
Hai hai up ni....gak pake lama mumpung dapat waktu luang. Cus....nerusin kisah yang sering tersendat terhalang sibuk di dunia nyata
happy reading .....
Dalam kamar Antyka sedang terbaring. Tubuhnya tergolek lemah. Ia berlahan mengusap perutnya. Mama Ajeng menghampiri dengan semanggkuk bubur ayam di tangannya yang masih mengebul.
"Makan dulu ya?" ucap mama lembut. Ia duduk di samping Antyka dan meletakan mangkuk bubur.
"Sambil duduk ma" pinta Antyka sambil berusaha bangun. Namun tubuhnya terlalu lemah.
"Mama suapin pelan pelan" mama meniup sendok yang masih panas dan menyuapkan pada Antyka
"Maaf ya ma, Anty ngrepotin mama" Sambil mengunyah bubur yang diterimanya.
"Makan yang banyak. tidak usah banyak pikiran. Kamu harus sehat. Sebentar lagi kamu akan jadi ibu" Suapan demi suapan Antyka terima.
Setelah selesai makan, mama membersihkan mulut Antyka dengan tisu. Antyka hanya bisa pasrah saja.
"Ingat Anty, jangan menyesali jalan hidup kita. Semua sudah di atur oleh pencipta semesta. Mama masih ingat pesan Umi. Sepait apapun kehidupan kita yang penting kita menjalani hidup dengan benar"
"Ma, terima kasih ya" Antyka mencari hangat dari kedua telapak tangan mama yang ia genggam erat. Betapa ia sangat kagum dengan wanita yang telah melahirkannya. Kasih sayangnya tidak pernah putus.
"Jalani takdirmu dengan iklas. Bangkit, jadilah wanita yang kuat dan mandiri. Di sini ada nyawa yang bergantung denganmu" Mama mengusap perut Antyka dengan tatapan sayang kemudian mengecup kening Antyka.
Antyka meresapi setiap kata kata Mama, menjalani hidup dengan benar. Berarti memainkan peran dirinya sebagai ibu tunggal. Setiap mengusap perutnya, Antyka merasa ada energi yang membuatnya ingin segera bangkit
Antyka sudah pasrah dengan nasibnya. Ia tidak berdaya lagi. Sebuah keutuhan akan tetap terjaga bila keduanya sama sama berjuang menjaganya dan menginginkannya.
Melewati hari hari berat dengan kondisi hamil muda. Banyak sekali yang Antyka dapat. Ketegaran dan juga kembali percaya diri. Setelah merasa sehat Antika mengalihkan perhatiannya untuk menyelesaikan kuliahnya untuk taun ini. Setelah itu ia akan cuti untuk melahirkan sampai baby bisa sedikit di tinggal ia akan melanjutkan kuliahnya lagi yang hanya tinggal dua semester.
Antyka memakai terusan longgar. Perutnya sudah tampak buncit meski masih kecil dan tersamar oleh gamisnya yang longgar. Hari bersejarah ini merupakan penutup dari segala luka, sidang putusan cerai.
Luthfi mendampingi Antika. Sosok Kakak yang selalu menjadi pahlawan dalam kehidupannya.
Luthfi menggandeng Antyka erat. Ia memasang badan tak akan membiarkan siapapun mendekat apalagi menyakiti.
"Tolong tanda tangan di sini" Pengacara Alif meminta Antyka menandatangani berkas penerimaan kompensasi dari Alif.
" Tunggu, apalagi ini?" Luthfi mencegah Anty menandatangani.
Lutfi meminta berkas itu dan memberikan pada pengacara yang mewakili Antyka.
"Bagaimana pak?" Luthfi menunggu pengacara Antyka membaca tiap clausa yang ada dalam berkas.
"Ini hanya pemberian kompensasi berupa Apartemen, mobil dan tanah perkebunan juga sejumlah deposito juga tunjangan bulanan sampai Bu Antyka menikah lagi " jelas pengacara Antyka. Luthfi menganggukan kepalanya.
Tatapan Luthfi beralih pada dua orang pengacara Alif. Dengan menahan Amarah dan rasa sakit karena Adiknya harus mengalami semua ini
"Katakan pada dr Alif Pradipta yang terhormat. Adik kami menolak semua pemberiannya. Kami cukup mampu untuk membiayayai dan menjamin kehidupannya " ucap Luthfi dengan emosi yang meluap. " Katakan juga terima kasih kami atas semua penghinaan dan fitnahnya"
" Ayo Anty kita pulang !"
"Kak Luthfi, tunggu sebentar" Antyka menghentikan langkahnya.
"Apalagi?"
" Anty ingin bicara dengan pengacara pak Alif. Anty ingat pesan mama." Antyka menghampiri pengacara Alif yang masih terdiam
"Pak Angkasa, minta waktunya sebentar. Kita duduk sebelah sana" Antyka menunjuk sebuah bangku yang sedikit terpencil
" Baik Bu, Silahkan " Antyka melangkah menuju tempat yang lebih privat untuk berbicara dengan pengacara Alif. Kemudian mereka duduk berhadapan. Antyka meremas jarinya mengumpulkan keberanian dan membuang sesak.
"Saya mau titip pesan untuk pak Alif, Kalau bapak bertemu dengan beliau. Katakan saya iklas menerima keputusannya dan sampaikan Surat ini padanya " Antyka menyodorkan surat yang sudah ia buat semalam, setelah salat malam dalam pikiran jernih dan pasrah. " Itu saja terima kasih pak"
" Akan saya sampaikan. Tapi bagaimana dengan pemberian dr Alif untuk ibu, Saya harus bilang apa ?"
"Katakan persis seperti yang kakak saya bilang tadi" Antyka tersenyum dan memohon diri
Antyka kembali menghampiri Luthfi yang berdiri menantinya.
"Ayo kak"
" Anty, kakak sering menolak ajakanmu untuk sekedar jalan jalan. Hari ini kakak akan menemani kemana kamu ingin pergi. Kakak akan menuruti semua permintaanmu" ucap Luthfi sungguh sungguh. Setelah mereka naik dalam mobil untuk pulang
"Telat, Anty bukan lagi bocil. Tapi kalau kak Lutfi mau kita makan seafood sepuasnya hari ini, bagaimana?"
Luthfi tersungging dengan ucapan Antyka "Oke kita berangkat" Luthfi sangat antusias.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan pulang. Luthfi selalu menanyakan keadaan Antyka apakah dia baik baik saja. Apakah ada lagi yang diinginkan Antyka, atau sekedar bertanya apakah Antyka lelah. Antyka merasa tergugu dengan sikap perhatian kakaknya yang biasanya sangat kalem dan irit bicara, tiba tiba berubah jadi sangat cerewet dan perhatian padanya.
Mungkin Luthfi hanya kawatir tentang perasaan Antyka dengan sidang putusan yang di jatuhkan hari ini. Nyatanya kekawatiran Luthfi terpatahkan. Antyka terlihat lebih tegar dan dewasa. Adik kecilnya ini sudah menjelma jadi sosok wanita yang bisa membawa diri. Meski di balik semua itu, Luthfi masih melihat celah luka yang menganga di sudut mata Antyka.
***
Untuk pak Alif
Surat ini Anty tulis setelah anti sujud di tengah malam. Setelah menyebut nama ayah dan bunda, orang istimewa berikutnya adalah pak Alif.....
Anty selalu suka dengan panggilan ini " pak Alif" dari pertama bertemu hingga kita menikah dan akhirnya Anty di ceraikan, akan tetap sama.
Terima kasih sudah memperkenalkan Anty pada rasa yang di sebut cinta dan juga luka ...
Meski hanya singkat tapi kenangan itu akan Anty simpan.
Meski hubungan kita sudah usai...Anty tidak ingin ada dendam diantara kita. Jika suatu saat kita di beri kesempatan untuk bertemu kembali. Anty ingin melihat pak Alif bahagia, sehat dan jauh lebih tampan.
Meski Anty ingin sekali bertanya, Kenapa semudah itu pak Alif menjauh...dan mencampakkan Anty ......Ketika rasa itu hadir dalam hati Anty.
Namun kembali Anty tersadar.... Anty hanyalah manusia biasa yang jauh dari sempurna. Begitu juga pak Alif. Anty terima keputusan pak Alif dengan iklas sebagai bagian dari takdir tuhan .
untuk terakhir kalinya Anty ingin mengatakan "Anty mencintai pak Alif" setelah putusan besok di ketuk Anty sudah tidak berhak lagi mengatakan itu. Kita akan berjuang mencari jalan masing masing. Semoga takdir takdir indah yang ada di depan kita.
Maaf
Antyka ramadanti
Alif kembali melipat surat yang ia pegang. Air matanya mengalir. Tepat satu bulan proses perceraiannya rampung. Alif mengusap kepalanya yang licin rambutnya yang mulai berguguran karena efek kemoterapi. Kulitnya juga menghitam. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya begitu menyiksa.
Antyka berharap bila bertemu kembali ingin melihatnya jauh lebih tampan. Ah...apa yang di pikirkan wanita itu membuat Alif sesak. Disini ia sedang berjuang antara hidup dan mati. Disela sakit Alif masih bisa tersenyum . Terbayang kerjapan mata bening Antyka yang indah membuat dadanya berdesir.
Setelah membaca surat dari Antyka, Alif seperti orang yang sedang jatuh cinta dan patah hati berulang. Mungkinkah masih ada harapan untuk bisa bertemu lagi dengan Antyka.. Proses terapinya masing sangat panjang entah berhasil atau gagal .
***
" Aku sudah ambil cuti ma" ucap Antyka pada mama yang sedang duduk di teras menikmati sore.
"Sukurlah, lihat perutmu sudah tampak besar sekali. Mama takut kamu kelelahan" mengelus perut buncit Antyka.
"Kamu masih selalu ingat Alif, Apa kamu tidak membencinya? setelah semua yang terjadi" mama mengeryitkan dahinya. Merasa heran dengan sikap Antyka
"Iya, Anty tidak akan pernah lupa. Anty tidak bisa membencinya ma, Anty sudah berdamai dengan takdir"
Sekilas ucapan Antyka sangat menggambarkan sifat sang Ayah. Prof Damar adalah pria yang iklas dengan takdirnya.
"Nanti sore jadwal kamu periksa kandungan. Jangan lupa itu"
"Anty tidak lupa kok ma"
dr Rima Damayanti SpOG nama yang tertera di depan ruang praktek. Antyka duduk menyendiri dengan tas yang ada di sampingnya. Sambil menunggu giliran ia membaca buku tentang parenting.
"Berapa bulan dek?" suara wanita yang mungkin usianya seumur dengan mama Ajeng. Wanita itu ramah menyapa Antyka yang sedari tadi asik dengan bukunya.
"Delapan bulan buk" jawab Antyka seraya tersenyum
" Ibu lagi ngantar anak dek, maklum suaminya lagi dinas jadi tidak bisa nemenin periksa. Kata anak saya, kalau kedokter kandungan sendirian suka malu. Dikira tidak punya suami. yah terpaksa dek, ibu yang lagi gak enak badan ini nganter" ucap ibu menjelaskan panjang lebar "Adek kesini diantar siapa ?"
"Saya sendiri buk" lugas Antyka menjawab tanpa perasaan baper. Karena dia sadar dia sudah tidak memiliki suami.
Kemudian raut muka si ibu terlihat bersalah dengan pertanyaannya. " Saya gak papa kok Bu, sudah biasa kalau periksa kandungan sendiri" Antika menyentuh tangan ibu agar tidak resah.
" Emm maaf ya dek"
"Iya, gak ada salahnya kan, jadi wanita mandiri di jaman sekarang?" lanjut Antyka dengan mimik ceria. Dan si ibu justru menatap kagum.
" Semoga lancar ya dek saat lahiran nanti, ibu dan bayinya sehat" doa tulus dan kekaguman dari seorang wanita yang baru Antyka kenal
" Amiin Bu Amiin"
"Ibu Antyka..." panggilan seorang suster untuk giliran Antyka periksa.
"Sore Bu Antyka, apa kabar?" Sapa dokter cantik itu ramah mempersilahkan Antyka untuk duduk di depannya.
"Sore juga dokter, Saya baik"
"Ada keluhan?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak, kalau penut mulai membesar seperti ini sudah pasti saya akan semakin sering ke kamar mandi, itu wajar kan dok. Makan saya juga tidak masalah saya selalu lapar"Antyka berkelakar
"Iya itu wajar, tapi soal makan harus diingat ya Bu, tidak boleh asal makan, harus bersih, bergizi dan tidak berlebihan. Kita lihat dedeknya, ya. silahkan berbaring dulu di sana"
Antyka membenahi bajunya yang tersingkap. kemudian meneria resep dari dokter. Tidak ada yang perlu dikawatirkan. Dia sehat dan posisi bayi semua sempurna. Nikmat mana lagi yang harus ia dustakan.
Langkahnya ringan menuju parkiran. Di sana ada supir mama yang sudah menunggu. Antyka segera masuk kedalam mobil.
"Pak kita langsung pulang saja"
"Non Anty, tadi Bu Ajeng pesan agar saya mengantar non Anty kerumah den Luthfi"
"Oh ya sudah kita ke sana"
Tiba depan rumah kakaknya, Antyka langsung turun. Di teras rumah sudah di sambut oleh Livia sang ponakan.
" Anty,.."
" Liv, kok di luar"
"Livia sengaja nunggu Anty datang. Anty bawa apa?"
Antyka melupakan satu hal, ponakannya ini selalu menanyakan oleh oleh setiap kali dia datang. Tapi hari ini ia tidak punya persiapan apapun. Antyka memutar otaknya membuka tas yang ia bawa. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia berikan pada Livia. namun nihil
" Anty lupa?" wajah Livia tampak kecewa. Gadis kecil ini selalu meminta perhatiannya lebih.
Kemudian Antyka ingat sebelum ke tempat praktek dokter ia mampir di salah satu mini market. Saat melihat boneka panda mini yang lucu ia langsung membelinya. Mungkin itu bisa ia berikan pada Livia.
"Tidak, mana mungkin Anty lupa sama ponakan Anty yang paling cantik, Ayo"
"Kemana Anty?"
" Masih di mobil hadiahnya"
Antyka memberikan boneka beruang mini warna hitam dan putih. Wajah Livia langsung berubah. Gadis itu melebarkan senyumnya.
"Terima kasih Anty"
"Hmmm" Antyka menunjukan kedua pipinya meminta Livia untuk menciumnya.." Suka..?"
" Iyah...muaah" satu kecupan lagi mendarat di pipi Antyka.
Livia gadis menjelang remaja yang masih kekanakan. Dia menuruni sifat Luthfi papanya, yang pendiam dan super kalem. Tapi wajahnya sangat mirip dengan Karin hanya hidung Livia lebih mancung warisan dari sang papa.
"Liv "
"Ya.."
"Nanti kalau anak Anty lahir, Dia mirip kaya kamu kalemnya, baiknya, juga cantiknya"
"Jangan Anty, Dia akan mirip Anty cantiknya tapi dia akan punya lesung Pipit seperti om Alif. Pasti akan cantik sekali"
" Kamu...ayo kita masuk"Anty tergugu dengan ucapan Livia, tiba tiba berkelebat senyum Alif dengan lesung pipi di benak Antyka. Senyum yang membuat Antyka sangat rindu.
***
Bunda mengelap tubuh yang dulu kekar kini hanya tinggal belulang. Nafasnya masih hangat saat melawan hawa dingin di musim salju ini. Dua buah kaus tebal juga jaket bulu memberi kehangatan tersendiri.
"Bunda suapin ya?" Demi menatap wajah bunda yang penuh harap dan permohonan, Alif mengangguk. Meski mulutnya sudah tidak bisa merasakan apapun. Beberapa suap sudah bisa ia telan dan senyum lega bunda ikut membuatnya bahagia." Lif, kamu harus banyak makan. Kamu ingat, Anty ingin bertemu denganmu lagi asal kau jadi jauh lebih tampan"
Alif tersenyum kecut sambil menatap bunda, Mulutnya terbuka meminta lagi di suapi. Iya...., dia mau sembuh dan tampan untuk bisa bertemu Antyka cinta pertama dan terakhirnya.
Bunda mengusap air yang menetes di sudut bibir Alif yang kering. Sedikit tergores hingga darah mengalir.
"Maaf.." bunda tersentak kaget dan panik hendak memanggil suster untuk menghentikan darah. Namun lengan kurus hitam Alif mencegah.
" Tidak apa ini biasa, apalagi sedang salju" Alif kembali menggapai kasa steril dengan cairan antiseptik untuk mengusap luka di ujung bibirnya. kemudian memberikan pelembab di sana.
"Kamu sudah banyak kemajuan" ucap bunda sambil memperhatikan tubuh Alif
Alif mengangguk setuju. Ia sudah menjalani banyak prosedur. Dan sampai saat ini ia masih berjuang melawan keganasan yang bersarang di tubuhnya.
"Terima kasih"
Masih selalu sama duduk terdiam sambil menatap arah keluar jendela, Sesekali mengerjapkan mata yang di penuhi embun hangat saat dadanya tak lagi bisa menampung rasa rindu, Kelebat bayangan wajah indah membuat tangannya bergetar ingin kembali bisa memeluk.
"Saat itu akan tiba Alif, berjuanglah. Bunda yakin kekuatan cinta akan menghapus segala derita" Ucap bunda, ketika melihat Alif yang selalu terdiam saat senja dengan pandangan kosong. Bunda tau sang putra sangat merindukan belahan jiwanya. Perasaan itu Alif dinikmati sendiri dalam diam tak pernah terucap .....
__ADS_1