
Antyka masih diam dalam duduknya. Sedang Alif Tidak tau harus berbuat apa, Sesaat suasana dalam mobil hening . Alif tau Antyka sangat tersinggung. Rasanya pasti sakit di tuduh yang tidak tidak. Semua ini akibat dari kesalahan Alif saat mengambil keputusan. Dan benar kata Mike, Dia sangat menyesalinya sekarang.
"Aku akan antar kamu sampai kantor. Jangan pergi pergi sebelum hatimu tenang" Ucap Alif sambil melirik ke arah Antyka. "Jangan terlalu diambil hati omongan orang. Mereka tidak tau yang sebenarnya" sambung Alif.
"Jangan diambil hati...? aku punya telinga dan perasaan. Semua karena pak Alif muncul. Dulu mereka tidak perduli Caya putri siapa"
"Maaf..."
"Mungkin aku yang harus pergi sekarang" Ucap Antyka putus asa
Alif menatap sekilas Antyka. Sejenak perasaannya diliputi amarah saat mendengar ucapan Antyka yang ingin pergi.
"Masalah itu untuk di hadapi dan di selesaikan, Antyka. Bukan melarikan diri" dengus Alif kesal.
"Kenapa....? Cuma pak Alif saja yang bisa menghilang? Aku juga akan mencobanya. Seperti apa rasanya menghilang"
"Antyka!!" Alif mendadak mengerem mobilnya. keduanya terguncang. Beruntung jalanan sepi.
"Masih tidak bisa mengendalikan emosi? pak Alif mau kita celaka?"
"Jangan bicara macam macam lagi, Antyka. Aku yang akan menyelesaikan dan membersihkan namamu"
Alif mengantar Antyka sampai depan kantor. Kemudian pria itu ikut masuk kedalam .
" Saya gak ngundang pak Alif masuk kedalam kantor saya" Antyka menghentikan langkahnya saat tau Alif terus mengikutinya.
"Saya mau sendiri" Ujar Alif
"Saya sibuk tidak menerima tamu untuk urusan pribadi"
"Kita bicara bisnis" Ucap Alif santai.
Antyka menatap Alif malas dan masuk kedalam ruangannya. Begitu sampai, beberapa pegawai sudah mengajaknya diskusi tentang projek projek mereka. Alif duduk diam di sofa yang biasa di sediakan untuk tamu. Ia memperhatikan interaksi Antyka dengan beberapa karyawan selama beberapa saat.
"Tidak ke rumah sakit?" tanya Antyka mulai jengah dengan keberadaan Alif di ruangannya. Karyawannya pun sudah selesai dan pergi dari ruangan Antyka.
"Saya dapat Shift siang hari ini' Ujar Alif kemudian berdiri mendekati meja Antyka dan duduk di ujung meja. " Anty..., Kamu terlihat beda sekali saat bekerja, Antyku dulu yang sulit untuk bangun tidur, sudah berubah jadi lebih dewasa dan bertambah menarik. Aku semakin betah berada di sini"
"Tentu saja berubah, aku seorang ibu tunggal yang memiliki tanggung jawab besar. Bukan lagi istri dari pewaris Pradipta corp. Pak Alif juga sangat berubah sekarang"
"Aku berubah seperti apa Anty?" Alif menggoda Antyka " Apa aku bertambah tampan sekarang? seperti harapan di Suratmi?"
"Pak Alif sekarang jadi genit, suka tebar pesona, sok akrab ngobrol sama ibu ibu muda" Ucap Antyka lugas. ia teringat tadi Alif begitu ramah dengan ibu ibu muda yang ada di sana. "Pantas saja selalu semangat kalau mau antar jemput Caya ke sekolah"
"Whaaatt?" Alif terkejut dengan ucapan Atyka. pria itu tidak mengira Antyka bisa berpikir begitu.Tapi kemudian Alif tersenyum, memamerkan lesung pipinya. Kadar ketampanannya semakin meningkat membuat desir desir di hati Antyka bangkit lagi.
"Kamu cemburu kan Antyka?. Ayo mengaku saja. Kamu takut aku berpaling? Aku tidak mendekati mereka Anty, tapi kamu tau sendiri kan, seperti apa daya tarik seorang dr Alif ?"
"Narsis" ucap Antyka memalingkan mukanya sebal, kemudian melangkah pergi meninggalkan Alif di dalam ruang kantornya.
"Kamu mau kemana Anty?" tanya Alif sambil mengekori Antyka.
"Mau mencari papa baru untuk Caya" ketus Antyka tanpa memfilter ucapannya. Sambil terus berjalan. Kegaduhan keduanya menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang sedang melintas di area yang mereka lewati
"Jangan macam macam, Anty" Alif masih berusaha mensejajari langkah Antyka.
Antyka langsung masuk kedalam mobilnya dan menguncinya cepat sebelum Alif ikut masuk. Betul saja Alif terus mengetuk ngetuk pintu mobil Antyka.
"Buka pintunya, Anty. Kamu mau kemana?" masih mengetuk ngetuk kaca mobil Antyka.
Antyka tidak menghiraukan ucapan Alif. Justru Antyka mulai menyalakan mobilnya dan meninggalkan Alif yang masih kesal dengan ucapan Antyka.
Alif segera menuju jalan utama, mencegat taksi yang muncul. Beruntung saat Alif sampai jalan, ada taksi kosong yang melintas.
"Pak, tolong ikuti mobil di depan " perintah Alif pada supir taksi.
"Yang warna merah?"
"Iya cepat jangan sampai kehilangan jejaknya"
"Siap pak"
" Bagus ....nanti saya kasih tips" bujuk Alif membuat sopir taksi tambah semangat.
Mobil mereka seperti saling mengejar. Dalam hati Antyka sebenarnya ia ingin tertawa. taksi yang di tumpangi Alif masih mengikuti mobilnya. Antyka tau Alif tipe orang yang sangat pencemburu.
Antyka menghentikan mobilnya di depan restoran milik mendiang Ayahnya. Dan menoleh kearah taksi yang ikut berhenti di belakangnya. Dengan senyum yang mengejek Antyka melambaikan tangannya pada Alif. Alif tersenyum kecut baru menyadari kekonyolannya. Antyka hanya pergi mengecek restorannya saja.
"Jalan lagi pak" perintah Alif pada supir taksi
"Cantik sekali pak, gak jadi di samperin" Celetuk supir taksi.
"Jangan macam macam, dia istri saya. saya hanya memastikan ia sampai tempat tujuannya dengan selamat" Ucap Alif berbohong. Supir taksi hanya menganggukkan kepalanya saja
"Sekarang kemana pak?"
"Lurus saja kesana nanti berhenti di rumah sakit"
"Wah...., sport jantung ya, pak. Kalau punya istri cantik harus sering cek up ke rumah sakit" kelakar supir taksi dengan nada menyindir.
"Saya dokter di situ, bukan mau berobat''
"Oh..., maaf ya pak"
__ADS_1
"Hmmm, jalan..!" Sungut Alif sambil menatap jalanan yang sudah mulai ramai.
***
"Bunga dari siapa San?" tanya Antyka pada pegawainya saat mendapati sekat bunga di atas meja kerjanya.
"Ada nama pengirimnya kok, Bu"
Antyka membaca kertas yang terselip diantara rangkaian bunga. Antyka mengernyitkan dahinya kemudian tersenyum.
"Penggemar baru Bu?" Sandra menggoda atasannya yang tersenyum.
"Dari Daddy Caya.."
"Ibu terlihat bahagia menerimanya" goda Sandra lagi.
Antyka menatap sekilas pada Sandra, meraba hatinya. Sejelas itukah terlihat rasa yang ada di hatinya. Terus terang saja terselip rasa bahagia. Meski Antyka masih menolaknya.
"Bu Anty, saya hampir lupa. Ada undangan dari teman kuliah ibu, ini" Sandra menyodorkan kartu undangan pernikahan dari teman Antyka.
"Akhirnya Hanum menikah juga dengan Dave" gumam Antyka saat membaca undangan dari teman kuliahnya.
"Sepertinya teman ibu mendapatkan orang asing"
"Iya San, Calon suaminya orang Rusia. Tapi mereka sudah lama berpacaran"
"Bu undangannya with partner...' ucap Susan
"Tenang saja Aku bisa ajak kak Luthfi atau Zeindra"
"Kenapa tidak dengan Daddynya Caya saja Bu?"
"Sudah..., balik kerja sana. Jangan lupa di cek dulu semua sebelum di kirim" Antyka mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya Bu, saya permisi"
**
"Tumben kamu datang ke kantor, kakak?"
" Tadi habis dari rumah nengok mama, terus kangen sama kak Luthfi jadi ya, kesini. Kak Luthfi sibuk?"
"Sebentar lagi kakak harus ketemu orang penting. Ada apa?"
"Nanti malam kak Luthfi bisa Antar aku?" Antika duduk di samping Luthfi yang sibuk dengan layar laptopnya.
" Jam berapa?"
"Tujuh"
Kator Luthfi sudah di ketuk dan masuklah pegawai Luthfi.
"Pak Luthfi mobilnya sudah siap''
"Oh iya sebentar" Luthfi membereskan berkas berkas yang akan ia bawa. " Anty, kakak harus pergi" Luthfi berdiri dengan membawa berkas yang akan dia bawa. Pria itu terlihat kerepotan.
"Anty bantu ya kak. Harusnya kak Luthfi itu sudah punya sekretaris atau asisten yang mendampingi kakak untuk menemui klien'' Antyka meminta tas yang akan Luthfi bawa.
"Biasanya Karin yang bantu kakak. Tapi sekarang dia lebih suka menemani mama. Kamu seriusan mau ikut kakak?"
"Hmm Anty free kok, kak. Urusan Anty sudah selesai. Caya juga sudah di rumah mbak Karin"
"Kalau proyek kakak sukses hari ini. kakak Antar kamu nanti malam" Ucap Luthfi sambil mereka berjalan ke arah parkiran.
"Janji ya, Aku ada undangan pernikahan temen. Malu berangkat sendiri" Antyka menutup mobil dan memasang seatbelt.
Antyka mengikuti langkah Luthfi memasuki sebuah hotel mewah. Di sebuah ruangan yang sudah di tentukan mereka masuk.
"Dengan tuan Andrean Luthfi Al Habsy?" Seorang pria setengah baya menyambut kedatangan mereka.
"Iya saya sendiri"
" Mari masuk, Tuan Agra sudah menunggu"
Saat memasuki ruangan seorang yang di sebut dengan tuan Agra tidaklah seperti yang Luthfi bayangkan. Teryata Agra masih muda mungkin seusia Ibra. Ia pun terlihat sedang bekerja dengan seorang asisten di dekatnya
"Saya Andrean Luthfi Al Habsy" Luthfi menyodorkan tangannya.
"Agra Dewangga, dan ini?" Agra menunjuk Antyka dengan tatapan yang tajam
"Saya Antyka" ucap Antyka sambil menyodorkan tangannya.
"Silahkan duduk" Agra masih mengamati dua orang tamu yang ada di depannya. Pria itu terlihat angkuh.
"Mari kita mulai"
"Baiklah, akan kami tunjukan koleksi yang mungkin tuan Agra sukai. Ini beberapa koleksi yang ekslusif kami dengan bahan yang paling berkualitas. Kami hanya membuat tiga sampai lima dalam sebulan. Pengerjaannya juga membutuhkan ketelitian dan kesabaran" jelas Luthfi menerangkan prodak ukiran yang sedang ia tawarkan. Agra sepertinya sangat tertarik. Ia ikut menatap layar laptop milik Luthfi.
"Ini foto foto yang proses pembuatannya?" tunjuk Agra antusias dan kagum.
"Betul sekali, asli buatan tangan yang terampil, Bentuknya mengikuti alur yang sudah ada, karena itu tidak ada yang bentuknya sama"
"Untuk awal saya akan buat kontrak selama satu tahun dengan sarat dan ketentuan tertentu"
__ADS_1
" Ah terima kasih, kapan kita bisa bertemu lagi untuk membahas detil kerja sama kita?"
"Satu Minggu dari sekarang. Kami akan menghubungi lagi tuan Luthfi"
"Saya tunggu kabar baiknya" Setelah berbasa basi merekapun berpamitan.
Agra segera melangkah pergi diikuti oleh dua orang pegawainya.
"Kita langsung pulang kak?" tanya Antyka sambil membereskan berkas milik Luthfi
"Mau makan dulu, Aku lapar"
"Sudah jam segini kakak belum makan? kalau mbak Karin tau kak Luthfi pasti kena marah"
"Tadi buru buru" Jawab Luthfi tanpa ingin di protes lagi. "Besok lagi kamu tidak usah ikut"
"Siapa juga yang mau ikut, Anty juga banyak pekerjaan. Nanti jadi kan ngantar Anty?" namun sayang kakaknya tidak menjawab.
"Kamu mau makan apa?" tanya Luthfi sambil duduk di sebuah kursi.
"Terserah" Ketus Antyka. Sedari tadi ia merasa di abaikan oleh kakaknya. Luthfi tersenyum melihat adiknya cemberut tapi tetap mengikutinya.
"kamu tidak malu jalan dengan pria tua ke tempat pernikahan temannu?" Luthfi sudah tau kenapa adiknya cemberut.
"Gak, mereka akan mengira kak Luthfi papaku, kita terlalu mirip" ucap Antyka dengan ekspresi senang.
"Kamu tidak ingin cari pengganti Ibra?" tanya Luthfi serius sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Antyka hanya diam sambil mengaduk aduk minuman. "Wanita seperti kamu tidak baik terlalu lama sendiri, Anty. Sebenarnya aku sangat cemas"
"Aku baik baik saja"
"Pernikahanmu yang gagal, itu sebuah tanda. kalau kamu dan Ibra memang tidak berjodoh. Aku lihat kamu pun tidak terlalu sedih ketika gagal menikah. Kamu tidak punya perasaan lebih kan, pada Ibra?. Kamu hanya merasa malu saja karena tidak menikah tapi tidak sakit hati"
Antyka masih diam tidak membalas ucapan kakak ya. Ia hanya membenarkan dalam hati.
"Alif tidak mengajakmu rujuk?" Luthfi menghentikan suapannya menunggu jawaban dari Antyka.
"Aku masih takut di kecewakan lagi" jawab Antyka. Kemudian ia memalingkan wajahnya tidak mau bersitatap dengan Luthfi. Antyka tidak mau Luthfi tau kalau ia masih memendam perasaan yang sangat dalam pada Alif.
"Kamu sudah tau apa yang membuat Alif meninggalkan kamu selama ini?" Antyka menggeleng menggeleng. " Tanyakan pada Alif.....atau keluarganya. Aku tau hubunganmu dengan keluarga Alif sudah lebih baik''
***
Akhirnya setelah negosiasi panjang, Zeindra lah yang mengantar Antyka pergi ke tempat pernikahan sahabatnya, Hanum. Satu hal membuat Antyka memilih Zeindra sebagai opsi terakhir adalah karena keponakannya ini kurang bisa menjaga dirinya. Zeind akan lebih suka kelayapan menemui teman teman satu angkatannya yang kebetulan hadir di resepsi ini. Antyka duduk sendiri sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Antyka sedang asik memainkan ponselnya saat seseorang duduk di sampingnya. Aroma parfum maskulin yang menghampiri hidungnya membuat Antyka menoleh. Seorang pria bertubuh tegap dengan sorot mata tajam sama sedang memperhatikannya.
"Kamu....?" ucap pria itu setengah terkejut menatap Antyka.
Antyka mengangguk hormat, mengenali pria yang ada di sampingnya adalah Agra Dewangga yang tadi siang ia temui dengan kakaknya.
"Sendiri..?" tanya Agra singkat, sedang tatapannya mengarah ke pelaminan.
"Tidak saya datang dengan saudara" Ucap Antyka setengah kikuk menghadapi pria datar yang sangat irit bicara.
"Kamu kenal pengantinnya?" Kembali Agra bertanya. Namun sikap dan mimiknya tetap sama, datar.
"Saya teman Hanum" Ucap Antyka singkat. Sepertinya sangat tidak nyaman berdekatan dengan Agra yang terlalu dingin. Antyka mencari cari keberadaan Zeindra yang sudah terlalu lama meninggalkannya sendirian.
Antyka sudah mau berdiri, Tapi suara Agra kembali membuatnya kembali duduk.
"Saya tidak besar di sini, Bagaimana saya bisa bertemu pengantin?"
"Tuan ingin mengucapkan selamat?"
"Mungkin seperti itu, Saya ingin Dave tau kalau saya datang"
"Tuan harus ikut mengantri untuk menyalami pengantin, seperti itu" Antyka menunjuk antrian tamu yang ingin mengucapkan selamat.
"Saya tidak suka berdesakan, Kenapa ramai sekali di sini" ucap Agra kesal.
Mendengar itu, Antyka tertawa lucu. Teryata benar Agra memang bukan orang yang besar di sini. Bagi orang Indonesia pernikahan dihadiri oleh ribuan tamu itu sangatlah normal.
Agra terkesiap melihat Antyka tertawa. Ia tidak menyangka wanita di sampingnya akan tertawa seperti itu. Apa yang salah, tapi Agra sangat suka saat Antyka memamerkan barisan gigi putihnya. Aura cantiknya bersinar dan semakin menggemaskan.
"Maaf..." Antyka menyadari saat Agra terus menatapnya tajam. Saat Antyka berhenti tertawa Agra segera memalingkan wajahnya. "Maaf jangan tersinggung, saya tidak bermaksud untuk.." ucapan Antyka terpotong.
"Kamu harus menemani saya mengantri"
"Tapi..."
"Harus.." Agra menggenggam lengan Antyka untuk ikut mengantri dengannya.
Antyka mencoba melepaskan tapi cengkraman
tangan Agra sangat kuat. Antyka pun menyerah, toh Zeindra juga belum menampakkan diri lagi tidak ada salahnya ia mengucapkan selamat bersama Agra.
"Hanum selamat ya" Antyka menyalami Hanum , sedang Agra sedang memberi selamat pada Dave
"Terima kasih, kamu datang sama siapa Anty?"
" Sama Zeind. Tapi biasa Zeind sedang mencari mangsa" ucap Antyka sembari kembali tertawa. Tiba tiba Agra kembali menggandeng tangan Antyka untuk menyudahi acara ngobrolnya.
Antyka minta Agra melepaskan tangannya setelah sampai di meja mereka kembali.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya tidak terlalu sering tertawa sembarangan" ucap Agra sambil kembali duduk. Ucapan Agra membuat Antyka merasa jengah. Pria dingin itu tiba tiba saja mengatur tingkahnya. Antyka sangat sebal di buatnya. Kalau saja kak Luthfi sedang tidak bekerja sama dengannya, ingin rasanya Antyka memaki saja.
"Iya maaf.." Agra sangat senang dengan sikap Antyka yang patuh, tiba tiba pria dingin itu tersenyum tipis mendengar ucapan maaf dari Antyka.