
Air mata Antyka meleleh, Alif membawa nya pulang. Sedang Agra sudah digelandang oleh petugas kepolisian.
"Badan kamu panas, Anty"
"Aku lelah..." setelah mengucapkan itu, mata Antyka terpejam. Alif menjadi panik, ia meminta pada sopir untuk mempercepat laju kendaraannya.
"Anty..." Alif menepuk pipi Antyka saat dalam perjalanan mereka ke rumah sakit. Kondisi Antyka terlihat lemah. Antyka hanya membuka mata sesaat kemudian kembali memejamkan mata. Alif dengan setia menunggu di sisi Antyka.
Antyka masih terbaring dengan selang infus di tangannya. Di sampingnya ada Alif yang gelisah. Pria itu seolah tidak sabar untuk melihat Antyka sadar. Beberapa kali ia menolak panggilan yang berdering silih berganti di ponselnya dari Mike dan Luthfi.
Alif merasa dikhianati oleh kedua kakak iparnya. Alif tidak perduli tentang masalah Agra yang dia pedulikan adalah keselamatan Antyka. Alif menutup akses komunikasinya dari keduanya.
Di ujung sana Mike dan Luthfi tampak merasa bersalah. Misi menyelamatkan Antyka hampir gagal. Ada gempa yang membuat keadaan kacau. Diluar kendali anak buah Mike yang sudah siap berjaga.
"Jangan kawatir, Alif pasti akan memaafkan kita. Kita hanya sedikit terlambat menemukan lokasi Antyka karena gempa. Tapi anak buahku terbukti profesional dan sigap. Mereka bisa membawa Alif tepat waktu untuk menolong Antyka. Sudah teratasi dengan baik. Wajar Alif masih marah pada kita, Karena dia masih syok"
"Ini alamat rumah sakit tempat Antyka di rawat, bawa mama Ajeng untuk menemui Alif dan Antyka. Dia tidak akan macam macam karena ada mama Ajeng" ujar Mike yakin
"Aku tidak tau harus berkata apa saat ketemu Alif, Mike" Luthfi menunduk.
"Kita menangkap basah Agra....., kita punya bukti, Motif Agra dan semua kejahatan Agra terungkap, Jangan lupakan itu. Dan Antyka selamat" Tegas Mike tidak terlalu perduli dengan perasaan Luthfi dan Alif.
"Kamu benar, Mike tapi cara kita melukai perasaan, Alif"
"Aku ingin masalah ini selesai, semakin cepat Agra tertangkap semakin bagus. Kalian pikir dalam masalah ini aku tidak berkorban? Lira memarahiku habis habisan, sampai sekarang dia tidak mau aku dekati. Aku sangat tersiksa" Mike menggerutu, namun di tanggapi senyuman oleh Luthfi, pria dingin dan kejam ini teryata bisa tunduk oleh wanita bernama Lira, dari mimik wajahnya, Luthfi bisa tau. Mike benar benar tersiksa.
"Sabar Mike, kamu pasti bisa" ucap Luthfi santai
"Kamu mengejekku?" melihat senyuman santai Luthfi, Mike merasa tersinggung.
"Tidak, aku ikut prihatin. Aku akan minta Karin untuk membujuk Lira. Sepertinya mereka sekarang berteman baik"
"Lira sangat keras kepala, jika sedang marah. Harapanku hanya bunda. Aku akan meminta bunda membujuk Lira"
"Good Luck Mike..., fighting" Luthfi akan meninggalkan Mike.
"Tunggu...! apa Karin tidak marah, kamu membahayakan Adikmu sendiri?"
"Tidak, Karin paham alasan kita melakukannya"
"Kenapa Lira tidak bisa paham?"
"Ha ha ha...." tawa Luthfi meledak melihat raut wajah Mike yang terlihat bodoh. "Kau yang tidak pandai menjelaskan, Mike. Kau harus banyak belajar padaku"
"Katakan apa yang harus aku lakukan pada Lira?"
"Pertama kamu jangan pernah menggunakan cara yang licik. Yang kedua, Kamu harus tulus meminta maaf"
"Aku sudah minta maaf berulang ulang. bahkan aku memeluk kakinya"
"Aku tidak yakin, kau berkata dengan penuh penyesalan. Pasti kau memberikan argumen yang menyatakan tindakanmu benar. iya, kan?"
"Bagaimana kamu tau?"
"Tulus Mike, akui kesalahanmu. Dia pasti akan memaafkan mu dengan mudah. Ingat wanita selalu benar. Kamu harus mengalah untuk menang" Kembali Luthfi memperhatikan wajah Mike yang terlihat garang tapi sangat rapuh di hadapan wanita bernama Lira. Luthfi terkekeh membayangkan wajah Mike yang garang, mengiba dan memeluk kaki lira yang mungil.
"Aku pulang, urusanku lebih banyak. Ingat kalau kau berhasil, kau harus memberiku hadiah" Luthfi meninggalkan Mike sebelum ia terciduk mentertawakan kebucinan Mike, bisa jadi masalah besar nanti.
***
Sore itu juga, Luthfi membawa mama Ajeng menemui Antyka di rumah sakit. Saat melihat kedatangan Luthfi, Alif terlihat menahan emosinya. Ia meredamnya karena ada mama Ajeng di sana
"Lif, bagaimana keadaan Antyka?"
"Anty sedang tidur ma, insha Allah dia baik baik saja. Anty hanya syok"
"Sukurlah, terima kasih ya, Lif" mama duduk di tepi ranjang.
"Iya, ma"
Mama hanya bisa menatap Antyka yang masih tertidur. Wajahnya sedikit pucat. Ia mengusap kepala Antyka penuh kasih sayang.
"Bangun nak, ini mama" lirih mama Ajeng sambil mengecup putrinya. Namun Antyka tak bergeming. Ia masih tertidur karena pengaruh obat.
"Ma, Luthfi mau bicara sebentar dengan Alif di luar" Pamit Luthfi. Kesempatan Alif untuk meminta penjelasan dari luthfi. tega teganya seorang kakak, membahayakan keselamatan adiknya sendiri. Dalam kepala Alif sudah berjajar banyak kata yang akan ia ucapkan. Alif mengikuti Luthfi keluar dari ruangan rawat Antyka.
"Saya tidak terima kak Luthfi membahayakan Anty" ucap Alif tajam. Saat mereka sudah jauh dari ruangan Antyka. di sebuah koridor, menghadap taman yang cukup asri. Di tempat itu sepi, jarang orang lewat dan jauh dari ruang perawatan pasien.
"Dia adiku, dan semua masalah kini sudah selesai, meski harus membuat Antyka dalam bahaya. Anty selamat dan kalau kamu ingin marah, ada hak apa kamu terhadap Antyka? dia tanggung jawabku. Kalau kamu mau marah silahkan. Sepertinya aku harus mencabut restu yang hampir aku berikan" Luthfi balik mengancam Alif.
"Tidak adil kak. Kak Luthfi tidak tau aku sangat kawatir tentang keselamatan Antyka. Aku sangat sakit hati melihat dengan mata kepalaku sendiri, wanita yang aku cintai hampir di rudapaksa oleh pria lain. Coba kalau itu terjadi pada mbak Karin"
"Aku bunuh pria yang menyentuhnya," Luthfi terpancing emosinya.
__ADS_1
"Sama, aku juga ingin membunuh orang orang yang membahayakan Antyka"
"Aku juga ingin membunuh orang yang telah membohongi adiku dan memfitnahnya dulu"
Alif menunduk, mendengar ucapan Luthfi. Ia juga pernah bersalah. Dia sangat marah tidak ingin memaafkan orang yang membahayakan Antyka tapi itu juga tidak adil. Dia sudah mendapatkan maaf dari semua. Dia tidak bisa egois memikirkan perasaannya sendiri saat ini.
"Bagaimana Lif, bukankan kita seri? kamu mau memaafkan kami atau restuku tak pernah turun? Antyka masih tanggung jawabku" Luthfi mulai memelankan suaranya. "Maafkan aku, Lif. Aku salah" akhirnya Luthfi mengalah meminta maaf pada Alif.
Dengan Canggung Alif menerima uluran tangan Luthfi. Mereka berjabat tangan tanda mengahiri perselisihan. Amarah yang membekas di dada kini luruh. Tampak senyuman di wajah keduanya.
"Sebaiknya kamu cepat meminang Antyka, Lif. Sebelum aku berubah pikiran lagi" Luthfi mencoba menggoda Alif untuk mencairkan suasana.
"Begitu Anty sembuh Ayah dan bunda akan datang meminta Antyka untukku"
"Tidak perlu pesta, Lif. Cukup sah saja. Kalian tidak membuang foto pernikahan kalian yang dulu kan?"
"Tentu saja tidak. Apa kabar vila milik Antyka yang ada di puncak?" Alif kembali teringat tempat bulan madunya. Tempat pertama ia dan Antyka bersama.
"Masih sama, kami merawatnya dengan baik. Kamu mau bulan madu di situ lagi?"
"Tidak..., aku ingin membawa Antyka ke Swiss"
"Sudah..., jangan terlalu banyak berhayal, dosa Lif. Ayo kita masuk. Mama pasti sudah cape di dalam
"Lif, mama titip Antyka ya. tolong jaga dia" Ucap mama Ajeng sebelum pergi bersama Luthfi.
"Iya, ma. Mama hati hati, begitu Anty sehat saya akan mengantarnya pulang" Alif mengantar mama sampai depan pintu. ia kembali masuk dalam ruangan saat Antyka memanggilnya.
Alif mendekat memeriksa keadaan Antyka yang mulai sadar.
" Pak Alif..."
" Ya, Anty"
"Aku di mana? " Antyka seperti orang yang kebingungan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Semuanya terasa Asing.
"Di rumah sakit Anty"
"Rumah sakit? aku mau pulang"
"Tunggu kamu pulih, ya"
"Caya?"
"Maaf..., aku selalu merepotkan mu" lirih Antyka. Alif hanya menggeleng. Menatap sendu pada Antyka
"Aku tidak merasa seperti itu. Cepat sembuh..., Kak Luthfi sudah memberiku ijin. Urusan Agra juga sudah beres" Alif duduk di sisi ranjang Antyka. "Kenapa diam, kamu tidak senang? Kita bisa bersama lagi"
Tentu saja Antyka bahagia, mendengar Luthfi sudah memberi sinyal untuk bisa bersama lagi. Terlihat semu merah di wajah Antyka. Rasanya melayang, malu dan senang
Melihat reaksi Antyka yang malu malu seperti itu, membuat Alif menelan ludah. Perasaan yang sudah lama membeku kini kembali hangat. Rasanya ia ingin memeluk Antyka, mengungkapkan perasaan bahagianya juga. Mengecup kecil pipi yang bersemu merah milik Antyka. Ahhh Alif panik sendiri takut tidak bisa mengendalikan diri
"Aku keluar sebentar" Alif butuh menetralkan pikirannya.Tiba tiba dorongan dari dalam hatinya menggebu, melihat senyum malu malu Antyka membuat pikirannya berkelana ke mana mana.
Alif berjalan tanpa arah, ia hanya mengikuti kakinya melangkah. Menarik dan mengeluarkan nafasnya berlahan. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Ibra yang sedang mendorong seorang wanita dengan perut buncit dengan kursi roda. Masih terbesit rasa cemburu, mengingat Ibra dulu begitu dekat dengan Caya dan Antyka. Sebenarnya ingin menghindar. Tapi apa daya, Ibra sudah memergokinya.
"Apa kabar?" Alif menghentikan langkahnya, sejenak ia menyapa Ibra dan istrinya
"Baik, bagaimana kabar Caya? sudah lama aku tidak bertemu?" Mata Ibra begitu berbinar saat bertanya kabar tentang Caya
"Baik, dia semakin pintar. Kalian mau periksa kandungan ?"
"Iya"
" Semoga bayi dan juga istrimu sehat. Selamat ya...., Kalau begitu saya permisi" pamit Alif pada Ibra. dia sudah tidak ingin berurusan dengan Ibra Tentu saja, rasa tidak nyaman selalu terselip di hati Alif Setiap berurusan dengan Ibra.
"Tunggu ..., Apa Antyka baik baik saja?. aku dengar kabarnya dari ..."
"Iya, dia baik. Hanya perlu istirahat" Alif merasa tidak suka dengan perhatian Ibra pada Antyka. Dia tidak memikirkan perasaan istrinya? batin Alif, geram. Alif melirik kearah wanita yang ada di kursi roda, wajahnya berubah sendu. Alif segera meninggalkan keduanya yang masih tak bergeming.
Cinta, bisa begitu kejam. Manusia berubah menjadi buta dan hilang akal. Itu terjadi pada dirinya, Ibra juga Agra. Alif memelankan langkahnya kemudian berbalik menoleh kearah Ibra dan istrinya. Terlihat Ibra sedang membungkuk mengusap wajah tak bersalah. "Semoga kamu menyadari, apa yang sudah kamu miliki, Ibra. jangan pernah di sia siakan"
***
" Momy..." Caya menghambur kedalam pelukan Antyka. Gadis kecil itu mendekap erat, menyusupkan kepalanya ke dalam ceruk leher sang Momy. Merasakan kehangatan yang sudah beberapa hari tidak ia dapatkan.
"Caya...,momy kangen" Antyka mengusap uraian rambut Caya yang sudah memanjang. Dipeluknya tubuh mungil dengan aroma kas yang membuatnya selalu damai. "I love you Caya"
"Love you too momy" balas Caya sembari semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Kalian membuat Daddy iri saja" Alif pura pura merajuk. Dengan sigap Caya mengurai pelukannya dari Antyka dan bergegas menuju Alif.
"I love you Daddy" Caya berganti memeluk Alif. Gadis kecil itu tau apa yang harus ia lakukan saat melihat Alif merajuk. Dia bersikap seperti orang dewasa yang menenangkan Alif dengan pelukan. Menyadari kekonyolan, mereka bertiga kemudian tertawa.
__ADS_1
Dari dalam ruang tengah, ada bunda dan Ayah Haris yang memperhatikan interaksi ketiga orang yang ada di ruang tamu, bibir mereka mengulas senyum lega dan bahagia. Bagi orang tua, kebahagiaan keluarga anaknya adalah hal yang paling di inginkan.
"Bunda sangat bahagia melihat kalian" Ucap bunda sembari duduk di sofa ruang tamu, mereka berkumpul. Alif dan Antyka baru menyadari keberadaan ayah dan bunda di ruangan itu. Keduanya tampak kikuk.
"Bunda, Ayah" Antyka menyalim pada keduanya.
"Kalau kalian setuju, dalam Minggu ini Ayah akan kerumahmu, Anty. Ayah ingin memintamu kembali bersama Alif. Semoga Bu Ajeng dan kakak mu Luthfi tidak keberatan" Ayah Haris menatap Alif dan Antyka. Keduanya tampak gugup. "Bagaimana Anty, Alif?"
"Anty belum membicarakan ini dengan kak Luthfi, Yah"
"Tapi kak Luthfi sudah kasih ijin kok, kemarin waktu di rumah sakit" sambar Alif tidak ingin membuang waktu lagi.
"Kamu yakin, Lif?"
"Yakin Yah, kak Luthfi yang meminta Alif untuk secepatnya..." Suara Alif terhenti, ia melirik kearah Antyka yang menunduk. Mungkin wanita itu malu. Mendengar perbincangan tentang dirinya.
Bunda mengerti situasinya, ia berdiri mengajak Antyka masuk kedalam rumah untuk menyiapkan makan siang bersama. Meninggalkan Alif dan Ayah Haris membahas tentang masa depan mereka.
"Bunda masak banyak sekali?" tanya Antyka saat ikut menyiapkan makan siang.
"Sebentar lagi Mike datang dengan Lira. Mereka ingin bertemu dengan kamu" jelas bunda sambil menata piring di meja makan. "Kamu jangan kaget ya, nanti"
"Kaget apa, Bun?"
"Mike dan Lira...., apapun yang terjadi nanti, kamu cukup diam dan lihat saja. Lira sedang membuat perhitungan dengan Mike, itu hanya keinginan aneh orang yang sedang hamil muda" bunda malah tersenyum geli. Antyka yang tidak tau menahu tentang mereka, hanya mengiyakan permintaan Bunda.
"Anty, mau ya jadi menantu bunda lagi? Bunda ingin Caya dapat kasih sayang yang lengkap. Kasian Caya, kamu juga Alif. Melihat kalian tadi bersama bunda merasa sangat lega, Anty"
" Anty..." Suara Lira menyelamatkan Antyka dari pertayaan bunda. Tiba tiba saja Lira sudah memeluknya sambil meminta maaf.
"Kak Lira..." tubuh Antyka hampir terhuyung
"Maafkan sikapku waktu itu, kamu pasti tersinggung, Semua itu karena Mike. Dia tidak memberitahuku yang sebenarnya, dari awal" Lira masih meneruskan ucapannya. "Mike minta maaf sama Anty!" ucap Lira sambil menatap kesal. Mike mendekati Antyka, pria bertubuh tegap yang dingin itu mengikuti intruksi Lira tanpa bisa membantah.
"Anty, aku minta maaf" ucap Mike pada Antyka. tapi tatapan Mike justru kearah Lira bukannya Antyka. Lira tampak kesal dengan sikap Mike yang tidak bersungguh sungguh meminta maaf.
"Iya, kak" tapi Antyka tetap menjawab
"No Mike, kamu harus tulus jangan terpaksa begitu" Lira masih terus memaksa Mike.
"Lira..., Mike sudah meminta maaf pada Anty. Kamu jangan keterlaluan seperti itu pada Mike" protes bunda yang sudah tidak tahan melihat Mike yang kebingungan dan menuruti keinginan Lira. Bunda merasa Lira sudah keterlaluan.
"Tapi Bun..."
"Darimana kamu tau Mike tidak tulus?" ucap bunda lagi, menenangkan Lira yang ingin memaksa Mike mengulang ucapan maaf untuk Antyka. Lira terdiam setelah bunda mencegahnya. Tapi wajahnya masih terlihat kesal.
"Duduk Mike, kita makan" bunda menengahi ketegangan. Mike hanya mengangguk ia masih menatap Lira yang masih kesal padanya.
Mike menggeser kursi untuk Lira, duduk. "Duduk sayang, jangan marah terus. Tidak baik untuk bayi kita" Mike berucap dengan lembut. Tatapannya begitu memuja pada Lira. Saat tangan Mike akan mengelus perut Lira yang sudah terlihat sedikit menyembul, Lira menepis tangan Mike dari perutnya.
***
Antyka merasa gelisah di dalam kamarnya. Ia di temani oleh Livia dan juga Caya.
"Anty gugup?" tanya Livia dengan wajah polos. gadis itu berdiri sambil mengintip ke arah ruang tamu yang terlihat ramai.
"Apa acaranya sudah di mulai?" Tanya Antyka penasaran.
"Kayanya belum deh, Anty"
Antyka berusaha menenangkan diri dari rasa gugup. Walaupun ini bukan yang pertama bagi Antyka. Tapi tetap saja ia masih gugup bahkan lebih gugup dan mendebarkan sekarang. Dahulu ia belum merasakan cinta bahkan ia sangat tenang.
Pintu kamarnya di ketuk, Zeind dengan baju batik menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Anty ayo keluar! semua sudah datang. Acaranya mau di mulai"
"Aku gugup Zeind" Antyka menggenggam tangan Zeind
"Segugup itu, dilamar oleh orang yang sama?" Zeind mencoba untuk menggoda Antyka.
Antyka tersipu malu. Benar, meski ini yang kedua tapi rasanya lebih mendebarkan. Perasaannya campur aduk.
Saat sudah berada di depan, Antyka mencuri curi pandang mencari sosok Alif. Saat bertemu, Pria itu terlihat semakin menawan dengan baju batiknya.
"Pak Alif" lirih Antyka tercekat. Mendadak tenggorokannya kering. Alif tersenyum sembari menggendong Caya yang langsung menghambur dalam pelukannya begitu datang.
Ayah Haris mewakili Alif mengutarakan niat baik untuk meminta Antyka kembali menjadi istri Alif.
"Saya Haris Pradipta, mewakili putra saya. Ingin menyampaikan niat baik untuk kembali menyambung tali silaturahmi yang pernah terputus karena suatu hal. Alif putra kami, yang banyak kesalahan, kekurangan berniat meminang Antyka untuk kembali menjadi istrinya. Dengan segala kerendahan hati, kami berharap keluarga besar Antyka bisa menerima niat baik kami"
"Terima kasih pak Pradipta, saya Andrean Luthfi Alhabsy selaku kakak dari Antyka, merasa bahagia, apa yang pernah terputus bisa kembali tersambung. Dalam perjalanan manusia pasti pernah mengalami ujian. Begitu pula Antyka dan Alif, semoga ujian yang pernah menempa mereka, semakin menguatkan dan mendewasakan keduanya dalam menjalani hidup. Untuk itu kami keluarga besar Antyka menerima niat baik dari keluarga Pradipta, Pinangan untuk Antyka kami terima"
"Alhamdulliah ...."
__ADS_1
Bunda Amalia menyematkan cincin pada Antyka. Kembali mereka berunding untuk menentukan hari pernikahan mereka yang akan di gelar satu Minggu ke depan dengan cara yang sederhana saja