
Angin berhembus menerpa pepohonan. Suara guruh menggelegar, Saat Antika mulai merasakan kesakitan di area perutnya. Perasaannya campur aduk, mungkin sudah tiba saatnya untuk sang bayi melihat dunia. Ia berjalan mondar mandir. Kenapa harus saat sendirian sang jabang bayi menggeliat ingin segera melihat dunia.
Kening Antyka sudah basah oleh keringat dingin, Luthfi, Zeindra Karin dan juga mama, tak satupun yang berhasil ia hubungi. Rumah dalam keadaan sepi. Mereka sedang ada acara keluarga. Dengan menahan rasa Antyka menjinjing tas persiapan untuk melahirkan. Berjalan tertatih.
Beruntung ada bik Asih yang berada di belakang sedang membereskan dapur.
"Non Anty kenapa?" wajah bik asih berubah panik saat melihat ada cairan bening merembes dari balik rok Antyka.
"Cari taksi bik, sepertinya saya mau melahirkan bik"Berujar sambil menahan kontraksi diperut yang dahsyat.
Ada sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah Antyka. Seorang pria dengan setelan formal berlari menembus curah hujan. Tangan kekarnya memencet bel, yang ada di pintu.
Dari dalam rumah bik Asih bergegas membuka pintu, begitu melihat sosok yang datang ia langsung berteriak girang.
" Mas Ibra .....Alhamdulliah. Tolongin non Antyka "
"Kenapa bik ..., kenapa Antyka..?" Ibra langsung masuk kedalam rumah mendapati Antyka yang sedang kesakitan.
Tanpa banyak tanya Ibra langsung membopong Antyka dan meminta bik Asih untuk memayunginya agar Antyka tidak terkena air hujan.
"Anty tahan ya, kita kerumah sakit"ujar Ibra setelah meletakan Antyka di dalam mobil dengan posisi yang nyaman " Bik, tolong jaga Anty sebentar. Saya harus konsentrasi untuk mengemudi" . Bik Asih hanya mengangguk
Dengan menembus hujan yang deras Ibra melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit terdekat. Ia hanya ingin Antyka segera tertangani.
POV Ibra
Entah takdir apa yang sedang aku jalani. Hatiku tiba tiba saja resah sejak tadi. Mobil yang aku tumpangi ku arahkan ke kediaman prof Damar Almarhum. Seolah ada kekuatan yang memintaku untuk pergi ke rumah itu.
Jujur saja sekuat hati aku ingin menepati janji pada diriku. Aku tidak ingin membuat kehidupan Antyka lebih rumit dengan kehadiran diriku di dekatnya. Aku terkait menjadi alasan tuduhan sebagai orang ketiga dalam perceraian Antyka dan Alif.
Tapi aku pasrah dengan rasa resah yang meminta dan mendorongku datang kerumah ini lagi. Kebetulan sekali aku sedang ada sedikit urusan di Jakarta. Dan benar saja, saat aku datang di tengah deras hujan aku mendapati Antyka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Tuhan, terima kasih telah menggerakkan ku untuk menolong orang yang sangat aku sayangi. Aku melihat Antykaku menahan rasa sakit. Aku berdiri di sampingnya tanpa menggubris siapa aku sebenarnya dan apa hakku berada disampingnya saat ini. Aku tau ini momen terpenting dalam hidupnya.
Aku bertingkah aku seolah suaminya, aku pria yang gugup menanti kelahiran anak pertama. Dan Aku bahagia, saat tangis bayi itu menggema, bahkan aku berkesempatan melantunkan adzan dan iqomah pada bayi cantik yang ada dalam rengkuhan ku.
Dadaku bergetar setelah semua usai. Aku melihat Antyka yang kelelahan tertidur. Aku juga menyaksikan bayi cantik itu terlelap. Lututku lemas berjibaku dengan momen terpenting. Tiba tiba ada bulir hangat yang mengalir. Aku terharu dan bahagia, mereka yang aku sayangi telah selamat dan beristirahat dengan lelap.
Kewarasanku mulai muncul dari hayalan peran sebagai seorang ayah tatkala mengisi data dari Antyka dan ayah sang bayi. Aku mendial nomor Kak Luthfi, memberi kabar keberadaan Antyka .
Aku pun lega dan tak terasa aku tertidur. Namun itu tidak lama, Aku merasakan ada seseorang yang berdiri menjulang seperti memperhatikan aku. Aku membuka mata, seorang pria dengan mata biru,tubuh tegap, wajah setengah Eropa dan rambut hitam tebal.
Aku ingat, dia Mike menantu keluarga Pradipta. Tapi untuk apa dia ada di depanku saat ini.
"Sorry mengganggu tidur anda, saya Mike" Mike mengulurkan tangan mencoba ramah. Aku pun menyambutnya enteng tanpa rasa salah. Toh Antyka wanita yang sudah bebas. " Bisa bicara sebentar? ini tentang Antyka"
Mike menggenggam berkas di tangannya, Aku melirik sekilas itu adalah berkas data pasien milik Antyka. Aku hafal karena aku sendiri yang mengisinya.
" Dia anak Alif ?" suara Mike lirih, pria pendiam itu langsung bertanya pada intinya.
Aku hanya diam dalam senyum yang getir. Tega teganya mereka meragukan kesucian Antyka, batinku menahan emosi. Rasanya aku ingin menonjok pria ini. Membalaskan kesakitan untuk penghinaan terhadap Antyka.
"Aku tau dia anak Alif" sejenak Mike diam. Memperhatikan raut mukaku. "Aku pikir akan berhadapan dengan keluarga Antyka di sini. Tapi malah kamu. Baiklah..., apapun hubungan kalian. Saya tidak akan melarang. Antyka berhak untuk bahagia. Ijinkan kami menjenguknya" kembali Mike menatapku. tapi dia tidak menunggu jawaban dariku pria itu langsung berlalu begitu saja.
Jujur saja ada rasa lega dalam hatiku, mendengar ucapan Mike yang seperti itu. Mereka tidak terlalu Arogan, masih memikirkan kebahagiaan Antyka. Baru beberapa langkah Mike berjalan suara Antyka memanggil. Antyka sudah terbangun dari tidurnya.
"Kak Mike..." Mike mendekati Antyka.
Tak kusangka pria dingin itu mengusap kepala Antyka dengan lembut. Menatap Antyka dengan tatapan sendu. Namun bibirnya tetap terkatup. Aku pun melihat Antyka hanya menatap, tatapan yang memohon.
__ADS_1
" Boleh aku melihatnya?" ucap Mike sopan.
Antyka semakin deras air matanya. Dadaku perih ikut merasakan kesakitan hati Antyka.
"Jangan bawa putriku, hanya dia yang aku miliki sekarang" tangis Antyka pecah. Mike cepat menggeleng.
"Tidak akan Anty, aku hanya ingin melihatnya. dia milikmu. jangan kawatir" kemudian Antyka mulai tenang. Menganggukan kepalanya, seolah memberi ijin pada Mike untuk melihat putrinya. Mike pergi meninggalkan Antyka menuju ruang bayi. Terselip keinginanku untuk mengikuti pria dingin itu. Tentu saja kawatir dia akan mengambil putri cantik Antyka.
Aku tidak menghiraukan panggilan lirih Antyka yang mencegahku mengikuti Mike keruangan bayi. Dengan mudah pria itu bisa mendapat akses masuk kedalam. Diantara kepanikanku aku baru menyadari kalau rumah sakit ini adalah rumah sakit milik keluarga Pradipta. Pantas saja dengan cepat mereka mengetahui keberadaan Antyka yang melahirkan di sini.
Dari balik kaca aku terus memperhatikan Mike menggendong keponakannya. pria itu mengusap bahkan meneteskan air mata. Entah apa yang ada di dalam kepala pria itu. Aku hanya bersikap waspada untuk segala kemungkinan saja.
Aku berdiri di depan pintu masuk sambil bersedekap tangan. Terdengar derap langkah kaki yang mendekat, Mike sudah ada di sampingku.
" Aku tidak akan menyakiti Antyka dan keponakanku, mereka keluarga kami. Terima kasih sudah menolong mereka kemari" ucap Mike yang seolah mengerti sikap waspadaku.
Aku berada di sisi ranjang Antyka ia sudah mulai bisa duduk. Aku memberinya minum
"Kak Ibra terima kasih, untuk kesekian kali kak Ibra menolong Anty" Antyka kembali berkaca kaca. Aku hanya bisa tersenyum, menenangkan perasaannya. Apapun aku lakukan Anty, kalau kamu tau, aku sangat menyayangi kamu.
**
Mama dan Lutfi datang, saat melihat Ibra sedang menyuapi Antyka. Mereka tertegun tidak bisa berkata kata. Sampai akhirnya Ibra menyadari keberadaan mereka.
" Ma, kak Luthfi..?"
" Ibra terima kasih" ucap mama dan Luthfi bersamaan. Mama tak henti hentinya mencium Antyka sambil meminta maaf.
Tidak lama ada suster datang membawa bayi cantik Antyka. Bayi itu menangis kencang, sudah saatnya untuk di susui. Luthfi mengajak Ibra keluar, untuk memberi ruang bagi Antyka agar leluasa untuk menyusui bayinya.
Langkah dua pria itu menuju kantin rumah sakit. Ibra pun baru merasakan perutnya lapar.
"Kejadiannya tidak di sengaja. Entah dorongan dari mana, Aku merasa gelisah tiba tiba aku ingin berkunjung ke rumah. Sampai di sana Anty sedang kesakitan dan akan pergi kerumah sakit. Semua serba kebetulan"
"Hmm..." Luthfi menarik nafasnya, menelisik kedalaman kata kata Ibra. " Apa kau masih memiliki perasaan yang sama?, maaf maksudku..." gelisah begitu kentara ucapan Luthfi terhenti. Pria itu ragu, gamang pertanyaan yang akan membuat canggung keduanya.
"Kalau boleh jujur iya, tapi aku tau keberadaanku akan membuat Antyka lebih buruk di mata mantan keluarganya suaminya. Aku akan pergi, maaf" Ibra menunduk pria itu begitu menghargai Antyka. Ia mengalah untuk perasaannya agar Antyka selalu terlihat sempurna.
Luthfi menggenggam tangan Ibra dan meminta Ibra untuk duduk tenang.
" Aku tau, tapi aku hanya perduli tentang kebahagiaan Antyka saja, Ibra. Biarkan Antyka yang memilih. Toh semua tuduhan itu tidak benar. Dari semua pria yang ada, aku lebih percaya kamu. Aku mengijinkan kamu untuk memperjuangkan perasaan mu. Tapi biarkan Antyka yang memilih bahagianya"
Ada binar yang memancar dibola mata Ibra. Setelah mendengar ucapan Luthfi. Bahkan Wajah Ibra bersemu merah. Ia malu begitu kentara menunjukan rasa bahagia.
"Kak Luthfi, tadi Mike kemari. Ia sudah tau Alif memiliki anak. Maaf...., aku tidak bisa berbohong. Aku tidak bisa mengaku ngaku bayi itu milikku"
"Tidak masalah, kenyataannya memang seperti itu. Bayi itu milik Alif, kami tidak akan menutupi atau meminta mereka untuk bertanggung jawab.Tapi aku tidak akan membiarkan mereka merampas bayi itu" Luthfi menegaskan sikapnya.
Di ruang perawatan, bayi cantik itu sudah kembali terlelap. Antyka menciumi pipinya yang halus. membelainya dengan penuh kasih. Perasaannya sangat bahagia, Hidupnya seolah sangat sempurna.
" Anty, Siapa nama bayi itu?" mama menatap bayi yang sedang terlelap damai dalam gendongan Antyka.
Antyka terdiam sejenak. Ia bahkan belum mempersiapkan nama yang cantik untuk bayinya. Andai saja Alif ada pasti ia bisa berdiskusi tentang nama bayi mereka. Ia juga bisa merasakan bangga berhasil melahirkan putri yang sangat cantik. Wajah putrinya sangat mirip dengannya waktu kecil hanya berbeda pada bentuk bibir yang kecil namun tipis mirip bibir Alif. Antyka meletakan bayinya di samping.
Setelah berpikir dan mempertimbangkannya. Antyka harus secepatnya memberi nama. Anak ini akan menjadi cahaya dalam hidupnya. " Ma, Anty inggin memberi nama Cahaya Danti pradipta "
"Cantik, semoga jadi penerang untuk ayah bundanya"
"Iya ma, meski pak Alif belum melihatnya. Anty harap suatu hari nanti ia tau. Ada cahaya yang bisa ia peluk"
__ADS_1
***
Luthfi memaksa bagian kasir untuk menerima kartu hitamnya. Luthfi tidak habis pikir kenapa mereka menolak
"Maaf pak tidak ada tagihan biaya untuk bayi cahaya dan ibu Antyka di Rumah sakit ini"
"Kalian lihat lagi, dengar kami mampu untuk membayar biaya melahirkan di sini" Luthfi bersikeras ia tidak Sudi menerima sumbangan dari keluarga Alif.
Saat perdebatan sengit itu terjadi Mike datang di saat yang sama. Menantu Pradipta itu menengahi ketegangan. Luthfi langsung menampakkan wajah tidak sukanya.
"Luthfi, ijinkan kami berbuat sesuatu untuk Cahaya. Kalian boleh membenci kami tapi tolong berikan hak Alif untuk menanggung biaya Cahaya, dia putri Alif" Ucap Mike dengan suara rendah. Ketara sekali Mike berusaha untuk tidak Arogan. Pria dingin itu menekan egonya.
"Aku tidak butuh sumbangan dari kalian" Maki Luthfi
"Kami tau, Maaf jika membuat kalian tersinggung" Kembali Mike merendahkan suaranya.
Luthfi yang sangat mempertahankan harga dirinya, sedikit meleleh melihat ketulusan dan sikap Mike yang merendah.
"Baiklah saya tidak ingin berbuat ribut. Tapi ingat, lain kali tidak usah ikut campur dengan urusan kami"
"Saya akan ingat itu, tapi untuk Cahaya kami juga memiliki hak, meski hanya sekedar kabar kesehatannya. Kami cukup tau diri, tidak akan serakah. Selama Cahaya sehat dan bahagia bersama kalian"
"Saya pegang janji kalian" Ucap Luthfi meninggalkan Mike yang masih berdiri .
Mike menghela nafas lega, tidak sia sia usahanya. Akhirnya keluarga Antyka bisa menerima sedikit andil dari tanggung jawab Alif , melalui dirinya. Keluarga Antyka sangat sensitif sekarang ini. Mike tidak bisa menyalahkan sikap mereka yang alergi pada keluarga Pradipta. Keluarga Pradipta telah menorehkan luka yang begitu dalam tanpa bisa mengelak.
Mike menuliskan pesan pada ponselnya. Melapor pada mertuanya jika semua urusan Antyka sudah selesai. Andaikan bisa, mereka ingin berbuat lebih. Tapi melihat sambutan dari keluarga Antyka yang begitu sensitif ia mengurungkan diri.
**
Diujung bumi belahan sana sepasang suami istri itu sedang meneteskan air matanya. Berita bahagia dari Mike sedikit membuat hati mereka terobati. Namun sayang kabar gembira yang ingin mereka berikan pada Alif, belum bisa mereka sampaikan.
Alif kembali drop setelah beberapa saat lalu membaik. Bahkan saat ini Alif belum sadar dari sisa obat bius setelah menjalani lagi oprasi yang kesekian kali. Haris nasih duduk di kursinya. Sedang bunda Amalia masih bersimpuh dengan Lantunan kalimat kalimat pujian untuk Pemilik semesta. Di sela kesedihannya, ia masih di beri Cahaya yang menyinari gelapnya harap, yang beberapa hari ini menyelimuti.
"Alif pasti sadar, Cahaya akan menjadi kekuatan terdahsyat bagi semangat Alif" Ayah Haris memegang pundak bunda, yang berguncang menahan tangis.
"Aku pun meyakini itu" lirih bunda sambil membereskan mukenanya.
" Tenanglah, lihat keajaiban yang sudah Tuhan beri untuk kita " Ayah Haris menunjukan foto bayi mungil dan juga Vidio singkat Cahaya yang sedang menangis.
"Mike sudah melakukan hal terbaik untuk kita. Bunda menyesal sudah sering memperlakukan dia dingin dan ketus " Ada penyesalan di hati bunda.
"Iya, Mike sudah membuktikan jika dia memang layak untuk Lira. Tidak ada lagi yang kita sesali. Semua yang terjadi, itu yang terbaik untuk kita, Bun"
"Ayah benar. Bunda ingin meminta maaf pada Mike sekarang juga, bunda ingin berdamai dengan hati bunda. Bunda iklas melepas Lira untuk Mike. Dengan kelebihan dan kurangnya Mike"
Dari ujung sana, Mike yang sedang berada di kamarnya dengan sang istri Lira, Ia menghentikan aktifitasnya dengan sang istri dan segera mengambil ponselnya yang terus berdering kencang. Sambil menutupi tubuh bagian bawahnya ia menekan tombol hijau
"Assalamualaikum Yah" Mike memberi kode pada istrinya agar diam tak bergerak menggodanya.
" Mike ini bunda, Terima kasih untuk semuanya"
"Sama sama bunda.."
" Mike...bunda... ,bunda ...bunda minta maaf sama kamu. Maaf untuk semua perlakuan bunda sama kamu selama ini. Terima kasih sudah menjaga Lira. Maaf bunda sudah meragukan kamu selama ini"
Mike terdiam ada rasa lega di dadanya seolah sebuah penghalang telah tersibak. Pria dingin itu mengecup lembut Lira yang tertidur. "Aku mencintai mu Lira, aku bisa melakukan apapun untuk menjaga perasaanmu. Aku tau bunda adalah orang yang terpenting dalam hidupmu. Aku rela diperlakukan apapun oleh bunda demi kamu" Mike merengkuh tubuh Lira dalam pelukannya. Besok ia akan bercerita pada istrinya tentang kabar bahagia, restu dari bunda. Malam ini lebih hangat dari malam malam sebelumnya. Karena Mike tau wajah Lira akan berbinar lebih terang dari biasanya.
.
__ADS_1