Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
46. Projek yang gagal


__ADS_3

Alif kembali melirik jam yang ada di tangannya. Ia masih berdiri di samping mobil mewahnya sembari menunggu Antyka datang. Pagi itu begitu cerah, hampir seluruh wali murid datang ke Acara yang sebentar lagi akan dimulai


"Maaf, tadi terjebak macet"Suara Antyka mengagetkan Alif yang masih menatap lurus kearah jalan raya. Antyka yang baru saja sampai sudah berada di belakang Alif. Dia mengenakan rok tutu panjang dan blouse warna putih tulang dengan hijab motif. tampak Anggun dan bersinar.


"Kita masuk Anty, Caya pasti sudah gelisah menunggu kita" Alif segera mensejajari langkah Antyka masuk ke dalam Aula yang sudah di siapkan.


"Kita temui Caya dulu sebelum ia tampil" Alif menggandeng Antyka menuju belakang panggung. Antyka yang ikut antusias sepertinya tidak peduli dengan posisi tangannya yang di gandeng Alif.


"Caya..." Alif berseru melambaikan tangannya. Caya menoleh dan tampak tersenyum senang melihat kedua orang tuanya datang. Caya pun membalas lambaian tangan Alif.


Waktu pementasan sudah hampir di mulai. Alif dan Antyka kembali ke tempat yang sudah di sediakan.


"Kita duduk di sini Anty, biar Caya masih bisa melihat kita"


"Iya terimakasih" Antyka tidak protes saat Alif menunjukan tempat duduk mereka yang ada di barisan depan.


"Kamu tau, Caya mau menampilkan apa ?" Tanya Alif membuka percakapan.


" Tidak, satu Minggu ini kan giliran pak Alif yang antar jemput" sahut Antyka sambil menoleh " Bahkan aku tidak tau kau Caya akan tampil"


"Iya, kamu sibuk. Kita lihat saja nanti. Aku sudah mendapatkan bocorannya" Alif memamerkan senyuman kasnya. Senyuman hangat yang dihiasi lesung pipit.


Acara mulai berjalan, dibuka dengan tarian beberapa anak dengan kostum lebah. Gerakan kas anak TK yang tidak terlalu kompak. Tapi justru disitulah daya tariknya. Keluguan tingkah polah mereka yang lucu membuat penonton gemas.


"Apa Caya tampilnya masih lama?" Ucap Antyka penasaran sambil menikmati nyanyian empat anak laki laki yang sedang tampil setelah penampilan tari lebah.


Alif mengangkat bahunya sambil tersenyum. "Aku tidak tau urutannya, kita lihat saja nanti"


"Mereka sangat lucu dan menggemaskan" Antyka tersenyum seraya matanya tetap menikmati pertunjukan.


"Anak laki laki memang seperti itu, lebih sulit diatur. Lihat mereka justru berkumpul di mic yang sama meski ada dua mic" Alif pun ikut mengomentari.


Sejenak Alif dan Antyka melupakan ketegangan mereka. Menikmati acara demi acara hingga nama Caya di panggil untuk tampil kedepan. Caya mengenakan terusan merah kotak kotak dengan aksen warna hitam. Tampak serasi di kulit Caya yang putih. Rambutnya dibiarkan terurai dengan hiasan bando warna merah.


Caya membungkuk memberi hormat pada penonton. Ia berdiri di tengah podium dengan percaya diri. Sebuah puisi indah tentang seorang ibu


Puisi yang membuat Antyka terbawa perasaan. Meski Antyka tau itu bukan karya dari putrinya. Tapi setiap baitnya sangat menyentuh perasaannya sebagai seorang ibu.


Antyka juga sangat bangga, Caya tampil begitu percaya diri. Suaranya lantang dan juga jelas. Alif yang duduk di samping Antyka tidak mau kehilangan momen langka. Tangannya sibuk mengabadikan aksi Caya diatas podium dengan kamera ponselnya. Tak terasa Mata Alif pun berembun, tertanda rasa haru menyeruak.


Caya tumbuh begitu baik bersama Antyka. Ingin rasanya Alif merengkuh wanita yang sekarang ada di sampingnya. Meluapkan rasa terima kasih, Meski harus berjuang sendiri di masa yang sulit. Bahkan ia memberikan goresan luka di hati Antyka waktu itu. Tanpa sadar Alif meraih jemari Antyka sambil terus menatap penuh puja.


Antyka menoleh dan menatap jemarinya yang masih dalam genggaman Alif. Antyka mengibaskan tangannya membuat Alif tersadar atas kelancangan ya. Wajahnya bersemu malu dan kawatir. Alif takut Antyka berpikir yang tidak tidak. Beruntung fokus Antyka kembali keatas podium. Sebuah nyanyian penutup oleh semua anak anak yang sudah berani tampil. Gemuruh tepuk tangan menggema mengahiri pementasan anak anak hari itu.


"Caya pinter sekali ya, momy bangga" Antyka memangku Caya sambil mengecupi pipi Caya setelah acara usai.


Caya hanya tersenyum senang. Kemudian mata gadis kecil ini beralih pada Daddynya.


"Caya senang, Daddy dan Momy bisa datang" Ucap Caya sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya. Mereka berjalan menuju mobil Alif.


"Caya mau ikut momy ke kantor?" tanya Antyka pada putrinya.


"Momy sibuk, Caya mau minta hadiah boleh?" Caya menatap penuh harap.


"Karena Caya sudah sangat pintar, Daddy akan mengabulkan keinginan Caya. Caya mau apa?"


ujar Alif.


"Caya mau jalan jalan di taman sama momy dan Dady, boleh? Teman Caya suka cerita sering kesana dengan ayah bundanya"


"Boleh" ucap Alif cepat.


"Tapi pak Alif, aku harus ke restoran hari ini. Ada menu baru yang akan launching" Antyka tampak keberatan.


"Aku antar kamu ke resto dan menunggu sampai kamu selesai. Di resto ayah kan ada tempat istirahat. Aku akan menunggu disana dengan Caya.


"Pak Alif nggak ke rumah sakit?"


" Tidak, aku sudah ijin hari ini"

__ADS_1


**


Langit sore di sebuah taman tengah kota, Udara yang tadi cukup panas kini berubah sejuk. Semilir angin sore, juga condongnya matahari memberi suasana tenang. Caya sedang bermain ayunan bersama seorang anak yang sebaya dengannya. Tingkahnya terlihat sok akrab.


Di bawah sebuah pohon yang cukup rindang Alif dan Antyka mengawasi. Terkadang Caya memanggil kedua orang tuanya meski hanya sekedar ingin di perhatikan.


"Caya terlihat senang Anty, apa dia tidak pernah bermain di taman? permintaannya cukup simpel. Aku pikir ia akan meminta boneka yang besar atau pergi ke mall untuk bermain timezone" ucap Alif yang kagum dengan permintaan putrinya


"Caya tidak terlalu suka dengan tempat tempat yang bising, tapi ia suka berinteraksi dengan teman sebayanya. Aku memang jarang membawanya ke taman seperti ini. Tapi pernah, walau hanya beberapa kali saja. Kehidupanku tidak mudah, Aku harus membagi waktu mengurus Caya dan juga menjemput rezeki. Meski kak Luthfi selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu memikirkan masalah materi. Ia menyanggupi untuk membiayai kehidupanku dan juga Caya. Terus terang saja aku sudah dewasa dan tidak bisa mengandalkan kak Luthfi terus menerus. Aku seorang ibu"


Antyka mengeluarkan isi hatinya yang terpendam. ia tidak mau Alif menyalahkan dirinya. Hidupnya sudah sangat sulit. Memiliki anak dan masih harus menyelesaikan kuliah waktu itu. Dan mulai bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya. Meski hanya meneruskan usaha orang tuanya.


"Kamu tidak pernah mau memakai uang tunjangan dari ku, Anty. Meskipun kamu tolak Aku tetap mengirim kan nya. Semua aset yang aku limpahkan juga kamu tolak" Alif membayangkan keadaan Antyka waktu itu. Alif paham betul, mantan istrinya wanita yang penuh harga diri. Lebih memilih sengsara dari pada harus bergantung pada orang.


"Coba saja pak Alif jadi aku, apa masih bisa menerima pemberian dari orang yang sudah menghancurkan masa depannya" Alif tidak bisa membantah ucapan Antyka.


Keduanya terdiam kemudian perhatian mereka beralih pada Caya yang mulai memanjat sebuah perosotan


"Caya hati hati' teriak Antyka.


"Beri aku kesempatan, Anty. Kita mulai dari awal. Aku akan menyembuhkan lukamu berlahan. Waktu itu aku..." Suara Alif serak "Anty..., andai aku tidak mengambil keputusan itu. Kamu pun tidak akan bahagia. Kau tetap akan merasa hancur saat bagian terpenting dalam hidupmu hampir...."


"Kita tidak tau karena aku tidak melewatinya. Mungkin sakit tapi tidak sehancur ini. Sudahlah kita tidak perlu bahas lagi"


"Daddy, Caya haus" Ucap Caya sambil merajuk mendekati Alif. wajah kecilnya di penuhi keringat yang mengucur. Antyka segera membuka tasnya dan mengambil sekotak tisu untuk mengelap keringat.


"Sebentar, Daddy mau beli minum dulu. Caya sama momy ya, tunggu di sini"


"Iya"


Alif meninggalkan Caya dan Antyka. Langkahnya bergegas ke arah sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari taman.


Alif memasukan tiga botol minuman dingin dan beberapa cemilan yang Caya dan Antyka sukai. Selesai membayar ia kembali menuju taman. Dari jauh Alif masih melihat Caya sedang duduk di pangkuan Antyka. Rambut panjangnya di usap lembut.


"Ini minumnya, Caya" Alif menyodorkan botol minuman yang sudah ia buka tutupnya pada Caya dan juga Antyka Masing masing satu.


" Daddy beli jajan juga?" Caya melirik kantung kresek yang Alif letakan diatas bangku taman.


"Cahaya ...." Seorang anak kecil menghampiri cahaya. Sepertinya dia sangat akrab dengan Caya. Alif menebak ini bukan pertemuan pertama mereka. Itu yang Alif simpulkan


"Bagas disini?" tanya Caya pada anak lelaki yang menyapanya.


"Iya" jawab Bagas sambil memamerkan gigi putihnya.


"Caya kenal sama bagas?" Antyka bertanya pada putrinya.


"Bagas teman sekolah Caya, momy" Jawab Caya sambil memberi Bagas satu bungkus Snack. Kemudian keduanya duduk di di bangku taman yang kosong. Entah apa yang mereka bicarakan. Keduanya tampak asik makan snack mereka masing masing. Kadang terdengar tawa dari keduanya


Seorang pria mendekati Bagas. Ia tampak panik dan ada amarah yang di redam.


"Bagas..., kamu disini. Papa hampir saja jantungan nyari kamu ke mana mana. Bisa gak lain kali kasih tau papa?" pria itu terus mengomeli Bagas.


"Maaf pa, bagas lupa" Bagas hanya tersenyum seperti sudah biasa menghadapi papanya yang sedikit emosian.


"Momy..." panggil Caya sedikit takut melihat papa Bagas yang terus mengomel.


"Maaf om buat kamu takut ya?" Ujar papa Bagas yang menyadari keberadaan teman anaknya. Pria itu ikut duduk dan memangku putranya. "Kamu sama siapa di sini?"


"Momy, Daddy" Caya menunjuk kedua orang tuanya yang duduk tidak terlalu jauh.


Melihat Caya di dekati pria asing Alif dan Antyka segera mendekat. Mereka berpikiran sama kawatir terjadi hal buruk. Meskipun tampang pria yamg ada di dekat Caya terlihat seperti orang baik baik.


"Caya.., sudah sore ayo pulang" Alif meraih tubuh Caya dalam gendongannya.


"Mba Antyka .., ah saya kira saya mimpi bisa ketemu mba Antyka di sini" papa Bagas mengenali Antyka


"Pak Farid papanya Bagas?''


"Teryata anak anak kita berteman baik" Farid terkekeh senang. " Saya akan menagih janji mba Antyka besok" Farid teryata masih mengingatnya." Kita bertemu di restoran Simpang tiga. Besok saya kirim waktu dan lokasinya" Farid semakin fokus.

__ADS_1


"Mas Alif..." Antyka memanggil Alif dengan nada manja. Mungkin ini cara ampuh untuk membuat Farid tidak lagi menggodanya.Itu yang terbesit di benak Antyka.


Lain lagi dengan Alif. Ia masih tidak percaya dengan pendengarannya. Ada keraguan dengan panggilan mesra Antyka. Kemudian tidak perduli apa Alasan Antyka memanggilnya seperti itu. Alif juga tampak tidak senang saat ada pria lain mencoba mendekati mantan istrinya. Itu yang Alif lihat saat Farid menatap Antyka dengan tatapan memuja


"Ini Daddynya Caya, kenalkan" ucap Antyka pada Farid saat memperkenalkan Alif


"Saya Alif Pradipta" Alif mengulurkan tangannya sembari masih menggendong Caya.


"Pradipta...,apa hubungan nya dengan tuan Haris Pradipta,?" tanya Farid bingung.


"Dia ayah saya"


"Jadi anda dr Alif Pradipta? Saya Farid, direktur Persada Mitra. Anak cabang dari Pradipta corp" keduanya berjabatan tangan. Farid tampak sopan setelah mengetahui siapa orang yang ada di depannya.


"Kita pulang sayang" Alif meraih bahu Antyka tidak menyia nyiakan sandiwara yang mulai ia mengerti.


Antyka mengikuti langkah Alif menuju mobilnya tanpa banyak protes.


"Jangan marah Anty, aku hanya mengimbangi sandiwara yang kamu buat. Aku ikut berakting sesuai peranku" Ujar Alif setelah mereka masuk dalam mobilnya.


Antyka melengos membuang arah pandangannya ke luar jendela. Membiarkan Alif berkata sesukanya. Dia akui memang dirinyalah yang memulai kejadian tadi.


"Aku titip Caya, satu minggu ke depan aku akan fokus di rumah sakit dan urusan bisnisku. Mike sudah mengomel karena aku terlalu lama tidak fokus pada pekerjaan, Sejak momy Caya batal menikah. Aku ikut merasakan dampaknya" ucap Alif sedikit menyindir saat mereka sudah sampai depan rumah Antyka.


"Pak Alif gak iklas merawat Caya?" Balas Antyka setengah kesal dengan sindiran Alif.


"Caya putriku, Anty. Aku tidak akan membiarkan dia terlantar. Sudah cukup waktunya kamu untuk patah hati. Tidak perlu lagi menjalin hubungan dengan pria lain. Lihat aku yang selalu menunggumu untuk kembali. Kapanpun kamu siap aku selalu ada"


"Aku tidak ingin kembali"


" Kamu pasti kembali Anty. Aku yakin itu, kita lihat saja nanti. Aku pasti bisa membawamu kembali"


"Aku dan Caya masuk dulu. Terima kasih sudah mengantar kami. Hati hati di jalan " tukas Antyka yang mengahiri sesi pertemuan mereka. Ia masuk kedalam rumah sembari menuntun Caya. Sebelum pintu tertutup Alif memanggilnya lagi.


"Anty...., apa yang harus aku lakukan. Agar kau bisa memberi aku kesempatan lagi" Alif berucap lirih penuh harap.


Antyka masih berdiri di pintu tidak menjawab. Tapi sorot matanya mengisyaratkan hatinya yang masih kecewa. Alif mengangguk dan meninggalkan Antyka menuju mobilnya. Antyka masih butuh waktu untuk memulihkan diri.


**


"Silahkan duduk mba Antyka" Ucap Farid saat mereka bertemu di sebuah restoran. Farid sedikit kecewa saat Antyka membawa seorang pegawai nya masuk ke dalam privat room yang ia sengaja pesan untuk bertemu Antyka. " Mba Antyka bisa kita bicara sebentar, berdua ? hanya saya dan mbak Antyka saja"


"Bicara tentang apa ya, pak. Katakan saja"


Farid tidak menjawab tapi melirik Asisten Antyka yang masih duduk. Merasa tidak nyaman Asisten Antyka minta permisi sambil memberi kode pada Antyka agar tetap tenang. ia meninggalkan alat record di pangkuan Antyka.


"Saya tau kalian sudah bercerai" ucap Farid sambil menatap Antyka yang menegang. Ia tersenyum dan kembali menekan Antyka. "Kamu berselingkuh kemudian di ceraikan. Tidak usah berlagak sok suci. Sekali selingkuh pasti akan selingkuh lagi. Mungkin ini keberuntungan untuk saya. Bagaimana kalau kita main sebentar" Farid menatap tajam sambil menelan ludahnya


"Bapak jangan kurang ajar. Jika tidak tau kebenaran yang sesungguhnya" Antyka sudah berdiri dan akan pergi meninggalkan Farid.


"Kenapa? saya bisa membuatmu senang. Kamu kesepian kan sejak mantan suamimu sakit dan berselingkuh. Aku bisa memuaskan mu"


Plakkkk .... tangan Antyka melayang di pipi Farid dengan telak. "Jangan kurang ajar, pak Farid. Saya bisa menuntut bapak" Antyka cepat bergegas pergi meninggalkan restoran diikuti oleh makian Farid yang tidak terima.


Asisten Antyka segera mendekat saat melihat Antyka yang keluar dengan tubuh bergetar penuh amarah. Ia menerima alat record yang Antyka berikan


"Bu Anty baik baik saja kan?" asisten Antyka tampak kawatir.


"San, kita gagal dapat projek. Dia tanpa basa basi langsung melecehkan aku. Tidak ada pembicaraan bisnis sama sekali. Dan aku juga langsung emosi. Tapi aku puas sudah menampar mulutnya yang kotor " Keluh Antyka pada Asistennya yang bernama Sandra. Ia duduk di balik kemudi dan menghela nafas dalam sambil menatap Sandra yang sedang memasang seatbelt.


"Tapi Bu Anty selamat. itu yang penting, Selain itu kita punya bukti rekaman kalau SPSI terjadi sesuatu"


"Aku kasian pada mereka yang sudah bekerja keras membuat desain yang bagus selama dua hari ini"


"Bu rezeki sudah ada yang atur. Pasti kita dapat ganti yang lebih baik"


"Kamu betul San, maaf ya aku menyesalkan semua ini. Apa jadi janda itu buruk sekali San? Aku tidak menggoda mereka tapi mereka kurang ajar dan tidak menghormatimu"


"Ibu gak boleh pesimis. Masih banyak orang orang baik di luar sana"Sandra menenangkan Antyka yang sudah hampir menangis untuk kesekian kali.

__ADS_1


"Kalau sedang seperti ini aku ingin menikah San. Akan ada orang yang melindungiku. Tapi takdir belum berpihak padaku. Sandra...., maaf ya aku malah curhat" Antyka segera menghidupkan mobilnya dan mulai fokus menatap jalanan yang cerah siang itu.


__ADS_2