
Ketukan dan juga panggilan Alif terus saja tak berhenti. Hingga Antyka akhirnya memutuskan dirinya untuk membuka pintu kamar. Tidak bisa lagi bersembunyi, ia harus menghadapinya .
Alif berdiri persis di depan pintu. Wajahnya cemas, namun begitu Antyka membuka pintu ia terlihat senang.
" Anty, kenapa pintunya dikunci, apa kamu takut sama aku ?Maaf ya Anty, kalau aku sudah membuat kamu takut. Percaya sama aku, aku tidak akan nyakitin kamu"
Anty menunduk dan membiarkan Alif memeluknya. Ia merasakan kekawatiran Alif dari nada ucapan pria itu.
" Anty hanya reflek saja, Pak Alif ngelihatin Anty seperti itu "
" Maaf ya, suamimu ini pria normal lihat pemandangan indah seperti tadi, tentu saja langsung tertarik. Tapi kamu jangan kawatir, aku tidak akan pernah memaksa kamu. Aku tau kamu belum bisa, belum siap. Aku juga ingin melakukan itu karena aku dan kamu sama sama menginginkannya " Alif belum melepas pelukannya. Ia membelai punggung Antyka lembut. Tidak lupa kecupan kecupan di pucuk kepala .
Antyka masih terdiam merasakan sentuhan sentuhan lembut Alif yang membangkitkan rasa percaya, bahwa pria ini tidak akan memaksanya.
" Sudah mau tidur, kok malah pakai jilbab lagi? Buka saja ya, aku ingin melihat wajah istriku yang cantik " bujuk Alif pada Antyka yang masih terdiam .
Alif membuka jilbab yang Antyka pakai. Ia bisa membelai langsung rambut halus milik Antyka yang hitam sebatas punggung. Debaran jantung Alif kian cepat. Mendekap dan menyentuh langsung wanita impiannya, rasanya sangat memabukkan. Indah, damai dan ingin seperti ini terus jangan pernah usai.
Antyka mulai merasakan hawa panas yang menyeruak dari pelukan Alif. Jantungnya pun sama, berdebar kencang. Entah gugup, takut atau ia sudah bereaksi dengan sentuhan sentuhan penuh perasaan dari Alif. Antyka mengurai pelukan Alif .
" Pak Alif, Anty mau ke kamar mandi, mau sikat gigi. Anty juga cape mau tidur "
" Iya " setengah terpaksa Alif melepaskan pelukannya. Membiarkan Antyka pergi.
Keduanya berbaring diatas ranjang yang sama. Ini adalah moment pertama bagi mereka. Tentu saja, rasa yang bercampur aduk dalam dada mereka. Keduanya berusaha untuk menenangkan diri. Antyka mencuri pandang kearah Alif yang belum memejamkan mata
" Pak Alif, besok berangkat jam berapa ? Anty mau buat sarapan untuk pak Alif. Anty sedikit bisa memasak, meski rasanya belum terlalu enak " Anty membuka percakapan sebelum tidur.
" Aku berangkat jam tujuh pagi " jawab Alif sambil memiringkan tubuhnya dan menatap Antyka. " Besok kamu belum bisa masak, Anty. kulkasnya masih kosong, Kita belum belanja. Biar besok aku sarapan di kantin saja ."
" Oh gitu yah, Bagaimana kalau besok Anty belanja kebutuhan dapur, boleh ? Anty juga ingin mendekor ulang kamar kita "
" Boleh, sekarang kamu adalah nyonya di rumah ini. Buatlah senyaman yang kamu ingin "
" Terima kasih "
Kembali hening, keduanya terdiam. Alif terlihat gelisah menahan sesuatu yang bergemuruh
" Anty..., boleh aku mencium mu untuk mengucap selamat tidur ?" Alif mengucapkan keinginannya
Meski kaget dengan permintaan Alif, Antyka mengangguk juga sebagai tanda persetujuannya.
Alif mendekat dan wajah mereka tak berbatas . Bibir Alif menyapu kening, kelopak mata hingga turun di bibir mungil yang penuh . Geleyar aneh menjalari tubuh mereka . Menyenangkan dan terasa luar biasa, hingga masing masing dari mereka disa mendengar irama jantung mereka yang begitu kencang .
__ADS_1
" I love you Antyka, have a nice dream " Alif mengambil telapak tangan Antyka usai ciuman selamat tidur. Ia memejamkan mata dan tetap menggenggam telapak tangan mereka dengan jari yang bertautan " Tetap seperti ini Antyka, dalam mimpi pun aku ingin kita tetap bersama "
Ucapan Alif membuat keduanya tersipu. Antyka pun mencoba untuk memejamkan mata dengan sisa sisa perasaan yang teraduk aduk. Perlakuan Alif yang seperti ini membuat Antyka menjadi yakin, pria di sampingnya tidak akan menyakiti dirinya .
***
Saat waktu terus berputar dari malam merambat menjadi fajar . Dua anak manusia masih bergelung dalam selimut tebal. Sayup lantunan ayat suci menggema mengingatkan penghuni bumi untuk terjaga, bersiap memenuhi panggilan untuk ibadah subuh .
Alif menggeliat, mengerakkan tangannya. Ada benda kenyal yang ia sentuh. Matanya membuka, ia terkejut dengan posisi tidur mereka yang tidak ada lagi batas. Antyka terlentang dengan kaki berada di paha Alif. Sedangkan Alif tidur dalam posisi miring dengan tangan berada di puncak dada Antyka.
Alif mengangkat tangannya berlahan. Ia tidak ingin Antyka salah paham. Semua yang terjadi tadi di luar kendalinya. Namun sebuah senyuman terlukis di wajah Alif. Rasa yang hangat menyusup.
Antyka sedang berada di dapur membuat secangkir teh hangat untuk mengisi perut di pagi hari. Setidaknya ia melakukan sesuatu untu Alif. Ia menyadari jauh dari sempurna tapi ia berusaha melakukan hal hal yang ia mampu.
Alif duduk di meja makan menunggu Antyka membawa teh hangatnya. Ia memperhatikan gerak gerik istrinya yang sedikit gugup.
" Pak Alif pulang jam berapa nanti? Anty ijin ke supermarket yah, mau beli bahan bahan dapur "
" Aku pulang jam sebelas, istirahat sebentar trus kerumah sakit jam dua . Yakin mau pergi belanja sendiri? kalau kamu mau, aku bisa temani kamu setelah pulang dari kampus"
" Gak papa, Anty bisa sendiri kok, kita bagi tugas. Pak Alif pasti capek, harus ngajar dan harus ke rumah sakit "
" Oh ya, pake ini untuk belanja nanti. Kamu bisa beli apa saja dengan kartu itu " Alif memberikan satu kartu pada Antyka
Antyka menatap punggung lebar Alif menjauh dan hilang setelah pintu menutup . Ia bergegas membereskan ruangan dan juga memasukan baju yang kotor ke dalam mesin cuci. Anty berperan layaknya ibu rumah tangga.
***
Langkah kecil Antyka menyusuri koridor rumah sakit. Ia hafal dengan ruangan suaminya. Kehadiran wanita cantik yang berjalan sendiri tentu saja menarik perhatian beberapa pasang mata. Dari dokter muda atau pun keluarga pasien yang berpapasan dengan Antyka .
Antyka mendekati ruangan yang sedikit terbuka. Ia melirik tempat bekal yang dia bawa. Sudah tidak sabar ingin menemui pria yang sudah berstatus sebagai suaminya. Dalam angannya tadi, Antyka ingin memberikan kejutan manis. Mengantar makan malam untuk Alif yang ia masak sendiri.
Dari dalam ruangan terdengar suara orang sedang berbincang. Sejenak dada Antyka bergemuruh. Telinganya mendengar suara wanita dan suaminya sedang membahas tentang perasaan mereka. Ia masih mematung di depan pintu ruangan Alif tak bergeming
" dr Alif, saya ingin klarifikasi tentang rumor yang beredar. Apa benar dr Alif sudah menikah, Saya tidak akan mempercayai rumor itu. Saya ingin mendengar sendiri dari dr Alif" dr Farah menatap Alif dengan harap harap cemas. jauh di lubuk hati berharap berita itu bohong.
" Iya, beberapa hari yang lalu saya menikah. Memang belum mengadakan resepsi karena mertua saya sedang sakit "
" Katakan itu bohong dokter......" Suara dr Farah tercekat.
"Itu benar, maaf Farah "
" Saya cinta dokter Alif dari dulu, kenapa dokter tidak mau melihat saya sedikitpun. Apa saya begitu buruk di mata dr Alif ?"
__ADS_1
" dr Farah, ini masalah hati. Saya mencintai istri saya. dr Farah akan bertemu dengan pria yang lebih baik dari saya " ucap Alif tegas
" Seistimewa itu kah, Siapa wanita beruntung itu? Apakah dia lebih cantik, lebih berpendidikan atau bahkan dia lebih kaya dari saya ?"
" Dokter Farah, rasanya tidak sopan anda berkata seperti itu, Tentu saja di mata saya istri saya lebih dari segala galanya" Alif terpancing emosinya. Dia sudah berusaha sangat sopan dengan wanita itu. Tapi dr Farah justru membuatnya emosi mencampuri urusan pribadinya.
Dari balik pintu Antyka mendengar semuanya. Ia menatap dirinya sendiri. Banyak sekali kekurangan padanya. Tapi pak Alif begitu sabar padanya. Tak dipungkiri Alif pria dewasa yang tampan secara fisik, dia juga teryata putra dari salah satu konglomerat dengan kekayaan yang tak terhitung. Tentu banyak sekali wanita wanita yang ingin mendekatinya. Seketika Antyka merasa kecil
Antyka melangkahkan kakinya gontai, perasaannya sakit. Mendengar sendiri ada wanita lain yang menginginkan suaminya. Sebaiknya ia pulang ke Apartemen saja. Ada bulir hangat yang tiba tiba saja mengalir di sela pipinya
" Antyka..." suara Alif menggema memanggil namanya .
Antyka menghentikan langkahnya. Mengusap pipinya yang basah. Alif sudah berada di sisinya memegang bahunya dengan nafas yang naik turun.
" Antyka, kau datang ? Sebentar aku menghela nafasku. Kamu tidak mendengarkan panggilanku. Apa kau marah ?"
Antyka menggeleng, tetapi Alif tau. Dari raut wajah Antyka, Alif memastikan Antyka mendengar percakapannya dengan dr Farah.
" Kamu mendengarnya ? Aku cuma cinta kamu Anty sekarang dan sampai kapanpun"
" Anty..."
" Kamu bawa apa? apa makan malam istimewa untukku? " Alif membawa Antyka ke ruangannya. " Aku lapar. Kebetulan, tadinya aku akan keluar untuk mencari makan. Untung saja kamu datang "
" Anty hanya bawa nasi dan sup ayam. Mungkin rasanya tidak terlalu enak. Anty akan belajar lagi " Anty merasa tidak terlalu yakin tapi Alif tampak Antusias dan meminta kotak bekal yang ia bawa.
" Pasti enak, istriku sudah berusaha untuk membuatkan menu makan malam. Dan yang Pasti istimewa, karena dibuat dengan penuh rasa cinta "Alif menggoda sang istri yang sudah memerah pipinya.
Antyka tidak menyangka Alif yang dulunya pemaksa bisa sangat lembut dalam memperlakukannya. Alif begitu menghargai usahanya . Bahkan Alif dengan senang hati menghabiskan bekal yang Antyka bawa. Hanya sesekali menyuapi Antyka .
" Kita pulang bareng ya? Aku sebentar lagi pulang kok . Tunggu di sini, jangan kemana mana "
Terdengar ketukan pintu. Alif segera membukanya. Beberapa dokter muda dan juga rekan kerja Alif masuk. Tatapan mereka langsung tertuju pada Antyka yang duduk di kursi kebesaran Alif .
" Itu siapa dok, adiknya ya. boleh kenalan ?" ucap salah satu dokter muda .
" Iya dok, cantik banget . Saya daftar jadi adik ipar " sambut yang lain .
" Jangan macam macam, dia istri saya. Masih ada yang mau kenalan " Alif langsung tegas. Ia paling tidak suka miliknya di lirik orang lain .
Kontan saja semua langsung diam dan salah tingkah. Diluar perkiraan mereka. Dokter Alif yang begitu berwibawa memiliki istri yang jauh lebih muda. Selain itu mereka mengira dr Alif adalah kekasih dokter Farah .
Alif menandatangani beberapa berkas yang mereka sodorkan. Kemudian berpamitan pada Antyka untuk visit ke ruangan ruangan pasien dengan dokter yang lain.
__ADS_1
Anty tersenyum melihat ketegasan suaminya. Ia begitu bangga dengan cara Alif melindunginya. Getaran getaran itu sudah mulai tumbuh di lubuk hatinya yang paling dalam.