
Ibra kembali datang ke rumah sakit . Sudah ada mama Ajeng juga kak Luthfi di sana. Nampak raut wajah heran dan juga cemas. Ibra berpikir ada sesuatu yang telah terjadi pada Ayah.
" Ayah baik baik saja kan ma, kak Luthfi ?"Ibra langsung masuk dengan takut dan menghampiri mereka .
" Ibra kamu datang nak. Ayah stabil, hanya tinggal pemulihan saja. Jangan kawatir " ucap mama Ajeng menenangkan Ibra .
Ibra menghembuskan nafasnya lega. Apa yang menjadi kekawatiranya tidak terjadi.
" Ma, kalau boleh Ibra ingin membawa ayah berobat ke Singapura. Biar Ibra yang mengurus ayah di sana "
" Terima kasih nak, Ayah sudah lebih baik. Kalau saja mama tau lebih awal, mama pasti akan menjaga ayah dengan baik "
" Ibra, saya mau bicara sebentar " Luthfi mengajak Ibra keluar ruangan. Kemudian Luthfi dan Ibra menuju area taman untuk membicarakan sesuatu .
" Ibra, duduk sini ! sebelumnya kak Luthfi minta maaf semua serba mendadak. Kamu tau sendiri kan ? kak Luthfi baru datang kemarin malam dan menjaga ayah dengan kamu "
" Iya kak maaf, subuh tadi saya pulang dulu " sahut Ibra
" Ibra...,kamu jangan marah ya. Semua serba mendadak .Saya tidak sempat memberi tahu kamu. Tadi pagi..., Antyka dan tunangannya dinikahkan oleh Ayah "
Ucapan Luthfi begitu jelas tapi Ibra bahkan tidak bisa memahami. Tiba tiba hatinya limbung, tatapan matanya samar, dadanya begitu sesak, Ibra terdiam .
" Ibra, maafkan kami ya. Semua begitu mendadak. Bukan maksud kami melupakan keberadaan kamu " Ucap Luthfi. Namun Ibra seperti tidak bereaksi dengan ucapan Luthfi . Mulut Ibra seperti terkunci .Wajah Ibra kemudian menunduk, menatap bumi. Andai saja bisa, ia ingin berteriak mengatakan pada dunia, hatinya sangat terluka dengan berita ini
" Kak Luthfi...,aku mencintai Antyka " lirih Ibra . dengan tubuh yang lunglai, mata berkaca kaca .
" Ibra, apa yang kamu ucapkan ?"
" Maaf kak..." Kemudian hening sesaat. Ibra kembali berucap " aku memang tidak pantas untuk Antyka, aku tau itu. Tapi perasaan itu tumbuh begitu saja "
" Ibra, bukan begitu. Siapapun berhak memiliki perasaan itu .Tapi Ibra, semua sudah terlambat, Antyka sudah di miliki pria lain . Dia bukan jodohmu. Kalau saja kamu datang lebih cepat. Ah...,Ibra kak Luthfi mohon, buang jauh perasaanmu . Akan sangat menyakitkan untukmu "
Tes ....air mata mengalir di pipi Ibra. Membuat Luthfi jadi serba salah .Kalau saja Ibra mengatakan lebih awal, mungkin semuanya tidak akan begini kejadiannya. Luthfi memegang bahu Ibra memberi kekuatan pada pria yang sudah ia anggap sebagai adik .
Ibra mengusap air matanya, mencoba untuk tegar diantara kesakitan. Kemudian dalam fikiran Ibra yang teralih, dia tidak bisa lagi berpura pura bahagia untuk pernikahan Antyka. Setidaknya sekarang ini, dia butuh lepas dan mempersiapkan diri secara mental untuk menerima kenyataan .
Memulihkan hatinya yang hancur sebelum berlabuh. Ibra memutuskan untuk kembali ke Singapura. Namun di sisi lain,Dirinya ingin membuat Ayah tetap sehat dan berada di sisinya .
" Kak Luthfi, aku ingin membawa ayah ke Singapura untuk berobat " Ibra meminta ijin pada Luthfi
" Ibra, itu kita bicarakan nanti. Kak Luthfi akan berunding dan membujuk Ayah dulu "
" Kabari aku kak "
" Tentu saja "
__ADS_1
***
Setelah solat Isya Alif membawa Antyka ke rumah sakit tempatnya bertugas . Alif sudah meminta berganti shif malam untuk beberapa hari . Semua ia lakukan agar bisa menemani sang istri untuk menjaga Ayah Damar .
Saat sampai ruang perawatan. Mama Ajeng dan kak Luthfi masih setia menjaga Ayah .
" Kak Luthfi dan mama sebaiknya istirahat di rumah, biar saya dan Antyka yang menjaga Ayah di sini " ucap Luthfi begitu selesai menyalim pada ibu mertua dan kakak iparnya .
" Loh kalian kan baru saja menikah. Biar mama yang menunggu Ayah " tolak mama Ajeng.
" Ma, Saya dan Antyka sudah sepakat untuk menginap di rumah sakit sampai ayah sembuh. Mama harus jaga kesehatan juga. Kami tidak akan tenang jika berada di rumah "
" Iya ma, mama juga harus jaga kesehatan .Kak Luthfi juga dari kemarin belum pulang, Anty di temenin pak Alif kok disini "
Mama Ajeng dan Luthfi saling menatap . Sepertinya saat ini mereka memang harus menuruti. Luthfi sudah dua hari tidak pulang. Dan mama Ajeng yang sudah tidak muda lagi harus mendapat istrirahat yang cukup .
" Baiklah hanya malam ini, besok biar kak Luthfi yang jaga "
" Tapi Fi, mama tidak mau ninggalin Ayah "
" Ma, pulang. Mama harus istirahat yang cukup. Ayah juga tidak ingin mama terlalu cape " Ucap Luthfi kembali
Tinggallah Antyka duduk di sofa sambil mengamati Ayahnya yang tertidur di brangkar. Alif sudah pergi keruang dokter untuk dinas malam. Sesekali Alif akan menemui istrinya, setelah tugasnya sedikit longgar.
Malam terus beranjak hingga, sayup suara adzan subuh berkumandang. Tepat saat Alif mendatangi ruang perawatan Ayah Damar. Alif menatap Antyka yang masih tertidur di sofa dengan selimut yang sudah berada dilantai .
Alif menghampiri istrinya, menatap sejenak kemudian mengusap kepala Antyka . Tangan Alif meraih selimut berniat ingin menyelimuti kembali sang istri yang masih terlelap. Namun suara prof Damar menghentikan gerakan Alif .
"Jangan selimuti lagi Lif, Sudah waktunya salat subuh. Kamu harus tau, Antyka sangat sulit untuk di bangunkan "
" Biarkan sebentar lagi Yah, Sepertinya Antyka masih sangat mengantuk "
" Jangan dibutakan dengan kasih sayang Lif, kewajiban harus diutamakan "
Alif akhirnya menuruti permintaan Ayah mertuanya .Bagaimanapun kini tanggung jawabnya untuk menjaga dan mendidik Anty agar menjadi wanita sholekhah. Alif menepuk nepuk pipi Antyka pelan sambil memanggil manggil. Beberapa kali Alif mengulangi nya namu Antyka tidak bergeming.
Benar kata prof Damar Antyka sangat sulit bangun dari tidurnya. Alif mencoba mengguncang guncangkan tubuh Antyka namun belum juga berhasil. Alif mulai putus asa. Kemudian terlintas ide koyol dalam fikirannya. Alif tersenyum jail. Ia meraih bibir Antyka dan menggigit gemas. Sontak saja Antyka langsung terbangun karena merasa ada sesuatu yang menggigit bibirnya .
Antyka belum sepenuhnya sadar. Mata jernihnya mengerjap melihat sosok Alif tepat di depan wajahnya sambil tersenyum jail .
" Sholat subuh dulu " pinta Alif pada Antyka yang kembali mengerjapkan mata indahnya. Antyka terdiam masih mencerna .
" Pak Alif kok di sini ?" tanya Antyka bingung .
" Iya, kan memang kita sedang menunggu Ayah di rumah sakit. Kamu lupa ?"
__ADS_1
" Ah iya, Anty lupa. Anty mau ambil wudu dulu "
Dengan sedikit malu Antyka segera berdiri semua kesadarannya sudah terkumpul. Dia memang paling sulit untuk bangun pagi. Dan pagi ini ia harus menahan malu, pasti pak Alif sudah tau kebiasaan buruknya.
***
Sudah menjelang siang Ibra sedikit tergesa di koridor bangsal rumah sakit. Hatinya sudah memutuskan untuk sejenak menyembuhkan hati .Menghapus jejak sosok Antyka. Ia datang ke rumah sakit ini untuk berpamitan dengan Ayah.
Karena tergesa Ibra hampir saja menabrak pasien yang sedang di dorong dalam kursi roda di sebuah belokan.
" Maaf ....," ucap Ibra yang terkejut
Pria yang duduk di kursi rodanya menatap tajam, mungkin pria itu sangat marah. Ibra masih mematung karena merasa bersalah. Pria dalam kursi roda tidak menyambut ucapan maafnya sama sekali.
" Namamu siapa " Suara serak dan berat tapi begitu hangat di telinga Ibra. Dan pria itu terus menatap sembari menunggu Ibra menjawab.
" Saya benar benar minta maaf, saya sedang terburu buru. Nama saya Ibra ini kartu nama saya. Sekali lagi saya minta maaf "
" Zigra, lirih pria itu sendu "
Ibra tercenung, mengamati pria yang ada di kursi roda dan berlutut. Pria itu berkaca kaca menatap Ibra, Bahkan tangannya berusaha menggapai nya .
" Tuan, anda baik baik saja ?"
" Matamu sangat mirip dengan Hana istriku, Mungkin putraku akan seperti kamu jika masih hidup. Namamu Ibra ? "
" Ya Tuan, nama saya Ibrahim. Biasa di panggil Ibra "
" Ardi, simpan kartu nama Ibra. Dan beri kartu namaku " pria itu memerintahkan asistennya yang sedang mendorong dirinya .
" Baik tuan. Tuan Ibra, ini kartu nama tuan Hendro, tolong disimpan. Mungkin suatu saat nanti, kita bisa bekerja sama. Senang bertemu dengan anda " Ardi asisten tuan Hendro menyerahkan kartu nama dan membungkuk meminta diri akan membawa majikannya untuk segera ke tempat ruang perawatannya .
Ibra menerima kartu nama milik tuan Hendro. Matanya terbelalak ketika membaca nama yang tertera. Dia adalah Hendro Prijanto pengusaha yang sangat terkenal di dunia bisnis. Beliau terkenal karena keuletan dan ketangguhan ya dalam mengelola perusahaan. Asetnya ada diana mana.
Sementara tuan Hendro terus didorong oleh asistennya. Perasaan tuan Hendro mendadak ceria. Seolah hatinya mendapat harapan baru. Sosok Ibra sangat mirip dengan Hana istrinya. Bisa saja Ibra adalah putranya yang hilang.
" Ardy tolong kau selidiki anak muda tadi. Cari tau semua yang berkaitan dengan dia. Aku ingin tau secepatnya "
" Baik tuan "
" Kamu tau Ardy begitu melihatnya, aku seperti memiliki ikatan lebih dengannya. Apalagi saat tadi dia mendekat, matanya sangat mirip dengan Hana istriku. Di sini di hati kecilku seolah yakin dia putraku "
" Tuan bersabarlah, saya akan lakukan penyelidikan terlebih dahulu. Memastikan semuanya tuan. Saya harap, kali ini tuan lebih bersabar dan menahan diri dulu "
" Saya tau Ardy, Saya terlalu emosional. Mungkin rasa rindu di dadaku sudah terlalu lama terpendam dan menggunung. Aku janji akan menyembunyikan pertemuan ini, Sampai kau mendapatkan hasil penyelidikan mu. Aku juga tidak ingin lagi memberi harapan palsu pada Hana istriku."
__ADS_1