Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
13 . Apartemen Alif


__ADS_3

Matahari sudah condong kebarat. Kemilau senja memberikan rasa hangat tersendiri.Dari sekian perasaan yang ada dalam hati, mencintaimu adalah bagian terindah. " Aku tidak pernah menyesali perasaanku. Meski kini kesakitan dan hancur yang aku rasa. Semoga aku selalu melihatmu bahagia. Cintaku terlalu besar untuk hilang tapi perasaan cemburu itu tidak bisa ku tepis." bibir Ibra berucap lirih menatap layar ponselnya dengan foto Antyka


Ibra sedang berada dalam Apartemennya. Setelah membuka cabang kantornya di Jakarta ia harus kembali pergi jauh untuk menyusun kepingan hatinya. Ibra menutup tirai dan mengunci semua pintu kemudian ia keluar . Ia kembali berpaling kearah Apartemennya ." Selamat tinggal Jakarta, Mungkin di lain waktu aku kembali '' batin ibra


Ibra memasuki taxi yang sudah ia pesan . Jalanan sudah mulai ramai mungkin karena berbarengan dengan usainya jam kantor. Semoga saja tidak macet dan bisa tepat waktu menuju bandara .


Sesekali Ibra menatap pergelangan tangannya. Sesuai prediksi, kemacetan begitu menggila. Ibra hampir frustasi, namun ia mencoba meredam dengan menarik nafasnya dalam dan membuang pelan.


Tepat di persimpangan lampu merah Ibra reflek melihat kearah samping. Sebuah mobil hitam dengan kaca yang terbuka. Didalamnya ada dr Alif dan Antyka. Ibra merutuki nasibnya kenapa harus bertemu saat ia ingin memulihkan hati.


Antyka tampak bersandar pada jok mobil. Tetap sama, Wajah itu selalu membuat Ibra ingin terus menatap. Alif yang berada di sampingnya memberikan sebotol air mineral kemudian mengusap kepala Antyka penuh kasih. Ibra semakin berdarah menyaksikan itu.


Ibra memalingkan wajahnya kearah jalanan yang masih macet .


Dalam mobil Antyka pun sudah sangat lelah. Ia merengek pada Alif untuk segera melajukan mobilnya namun apa daya antrian mobil di depannya juga begitu panjang.


"Tenang saja, kita akan pulang ke apartemen, tidak usah ke rumah bunda. Sebentar lagi sampai. Kamu bisa cepat istirahat."


" Apartemen pak Alif dekat dari sini ?"


" Ya, paling 10 menit kalau tidak macet begini "


" Sama saja pak Alif, kan sekarang macet "


Alif terkekeh dengan rengekan Antyka. Berlahan mobil yang mereka tumpangi kembali melaju meski hanya merayap.


" Mau makan dulu ?"Alif melirik Antyka di sampingnya


Antyka menggeleng " ingin tidur " hanya dua kata yang meluncur dari bibir kecilnya yang merah.


" Ada hotel di depan. Kalau kamu mau kita bisa istirahat dulu di sana sampai besok "


" Pulang...."


" Iya...sabar ya " Alif lembut .


Memasuki area apartemen, mobil Alif berhenti. Ia memutar dan membukakan pintu untuk Antyka


" Unit kita ada di lantai paling atas " Alif memberi tahu Antyka sambil memencet tombol


" Iya " keduanya masuk dalam lift.


Tring...


Pintu lift terbuka, sudah sampai di lantai paling atas. Alif menggandeng Antyka


" Ingat nomor sandinya, jangan sampai lupa"Ucap Alif begitu sampai depan unitnya


" Sama seperti tanggal lahir saya ?" Antyka tergugu


" Betul, biar kamu mudah mengingatnya "


Masuk dalam ruangan yang cukup besar. Interiornya di dominasi dengan warna hitam dan abu abu dari sofa, meja, lemari dan segala pernak pernik, untung saja cat dindingnya putih jadi terlihat lebih terang


Antyka langsung duduk di sofa, terasa sangat nyaman setelah kemacetan tadi. Sedang Alif langsung menuju ruangan belakang. Dua kaleng minuman dingin ada di tangannya .

__ADS_1


" Minum dulu " Kemudian Alif duduk di sofa samping Antyka


" Terima kasih " Anty menerima satu kaleng minuman dingin


" Kamar kita yang sebelah sana, Sebelah lagi ruangan untuk kerja aku dan juga tempat koleksi buku. Kalau kamu mau, kamu boleh membacanya di sana " Alif menunjukan ruangan ruangan yang ada.


Keduanya menikmati minuman dingin sambil melepaskan lelah yang mendera beberapa hati ini


" Apa besok kamu ada jadwal kuliah ? Kebetulan aku ada jadwal pagi di kampus "Alif kembali bertanya


" Gak ada, besok Anty libur. Anty mau rebahan seharian " Mata Antyka tampak berbinar sambil terus memperhatikan suasana Apartemen " Pak Alif, apa kita akan tinggal disini terus? kalau iya ,Anty sih suka di sini "


" Kalau kamu suka, kita akan tinggal disini. Tapi sesekali kita harus menginap di rumah bunda dan juga mama Ajeng. Menurutmu bagaimana ?"


" Boleh, biar adil. Hanya saja repot, kalau Anty harus bawa bawa perlengkapan untuk ke kampus "


" Kalau gitu kita nginap di rumah bunda atau mama Ajeng pas week end saja, jadi tidak perlu repot "


" Iya juga, boleh. Pak Alif memang terbaik " Antyka mengacungkan jempolnya


Kemudian hening setelah diskusi pendek mereka. Mata Antyka sudah terlihat sayu, mungkin efek dari rasa lelahnya, hingga membuat gadis itu mengantuk.


" Jangan tidur dulu, sudah mau magrib. Lebih baik kamu mandi, biar segar. Lagi pula kamu itu susah sekali untuk dibangunkan, kalau sudah tidur " Alif setengah mengejek


" Iya ...., Anty mandi dulu. Kamar mandinya ada di dalam kamar kan ?" rona merah di pipi Antyka menahan malu dengan kelemahannya


" Hmm "


Antyka memasuki kamar Alif. Kesan pertama di benaknya, yaitu rapi dan bersih untuk ukuran pria. Hanya saja semuanya tampak monoton, dari tirai bed cover semuanya berwarna gelap.


" Pak Alif .., pak Alif ..." Antyka berteriak teriak memanggil Alif yang masih duduk di sofa depan .


Alif begitu mendengar panggilan Antyka langsung bergegas, masuk kedalam kamar.


" Ada apa ?"


" Pak Alif, Anty tidak bawa baju ganti dan peralatan mandi. Itu di tas juga isinya baju kotor semua "


Alif tersenyum senang " Bagus dong, kalau gak bawa baju. Bagusnya memang tidak usah pake baju Anty"


" ishh, pak Alif " Antyka merajuk .


" Becanda Antyka, Sementara pakai baju saya dulu ya. Nanti malam, aku ambil ke rumah mama Ajeng. Coba kamu lihat di lemari aku, mungkin ada yang cocok buat kamu"


Antyka mengerutkan dahinya, aneh memakai baju pria. Lalu bagaimana dengan pakaian dalamnya.


"Kenapa ? "


" Pak Alif, baju perempuan dan laki laki kan beda. Lagi pula badan pak Alif lebih besar dari Anty, mana muat ?"


" Namanya darurat, Anty. Masih mending ada baju bersih untuk menutup tubuh kamu, kalau tidak ? ....." Alif masih tenang dan mencoba membujuk Antyka . " Sudah sana mandi! tidak usah banyak mikir, Sudah magrib loh, kita harus segera solat. Oh ya, kalau mukena disini ada. Mama sering mampir kesini dan numpang solat "


Akhirnya Anty mau tidak mau menuju lemari Alif mencari baju yang sekiranya masuk ke badannya. Setelah beberapa kali memilih, akhirnya Anty mengambil satu buah kaos oblong warna hitam dan juga celana pendek yang ia sendiri tidak yakin, kalau itu bakal pas di tubuhnya.


" Pak Alif, handuknya dimana ?"

__ADS_1


" Ambil saja yang baru, di lemari"


Setelah menemukannya, Antyka masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan peralatan mandi yang ada. Beruntung ada stok sikat gigi yang masih baru di kabinet dalam kamar mandi. Untuk pertama kalinya Antyka menggunakan sabun cair dan shampo dengan aroma maskulin.


Antyka mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Rasa segar mernyeruak kantuk dan lelahnya pun hilang. Antyka mengenakan kaos oblong hitam yang berubah menjadi daster pendek di tubuhnya. Sedangkan celana pendek Alif terlihat kedodoran, Namun Antyka tetap memakainya. Tentu saja tidak nyaman karena minus baju dalam.


" Anty, jangan lama lama keburu habis magribnya " Suara Alif mengingatkan Anty, agar mempercepat gerakannya .


Antyka keluar dari kamar mandi. Ia melihat Alif sudah dengan baju Koko dan sarung sedang menunggunya untuk salat berjamaah. Antyka sedikit terpesona dengan penampilan Alif yang islami. Aura tampannya memancar.


Sedangkan Alif terpesona, untuk pertama kalinya ia melihat Antyka tanpa hijab. Rambut hitam tebalnya terurai setengah basah, kulit putihnya bersih menggoda. Apalagi kaos hitamnya terlihat begitu seksi di tubuh Antyka tanpa dalaman yang menghalangi, tercetak jelas lekuk tubuh indah Antyka .


Alif segera memalingkan wajahnya, sebelum pikiran liarnya semakin terprovokasi.


" Itu mukena bunda cepat dipakai kita solat bersama "


" Ehm iya '


Keduanya salat bersama dengan kusuk .Setelah selesai mereka melantunkan ayat ayat suci untuk mengisi waktu jeda menuju salat isya .


Alif pergi ke rumah mama Ajeng untuk mengambil baju dan tidak lupa menawari Antyka ingin makan malam dengan apa . Seperti biasa Antyka akan menjawab terserah


" Anty saya berangkat dulu, saya cuma sebentar kamu baik baik dirumah. Kalau ada siapapun jangan buka pintu, aku tidak mengijinkan kamu menerima tamu " Alif mewanti wanti istrinya .


" Iya , lagi pula Anty gak mungkin keluar dengan baju seperti ini, kan pak ?"


" Iya, karena itu aku melarang kamu. Oh ya pakai saja mukenanya jangan di lepas. Boleh dilepas kalau saya sudah pulang "


" Iya "


Cup ...Alif mengecup kening istrinya. Sedang Antyka hanya membeku mendapat perlakuan manis dari suaminya .


Cukup lama Antyka gelisah, menanti kedatangan Alif. Ia mengisi waktu dengan bermain ponsel dan menonton televisi. Satu jam kemudian, Antyka mendengar suara pintu apartemen yang terbuka. Perasaannya sangat lega begitu wajah Alif yang muncul .


Alif muncul dengan tas baju yang cukup besar di tangannya. Satu tangan lagi ada kantung plastik dengan nama restoran yang terkenal. Antyka segera mendekati Alif dan mengambil salah satu bawaan Alif agar tidak repot .


Alif memberikan kantung plastik berisi makanan. Sedang tas baju yang cukup besar masih ia tenteng dan bawa ke kamarnya. Antyka menyiapkan makan malam mereka. Ia tersenyum saat melihat menu makan malamnya .


" Pak Alif tau aja, kalau Anty suka nasi bakar " ujar Antyka sambil memberikan piring dengan nasi bakar di dalamnya


" Iya , Zein yang memberi tau semua tentang kamu "


Keduanya makan malam, sambil membicarakan hal hal ringan. Setelah selesai Antyka mencuci piring bekas mereka makan .


" Antyka, kamu nyuci piring tapi mukenanya kok tidak lepas, nanti basah "


" Memang pak Alif tidak membawakan Anty mukena lagi ?" ucap Antyka sambil membuka mukenanya .


" Ada di dalam tas tadi mama yang nyiapin " Sejenak Alif terdiam dengan pemandangan di depannya ia lupa istrinya belum menukar baju .


" Pak Alif kenapa ?" Antyka mengikuti pandangan Alif dengan heran, teryata mata Alif tertuju pada dadanya .


Ada desir dan juga rasa takut melihat tatapan Alif yang membuatnya ngeri . Antyka langsung berlari ke kamar dan mengunci pintunya. Sebaik apapun suaminya, adalah pria normal yang menyukai wanita . Antyka memejamkan mata sembari menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang. Sungguh bagian ini Antyka tidak pernah mempersiapkan diri. Melaksanakan kewajibannya sebagai istri .


Ia sudah lolos beberapa hari setelah hari pernikahan. Alif berbaik hati dengan suka rela untuk menginap di rumah sakit. Antyka terlena dan nyaman hingga lupa. Tapi malam ini, bagaimana ia menghindar. Seandainya Alif meminta haknya.

__ADS_1


Antyka segera menukar baju dengan miliknya. Bahkan ia kembali mengenakan hijabnya. Belum juga selesai mengenakan penutup kepalanya, suara ketukan di pintu kamar terus saja berbunyi. Tambah lagi panggilan Alif yang terus berulang.


__ADS_2