
Membuang rasa kecewa itu tidak mudah apalagi disertai dengan perasaan yang melukai harga dirinya. Butuh efort yang besar untuk bisa kembali menatap, mata mata yang akan memandangnya dengan aura cibiran. Tidak semua mencibir, tapi ada juga yang menatap memelas atau kasihan.
" Aku tidak butuh dikasihani aku juga tidak ingin di hujat. Aku ingin semua orang menatapku biasa. Aku berterima kasih justru jika kalian tidak perduli tentang perasaanku saat ini'' itu yang ingin Antyka katakan pada orang orang yang ada di sekelilingnya. Baik itu saudara, teman atau pun para karyawannya.
Langkahnya tergesa memasuki sebuah kantor yang berukuran sedang. Seorang pegawai menyambutnya dengan ramah.
" Silahkan duduk Bu, Sebentar lagi Pak Farid datang" ucap pegawai yang mempersilahkan dirinya duduk.
Matanya menyapu ke seluruh area kator yang terlihat sedikit berantakan. Sepertinya ruangan ini perlu di tata ulang.
"Maaf menunggu lama" Saapan dan suara berat seorang pria membuyarkan lamunan Antyka.
"Tidak apa pak, saya juga baru datang" gugup Antyka sembari berdiri. Beramah tamah dengan pemilik kantor.
"Saya Farid" Pria matang itu mengulurkan tangannya. Mata tajamnya menatap wajah ayu milik Antyka. Bahkan memindai dari atas hingga bawah. Kemudian ia kembali duduk tanpa melepaskan pandangannya.
" Saya Antyka pak...., Saya sudah membawa katalog yang bisa dijadikan referensi bapak. Antyka menyerahkan katalog pada pak Farid. Antyka langsung menunjukan profesionalitasnya. Ia tau pria di depannya tertarik dengan penampilannya. Tatapan seperti itu sudah biasa ia dapatkan dari klien pria .
Sejenak pria itu dengan serius membuka lembar demi lebar katalog yang Antyka berikan.
Kemudian menutupnya. Sepertinya tidak tertarik. Ia lebih suka menatap lawan bicaranya dengan intens.
" Saya mau desain yang baru, berbentuk atasan dan juga bawahan. Saya ingin model yang simpel, nyaman, dan juga kuat atau awet. jangan lupa logo perusaan harus terlihat dominan. Kami akan gunakan baju ini untuk di lapangan. Saya juga ingin warna dasarnya gelap" tegas Farid sambil terus menatap Antyka.
"Oh bisa, nanti kami buatkan desain kusus. Boleh saya foto logo perusahaan bapak?"
"Tentu saja"
Setelah mendapat ijin dari pemilik, Antyka segera memotret logo perusahaan dan ia simpan.
"Diminum dulu mbak Antyka" Ucap Pak Farid ramah. Antyka pun kembali duduk dan meminum jus yang sudah di sediakan di meja.
"Dua hari lagi saya datang dengan desain baru yang bapak minta"
"Oh ya, saya tidak sabar dengan hasilnya. Mbak Antyka sudah lama berkecimpung di usaha ini? Kelihatannya mba Antyka masih sangat muda, tapi usahanya sudah lumayan besar"
"Tiga tahun pak, saya hanya meneruskan usaha mama saja"
"Sudah menikah?" tiba tiba pertanyaan pribadi terselip diantara obrolan bisnisnya. Farid masih menunggu jawaban Antyka yang mendadak diam.
"Sudah pak" lirih Antika tidak ingin membahas hal pribadi lagi .Hatinya sudah cukup sakit dengan apa yang telah menimpanya.
Tampak raut kecewa di wajah pak Farid. pria itu menghembuskan nafas kasar. Gerakan Farid terbaca oleh Antyka. Antyka tidak berharap banyak dengan proyeknya kali ini. Kliennya sedikit membuat jengah. Tapi ia masih bersikap profesional saja.
"Begitu ya..? tentu saja wanita secantik mba Antyka pasti banyak yang menginginkan" Farid terkekeh " Kita ketemu lagi dua hari kedepan, mba Antyka. Senang berkerja sama dengan wanita cantik" ucap Farid pada Antyka
"Kalau begitu saya permisi" Antyka memohon untuk undur diri setelah semua pembicaraan mereka selesai. Antika menenteng tas dan juga beberapa buku katalog untuk meninggalkan kantor milik Farid.
" Mba Antyka..., bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
"Maaf pak Farid, saya sedang buru buru. Mungkin lain kali" Antyka menolak secara halus. Tidak mungkin ia menolak secara terang terangan . Ia tidak mau menyinggung perasaan pak Farid
"oke..., pertemuan selanjutnya saya akan menagih janji mba Antyka " Ucap Farid sambil tersenyum penuh arti .
Saat berjalan keluar Antyka berpapasan dengan beberapa orang pegawai yang bekerja di kantor ini. Ia mengangguk ramah sembari melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir.
Antyka menghempaskan tubuhnya diatas jok mobil. Memejamkan mata sejenak mengusir penat. Kali ini dia benar benar lelah berurusan dengan makhluk yang bernama pria.
Siang itu cuaca sangat panas. Antyka melajukan mobilnya dengan tenang. Tatapannya fokus kearah jalan raya yang cukup lenggang. Sayup suara musik dari dalam tape mobilnya memberi rasa tenang.
Sudah satu bulan sejak peristiwa gagal menikah. Antyka terseok kembali menata diri. Menguatkan diri kembali bertemu dengan orang orang yang mungkin mengenalnya atau bahkan orang orang yang tau tentang kejadian itu.
Antyka memarkirkan mobilnya di restoran milik Ayahnya. Ia bertemu dengan manager resto dan menerima beberapa laporan yang harus ia periksa. Keduanya berdiskusi untuk mengembangkan menu baru yang sedang trend saat ini.
__ADS_1
"Koki kita sudah membuat eksperimen untuk menu baru kita. Kemarin saya dan beberapa orang sudah mencobanya. Kalau Bu Antyka ada waktu untuk mencicipinya. Koki akan segera menyiapkan kembali. Sebelum benar benar kita jual"
"Besok siapkan saja, saya akan datang pagi" janji Antyka. Dan hatinya bergumam semoga besok tidak ada drama antara Caya dan dirinya
"Baik, siap bu"
"Kalau begitu saya pulang dulu. Laporan akan saya periksa di rumah saja"
Antyka membawa beberapa lembar laporan harian dari restorannya. Sudah hampir sore ia akan segera pulang. Ia sudah sangat rindu dengan Cahaya.
"Momy, sudah pulang?" Cahaya segera menghampiri Momynya yang baru masuk dalam ruang tengah. Cahaya mengulurkan tangannya. Tapi Antyka justru membentangkan tangannya sambil berlutut agar tinggi mereka sejajar.
"Ia sayang, momy kangen sama Caya" Memeluk Caya adalah obat, obat yang bisa menenangkan perasaan dan juga emosinya. Menghirup wangi tubuh Caya yang menjadi aroma terapi.
"Momy, cape...?" wajah cantik didepan Antyka bertanya dengan mimik polos. Antyka menatap wajah putrinya dan menggeleng.
"Capek momy hilang karena sudah bertemu Caya" ucap Antyka sambil mengurai pelukan mereka dan mencium kening Caya.
Caya mengikuti langkah Antyka masuk kedalam kamar. Seperti biasa ia akan menunggu sang Momy selesai mandi.
"Gimana sekolah Caya tadi?" tanya Antyka setelah selesai mengenakan piyama
" Tadi Caya belajar membuat kolase"
"Seru dong?" Antyka sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur bersama Caya.
"Iya tangan Caya lengket kena lem" Ujar Caya sambil tertawa memeragakan tangannya yang lengket. " Caya di jemput Daddy pulangnya, trus Caya makan di restoran mommy tapi tidak ketemu mommy di sana"
" Momy lagi ketemu klien, Caya" Ucap Antyka seraya bersukur tidak harus bertemu dengan Alif. Rasa enggan ada kesal dan juga perasaan rendah diri jika harus bertemu Alif lagi. Hampir satu bulan ini ia berhasil menghindari pertemuan atau pun interaksi.
Antyka kembali memeluk Caya dalam dekapannya. Mencurahkan perasaan sayang dan ingin terus memanjakan putrinya. Hingga suara bel rumah berbunyi nyaring beberapa kali. Caya menatap mata sang Momy lekat gadis kecil itu membiarkan Antyka mengenakan penutup kepalanya
" Momy kedepan dulu ya, ada tamu Caya" Antyka bergegas keluar dari kamarnya.
" Pak Alif...." Antyka terkejut bukan main. Hampir saja ia menutup pintu kembali secara reflek. Namun lengan kokoh Alif menahannya.
" Bisa lewat pesan, tidak harus kemari. Aku sedang lelah"Ucap Antyka sambil terus berusaha menutup pintu.
" Caya Daddy datang" Seru Alif keras menarik perhatian Caya. Benar saja tidak menunggu lama Caya sudah muncul dan melihat Antyka sedang berusaha menutup pintu.
"Momy, nanti tangan Daddy terjepit pintu" Jerit Caya setengah terisak. Antyka akhirnya menyerah. Alif dengan leluasa bisa masuk kedalam rumah dan menggendong Caya.
Antyka masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia membiarkan Alif bersama Caya. Dalam kamar pun Antyka masih menahan amarah. Entahlah segala kesialan yang menimpa dirinya seolah ia lampiaskan pada satu tersangka yaitu Alif.
"Caya sudah makan malam?" Tanya Alif pada putrinya. Dan Caya menggeleng. Alif meletakkan satu kantung plastik yang dari tadi ia tenteng. " kita makan bareng nya? sana, panggil momy"
Caya dengan patuh mengetuk pintu kamar Antyka. Suara kecilnya memanggil manggil sang Momy.
"Ada apa Caya?" ucap Antyka
"Caya lapar Caya mau makan malam sama momy juga Dady" rengek Caya.
"Caya..., momy belum lapar. Caya mau kan kalau makan sama Dady saja?" rayu Antyka pada putrinya. Padahal ia menghindar dari bertemu mantan suaminya.
"Mommy ayo makan, nanti bisa sakit perut kalau menunda nunda makan. Iya kan, Caya?" Ucap Alif. Lancang sekali, Alif sudah berdiri dekat dengan Caya, menciptakan suasana hangat agar Caya tidak melihat aura permusuhan antara Momy dan Daddy
Caya menggandeng lengan Antyka menuju meja makan. Ia sedikit terkejut saat melihat meja makan yang sudah di penuhi menu yang tidak di buat oleh bik Asih.
"Tadi Daddy yang bawa momy, Daddy masih ingat lauk kesukaan momy" Alif berucap sok akrab membuat mata Antyka melotot. Tapi Alif dengan cuek mengambil tempat duduk persis di samping Antyka.
"Perasaan momy gak doyan ini deh, Daddy lupa?" Antyka membalas kelakuan Alif. Ia menyangkal apa yang Alif katakan.
"Oh ya...Caya tau kan kalau berbohong itu dosa? Tapi momy kamu cuma bercanda. Caya tau kan ?" Alif tidak mau kalah.
__ADS_1
"Doa dulu momy, Daddy kalau mau makan. Bukannya ngobrol terus" Caya sepertinya mulai merasakan aura permusuhan yang tidak menyenangkan.
Mereka memulai makan malam seperti saran dari putri mereka dengan tenang. Sesekali Alif melirik kearah Antyka , Dan sesekali pula Antyka berdeham memberi tanda pada Alif bahwa ia tau Alif sedang menatap dirinya intens.
Caya meminta Alif agar tidak pulang dulu. Keduanya masuk dalam kamar Caya. Selang beberapa saat Caya sudah tertidur. Ketika Alif hendak keluar kamar Caya, Antyka datang. Alif meletakkan jari telunjuknya diatas bibirnya.
"Caya sudah tidur momy" Ucap Alif masih sok akrab.
"Apa sudah sikat gigi?"
"Sudah"Jawab Alif sambil keluar kamar Caya mengikuti langkah Antyka.
"Silahkan pulang!"
"Aku mau bicara sebentar"
"Kita tidak ada urusan lagi, tidak usah sok akrab" suara Antyka ketus
"Momy...., aku suka memanggilmu seperti Caya. Bagai mana kalau kita setiap hari seperti ini?"
"Mimpi, jangan terlalu banyak menghayal. Pulang...! atau aku lapor kak Luthfi, kalau kamu berbuat yang tidak menyenangkan di rumahku"
"Kak Luthfi tidak akan percaya. Dia justru akan menyuruhku untuk menginap disini"
"Dasar gila" pekik Antyka sangat kesal
" Anty, kamu baik baik saja kan? Aku kangen sudah satu bulan ini tidak melihatmu. Jadi aku nekat datang malam ini. Sebelum kesini aku kerumah kak Luthfi. Mama mengeluh sakit di bagian lututnya"
"Besok aku bawa mama ke dokter. Pak Alif tidak usah ikut campur urusan kami"
"Anty kita nikah lagi" Ucap Alif tanpa menggubris ucapan Antyka yang menyakitkan. justru ia memancing emosi Antyka dengan wajah tanpa dosa.
"Cukup pak Alif, aku sudah lelah"
"Kita menikah lagi Anty, turunkan egomu...,. Apa kamu tidak lihat Cahaya begitu bahagia saat kita ada disisinya"
"Aku yang tidak bahagia, jika menikah dengan pria sepertimu. Aku tidak akan mengulangi kebodohan ku untuk yang kedua kali''
"Anty... aku sayang kamu dari dulu sampai sekarang"
"Sayang yang seperti apa? menceraikan aku saat mengandung Caya, tanpa tau salahku di mana. Semua menghilang, bukankah aku seperti orang bodoh? aku tidak mau di bodohi lagi, meski untuk membuat senang Cahaya. Suatu saat Cahaya akan paham apa yang aku lakukan sekarang"
"Kamu benar Anty, aku salah, maaf. Aku terbawa suasana. Maafkan aku yang tidak tau diri ini"
Antyka melihat perubahan mimik wajah Alif yang terlihat sangat kecewa. Pria itu masih berdiri di belakang Antyka.
" Pulanglah, kita jalani hidup kita masing masing. Kita akan bekerja sama jika menyangkut Cahaya. Aku lelah ingin istirahat"
" Anty, besok kita ke sekolah Caya. ada undangan dari guru Caya. Kata mereka, Caya akan pentas"
"Iya aku datang" Lirih Antyka
" Aku jemput kamu, ya? Biar tidak banyak pertanyaan dari orang orang. Kenapa kita datang sendiri sendiri"
Sejenak Antyka diam memikirkan tawaran dari Alif. Mempertimbangkan situasi yang akan terjadi. Bagaimanapun rasanya masih canggung. Ia belum bisa terlalu dekat dengan Alif lagi, juga pria lain. " Kita ketemu saja di depan sekolah Caya" ucap Antyka sambil menuju ruang tamu. Setengah mengusir ia membukakan pintu.
"Maaf , ini sudah malam. Kita tidak pantas berdua seperti ini. Hati hati di jalan"
"Baiklah aku tunggu kamu besok di depan sekolah Caya. Jaga diri baik baik" Alif meninggalkan rumah Antyka.
Antyka mengunci pintu, sambil terus berdiri di balik pintu. Tiba tiba ia menangis begitu saja. Rasanya ada sesuatu yang menyakiti dirinya tapi Antyka sendiri tidak tau alasan di balik semua.
Dia telah berhasil mengusir Alif tapi dia sendiri yang merasa sakit. Selalu seperti ini setiap kali bertemu Alif.
__ADS_1
Andai saja pria itu tidak pernah melukainya. Ingin sekali Antyka memeluk tubuhnya, bersandar di bahu kokohnya, berbagi perasaan yang begitu berat. Hingga bersembunyi di dadanya. Antyka hanya bisa menanti Alur waktu saat ia mencoba kembali bangkit.
Dan malam terus bergulir. Mata Antyka tidak bisa terpejam. Tiba tiba saja ia merasa sendiri dan sunyi. Kembali rasa rindunya datang kelebatan kenangan indah yang pernah ia lewati bersama Alif. Saat ini ia hanya bisa mendekap guling yang menjadi saksi kerapuhan yang selalu ia sembunyikan dari orang orang.