
Hari Antyka mulai terguncang setelah lima tahun tiba tiba saja mantan kakak iparnya minta bertemu dengan Antyka. Hidupnya sudah damai tanpa kawatir kehilangan Cahaya. Kekawatiran terbesar Antyka hanya itu.
Langkahnya sedikit goyang saat sudah berhadapan dengan sosok berjas hitam dengan postur tinggi besar, wajah dingin. Pria itu tersenyum tipis menyambut kedatangan Antyka.
"Apa kabar Anty?" Mike memberikan tempat duduk pada Antyka. Agar ia duduk berhadapan.
Mantan kakak iparnya masih sama seperti dulu . Meskipun dingin Antyka tau ia bukan orang yang jahat
"Baik" sahut Anty mengikuti arahan Mike duduk di tempat yamg Mike mau.
"Maaf Anty kalau saya sudah mengganggu waktumu. Setelah lima tahun saya baru kembali menghubungi kamu lagi. Tolong jangan salah faham. Kami berusaha membuat kamu tenang dan memberi kebebasan untukmu. Saya bukan orang yang pandai untuk bertele tele. Maksud saya ingin bertemu kamu....., ini tentang Cahaya. Apa kabar Cahaya?"
"Cahaya baik, sehat, dia juga tumbuh dengan baik" Benar dugaan Antyka pasti pria di depannya ini punya maksud tertentu. Antyka langsung dalam mode waspada.
"Terima kasih sudah membesarkannya dengan baik, Anty"
" Itu kewajiban saya sebagai momy nya"
"Ah iya.." Mike terlihat salah tingkah "Anty, apa Cahaya tau tentang Alif?"
Sejenak keduanya terdiam. Antyka menghela nafas.
" Cahaya tau kalau ia memiliki Dady bernama Alif Pradipta" Antyka menjawab dengan lugas. Tapi hati kecilnya mulai gelisah
" Lalu apa yang kau ceritakan tentang Alif?" Mike menatap penuh selidik.
"Aku katakan ayahnya sedang bekerja di tempat yang jauh. Tidak mungkin aku bercerita Dady nya pergi meninggalkan dia sejak ada dalam kandungan" Antyka menatap sendu, teringat lagi hari hari dimana ia harus menghadapi keputusan pahit Alif.
"Begitu..., Alif tidak tau kalau saat itu kamu sedang hamil Anty. Maaf.." Mike menatap dalam mata pria itu terlihat penyesalan untuk Antyka . " Maaf Anty, untuk semua yang terjadi, Kami terlambat mengetahuinya"
"Dimana pak Alif? Kenapa tidak datang sendiri untuk menemui putrinya. Apa dia begitu membenciku?"
"Anty, Alif ingin melakukannya. Tapi dia cukup tau diri. Untuk itu ia memintaku menemuimu. Apa boleh Alif menemui Cahaya?"
"Untuk apa? Jangan pernah sekali kali berfikiran untuk mengambil Cahaya. Sampai kapanpun saya akan mempertahankannya. Kalian hanya ingin ..."
" Anty, hanya bertemu bukan untuk mengambilnya. Kami tau Cahaya milikmu selamanya. Tapi cahaya dan Alif juga punya Hak untuk saling mengenal bukan"
"Tidak , tidak kak Mike, Aku tidak mau mereka bertemu, aku..., aku...tidak mengijinkannya" Di pikiran Antyka hanya satu seolah keluarga Pradipta akan merebut Cahaya.
Mike masih membisu melihat reaksi Antyka yang ketakutan. Mike tau apa yang dirasakan Antyka.Jika ia jadi Antyka pun akan melakukan hal yang sama bahkan lebih gila. Antyka berdiri menatap Mike tajam, mata dan wajahnya tampak memendam amarah.
"Baik Anty, kami tidak memaksa. Jangan takut, saya tidak akan mengambil Cahaya darimu. Kamu pikirkan saja baik baik tentang permintaan Alif. Alif hanya ingin melihat putrinya saja. Kami menunggu kabar baik dari mu. Simpan nomorku dan kabari kami jika kamu berubah pikiran" Mike mengahiri ketegangan Antyka.
"Aku permisi kak Mike " Antyka meninggalkan Mike dan segera pulang, dalam pikirannya hanya satu, ingin memeluk Cahaya. Setelah lima tahun berjuang menata hati, berdamai dengan takdirnya dengan orang orang dari masa lalunya. Kini mereka seenaknya saja kembali dan mengobrak abrik kedamaian nya.
***
"Ada apa Anty?" Ibra melihat Antyka yang gelisah siang itu setelah membaca pesan di ponselnya. Mereka sedang berada di sebuah butik ternama tempat mereka memesan gaun pengantin.
Antyka masih bungkam tentang pertemuannya dengan Mike mantan kakak ipar. Ia masih menyimpan rapat belum memberi tahu siapapun. Antyka mengerjapkan mata beningnya. Menyadari Ibra ada di dekatnya dan mengetahui jika dirinya sedang gelisah. Ibra masih menunggu jawaban dari Antyka.
" Tidak apa apa, hanya urusan pekerjaan" Ucap Antyka menepis rasa heran Ibra.
"Kalau memang mendesak kita bisa pulang sekarang" tutur Ibra membuat Antyka semakin merasa bersalah saja.
"kamu terlalu baik kak Ibra, maaf aku belum bisa berterus terang padamu, maaf" batin Antyka terus bergejolak.
Antyka menggelengkan kepalanya sejenak. Kemudian mengulas senyum yang manis. Senyum yang membuat jantung ibra berdetak lebih cepat.
" Kita makan siang dulu kak Ibra, aku lapar"
" Ayo " Ibra langsung menggandeng Antyka ke sebuah restoran yang tidak jauh dari butik.
__ADS_1
"Aku orderin menu kesukaan mu ya" Ucap Ibra saat mereka sudah duduk di dalam restoran. Seorang pelayan mencatat semua pesanan Ibra .
"Boleh" masih duduk dan kembali ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Mike. Wajah Antyka berubah seketika.
Ibra yang tatapannya tidak lepas dari Antyka menangkap ada hal yang tidak biasa, Antyka seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Anty, ada apa. Kamu dari tadi seperti resah? boleh aku tau, mungkin aku bisa membantu menyelesaikan masalahmu" Ibra berusaha membuat Antyka terbuka. Pria itu tidak suka kalau Antyka memendam masalahnya.
"Kak Ibra, kita memang perlu bicara tapi tidak sekarang. Anty, minta waktu untuk bisa menjelaskan pada kak Ibra. Sebaiknya kita makan saja setelah itu..." ucapan Antyka terpotong dengan Ibra.
"Tidak bisa seperti itu Anty, Aku tidak bisa tenang melihat kamu gelisah seperti ini. Tentang perusahaan ? Aku bisa menyelesaikan masalah nya Anty, katakan?" Ibra mulai hilang kesabaran. Ia terus mendesak Antyka berterus terang.
Sejenak Antyka diam, perhatiannya teralih pada makanan yang sudah tersedia. Tanpa menjawab pertanyaan Ibra. Antyka memulai makan siangnya. Lelah dan lapar membuatnya tidak mengacuhkan Ibra lagi, yang masih menatap dengan rasa penasaran
" Maaf kak Ibra, anty belum bisa menjelaskan semua. Anty tau kak Ibra pasti merasa diabaikan. Anty harus yakin dulu dengan keputusan Anty, baru Anty bisa menjelaskan semua "
"Kak Ibra bisa Antar Anty pulang"
" Tentu, tanpa kamu minta, pasti aku antar" jawab Ibra datar. Antyka tau Ibra masih merasa kesal dengan sikapnya.
"kak Ibra, terima kasih" Antyka turun dari mobil Ibra ketika mereka sudah sampai di depan rumah Antyka.
" Anty, sampaikan salam kangenku untuk Cahaya. Aku langsung pulang ya"
" Tidak masuk dulu?"
Ibra menggelengkan kepala." Aku harus pulang dan lapor sama Mami kalau kita sudah menentukan model baju pengantin kita. trus malamnya aku harus menemani Papi bertemu Mr Smith" Antyka mengangguk tanda mengerti. Ia masih berdiri sampai mobil Ibra hilang dari pandangannya.
" Momy...." Suara serak Caya terdengar manja. Mulut mungilnya mengerucut, Tanda bahwa anak kecil itu sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Sayang nya Momy, kenapa?" Antyka langsung memberikan pelukan pada putri kecilnya.
"Ya Tuhan rasanya sangat nyaman berpelukan seperti ini. Asalkan Cahaya selalu bersamaku aku akan berani melangkah menatap dunia"
" Anty, sejak pulang sekolah Caya bersikap seperti itu, tiap Oma tanya ia hanya menggelengkan kepala"
"Momy, apa Daddy aku bisa pulang sebentar. Aku mau kasih tau temanku. Kalau Daddyku beneran ada. Caya cuma mau foto berdua sama Dady. biar teman teman Caya percaya" Caya menatap penuh harap pada sang Momy.
Antyka seperti diiris hatinya mendengar ucapan Cahaya. Harusnya ia berterus terang kalau Daddy Caya entah berada di mana. Tiba tiba cairan hangat meleleh di pipi Antyka.
"Caya bisa foto dengan Ayah. Ayah pasti mau foto bareng Caya"
" Momy bilang Daddy itu orang yang membuat aku lahir di dunia. Ayah itu orang lain yang sayang pada Caya. Kenapa yang jadi Dady aku bukan ayah saja Momy?. Teman aku punya ayah dan bunda , mama sama papa. trus kalo Caya..., Momy dan Dady kan?"
"Iya..., Caya. Tapi Daddy Caya sedang bekerja jauh belum bisa pulang" Antyka bingung sendiri. Ia hanya menceritakan separuh dari kebenaran tentang Alif.
"Kenapa...harus kerja jauh Momy? Caya mau Daddy pulang, bisa kan Momy"
"Momy bingung Caya, harus menjelaskan bagaimana Daddy mu pergi. Tapi sepertinya kamu dan Daddy memiliki ikatan kuat. Setelah Dadymu pergi tanpa berita dan sekarang ingin bertemu. kamu pun menginginkan hal yang sama. Apa kamu juga akan pergi ninggalin Momy "
" Caya dengar Momy, Momy akan berusaha menghubungi Daddy mu. Tapi momy tidak janji kalau Dady bisa datang. Caya tau kan Daddy itu bekerja untuk Caya" Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari bibir Antyka. Namun beruntung Caya menghentikan rengekannya. Gadis itu memamerkan lesung pipinya. Ia terlihat senang.
**
Dilanda kebimbangan, Saat Mike terus menerus meminta ijin untuk mempertemukan Cahaya dan Daddy nya. Perasaan Antyka begitu bimbang di sisi lain Caya memang harus bertemu. Di sisi lain Antyka takut Cahaya akan meninggalkannya. Hatinya akan hancur jika itu terjadi.
Siang itu setelah menjemput Caya dari sekolah. Antyka pergi menemui Ibra. Ia sudah membuat keputusan tentang Cahaya. Saat ini Antyka sudah berada di kantor Ibra, Ia masih duduk menunggu Ibra menyelesaikan pekerjaannya.
Saat pintu terbuka Antyka menoleh, Melihat Ibra dengan senyum sumringahnya.
"Ini kejutan Antyka, akhirnya kamu mengunjungiku di sini. Aku senang sekali" Ibra duduk di samping Antyka hampir tak berjarak "Seharian ini aku lelah sekali. Terima kasih sudah datang, Aku seperti mendapatkan mood booster" Jelas sekali Ibra tampak bahagia.
Antyka tau pria di depannya begitu bahagia atas kedatangannya. Mungkin ini sudah saatnya ia menghapus jejak masa lalunya. Memberikan sepenuhnya hati yang selalu pria ini jaga.
__ADS_1
"Kak Ibra sudah makan siang? Anty bawa sup ayam dan bakwan udang kesukaan kak Ibra. Kalau mau kita makan bareng"
"Sungguh..., kamu datang saja aku sudang senang. Terima kasih sudah perhatian padaku"
"Maaf kak Ibra, selama ini Anty egois, tidak menjaga perasaan kak Ibra"
Ibra tertawa lepas, di tatapnya wajah Antika yang menunduk. " Kamu sudah mau menerima aku pun sudah merupakan hal terbesar Anty. Aku tidak meminta banyak darimu. Cukup kamu ada di sisiku dan menemani sepanjang hidupku. Aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu bahagia di sampingku"
" Mana? aku sudah lapar Anty" Ibra sangat antusias. Saat Antika membuka tas bekal yang di bawanya. Satu persatu Antyka buka. Aroma sup ayam dengan kuah bening di taburi bawang goreng yang masih hangat, bakwan udang krispi menggunggah selera makan Ibra.
"Enak..?" tanya Antyka saat Ibra sudah menyuapkan beberapa sendok sup ayam kedalam mulutnya. Antyka hampir meneteskan air mata melihat Ibra begitu menikmati perhatiannya. Sebesar itukah perasaan cinta Ibra kepadanya selama ini. Antyka terlalu buta untuk menyadarinya.
"Enak Anty aku suka, terima kasih" ucap Ibra masih meneruskan suapannya. Tapi kemudian ia berhenti menyuap saat melihat mendung di mata Antyka. " Kamu nangis...? apa ada ucapanku yang salah?"
"Kak Ibra...." tiba tiba saja Antyka memeluk Ibra erat dan menangis di dada bidang Ibra. Antyka tidak berpikir waras lagi, rasa sesak dan penyesalan telah mengabaikan Ibra selama lima tahun ini. "Maafkan aku.."
Tubuh Ibra menegang, merasakan sengatan sengatan dahsyat di raganya. Ia pun sudah tidak bisa menahan diri. Ia membalas pelukan Antyka seolah tidak ingin berpisah. Hati Ibra di penuhi tanya dan juga rasa takut.
"Anty aku mohon jangan katakan kau tidak ingin bersamaku. Aku mohon kalau aku salah aku akan memperbaikinya" Setakut itu Ibra kehilangan Antyka. Bagi Ibra Antyka dalah dunia yang mutlak. Pria itu hanya bisa menatap satu wanita.
Antyka menggeleng " Anty tidak akan mengatakan itu. Mulai sekarang Anty hanya ingin bersama kak Ibra. Maaf selama ini Anty tidak bisa melihat ketulusan kak Ibra"
"Anty, kamu membuatku sangat takut. Aku cinta kamu Anty. Selalu banyak maaf untuk mu. Aku tau kenapa kau bersikap seperti itu padaku selama ini. Kamu mau memastikan perasaan mu kan?"
Ibra begitu terhanyut dengan perasaan bahagianya. Akhirnya Antyka benar benar ingin bersamanya.
"Ada lagi yang ingin Anty katakan"
Anty mengurai pelukannya dari Ibra. Namun Ibra menolaknya. " Sebentar lagi Anty"
" Kak Ibra kita belum halal" ucap Anty lirih.
"Kamu yang mulai Anty, Aku jadi keterusan" Ucap Ibra sambil melepaskan Antyka tak rela. Ibra terkekeh melihat Antyka tersipu. Hatinya lebih bergejolak lagi. " Ayo cepat menikah, aku ingin penghalang itu hilang"
"Makan nya di habiskan dulu, ada lagi yang mau Anty katakan"
"Apa kamu mau menyatakan cinta juga" Ibra semakin senang menggoda tunangannya
"Kak Ibra..."
" Iya aku makan" Ibra kembali bersemangat untuk menikmati makan siangnya. Sesekali pria itu bersikap manja pada Antyka.
Antyka memberi Ibra satu gelas air putih. Mengupas beberapa jeruk kemudian menyuapkan pada Ibra. Ibra terlihat begitu menikmati. Perasaan pria itu seolah melayang begitu tinggi. Setelah selesai makan Antyka membawa Ibra untuk pergi dari kantor.
"Kemana?" Ibra mengikuti keinginan Antyka.
"Aku mau jalan jalan dengan kak Ibra. Kencan mungkin" Antyka meminta Ibra masuk dalam mobilnya.
"Aku yang setir mobil, Anty" ucap Ibra saat Antyka akan duduk di belakang kemudi. "Katakan kita akan kencan ke mana?"
"Aku mau habiskan waktu dengan kak Ibra sampai sore. Terserah kak Ibra mau ajak aku kemana"
"Baiklah aku yang menentukan" ucap Ibra dengan pasti. "Kamu pasti akan suka"
Kemudian mobil melaju terus membelah jalanan yang padat. Antyka sudah menyerahkan acara kencan mereka sampai sore di tangan Ibra.
"Kak Ibra mau ajak aku ke mana"
" Ketempat yang ingin sekali aku datangi bersama kamu. Tempat yang sangat spesial" ucap Ibra bersemangat.
Teryata Ibra memiliki impian ingin membawa Antyka ke sebuah tempat. Tempat yang menjadi kenangan terindah bagi keduanya. ...
"
__ADS_1