
Bulan madu singkat, mereka sudah usai. Aneh padahal mereka cukup mampu untuk pergi ke luar negri. Mau Eropa, Amerika, Australia atau kemanapun mereka ingin. bahkan mereka bisa menggunakan pesawat pribadi. Tapi Alif memilih Puncak Bogor yang dekat sebagai tempat pertama mereka menyatu.
Alif mempertimbangkan jarak yang tak terlalu jauh. Ayah Damar baru saja sembuh. Jika ada hal yang tidak diinginkan dia bisa cepat kembali. Selain itu, Alif menghargai pemberian hadiah dari ayah mertuanya.
Pulang dari Bogor hubungan Alif dan Antyka semakin mesra saja. Mereka seperti dua orang yang tidak bisa terpisah. Keduanya sudah saling ketergantungan satu sama lain.
Alif sudah mulai praktek di rumah sakit miliknya. Maksudnya milik sang Ayah yang sudah di percayakan padanya. Selain itu ia juga mulai membatu menghandle bisnis Ayahnya yang lain. Dengan berat hati Alif mengundurkan diri dari kampus. Ia sudah tidak punya lagi waktu untuk mengajar
"Antyka, boleh ya...." suara serak dan tatapan mata sayu milik Alif terus terbayang. Antyka meremang mengingat setiap pergulatan yang berujung pada penyatuan. Rasanya sangat diinginkan dan hanya dirinya lah, yang bisa membuat Alif tersungkur tidak berdaya, setelah gelombang haratnya menuju puncak. Kemudian elusan lembut juga pelukan hangat membuat dirinya aman dan nyaman.
Sudah seminggu Alif meninggalkan Antyka pergi ke Bali. Alif pergi menemani Ayah Haris mengurus pekerjaan yang ada di Bali. Antyka merasa begitu rindu, pada pria yang sudah memilikinya utuh. Kenapa hatinya begitu melow seperti ini. Rasanya sudah tidak tahan, ingin berlari dan memeluk tubuh tegap milik Alif. Mengadu betapa sepinya hidup tanpa Alif, Betapa kacaunya hari hari tapa Alif.
"Sayang aku lagi di kantor, bareng ayah. Kami baru saja selesai meeting. Kamu sudah makan siang?" Makan yang banyak ya, biar sehat. Aku kangen kamu, Anty. Mudah mudahan sore nanti, semuanya selesai dan aku bisa pulang. Ingin peluk kamu" sebaris pesan dari Alif sedikit mengobati rasa frustasi yang Antyka rasakan. Antyka menatap ponselnya
"Anty juga ingin pak Alif cepat pulang. Anty tidak bisa apa apa di sini . Anty butuh bersandar di bahu pak Alif, ingin memeluk pak Alif" Antyka ingin menulis seperti itu tapi ia kembali menghapus.
"Anty juga kangen, jaga kesehatan disana. Anty baru aja makan banyak, pak Alif jangan kawatir, love you" send pesan terkirim.
Antyka menyingkirkan piring berisi makanan yang baru saya ia foto. Boro boro makan sebanyak itu. Dalam benaknya sangat kacau. Seperti inikah rasanya jatuh cinta. Tidur tidak nyenyak, makan tidak selera saat pujaan hati tidak berada di sisinya. Dunia Antyka sudah berubah. Semuanya hampir tentang Alif.
Mungkin bagi orang lain, Sikap Antyka berlebihan. Tapi itulah yang Antyka rasakan. Perasaan yang membingungkan membuatnya begitu kalut.
"Tunggu aku ya, Ayah bilang, kita bisa pulang sore ini" ponsel Antyka menerima pesan dari Alif lagi
Setelah membaca pesan itu, Antyka segera berlari ke kamar mandi. Ia ingin membersih kan diri dan tampil paling cantik saat Alif tiba. Ia mengguyur tubuhnya dengan suka cita. Moodnya kembali membaik dan parahnya ia merasakan lapar pada akhirnya.
Setelah memantas diri ia mengambil sepotong roti tawar kemudian mengolesinya dengan selai coklat. Matanya melirik kearah jam dinding. Ia kembali bernafas lega. Sebentar lagi Alif landing.
Waktu begitu lambat berlalu. Antyka mondar mandir di ruang tamu. Gelisah menunggu Alif datang. Bahkan otaknya terus berhitung mudur dari enampuluh menit sampai menuju detik yang kesekian.
Suara pintu Apartemen terbuka. Debar dan desiran di dadanya tidak karuan. Antyka cepat berdiri dan Wajah Alif muncul dari balik pintu. Ia berlari dan langsung memeluk tubuh kokoh milik suaminya. Membenamkan wajahnya yang bersemu merah di dada bidang Alif.
Alif mengeratkan rengkuhan pelukannya. Mengecupi pucuk kepala Antyka. Menghirup dalam Aroma tubuh yang wangi. Ia sudah sangat merindukan sosok istrinya. Melampiaskan semua perasaan rindunya
"Sayang, kamu terlihat pucat dan kuyu kenapa? kamu pasti tidak bisa makan, iya kan? Harusnya kamu tetap jaga kesehatan. Jangan buat aku kawatir Antyka" Alif masih mengelus pipi Antyka yang basah. " Maaf ya, Aku perginya lama. Sekarang aku sudah pulang"
Antyka melepaskan pelukan nya menatap wajah Alif yang juga sama, kusut dan layu, seperti orang yang tidak bisa tidur.
"Pak Alif mandi dulu. Setelah mandi, kita makan malam. Anty siapkan dulu"
"Iya, Aku mandi dulu"
Saat ini, mereka sudah berada diatas ranjang, setelah acara melepas buncahan rindu selama satu Minggu terpisah. Aktifitas ini sudah menjadi hal yang tidak bisa lagi di tunda. Terlelap dalam pelukan orang yang kita cintai adalah hal yang paling membuat kita bahagia. Rasanya tenang terlindungi dan nyaman. Bahkan waktu seolah enggan berpaling ingin rasanya seperti ini terus. Tapi kehidupan bukan hanya tentang pelukan. Merasa dicintai, di inginkan dan saling menghargai merupakan satu paket kumplit .
" Sayang, Hari ini dan seterusnya aku tidak ada jadwal mengajar di kampus. Aku akan konsentrasi mengurus rumah sakit yang Ayah amanah kan padaku. Kamu baik baik di kampus"
"Kalau sudah selesai bersiap, aku akan mengantarmu dulu ke kampus" Ucap Alif dari balik pintu ruang tengah
" Tunggu sebentar, Anty sedang mengeringkan rambut" jawab Antyka sambil terus mengeringkan rambutnya.
Alif masuk kedalam kamar, memperhatikan Antyka yang tengah sibuk bersiap.
"Mandi basah ya?" Alif menggoda Antyka eh.. yang di goda cuma bersemu merah dan cemberut. Habisnya kesel padahal subuh tadi sudah mandi besar, tetapi Alif masih minta babak tambahan lagi dan lagi. Berakhirlah Antyka yang repot harus mandi besar lagi dan mengeringkan rambutnya yang cukup menyita waktu.
"Anty kuliah kamu?" Alif sudah duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang tak berkedip
__ADS_1
"Sudah semester enam" Sambung Antyka sambil mengikat rambutnya yang sudah kering
" Kalau kamu hamil, cuti saja ya?"Alif mengelus perut Antyka
" Hamil ...?" Antyka tampak terkejut
" Iya , kita sudah sering melakukannya. Aku harap janin itu cepat tumbuh. Kalau kamu tidak kuat bisa cuti dulu kuliahnya"
"Tapi Anty, belum siap"
"Sekarang kamu bisa bilang, tidak siap. Tapi saat dia benar benar datang. Kamu akan sangat bahagia Anty, jangan takut, ada aku. Anak kita pasti baik dan tidak rewel"
Wajah Antyka pasrah, bahkan ia tidak menyadari jika sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, pasti ada kemungkinan untuk hamil. Ia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. Kemudian ia membayangkan perut yang kini rata menjadi buncit. Ia menutup matanya.
"Kenapa" Alif heran
"Anty hanya ..."
"Jangan takut, Kamu akan jadi wanita sempurna dan paling bahagia. Pegang tanganku, percaya padaku" Alif menatap tulus
Berakhir dengan pelukan, usapan dan selalu rasa nyaman dari perlakuan Alif. Antika mengangguk. Membiarkan semua yang akan terjadi sebagai takdir indahnya. Sama saat kedatangan Alif yang begitu tiba tiba dalam hidupnya. Dan pria ini sekarang menjadi hal terindah dalam setiap langkahnya
Alif menggandeng tangan Antyka keluar dari Apartemen. Langkah mereka berhenti saat berpapasan dengan seseorang yang hampir menabrak Antyka. Reflek Alif melindungi istrinya.
"Maaf" ujar wanita paruh baya yang kerepotan membawa belanjaannya hingga oleng
"Lain kali hati hati" Ujar Alif
**
"Salim" Antyka meminta Alif mengulurkan tangannya. Kemudian mengecup punggung tangan Alif dengan takdim
"Anty, nanti siang aku jemput, jangan pergi sebelum aku datang " ucap Alif begitu Antyka keluar dari mobilnya. " Oh ya nanti kita ke rumah Ayah Damar. Sekalian antar oleh oleh dari Bali"
Antyka mengangguk dan melambaikan tangannya. Alif menatap Antyka hingga tak terlihat lagi. Ia melajukan mobil hitamnya menuju rumah sakit tempat ia bekerja. Rumah sakit yang sangat besar dengan fasilitas terbaik. Bahkan ada beberapa dokter dari luar yang praktek di rumah sakitnya.
Alif masuk kedalam ruangan pribadinya yang cukup luas. Di tempat inilah ia akan mendedikasikan ilmu yang dia peroleh untuk membantu sesama. Bahkan di sini ia berhak membuat kebijakan. Karena dia adalah pemilik rumah sakit ini.
***
Antyka baru saja selesai kelas, saat berjalan di koridor menuju kantin ia di hentikan oleh seorang wanita yang sangat familier.
Wanita itu berambut sebahu, dengan setelan formal elegan dan berkelas. Cantik...? tentu sangat cantik dengan tubuh tinggi dan proporsional dan kulit yang bersih .
"Tunggu!" Ucapnya
" Dr Farah ?"
" Aku perlu bicara sama kamu"
" Boleh, tentang apa ya?"
" Tidak di sini, tapi di sana " dr Farah menunjuk bangku taman di tengah tengah area gedung perkuliahan.
"Boleh " Antyka mengekori dr Farah menuju bangku taman. Keduanya sudah duduk. dr Farah menatap penuh selidik pada Antika. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Aku mau bicara tentang dr Alif, perlu kamu ketahui kami sudah saling mengenal sejak kuliah jadi jauh sebelum kamu muncul" Suara dr Farah tegas mengintimidasi. " Terus terang saja saya mencintai Alif dari dulu, Dia tampan dan sangat cerdas. Semua yang di inginkan wanita ada padanya. Kita juga sangat dekat. Kami sering bersama untuk diskusi atau sekedar makan siang saja. Semuanya indah, saya cukup bahagia dengan kedekatan kami. Tapi semua hancur setelah kamu datang" Amarah dr Farah meluap kemudian matanya menatap tajam pads Antyka
Antyka merasa tersudut. Ia bahkan tidak bisa membalas ucapan. dr Farah yang di tuduhkan padanya.
" Dr Farah, maaf. Mungkin kalian tidak berjodoh. Saya bahkan tidak bermimpi untuk menikah secepat ini dengan pak Alif. Dr Alif yang datang sendiri, meminta saya untuk menjadi istrinya"
" Kamu...., sok lugu. Tapi nyatanya kamu menyakiti hati sesama wanita. Harusnya kamu tau diri. Kamu sama sekali tidak pantas. Lihat kuliah saja kamu belum selesai. Padahal Alif sudah spesialis dan dia dapat kan itu dari universitas bergengsi di luar negri. Selain itu, kamu hanya Anak seorang dosen sedang Alif putra konglomerat di negara ini. Jangan besar kepala kamu, ingat saya tidak menyerah untuk mendapatkan Alif kembali"
Antyka berdiri dari tempat duduknya. Perasaannya sangat sakit, mendapat penghinaan yang bertubi tubi. Seketika matanya berkaca kaca.
"Dengar dr Farah, meski dunia ini terbalik. saya tetap cinta pak Alif. Sejauh yang saya tau.Pak Alif tidak memiliki perasaan apapun pada dr farah. Jadi andalah yang harus tau diri dan malu. Memaksakan ambisi pribadi. bertepuk sebelah tangan" Antyka meninggalkan dr Farah yang wajahnya memerah dengan ucapan Antyka.
"Kamu....tunggu saatnya Antyka" Ancam dokter Farah kesal.
Sudah pukul satu siang, Antyka bolak balik melirik ponselnya. tring ....suara pesan masuk.
"Sayang aku sudah di parkiran"
"Ya, Anty datang"
Alif membukakan pintu mobil untuk istrinya agar masuk. Ia juga melihat perubahan wajah Antyka yang mendung.
"Kenapa, cape? atau banyak tugas?"tanya Alif sambil menghidupkan mobilnya.
" Gak papa" elak Antyka
" Cerita, jangan di pendam sendiri. Aku tidak suka melihat kamu seperti ini" Alif masih mendesak Antyka.
Tiba tiba saja bulir bening mengalir dari sudut mata Antyka. Ia terisak tanpa bisa berkata kata. Sedang Alif langsung menepikan mobilnya. dan kembali menenangkan istrinya.
"Sayang apa aku berbuat salah?" Alif merengkuh tubuh Antyka membenamkan kepala Antyka di dadanya. Rasanya tidak tega melihat Antyka terisak seperti ini.
" Katakan apa yang membuat kamu seperti ini, Maaf ya ,sayang. Kalau aku jemput ya telat. Kamu lapar? kita ke restoran dulu yah" Alif menduga duga sumber tangis istrinya
"Pak Aliiiif, Anty bukan anak kecil. Yang nangis karena telat di jemput atau lapar" Antyka kesal di perlakukan seperti anak kecil.
" Trus apa, Anty?"
"Tadi dr Farah datang. Dia memperingatkan Anty" Kemudian Antyka menceritakan semua kejadian tadi siang dengan dr Farah .
" Farah memang keterlaluan, berani beraninya dia ganggu kamu. Sepertinya Aku harus memberi peringatan"
"Apa, peringatan ? , jangan membalas kejahatan dengan kejahatan pak Alif. Nanti kita akan sama jahatnya. Sudah biarin saja. Yang penting pak Alif Jangan berhenti mencintai Anty. Itu sudah cukup"
"Kamu, sudah cinta berat sama aku ya Anty?" Alif tersenyum jail. "Ketika kamu mencintai aku satu, perasaan cinta aku sudah seribu. Semakin besar cinta kamu. Perasaan aku bertambah ribuan kali"
" Pak Alif gombal"
" Tidak Anty, aku serius. Kamu belum cinta aja aku udah cinta banget sama kamu. Kamu mau tau alasannya ?"
"Apa?"
"Karena itu adalah kamu, gak butuh Alasan saat kita jatuh cinta"
Kemudian keduanya tergelak dengan ungkapan perasaan dalam hati mereka. Pemilihan kata yang sepertinya gombal tapi itu yang dirasakan dua insan yang sedang di mabuk asmara.
__ADS_1
Alif kembali menyalakan mobilnya. Melaju ke jalanan yang cukup terik siang itu. Kembali mereka di sibukkan tentang hal hal kecil yang anehnya bisa membuat keduanya begitu menikmati perjalanan yang cukup padat.