Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
28.Kamu dimana Anty? katanya rindu.


__ADS_3

Nani datang dengan wajah panik menghadap Alif, wanita itu ketakutan karena Antyka tidak ia temukan. Alif sudah merasa tidak nyaman saat Antyka meminta ijin untuk keluar sendiri dari apartemen. Andai saja kakinya bisa berjalan seperti dulu. Alif pasti sudah berlari.


"Kenapa kamu tinggalkan Antyka?" intonasi Alif meninggi.


"Bu Antyka meminta saya membelikan minuman, pak" Nani hanya bisa menunduk. Alif mendengus


" Bawa saya keluar dari apartemen ini. Kita cari Antyka sampai ketemu. Cepat...!" amarah Alif kian meluap.


"Ba ...baik pak" ucap Nani terbata. Kemudian Nani mendorong Alif keluar dari apartemen.


Alif tidak lagi perduli dengan rasa sakit yang ia rasakan. Dalam benaknya hanya ada keselamatan Antyka. Hingga Siang Alif dan Nani mencari cari Antyka. Nihil, ia tidak bisa menemukan Antyka.


Alif merasa frustasi. Dia sangat kawatir dengan keadaan Antyka. Semua pikiran buruk berkelebat, terbayang Antyka terluka, di culik , atau dianiaya. Bayangan bayangan itu menyiksa Alif. Alif berteriak memaki dirinya. Merasa bersalah dan tidak bisa melindungi Antyka. Seolah dirinya adalah pecundang yang bodoh. Alif melajukan kursi rodanya sendiri dengan kasar sampai sampai ia terjungkal dari kursi roda.


"Pak Alif ..." Nani berteriak kebingungan saat Alif terjungkal


"Dimana kamu Anty?" ucap Alif yang masih tergeletak di bawah. Hatinya hancur sekali.


"dr Alif... " seorang wanita menghampiri Alif dengan berlari.


"dr Farah kamu kah itu?"


"Ayo, bantu saya mengangkat dr Alif" ucap Farah pada Nani. "Kita pulang, dr Alif harus mendapat perawatan "


"Aku tidak mau pulang, aku harus mencari Antyka" Alif bersikeras tidak mau di rawat.


"dokter harus dirawat, soal Antyka saya akan bantu mencarinya"


Alif menahan sakit yang luar biasa. Matanya terpejam. Farah dan Nani berusaha sepelan mungkin mendorong Alif.


"Tolong ambilkan saya air hangat dalam baskom !" perintah Farah pada Nani saat mereka sudah berada di dalam apartemen


Dengan telaten Farah membersihkan kaki Alif yang kotor akibat terjatuh tadi. Kemudian dengan dibantu Nani, dr Farah membaringkan Alif di tempat tidurnya.


"Dr Alif tenang saja, saya tadi sudah berjanji untuk mencari Antyka. Sekarang yang terpenting dr Alif istirahat. Saya akan suntikan pereda nyeri agar dr Alif bisa istirahat"


Dr Farah mengambil obat dari dalam tasnya. Membuka spuit dan memasang needle. Kemudian menyuntikan cairan yang bisa membuat sakit Alif reda.


Wanita itu memberi selimut, kemudian duduk ditepi ranjang. Menatap dr Alif yang sudah mulai tenang hingga lelap karena efek obat yang tadi ia suntikan


Farah seolah lebih leluasa memindai kamar yang Alif tempati. Pria angkuh itu kini tak berdaya. Farah sudah sangat lama memendam perasaan. Tapi selalu penolakan yang ia peroleh. Farah masih bersabar karena Alif memang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.


Namun tanpa ia duga, tiba tiba saja berita pernikahan Alif tersiar. Farah sangat hancur, segala cara ia coba. Farah yakin dirinyalah yang paling mencintai Alif. Farah semakin terobsesi saat mengetahui Fakta bahwa Alif adalah putra dari konglomerat kaya bernama Haris Pradipta.


Tak terasa Farah berada di kamar Alif begitu lama. Hingga suara jeritan Nani terdengar. Antyka sudah pulang. Dengan sengaja Farah keluar dari kamar Alif. Dan Farah mendapatkan reaksi yang ia inginkan dari Antyka..


***


Antyka masuk kedalam kamar. Ia melihat Alif sedang tertidur. Nani sudah menceritakan semua kejadian yang dialami Alif. Perasaan menyesal dan bersalah di hati Antyka.


" Pak Alif, maafkan Anty" lirih Antyka berucap. Tangannya mengelus wajah Alif. Sebuah kecupan di kening Alif ia daratkan penuh rasa dan dalam, membuat rasa nyaman dan candu untuk Antyka


" Antyka...,Kamu baik baik saja ?'' Alif terbangun saat merasakan hangat di keningnya.


" Maaf pak Alif, tadi Anty pingsan kemudian di tolong orang"


"Pingsan...?"Alif terkejut dan sontak bangun dari tidurnya. Namun rasa nyeri akibat terjatuh tadi masih sangat kerasa. Alif meringis menahan sakit dan urung untuk bangun. Tubuhnya tetap terbaring.


"Anty, besok kak Mike akan jemput kamu pulang. Aku tidak mau kejadian ini terulang. Tinggallah di Jakarta. Tidak usah menunggu aku di sini. Tunggu aku pulang" Ucap Alif tegas


" Tapi pak Alif, Anty..." ucapan Antyka terpotong. Dengan teriakan Alif.


"Kamu tidak tau betapa cemasnya aku di sini Antyka. Aku sudah menduga duga yang tidak tidak terjadi denganmu. Tolong mengerti perasaanku, aku tersiksa dengan kaki sialanku ini. Aku gagal melindungi kamu disini. Perasaan seperti ini menyiksaku Antyka"


"Maaf" Antyka menunduk sambil berurai air mata.

__ADS_1


"Tidurlah di sini" Alif meminta Antyka tidur disisinya. Alif melihat Antyka yang tidak melawan dan tertunduk merasa semakin sakit. Mungkin ada ucapannya menyakiti hati Antika. Alif pun sama terluka.


Antyka tidur di sisi Alif, ia merasa sangat bersalah. Apalagi jika teringat Alif sampai terjungkal. Antyka memiringkan tubuhnya menyembunyikan wajahnya disisi tubuh Alif sembari terisak dan terus meminta maaf.


"Sudah Anty, aku tidak marah. Aku hanya cemas dan takut. Kalau kamu benar benar hilang" Tangis Antyka benar benar membuat Alif pilu.


Selang beberapa saat, Isak Antyka mereda. Keduanya hening saling menyelami perasaan.


" Besok kak Mike datang menjemput kamu. pulanglah, aku akan berusaha untuk sembuh. Kuliah yang benar biar cepat selesai. Tidak usah pikirkan aku. Ada orang orang Mike yang akan merawat. Aku juga minta maaf Anty sudah membentak kamu tadi" Ucap Alif pelan setelah perasaan mereka mereda.


Antyka hanya bisa pasrah. Dia sadar betul keberadaannya justru membuat kondisi Alif tidak baik.


"Anty masih boleh telepon" ucap Antyka ditengah rasa kecewanya.


"Iya, aku akan menelepon mu setiap malam"


"Janji..? " Mata Antyka sudah berkaca kaca. "Pak Alif, jangan biarkan dr Farah masuk Apartemen ini. Anty tidak suka"


"Iya, aku tidak mengundangnya. Tiba tiba saja dia datang dan menolongku, Antyka" Sekilas ada senyuman terbit di wajah Alif. Bagaimana bisa Antyka masih berpikiran untuk cemburu padanya, yang untuk bergerak pun harus di bantu.


"Terima kasih, Anty lega" Antyka mengerjapkan matanya. Mengusir embun yang hampir meluber lagi. Istri mana yang rela ada wanita lain yang mendekati suaminya. Entahlah pikiran itu terlintas begitu saja di benak Antyka. Antyka memang belum bisa bersikap dewasa. Tapi dia sudah menjadi istri, naluri wanitanya bekerja.


***


Setelah mengatur segala kebutuhan Alif, Mike segera membawa Antyka ke bandara. Sepanjang perjalan Antyka hanya bisa diam. Sedang Mike sibuk dengan tabletnya. Antyka menatap jalanan, rasanya berat meninggalkan Alif di sana.


Mike meletakan tabletnya saat sudah berada di dalam pesawat. Pria itu hanya sesekali memperhatikan Antyka yang canggung dengan dirinya. Saat sudah berada di ketinggian. Tiba tiba saja Mike yang pendiam, memberi Antyka nasehat.


"Jangan sedih, semua akan baik baik saja. Maafkan Alif, bagi pria dalam keadaan seperti Alif sangatlah menyakitkan. Pria memiliki ego tinggi yang mungkin wanita tidak paham"


"Iya" ucap Antyka singkat. Mike hanya tersenyum sekilas pada adik iparnya yang masih belia. Ia jadi teringat pada istrinya sendiri waktu itu. Bahkan Lira masih lebih muda dari Antyka saat itu. Mike akui ia pria brengsek. Tapi cinta lah yang membuat ia bertindak nekat.


**


"Bunda, maafkan Anty" Antyka memeluk bunda erat. Bunda hanya bisa kembali mengusap punggung Antyka. Menenangkan perasaan Antyka. Ia tidak ingin Antyka kembali menangis. Di dekat mereka ada Mike yang masih berdiri dengan canggung.


"Iya" Ucap bunda menatap tajam menantunya.


Mike kemudian berjalan kearah mobilnya. Membukakan pintu untuk bunda dan Antika. kemudian menutupnya saat Antyka dan bunda sudah masuk ke dalam mobil. Mobil mulai bergerak menuju kediaman bunda.


Mike mengangkat tas Atyka hingga masuk ke dalam rumah. Kemudian ia berpamitan pada bunda yang sudah duduk di ruang tengah dengan Antyka


"Tunggu Mike" seru bunda saat Mike hendak meminta tangan bunda untuk berpamitan. Pria itu menunjukan tindakan yang mencerminkan rasa sopan pada bunda, meski bunda selalu bersikap ketus.


" Ya bunda" Mike menunggu bunda yang menuju meja makan.


"Bawa ini untuk Lira dan anak anak" bunda memberikan paper bag pada Mike.


"Terima kasih" ucap Mike pada bunda. Kemudian ia menyalim dan berpamitan untuk pulang. Terbersit rasa hangat di hati Mike. Meskipun bunda hanya menyebut nama Lira dan anak anaknya. tapi Mike tau kalau apa yang ada di dalam paper bag itu isinya makanan kesukaan Mike. Mike mencium aromanya .


"Kamu istirahat dulu. Nanti malam kita makan bersama" ucap bunda pada Antyka.


Antyka sudah berada di dalam kamarnya. Ia merebahkan diri diatas ranjang. Matanya menatap langit langit. Perasaannya hampa, Kemudian antyka membuka ponselnya memeriksa pesan yang masuk kemudian membalasnya satu persatu.


**


"Kamu dimana Anty? Kakak mau minta tolong. Kamu bisa mampir ke rumah mama ? Zeindra tidak bisa menemani omanya, Dia sedang ada tugas, Anty. Kak Luthfi dan mba Karin sedang di luar kota" Suara kak Luthfi dari sebrang sana.


" Iya, Anty nanti ke rumah mama. Anty telepon bunda dulu ya, kak. Anty minta ijin bunda"


"Kalau kamu bisa hubungi kak Luthfi lagi. Tapi kalau kamu tidak diijinkan jangan memaksa Anty. masih ada bik Asih yang bisa menemani mama"


" Iya kak, nanti Anty telepon lagi" Anty menutup ponselnya. Ia berjalan menuju tempat parkir karena di sana supir bunda sudah menjemputnya.


Antyka menelepon bunda meminta ijin untuk menginap di rumah mama karena sedang tidak ada orang yang menjaga mama. Bunda memahami keadaan mama Ajeng yang masih perlu pendampingan agar lebih terhibur. Bunda mengijinkan Antyka. Tapi itu pun hanya satu malam.

__ADS_1


"Pak , Antar saya ke rumah mama. Bunda sudah mengijinkan"


"Baik non"


*


"Ma, Anty datang" Antyka memeluk ibunya saat sudah sampai di rumahnya


" Mama kangen kamu, Anty. Kamu sehat nak? bagaimana perkembangan Alif" mama memberondong Antyka dengan pertanyaan.


" Mama..., tanyanya satu satu" Antyka menampakan wajah cemberutnya. Sedang mama hanya mencubit pipi Antyka pelan.


Antyka merebahkan kepalanya di pangkuan mama. Ia kembali menikmati rasa nyaman menjadi anak mama. Antyka menggenggam jemari mama dan menciuminya.


" Anty baik baik saja ma. cuma sekarang sedang lelah."


"Pantas wajah kamu seperti lesu gitu"


"Anty langsung dari kampus trus kesini ma"


"Sudah ijin sama bunda?"


"Sudah tadi lewat telepon"


" Trus Alif bagaimana perkembangannya?"


"Pak Alif hanya tinggal pemulihan, ma. Minta doanya, biar pak Alif cepat bisa jalan lagi. Anty tidak tega melihat pak Alif duduk di kursi roda. Kalau saja Anty tidak menelepon pak Alif malam itu. mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi kan, ma"


"Anty, sudah takdirnya. Jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang ini yang terpenting berusaha dan kamu bantu dengan doa. Ingat Anty, jangan menyesali semua yang sudah terjadi, iklas nak"


"Ma, Anty rasanya lelah. Anty juga rindu Ayah"


"Tidak boleh seperti itu Anty, kamu harus kuat. Perjuanganmu masih panjang. Istirahat sana di kamar mu. Mama selalu membereskan kamarmu seperti biasa"


" Ma, boleh Anty tidur dengan mama?" Antyka merajuk. " Boleh ya, ma?" Antyka merajuk lagi, Mama hanya bisa mengiyakan.


" Sekarang tidur di kamarmu sendiri sana. Nanti malam baru tidur sama mama"


"Sebentar ma, Anty masih mau tiduran di pangkuan mama"


" Hmm manja" ujar mama sambil mengelus kepala putrinya.


"Ma, tau gak ? bunda itu sayang banget sama Anty. Anty beruntung punya mertua kaya bunda. Anty juga bersukur lahir dari mama yang cantik, pintar dan bijak"


"Mama juga bersukur, memiliki kak Luthfi dan kamu dalam hidup mama. Kamu tau, Anty? bagi mama kalian adalah keajaiban hidup mama"


Antyka bangun dari pangkuan mama. Memeluk mama dan mencium pipinya. Kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Begitu membuka pintu kamar Antyka langsung menatap kearah foto diatas meja belajarnya. Foto bersama Ayah dan mama. Saat itu bahagia adalah miliknya. Ayah yang selalu melindunginya juga mama yang penuh perhatian. " Semoga Ayah bahagia disana. Anty janji akan jadi orang yang kuat dan membanggakan Ayah"


Saat malam menjelang Antyka Sudah bersiap masuk ke kamar mama Ajeng.


" Kamu seriusan mau tidur sama mama?" Mama tersenyum geli.


"Ih mama, ya serius dong, ma"


"Mau di tepuk tepuk juga ?" mama masih menggoda Antyka.


" Boleh ma, kangen"


" Ya ampun Anty, kamu itu" mama Ajeng jadi gemas sendiri dengan putrinya.


Malam itu mama Ajeng bernostalgia dengan Antyka. Bagaimana kisah cinta mama dan Ayah bermula. Antyka selalu terpesona dengan keharmonisan Ayah dan mama. Yang Antyka tau mereka selalu saling mencintai.


Ada sebuah kisah yang baru saja Antyka ketahui. Teryata mama dan Ayah pun pernah menjalani hal hal yang menyakitkan. Namun takdir kembali mempertemukan mereka , Menyatukan hingga maut yang memisahkan mereka kembali. Yang Antyka tau cinta mama dan Ayah sangat luar biasa.


"Maaf ya ma, Anty jadi membuat mama sedih lagi" Antyka mengusap bulir bening yang mengalir di pipi mama.

__ADS_1


" Sudah Anty kamu tidur, biar mama tepuk tepuk bokong kamu" Mama mencoba kembali tersenyum. Ayah memang sudah pergi. Tapi di depannya ada Antyka. Hadiah terindah yang ia miliki bersama prof Damar. Dalam sujud nya mama Ajeng selalu berdoa, Semoga kelak bisa bersama di Jannah.


Antyka terlelap dengan usapan mama. Sampai ia lupa ada janji dengan Alif untuk saling bertukar kabar. Ponsel di dalam tas Antyka terus berdering. Alif di sana berulang kali mencoba untuk menghubungi Antyka. Namun Antyka tidak menjawabnya ......."Kamu dimana Anty, katanya rindu?" lirih Alif dalam kekesalannya.


__ADS_2