hari, hati berganti bulan. Kedua manusia yang sudah saling berbagi itu terlihat sama sehat. Roby melakukan aktivitasnya barunya sebagai pengemis dan Aqila tinggal bersama Narsih, kedua saling terpisah bahkan Roby menyuruh merahasiakan bahwa dirinyalah yang telah mendonorkan mata untuk Aqila.


Rangkaian kebohongan Narsih lakukan agar Aqila percaya bahwa Narsih adalah ibu kandungnya dan mengancam Yuli agar mengiyakan apa kata Narsih. Tanpa Narsih sadari Yuli menyimpan berjuta dendam pada Narsih atas perbuatan tak adilnya.


Narsih bahagia, bisa memberi ingatan baru untuk Aqila walau ingatan Aqila masih buruk dan sering lupa apa yang pernah Narsih katakan, hanya beberapa yang bisa ia ingat, waktu, ibu, kendaraan dan jalan pulang pergi yang sering ia lalui walau terkadang dalam tidur Aqila selalu bermimpi buruk, namun Ibunya mengatakan itu hanyalah bunga tidur agar putrinya tenang.


Terkadang orang baik tak selamanya baik, begitu juga sebaliknya. Cinta saja bisa menjadi benci jika sudah berada di fase tersakiti.


Kita semua paham, hati manusia lain tak dapat kita kendalikan, namun kita bisa berbuat baik untuk mengendalikan diri sendiri.


Satu cinta yang tak pernah pudar, yaitu cinta kepada sang pencipta.


FLASHBACK OFF


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2