Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
56.Penyelamat.


__ADS_3

"Anty, ini untuk mu" Karin menyerahkan gaun indah pada Antyka. "Mas Luthfi yang kasih, nanti malam kamu pakai ya, mba juga ikut kok"


Sedang Antyka hanya bisa bingung sambil menerima gaun cantik. Otaknya mengembara dan terbersit sebuah tanya yang ingin ia ucapkan pada Karin kakak iparnya. Namun pertanyaan itu urung ia ucapkan . Karin sudah beranjak pergi setelah memberinya gaun yang harus ia pakai nanti malam.


Antyka meletakan gaun ke dalam lemari bajunya. Ia duduk di depan meja riasnya. Melihat dirinya sendiri dalam diam. Matanya tiba tiba saja berembun. Beberapa waktu ia masih gundah dengan sikap Luthfi yang seolah memusuhi Alif. Padahal ia ingin sekali bertemu pria yang menjadi cinta pertamanya.


Suara pintu kamar yang terbuka mengagetkan lamunan Antyka. Ia menoleh pada sosok yang sudah berdiri tepat di depan pintu. Kak Luthfi mendekatinya. memegang bahu Antyka.


"Ikuti saja perintah kakak. nanti malam ada acara penting. Kolega kakak ingin kamu jadi partner di pesta itu"


"Anty tidak mau.."


"Ini perintah kamu harus ikuti apa yang kak Luthfi minta! kamu tidak usah protes" Ucapan Luthfi seolah mengiris relung hati Antyka yang sedang sangat rapuh karena merindukan Alif. Separuh hati Antyka sudah kembali jadi milik pria itu. Mana mungkin ia bisa berdiri berdampingan dengan pria lain, apalagi ia tidak mengenalnya. Dimana kak Luthfi, yang selalu melindunginya itu.


"Pukul tujuh kita berangkat. Percaya pada kakak Anty, ini untuk kebaikan kamu juga" suara Luthfi melemah, itu suara yang biasa Antyka dengar. Kakak yang penyayang yang selama ini ia kenal.


Luthfi mengusap pucuk kepala Antyka sebelum pergi meninggalkan kamar adiknya. Sedang Antyka tidak bergeming kembali menatap cermin yang ada di depannya.


Waktu merambat, hatinya mulai goyah ingin memberontak. Tapi mbak Karin sudah berhasil memoles wajah Antyka dengan cantik.


"Ade..., kamu selalu cantik. Mba mohon kamu turuti mas Luthfi. Percaya pada kami" ucap Karin menenangkan. Antyka yang gelisah


Akhirnya Antyka keluar dari kamar, wajah cantiknya selalu mencuri perhatian. Apalagi malam ini, dengan gaun pemberian Agra yang di titipkan lewat Luthfi. Gaun yang anggun dan elegan


Agra terlihat gelisah menunggu di loby hotel tempat Acara pesta berlangsung. Berulang kali ia melirik jam tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Antyka.


Agra terpaku saat melihat tampilan Antyka yang baru saja turun dari mobil bersama Luthfi. Tidak salah ia mengirim gaun pesta yang cantik pada Antyka. Kehadiran Antyka langsung menjadi pusat perhatian.


Dengan langkah tenang, Agra menghampiri Luthfi dan Antyka.


" Anty, tolong temani tuan Agra sebentar di pesta ini" Luthfi menatap tajam pada Antyka yang setengah hati saat Agra mengulurkan tangannya.


Melihat reaksi Luthfi, akhirnya Antyka menerima uluran tangan Agra. Agra tersenyum jumawa, Akhirnya dia bisa bergandengan tangan menuju pesta dengan wanita istimewa.


Agra melangkah penuh percaya diri, beberapa kali ia disapa dengan hormat oleh kolega koleganya. Tanpa ragu Agra terus menebar senyum.


"Terima kasih sudah mau membantuku, Antyka. Kita temui pemilik acara, dia orang yang sangat penting"


Antyka hanya tersenyum tipis dan mengikuti kemana Agra melangkah. Tiba tiba Antyka menghentikan langkahnya, arah pandangannya bertumbu pada sosok yang sudah membuatnya resah. Alif berdiri dengan kilatan api cemburu. Antyka tidak dapat menghindar. Hatinya terasa sakit mengingat itu semua.


"Tuan Mike, apa kabar?" Agra menyapa Mike.


Mike hanya tertawa dan menyambut Agra hangat, sepertinya mereka sudah sangat akrab. Mereka berbincang dengan bahasa yang Antyka tidak mengerti. Antyka gugup, sesekali saat Mike menatapnya dengan tatapan yang menusuk. Belum lagi Lira yang terlihat kecewa.


Kemudian Agra kembali memutari Area, menemui rekan bisnis yang ada di pesta ini sebelum ia duduk berdampingan dengan Antyka.


"Kamu gugup?" Suara Agra memecah konsentrasi Antyka yang terus mencari sosok Alif diantara kerumunan orang yang ada di pesta.


"Aku hanya tidak biasa" Ucap Antyka singkat. tapi matanya tetap mencari sorot mata Alif yang berkilat api cemburu.


Tiba tiba tangan Antyka seperti di remas oleh Agra, telapak tangan yang dingin. Antyka segera mengibaskan tangannya. Mengurai tautan jemari Agra. Ia tidak bisa membiarkan Agra berperilaku enaknya.


Agra tercenung, matanya melirik pada jemarinya yang terlepas dari jemari hangat yang mengalirkan rasa tenang dalam hatinya. Agra kembali meraih jemari Antyka setengah memaksa. Antyka membalasnya dengan tatapan tajam. Mata bening milik Antyka berkilat penuh Amarah, tapi Agra hanya tersenyum.


"Tenanglah, jangan memberontak. Kamu tidak ingin membuat keributan di sini kan? Kamu lihat seberapa besar pengaruh ku di sini. Jangan coba coba berontak!" Suara bisikan Agra begitu dekat di telinga Antyka. Agra tersenyum mendapati Antyka yang lebih tengang dalam genggaman.

__ADS_1


Mereka sedang duduk, menantikan acara selanjutnya, Agra tidak melepaskan tautan jemarinya dari Antyka, meski Agra tau Antyka terlihat gelisah tidak tenang. Tiba tiba seluruh lampu yang ada di dalam ruangan mati. Praktis terjadi kepanikan yang luar biasa. Kemudian di susul dengan guncangan berturut turut. Suasana di dalam sangat kacau.


Agra menarik Antyka agar tidak lepas. Bahkan pria itu memeluk sambil mencari jalan keluar di dalam kecacauan dan jeritan yang tidak terkendali. Suasana mencekam, tangis jerit dan dan juga teriakan. Agra seperti mendapatkan jalan untuk melarikan diri dari kerumunan dengan membawa serta Antyka.


Dalam suasana panik gelap dan cemas, Antyka tidak memberontak saat Agra mencoba melindunginya dan bergerak mencari jalan keluar. Antyka hanya pasrah saat ia dibawa Agra bergerak mencari jalan keluar.


Gedung yang mereka pijak kembali bergoyang, jeritan dan tangisan semakin menambah panik, Agra mengeratkan pelukannya, pria itu di tengah kekacauan masih berusaha melindungi Antyka.


"Aku takut" lirih Antyka dengan nafas yang tersenggal diantara himpitan orang orang yang berusaha mencari jalan di tengah kekacauan


" Jangan takut...., aku akan menjagamu dan kita pasti bisa keluar dari sini" bisik Agra tenang.


Agra terus bergerak sedikit demi sedikit hingga mereka bisa keluar dari gedung. Agra mendapati tubuh Antyka yang lemah, Pria itu membopong Antyka sampai pelataran yang masih gelap gulita. Ya, akibat gempa yang mematikan aliran listrik dan beruntung gedung yang mereka tempati hanya berguncang tapi tidak sampai roboh.


Suasana di luar gedung pun mencekam gelap dan banyak orang yang panik, belum lagi suara tangisan yang merasa terpisah dari orang orang yang mereka cintai.


Agra menepuk nepuk pipi Antyka, setelah mereka berada di tempat aman. Detak jantung Agra seperti berlomba mendapati Antyka yang tiba tiba pingsan. Pria itu berusaha membuat Antyka sadar. Tiba tiba ada mobil pick up yang melintas dan di cegat oleh banyak orang yang meminta sang sopir mengantar mereka ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang Agra pun membawa Antyka berhimpit dalam mobil pick up menuju rumah sakit.


Ego Agra yang luar biasa, sesekali menyingkirkan tubuh yang tidak sengaja menyentuh Antyka. Agra menahan geram dan sibuk melindungi Antyka. Tidak lama rumah sakit yang mereka tuju sudah sampai.


"Aku di mana?" lirih Antyka sambil memegang kepalanya. Ia membuka mata dan semua tampak asing.


"Kamu sudah siuman? kamu aman Antyka, ada aku yang akan melindungi mu" Agra mengusap kepala Antyka.


Antyka mengerjapkan mata beningnya menatap Agra, Mengapa pria ini ada disini? Padahal ia tadi bermimpi Alif yang menggendongnya. Antyka menghembuskan nafas kasar. Antyka mencoba untuk duduk, seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Kita di rumah sakit?"


" Kamu sudah ingat? kita keluar dan pulang" Ucap Agra terlihat semangat. " Kamu haus?" Agra menyodorkan sebotol air mineral pada Antyka.


Setelah meminum air putih Antyka merasa lebih segar. Serasa mendapat suplai tenaga kembali.


"kita pergi!" ucap Agra tegas, pria itu terlihat tidak suka dengan keramaian. Setelah memastikan, Antyka baik baik saja ia putuskan untuk pulang.


"Kamu tidur saja, istirahat nanti saat sudah sampai aku akan membangunkan mu" Agra meminta Antyka untuk tidur saja selama perjalanan. Tanpa curiga Antyka yang masih merasa lemah menuruti saja.


"Ini dimana?" Antyka yang merasa asing terus bertanya pada Agra. Mereka memasuki sebuah rumah yang mewah dan besar. Beberapa penjaga ada di depan berjajar. Antyka mulai merasakan hal yang mencurigakan.


Agra semakin erat mencengkram pergelangan tangan Antyka. Antyka merasa ini salah, ia harus segera pergi dari tempat ini.


"Kamu aman bersamaku" ucap Agra dingin.


"Aku mau pulang...tolong biarkan aku pulang?"


"Belum saatnya, aku masih ingin bersamamu. Setelah urusan kita selesai. Aku sendiri yang akan mengantarmu" ucap Agra tegas


"Untuk apa disini? keluargaku, pasti mereka cemas mencariku"


"Ha ..ha...ha..." Agra tertawa lepas mendengar ucapan Antyka. "Mereka tidak mencari mu lagi, bisa jadi mereka yang harus kamu cari. mungkin saja mereka terjebak diantara reruntuhan gedung"


"Tidak....., kamu bohong. Mereka pasti baik baik saja" sungut Antyka sambil memberontak saat Agra terus berusaha mendorongnya dalam sebuah ruangan yang ada di dalam rumah itu.


Agra mengunci ruangan yang mereka masuki. Pria itu pun menyalakan lampu agar terlihat terang. Kemudian dengan santai ia duduk di sofa sambil menatap Antyka yang terus mencoba menggedor pintu yang sudah ia kunci.


" Duduk! jangan bodoh, aku hanya ingin berbincang saja denganmu" Agra menarik Antyka dan didudukan di atas sofa. Ia menatap tajam dan meraih jemari Antyka kemudian meletakkan telapak tangan Antyka di dadanya.

__ADS_1


"Kamu bisa merasakan ini? Kenapa jantungku berdebar aneh saat bersamamu. Aku suka saat duduk berdekatan seperti ini dengan mu. Aku tidak tau ini apa, Antyka? Aku merasa gelisah tapi melihat mata beningmu aku nyaman."


Antyka mencoba menarik telapak tangannya dari dada Agra. Tapi Agra tak membiarkan itu terjadi.


"Mungkin ini yang di rasakan oleh Ayahku hingga tidak bisa menatap ibuku. Rasanya memang memabukkan, Antyka." Tiba tiba Agra kembali tertawa keras. Ia mentertawakan kebodohannya sendiri terjebak rasa pada Antyka.


"Aku sering bertemu wanita di luaran sana, tapi tidak ada yang matanya seperti kamu, Kamu....., kamu...memiliki apa?"


Breettt, Agra menarik kerudung yang Antyka pakai, Agra ingin melihat dengan jelas Antyka wanita seperti apa, secara utuh. Pria itu ingin memastikan dirinya tidak salah menilai. Tapi perbuatannya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Seketika Agra membeku, melihat wajah utuh milik Antyka, Rambut hitamnya terurai terlihat berkilau di terpa cahaya lampu, kecantikan yang tersembunyi kini tampak terlihat dengan jelas. Agra semakin menggila. Nalurinya menuntut ingin menyentuh hal indah yang membuatnya berdebar dan nyaman, terus berulang.


"Kamu sangat cantik" Desis Agra tanpa sadar, ujung jemari Agra menyentuh kulit putih yang terasa lembut di bagian pipi Antyka. "Kamu..., sangat lembut, aku suka"


Antyka semakin ketakutan saat Perlakuan Agra semakin tak terkendali. Mata beningnya berembun, dadanya sesak. Ingin memaki Agra yang sudah berani menyingkap kan hijabnya, bahkan menyentuh pipinya.


Dengan sekuat tenaga Antyka mendorong Agra yang terbuai dengan tampilan ragawinya. Tubuh Agra terdorong beberapa langkah mundur. Mata Agra berubah dari sayu menjadi berkilat penuh amarah.


"Dengar, kamu sudah berada di genggamanku, Antyka. Tidak ada gunanya melawan. Jangan membuatku tersinggung. Aku bisa memberikanmu apa yang kamu inginkan. Tatap aku, di sini, dadaku terasa gersang. jangan kau Sulut api yang bisa membahayakan kita"


"Tuan Agra, lepaskan saya. Kenapa tuan melakukan ini? saya salah apa?"


"Banyak sekali, Kau...., tepatnya ibumu telah merenggut orang orang yang harusnya ada di sisiku"


"Mama tidak pernah menyakiti orang" Isak Antyka terkejut.


"Lihat foto pria yang ada didinding itu. Dia tidak mau bertanggung jawab setelah menghamili ibuku karena wanita murahan bernama Ajeng"


"Stop....itu tidak mungkin!"


"Aku lahir dan terlantar di negri orang. pria ini, Kristanto dibutakan hatinya dengan cinta pada sosok Ajeng sampai akhir hidupnya.;Pria ini rela membuang darah dagingnya" Agra kembali tertawa.


" Aku yang membakar restoranmu, aku yang merusak usaha garment mu. Aku juga akan menghancurkan usaha tuan Luthfi dan kamu. Kamu harus merasakan penderitaan yang ibuku dan aku alami selama ini" teriak Agra penuh amarah.


"Dari awal aku sudah ingin menghancurkan kamu, tapi mata beningmu membuat aku terpesona dan teralihkan. Sekarang diamlah tatap aku" Agra semakin mendekat. Mata bening Antyka sudah melelehkan bulir bening yang merambat di pipi.


"Aku suka kamu, Antyka. Tolong hapus rasa yang menyiksaku. Rasa dendam yang membuat aku sesak, juga rasa benci. Aku ingin memilikimu" Agra menghapus lelehan air mata Antyka di pipi. Ujung jarinya berakhir di bibir penuh Antyka yang kecil. Ada tarikan dahsyat yang menarik Agra untuk **********.


Plakkkk.....tangan Antyka reflek menampar pipi yang hampir menyentuh bibirnya. Rasa panas dan perih di pipi Agra memajukan adrenalin. Sekilas dua tangan Agra langsung mencengkram bahu Antyka. Dengan sedikit dorongan Antyka terjatuh di atas sofa. Agra sudah menguasai tubuh Antyka. Mengungkung dengan posesif


" Aku harus menjinakkan kamu dengan ini, Antyka"


"Aku mohon lepaskan aku ..."


"Kamu takut....?" Agra mengejek Antyka yang sudah tidak berdaya di bawah tubuhnya. " Kita nikmati saja, kamu pasti suka"


"Cuihhh" Antyka yang tidak dapat bergerak hanya bisa meludah. berharap Agra melepaskannya.


Agra kembali merobek baju bagian atas milik Antyka. Matanya nanar, kembali di suguhkan dengan pemandangan yang indah.


" Aku harus menghukum mu, Antyka aahh"


Tiba tiba kepala Agra terkulai didada Antyka dan tak bergerak lagi. Sebuah hantaman telak mengenai kepala Agra. Antyka menjerit histeris ketakutan. Ia memejamkan mata.


Tubuh Agra terjatuh dari atas sofa, seseorang datang di waktu tepat memberikan jas untuk menutup bagian dada Antyka yang sudah terbuka. Kemudian memeluknya erat

__ADS_1


" Pak Alif...." panggil Antyka saat ia mengenali wajah yang telah menolongnya di saat yang tepat.


"Anty..., jangan takut. Aku pasti datang untukmu" Keduanya saling berpelukan


__ADS_2