
Antyka menggendong Caya. Ia duduk di luar ruangan. Di dalam Agra sedang mendapatkan tindakan medis. Lukanya cukup dalam, beberapa jaitan bersarang di bahunya.
"Aku antar kamu pulang" ucap Agra sambil menahan nyeri.
"Tidak usah, biar saya naik taksi saja"
"Jangan konyol kamu tidak ingat kejadian tadi? Kamu masih punya keberanian keluar malam sendirian?" Ucap Agra mengingatkan kejadian yang menimpa Antyka. Antyka merasa sangat bingung. Rasanya tidak enak merepotkan Agra terus menerus.
.
"Antyka kamu baik baik saja?" Alif datang di saat yang tepat, pria itu sudah berdiri di depan Antyka dan juga Agra.
"PaK Alif...?"
"Siapa dia?" tanya Alif melihat Agra yang berdiri tidak jauh dari Antyka.
"Dia tuan Agra..., dia yang menolongku tadi sampai bahunya terluka"
"Berikan Caya padaku" ucap Alif saat melihat Caya tertidur di gendongan Antyka. Raut wajah Alif berubah masam, ia tidak senang ada pria di dekat Antyka
" Saya Agra" Agra pun menatap Alif penuh selidik. Batin Agra berdecih. "wanita yang terlihat lugu ini memiliki banyak pria"
"Alif, ayah Cahaya" tegas Alif memperkenalkan diri
Antyka merasakan ketegangan antara Agra dan juga Alif.
"Tuan Agra saya sangat berterima kasih untuk semua pertolongan tuan. Saya tidak akan melupakan kebaikan tuan Agra. Sebaiknya tuan Agra segera istirahat. Besok pagi saya akan menemui tuan lagi"
"Baiklah kalau begitu saya permisi"
Agra sedikit kecewa, rencananya terhambat oleh Alif. Tapi setidaknya dia sudah separuh jalan. " Tunggu kabar buruk dari ku besok pagi. Kau pasti akan lebih terkejut. Mobil mobil yang mengangkut barang yang siap kirim sudah aku rusak semua" Agra meninggalkan Antyka dengan senyum misterius.
"Apa yang terjadi Anty?" Tanya Alif setelah Agra meninggalkan mereka. Antyka pun menceritakan semua kejadian saat di todong oleh orang tak dikenal dan di tolong oleh Agra hingga pria itu terluka.
"Harusnya pak Alif mengucapkan terima kasih pada tuan Agra. Dia sudah menyelamatkan Caya dan Aku" ucap Antyka sebal.
"Kita pulang, aku antar kalian. Anty..., jangan terlalu percaya dengan orang. Filingku berbicara lain. Ia seperti orang yang mempunyai maksud tertentu. Bukannya aku tidak tau terima kasih"
"Dia terluka pak Alif, demi menolong kita. Kenapa malah berprasangka yang tidak tidak. Kalau dia tidak datang entah apa yang terjadi, mungkin aku dan Caya sudah tidak ada. Penjahat itu menodongkan pistol dan juga senjata tajam"
"Baiklah aku minta maaf, tapi ...., sudahlah aku antar kalian pulang saja" Alif mengahiri perdebatan mereka.
"Pak Alif, ini bukan jalan ke rumahku. Pak Alif mau bawa kita kemana?"
"Kita menginap di rumah bunda. Aku tidak bisa membiarkan kalian di rumah sendiri, terlalu bahaya. Sepertinya ada orang yang berniat mencelakaimu. Ada kemungkinan kalau semua ini berhubungan dengan kebakaran yang menimpa restoran. Kita harus waspada"
"Aku gak punya musuh, pak Alif" rengek Antyka masih tidak setuju.
"Kamu bisa merasa seperti itu. Tapi di luar sana orang jahat tidak butuh alasan untuk mencelakai orang"
"Aku tidak nyaman menginap dan merepotkan bunda. Kita bukan siapa siapa lagi"
Alif tidak menggubris ucapan Antyka. Instingnya berkata kalau Antyka sedang diincar oleh seseorang yang akan membahayakannya. Mobilnya terus melaju menuju rumah bunda. Di sampingnya Antyka hanya bisa pasrah duduk diam dengan wajah yang tidak nyaman.
Alif sesekali melirik arah Antyka, yang tidak menerima dengan mudah tindakannya.
"keselamatan kamu dan Caya lebih penting dari pada norma kepantasan atau apapun itu. Aku bisa membatasi diri, Anty. Aku tidak akan melampaui batas. Aku tau kita bukan lagi suami istri. Untuk malam ini saja tinggallah di rumahku. Besok pagi aku akan mengantarmu ke rumah kak Luthfi" Alif mencoba memberi pengertian setidaknya agar Antyka bisa tenang.
"Tidurlah di sini dengan Cahaya. Tidak usah berpikir macam macam. Kamu tau kan, aku sangat kawatir?"
"Kalau memang begitu, setidaknya pak Alif mengantarku ke rumah kak Luthfi saja, bukannya kemari"
"Sudah sangat larut, kamu mau mama terkejut dengan kedatangan kita? Sudah.., tidur"
Antyka menutup pintu kamar setelah Alif keluar. Bagaimana perasaannya besok saat bertemu bunda juga Ayah. lagi lagi merepotkan, Antyka merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit langit. Ia merasa bodoh terjebak di rumah ini lagi.
***
Antyka duduk di loby hotel, ingin menemui Agra. Ia ingin memastikan Agra baik baik saja. Setidak nya ada yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa bersalah dan sebagai bentuk rasa terimakasihnya. Antyka menghubungi nomor Agra
"Saya akan mengganti perban di kamar, tidak bisa turun" Ucap Agra memancing agar Antyka mau masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan Agra, terima kasih dan maaf untuk luka di bahu, tuan Agra. Kalau begitu nanti siang saya kembali lagi" Ucapan Antyka membuat Agra frustasi. Agra kira Antyka akan menawarkan bantuan untuk mengganti perbannya.
"Tunggu, di sini tidak ada orang. Bisakah kamu membantu saya mengganti perban?"
"Maaf tuan Agra, saya tidak bisa masuk kamar pria. Bagaimana kalau saya panggilkan pelayan hotel untuk membantu?"
"Tidak usah, saya tidak suka ada orang asing melihat tubuh saya"
"Sekali lagi saya minta maaf" Suara Antyka seperti menyesal. Dari sini Agra bisa sedikit bermain. Bermain dengan cara yang lebih halus.
__ADS_1
"Jangan pergi, antar saya ke klinik terdekat"
"Baik, saya menunggu di loby"
Antyka memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia masih duduk sambil menunggu kedatangan Agra. Beberapa orang yang lewat memperhatikan keberadaan Antyka. Wanita cantik yang sedang duduk sendirian tentu saja menarik perhatian terutama kaum Adam.
Dari jauh Agra sudah melihat sosok Antyka yang sedang duduk menunggunya. Wanita itu memakai pakaian sederhana bahkan terlihat sedikit kusut. Tanpa make up sedikitpun. Agra ingat betul, itu baju yang semalam Antyka pakai.
"Maaf lama, saya kesulitan memakai baju" Ucap Agra, sengaja memainkan perasaan Antyka. Ia ingin Antyka semakin merasa bersalah, atau setidaknya memiliki hutang budi agar tujuan licik Agra semakin mudah.
Benar saja, mata bening Antyka berubah jadi sendu. Rasa yang bisa Agra tebak. " Gak apa apa kok, ayo tolong antar aku ke klinik dekat sini. Kamu naik apa kesini" ucap Agra
"Taksi" Antyka mengikuti Agra menuju tempat parkir.
" Kamu yang bawa mobilnya ya"
"Iya " Antyka menuruti permintaan Agra.
Sepanjang perjalanan, Agra memperhatikan Antyka yang sedang fokus menyetir. Wanita ini sukses membuat Agra tidak bisa berpaling ke arah jalanan. Memperhatikan dari ujung rambut hingga kaki. Tiba tiba saja hatinya bergetar, timbul sedikit rasa iba atas segala yang sudah ia lakukan
"Kamu memang tidak salah Antyka, tapi kamu salah sudah lahir dari wanita yang telah membuat ibuku dan aku menderita. Sory, kamu harus mendapatkan perlakuan ini dan kurasa ini hanya perasaanku saja. Bisa jadi kamu hanya wanita yang bertampang lugu siapa yang tau hatimu" gumam Agra sembari memalingkan wajahnya.
Agra duduk di kursi tunggu saat sudah sampai di klinik. Antyka sibuk mendaftar dan mengurusi administrasi Agra.
"Tuan Agra ...." Agra tersentak dari lamunannya kemudian ia bangkit mengikuti seorang perawat yang membawanya ke sebuah ruang tindakan.
Wajah Agra tampak meringis menahan nyeri, saat keluar dari ruang tindakan. Dengan kawatir Antyka menghampiri Agra.
" Apa sakit ?" tanya Antyka sambil memapah Agra jalan menuju mobil.
" Tidak, hanya ngilu saja"
"Apa tuan Agra sudah meminum obatnya, pagi ini?" Tanya Antyka sambil melajukan mobil Agra.
"Belum, tapi aku bawa obatnya, ini. Bagaimana kalau kita cari sarapan di restoran hotel, kamu mau kan nyiapin obat, aku"
"Iya, nanti saya siapkan obat tuan Agra"
**
Antyka dan Agra memasuki restoran yang ada di hotel, mereka memesan menu breakfast kemudian sarapan bersama.
"Apa kabar ayah Cahaya, apa dia tidak apa apa kalau kamu datang kemari sendiri?"
"Suamimu terlalu baik dan terlalu tidak perduli. Apa dia tidak kawatir melepaskan istrinya yang cantik bepergian sendiri. Kalau aku jadi suamimu, Kamu tidak akan pernah aku lepaskan pergi sendiri"
"Uhuk ...." tiba tiba Antyka tersedak mendengar ucapan Agra
"Minum...," Agra menyodorkan segelas air mineral pada Antyka. Pria itu melihat kegugupan di wajah Antyka.
"Terima kasih"
Antyka mengupas bungkus obat yang akan di minum oleh Agra. Sesekali ia melirik kearah pergelangan tangannya. Sudah cukup siang ia harus segera pergi ke kantor untuk mengurusi semua pekerjaannya.
"Obatnya tuan Agra" Antyka menyodorkan obat yang harus diminum. Tanpa membatah Agra meminumnya satu persatu
"Semoga tuan Agra cepat sembuh. Terimakasih sudah menolong saya"
"Kamu tidak ingin bertanya tentang aku?" tanya Agra sambil meletakan gelas setelah menghabiskan seluruh obat yang Antyka sodorkan.
"Maksud tuan Agra?" Antyka bingung, apa yang harus ia tanyakan lagi tentang Agra. Yang terpenting Agra segera sembuh. Antyka tidak ingin merasa bersalah terus menerus.
"Kamu tidak ingin tau aku siapa, dari mana ?"
"Oh..., bukankah tuan Agra kolega kakak saya? informasi itu sudah cukup buat saya. Tuan Agra tidak tinggal di Indonesia, iya kan?"
Agra tertawa dengan jawaban dari Antyka. Wanita di depannya memang tidak tertarik mengetahui identitasnya. Sukurlah ia tidak perlu bercerita panjang lebar.
"Kamu benar" ucap Agra melirik ponselnya yang berdering. Senyum iblisnya mengembang. Anak buahnya sudah memberi kabar tentang truk yang bermuatan barang milik Antyka sukses ia hancurkan.
Tidak lama ponsel milik Antyka pun berdering. Wajahnya semakin pucat setelah menerima kabar dari para pegawainya. Truk yang mengangkut barang miliknya disabotase oleh orang tak di kenal.
"Kenapa Antyka, apa yang terjadi?" tanya Agra
Antyka masih duduk dengan linangan air mata. wanita itu masih diam dengan tangan yang gemetar memegangi ponselnya. Tiba tiba saja bayangan di matanya menggelap, Antyka tidak sadarkan diri.
"Antyka...." seorang pria berlari menuju Antyka.
Agra mendengus kesal, lagi lagi Alif datang diwaktu yang tepat. Seharusnya Agra akan membawa Antyka.
"Kamu apakan Antyka?" Tanya Alif dengan geram. Alif segera memeriksa Antyka.
__ADS_1
" Dia pingsan setelah menerima telepon entah dari mana" Jawab Agra sebal.
Tanpa menghiraukan Agra Alif segera membawa Antyka. Agra hanya bisa menatap. Rencana keduanya sudah berhasil. Tapi ia masih penasaran dengan sosok Antyka.
"Aku pasti bisa mendapatkan kamu, tunggu saja Antyka, Tadinya aku hanya ingin menghancurkan seluruh usahamu saja. Tapi sepertinya bermain main denganmu juga menarik"
Agra segera pergi melalui Lif yang akan membawanya ke lantai atas tempat kamarnya berada.
***
Setelah meletakkan Antyka di atas tempat tidur. Alif segera menghubungi Luthfi.
"Aku sudah menemukan Antyka"
"Aku datang kesana"
Tidak lama, Luthfi sudah datang. Ia memasuki kamar Antyka. Antyka masih belum siuman. Luthfi mengusap kepala Adiknya yang malang. Lagi dan lagi harus mengalami hal buruk dalam hidupnya
"Antyka pingsan setelah mendapat kabar buruk" ucap Alif pada Luthfi. " Seperti yang aku ceritakan tadi pagi lewat telepon. Antyka pergi dari rumah pagi sekali, saat aku belum bangun. Aku menemukan dia bersama Agra"
"Agra orang yang sudah menolongnya. Antyka terlalu naif. Dia tidak tau banyak bahaya di luar. Aku sangat menyayangi adikku ini. Terkadang aku bingung, kenapa ia harus mengalami kemalangan yang bertubi tubi" Ucap Luthfi sendu.
" Kak Luthfi harus waspada dengan kolega kak Luthfi yang satu ini" Ucap Alif serius
"Kenapa, apa kau dan kakak ipar mafiamu itu menemukan sesuatu?" tanya Luthfi penuh selidik.
"Sepak terjang Agra di dunia bisnis baik, tidak di temukan reputasi buruk. Tapi saya tetap mencurigainya"
"Mungkin kamu hanya cemburu, Lif. kamu sendiri yang cerita kalau Agra terluka saat menolong Antyka. Aku sudah terlanjur meneken kontrak kerja sama dalam satu tahun ini. Tapi aku pertimbangkan ucapanmu. Aku akan lebih menjaga Adikku, terima kasih"
"Kak Luthfi..., ijinkan aku menjaga Antyka lagi" Alif menatap Luthfi penuh permohonan.
Luthfi menarik nafas dalam, memijat pelipisnya yang berdenyut.
" Setelah Antyka gagal menikah, aku kira kau sudah bisa menundukan lagi hati Antyka. Jadi kamu belum bisa membuatnya kembali padamu?"
Alif hanya menggeleng lemah. Ia merasa sangat bodoh.
"Aku sudah mencobanya berkali kali, tapi Antyka seperti menganggap angin lalu. Apa lagi setelah itu musibah silih berganti datang. Aku tidak berani mengungkit ungkit tentang masalah kami"
"Kita atur nanti setelah masalah yang menimpa Antyka selesai. Seperti ucapanmu aku akan lebih waspada pada tuan Agra"
"Aku dan Mike akan mencari orang yang telah mencelakai Antyka, kami janji itu"
"Terima kasih Lif"
" Untuk sementara biarkan Cahaya ikut denganku. Kapan pun Antyka rindu aku akan mengantarnya. Aku akan mengurusnya dengan baik"
"Untuk sementara ini, Aku percayakan Cahaya pada mu, Lif.
***
"Masuk ..." Agra sudah duduk di kursi kebesarannya.
Dua orang masuk dan membungkuk pada Agra.
"Duduk.., bagaimana pekerjaan kalian. Aku harap semuanya tidak meninggalkan jejak"
"Sudah selesai, empat truk mengalami kecelakaan tunggal di ruas tol, Semua barang yang mereka angkut sudah kami amankan. Kami buat ini seperti perampokan"
"Kalian yakin bertindak bersih tanpa jejak?"
"Tentu saja tuan, tuan lihat saja nanti"
"Ini untuk kalian" Agra menyerahkan Amplop coklat cukup besar"
"Apa tuan jadi pulang nanti malam?"
"Sepertinya aku berubah pikiran, aku ingin bermain main dulu di sini" Agra tersenyum lebar.
"Kami akan melayani tuan, jika tuan membutuhkan, Kami akan dengan senang hati membatu tuan"
"Kalian memang terbaik. Tetaplah waspada. Kalian boleh pergi sekarang"
Setelah dua orang suruhannya pergi, Agra berganti pakaian. Sepertinya ia akan bersenang senang. Dalam benaknya terlintas segala tentang Antyka yang membuatnya ingin bermain.
"Halo..., tuan Agra. Maaf, apa saya mengganggu tuan?" suara Luthfi dari telepon
"Tentu tidak, saya sedang santai ingin mencari makan malam"
" Kalau tuan Agra tidak keberatan, saya ingin mengundang tuan Agra untuk makan malam di rumah kami malam ini. Apa tuan bisa datang?"
__ADS_1
"Kebetulan sekali kalau begitu, Saya akan datang"
"Kami tunggu tuan Agra"