Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
47. Kejutan untuk Alif.


__ADS_3

Alif sedang menandatangani semua berkas. yang di minta oleh pegawainya. Satu Minggu ini dia benar benar sibuk. Untung ada Jefrey yang membantu di perusahaan Ayah. Mike satu minggu ini pergi ke Jerman untuk bulan madu dengan kak Lira. Bahkan ia berencana untuk memiliki bayi lagi. Alif hanya mengelus dada dengan tingkah kakak iparnya.


Dan yang membuat Alif semakin geram, Mike pria dingin itu seolah memanasinya dengan selalu mengirim foto mesra mereka setiap saat. Dengan Caption yang menohok


"Sudah semua kan?" Ucap Alif sambil menyodorkan semua berkasnya. Alif sangat penat dan ingin segera keluar dari ruangan ini.


"Sudah pak, terima kasih"


Akhirnya ia bisa pergi meninggalkan kantor Pradipta corp. Jalanan sore tampak lenggang padahal ini hampir jam kantor bubar. Beruntung, batin Alif. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya ingin tidur dalam Apartemennya yang sunyi sambil berfikir indah bisa hidup bersama keluarga kecilnya.


Alif merebahkan diri di dalam kamar, Nuansa ungu terang menjadi dekorasi kamar ini. Belum berubah suasana romantis dan segala pernik yang ada tetap ia jaga agar segala kenangan yang pernah ada tetap menjadi miliknya.


Sudah bertambah satu bingkai foto yang ia perbesar dan pasang di dinding. Tentu saja foto milik Cahaya.


Di tempat ini banyak momen indahnya bersama Antyka. Penyatuan cinta dengan hasrat yang tak terlukis keindahannya. Hampir gila saat membayangkannya kembali. Semua berkelebat dan tergambar dengan jelas setiap detiknya.


"Aku sangat merindu, Antyka" gumam lirih itu terus Alif ucapkan. Ingin mengetuk kembali hati yang sudah ia lukai. Menyentuh sisi yang masih bisa ia perbaiki. Namun semua asa itu membuatnya semakin frustasi. Alif mengerang dalam lamunan.


Deringan nada sambung di ponselnya, membuat Alif tersadar. Tubuhnya segera beranjak dan membuka ponselnya.


"Mike....?"


"Ke rumah bunda!"


"Aku lelah"


"Aku sudah pulang, Kita ketemu di rumah bunda. Harus datang, tidak ada penolakan"


Alif menutup sepihak panggilan telepon. Menarik nafasnya dalam kemudian beranjak ke dalam kamar mandi. Guyuran shower air hangat membuat sebagian ototnya melemas.


"Kamu datang?" Mike meyambut kedatangan adik iparnya. Pria dingin itu seperti sedang jatuh hati saja. Senyumnya mengembang sempurna.


"Kau yang suruh, apa bisa aku menolak?" Alif menghempaskan tubuhnya di sofa dengan muka yang di tekuk.


"Lif..." Bunda mendekat, usapan tangan lembutnya terasa hangat di punggung Alif. Bunda duduk di sisi Alif. "jangan terlihat kusut seperti itu. Bunda ada kejutan untukmu"


"Kejutan...?"


"Tunggu saja sebentar"


Alif beranjak dari tempat duduknya. Kemudian menatap Mike yang sudah pergi ke ruang tengah menghampiri kak Lira yang tengah menata makanan di atas meja makan. Ada Jefrey yang asik menemani tuan Haris sedang putri Mike yang kedua tidak tampak.


"Dimana Audry?" tanya Alif pada kakak perempuannya"


"Kamu lupa kalau keponakanmu masih sekolah? Dia sudah kembali dari Minggu lalu"


Alif menganggukan kepala, Akhir akhir ini kepalanya hanya berisi Caya dan Antyka hingga hampir melewatkan apa yang terjadi di dalam keluarganya sendiri.


Keluarga Pradipta sudah berkumpul di meja makan, namun mereka belum mulai acara makan malam mereka


"Kenapa belum di mulai?" tanya Alif bingung.


"Sudah sampai, mereka sudah ada di depan Rumah" sahut lira sambil meletakan ponselnya. Lira dan bunda segera berdiri untuk menyambut tamu yang mereka tunggu.


Sejenak di meja makan tampak hening. Tapi wajah Mike dan Ayah Haris terlihat sumringah. Mereka tampak kompak menyembunyikan sesuatu dari Alif.


"Apa ini kejutan untukku?" tanya Alif dengan mimik datar.


"Lihat saja kamu pasti suka" ucapan ayah membuat Alif semakin penasaran.


Lira dan bunda sudah kembali bersama dua orang yang mereka tunggu.


"Daddy...."


Alif segera menoleh kearah suara yang sudah satu Minggu ini tidak ia temui. Wajahnya makin menegang saat Caya datang di gandeng oleh Antyka. Dada Alif berdegup kencang, seolah tidak mempercayai penglihatannya.


"Caya, Anty?" Seperti mimpi yang di rasakan oleh Alif. Antyka mau masuk kembali kerumah ini.


"Duduk di sini" Kembali Alif terlihat gugup. menyiapkan kursi makan untuk Caya dan Antyka tepat di disisinya. Semua mata menatap Alif dengan senyum penuh Arti.


"Bagaimana kejutannya Lif? kamu suka?" Mike tertawa jahil.....Alif seperti salah tingkah. Tatapan matanya tidak lepas mencuri curi pandang kearah Antyka. Alif masih tidak menyangka.


"Sudah, ayo kita makan" Ucap Haris menengahi semuanya.

__ADS_1


***


"Terima kasih Anty, sudah mau datang nengok bunda. Bunda memang bukan lagi mertuamu. Tapi bagi bunda, kamu tetap anak bunda. Kamu tau kan tidak ada bekas anak atau ibu?" Bunda berucap sambil menggenggam tangan Antyka. Wanita paruh baya itu terlihat begitu bahagia. Setelah makan Antyka dan bunda berbincang berdua


"Sama sama Bun, Anty mau mengucapkan terima kasih untuk bantuan bunda kemarin"


"Jangan di pikirkan, itu sudah kewajiban keluarga kami untuk melindungi mu. Semua berawal dari kami, Anty. maaf..." bunda tampak sendu saat berucap. "Apa bunda boleh serakah ...? bunda ingin kamu dan Cahaya di sini. Kembalilah...., maafkan kami" bulir bening itu menetes tidak bisa lagi tertahan.


Antyka dalam kebimbangan yang begitu dalam. Rasa sakit dan juga ketakutan masih menghantui dirinya. Di saat yang sama, saat ini hati nya begitu menghangat. Perasaan itu tidak pernah hilang, hanya terkubur jauh. Saat berlahan di gali dan di urai ia masih sangat dahsyat menggetarkan dunianya.


Antyka mengusap bulir yang mengalir di pipi bunda. Memeluknya penuh hangat. Meluluhkan rasa kecewa yang pernah hadir diantara dirinya.


Di ruangan lain Haris sedang asik bersama Caya. Ia menemani cucunya bermain. Memori Haris kembali ke masa ia menjadi seorang ayah muda. Kesempatan ini tidak ia dapatkan dulu. Perasaan dendam menghilangkan kesempatan. Bahkan ia tidak berfikir bayinya masih bertahan.


"Caya, opa mau gendong Caya" Haris mengusap rambut hitam cucunya. Matanya memohon, rasa rindu mendekap bocah perempuan di depannya. Ruang ruang kosong masa lalunya ingin ia penuhi. " Opa kangen Caya" ucap Haris


"Opa..., Caya sudah besar" Meski berucap demikian, Caya tetap membiarkan Haris menggendongnya. Tangan kecilnya memeluk leher Haris manja. sedang kepala kecilnya sudah roboh di dada Haris dengan nyaman.


Rasa yang tenang dan menghanyutkan di rasakan Haris. Mengecupi ujung kepala sang cucu dengan aroma harum buah yang kas. Ia senang sekali. Bahkan pria tua itu tersenyum bahagia dengan binar mata yang cerah.


Saat Jefrey bayi ia tidak merasakan kedekatan ini dengan cucunya. Semua karena ulah Mike begitu juga Audrey. Malaikat malaikat kecilnya menjauh oleh keadaan yang rumit.


"Caya sayang opa" Kenyamanan yang di rasakan Caya membuat birbir kecil itu berucap penuh rayu dengan tatapan yang polos. Melambungkan perasaan Haris menuju puncak rasa


"Opa lebih sayang lagi sama Caya" Haris tak ingin kalah mengungkapkan rasa Cintanya.


Alif masih berdiri di balik pintu. Mencuri dengar hal yang sedang bunda dan Antyka bahas. Dadanya berdesir saat sang bunda meminta Antyka untuk kembali. Dia tidak begitu paham apa yang telah bunda lakukan untuk Antyka hingga Antyka bisa dan Sudi datang kembali kerumah ini dengan Caya. Bertepatan dengan pulangnya Mike.


Mike berdeham menatap adik iparnya yang bertingkah seperti pencuri.


"Kenapa tidak duduk di depan dengan bunda?" tanya Mike dengan senyum yang mengejek.


"Bisa pelan kan suaramu!" Sungut Alif tidak suka. Konsentrasinya bunyar begitu Mike mengagetkannya yang sedang menguping.


"Kamu tidak berubah. Masih saja jadi pecundang. Kamu hutang terima kasih padaku" Ucap Mike sambil berlalu menuju istrinya dan juga Jefrey. Alif hanya bisa menatap Mike dengan tanya.


"Jef, Daddy mau pulang sama bunda. Kau mau ikut atau di rumah opa"


"I Will stay here" Ucap Jef tanpa menatap ayahnya. Pria muda itu menatap layar laptopnya dengan serius" Wajah dan tingkahnya sangat mirip Mike. Acuh dan juga dingin.


Setelah berpamitan pada Haris dan Cahaya. Lira dan Mike pun melewati Alif yang masih di posisi sama.


"Mba Lira pulang, Lif. Itu diatas meja ada hadiah buat Caya dan Anty. Tolong nanti kamu berikan ya"


"Terima kasih nanti aku berikan pada Caya dan Anty"


**


"Caya sudah tidur?" tanya Alif pada Ayahnya yang masih setia menggendong Caya sambil menggoyang goyangkan tubuh Caya.


"Sttttt ......, jangan berisik" Haris tidak ingin cucunya terusik.


Dalam sejarahnya akan tertulis Haris berhasil meninabobokan sang cucu untuk yang pertama kali. Alif hanya tersenyum geli. Caya adalah putrinya tapi sang opa begitu posesif. Mungkin jika kelak ia menjadi pria tua akan bertingkah seperti itu.


"Tapi dia belum sikat gigi, yah" protes Alif.


"Tidak apa apa, cuma sekali ini. Lain kali ayah akan ajak dia sikat gigi sebelum tidur. Ayah suka Lif, Gendongan ayah nyaman, makanya ia tertidur" Ucap Haris dengan bangganya. Alif hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal haruslah ia membantah.


"Yah, kalo dia sakit gigi akan lebih kasian" bujuk Alif


"Dia bilang sayang Opa. Ayah tidak akan membuatnya bangun dan menangis untuk sikat gigi, Kasian" Haris berkilah..


"Apa Caya sudah tidur" Suara Antyka meredakan perdebatan Alif dan Haris. Keduanya menoleh dengan tatapan yang beda. Alif melihat bidadari nya yang cantik. Sedang Haris menatap bahagia saat putrinya kembali, bahkan ia memamerkan kepiawaian nya menidurkan sang cucu.


"Caya boleh ya, menginap di sini? Ayah akan menjaganya, jangan kawatir"


"Tapi yah Minggu ini giliran Anty yang jaga"


"Dia sudah tidur Anty, besok pagi bunda yang Antar Caya kerumah" Sambung bunda membuat Antyka tidak enak hati untuk menolak.


"Baiklah, kalau begitu Anty pamit dulu bunda, Ayah" Antyka menyerah. Ia mencium punggung tangan kedua mantan mertuanya dan berpamitan.


"Lif..., tolong antar Antyka. Sudah malam tidak baik ia keluar sendirian"

__ADS_1


"Tidak apa Bun, Anty biasa nyetir sendiri kok. baru jam sembilan"


"Aku Antar Anty, tidak ada penolakan" Ucap Alif sambil menyambar paper bag yang ada di atas meja pemberian lira


Antyka menghela nafas, Kebiasaan memaksa dan semau sendiri memang masih sama. Belum berubah. Dengan enggan Antyka mengikuti langkah panjang Alif.


"Kemarikan kunci mobilmu!" Sebenarnya Antyka berusaha untuk menolak lagi tapi saat menoleh, bunda memperhatikannya dari teras dengan senyum lembutnya. Terpaksa Antyka menyerahkan kunci mobilnya


***


"Seminggu ini aku benar benar sibuk. Mike pergi ke jerman dengan kak Lira. Maaf aku tidak sempat menemui Caya sama sekali" Ujar Alif sambil menjalankan mobil Antyka berlahan, menuju jalan utama.


"Tidak apa apa" jawab Antyka Acuh. Matanya enggan bersitatap dengan Alif. Ia masih belum siap mengendalikan rasa yang kembali terurai


"Tapi aku punya satu pertanyaan yang sangat mengganjal. Siapa yang mengundangmu dan Caya ke rumah ?dan hebatnya kamu tidak menolak, Anty"


"Kak Mike..." lirih Antyka


"Kak Mike...?". Alif terkejut bukan main kakak ipar nya yang menyebalkan itu sudah memberinya satu hadiah...pantas saja ia berhutang terima kasih.


Tapi dalam benak Alif sangat ingin tau apa yang sudah Mike buat hingga Antyka bisa seluluh ini.


"Apa kak Mike mengancam mu?" pertanyaan konyol Alif membuat Antyka tertawa lepas. Alif mengernyitkan dahinya bingung . Seajaib itukah pengaruh Mike.


"Tentu tidak, kak Mike sudah membantuku. Meskipun ia sedang berada di Jerman tapi dia masih perduli dengan nasibku"


"Aku masih belum paham. Mike membantu Apa?"


"Pak Alif bisa tanya sendiri pada kak Mike"


"Kamu membuatku semakin penasaran"


"Pak Alif benar benar tidak tau?" Antyka menoleh penasaran.


"Iya, Satu Minggu ini mereka menguras tenaga dan pikiranku. Aku tidak sempat ke rumah bunda. Setiap malam aku pulang ke apartemen kita"


"Apartemen pak Alif, bukan kita" Ucap Antyka sinis.


" Sebenarnya sudah aku limpahkan padamu tapi kamu tidak pernah mau menerimanya. Jadi selama Caya belum dewasa aku masih ingin merawatnya. Aku menempatinya lagi sejak pulang dari ..., akhirnya sampai Anty" Alif tidak meneruskan ucapannya. Kebetulan sekali mobil mereka pun sudah sampai.


"Terima kasih" Keduanya turun dari mobil Antyka


"Pak Alif pulangnya pakai apa?"


"Aku bisa naik taksi. Boleh aku duduk di teras sambil menunggu taksiku datang?"


"Iya...., pak Alif mau kopi?" Antyka sekedar basa basi menawari kopi pada Alif. Ia tidak mau kejam membiarkan Alif hanya duduk bengong tanpa menawari sesuatu.


"Mau sekali, Anty. Seperti biasa ya" Ucap Alif cepat. Hatinya berbunga setelah sekian tahun. Ini akan jadi hari bersejarah lagi baginya kembali menyesap kopi buatan Antyka.


Tidak lama Antyka kembali keluar dengan secangkir kopi panas dengan aroma yang menggoda. Dia juga membawa stoples cheesestick kesukaannya.


Tanpa menunggu lama Alif menyesap perlahan Kopo panasnya. Matanya terpejam seolah kembali ke masa lalu. Suasana dan rasanya begitu sama. Alif merogoh toples mengambil beberapa potong cheesestick dan memasukan dalam mulutnya. Alif begitu terbuai dengan perasaannya tanpa sadar Antyka yang terus menatapnya.


Semilir angin malam menerpa kulit mereka. Tidak terasa menusuk tapi sejuk. Keduanya terpadu dalam helaan nafas yang masih terkendali. Detik dan waktu terus merambat. Hingga suara klakson mobil mengagetkan mereka. Rupanya taksi yang Alif pesan sudah datang.


"Anty, terima kasih" Ucap Alif saat berpamitan. Alif meninggalkan rumah Antika walaupun masih ingin di sana. Meski hanya kebisuan, menikmati suasana malam bersama Antyka sangatlah menyenangkan.


**


Alif membuka ponselnya ia teringat tentang ucapan Mike. Ia harus tau apa yang telah Mike lakukan untuk Antyka. Sekalian ia ingin berterima kasih untuk malam yang indah ini.


Panggilan untuk nomor Mike tesambung.


"Mike....."


"Kamu suka...?" Suara tawa Mike yang terbahak lucu.


"Mike apa...?" tanya Alif tapi terpotong.


" Simpan saja terima kasihmu. Aku sedang sibuk...doakan saja kami sedang memproses keponakan baru untukmu" Nada mengejek Mike begitu kental.


"Brengsekkkkkk......" Alif sangat kesal pada kakak iparnya yang sangat kurang norma

__ADS_1


" Tut........" ponselnya terputus


__ADS_2