Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
39.Caya dan tingkahnya


__ADS_3

Caya gadis kecil itu tidak biasanya terlihat sedikit pendiam. Antyka sedari tadi memperhatikan tingkahnya menjadi kawatir. ia mendekati putrinya, mengusap lembut kepalanya. terkadang ada perasaan bersalah yang hinggap di hati Antyka. Beberapa hari ini ia lebih sibuk mempersiapkan hari pernikahannya dengan Ibra.


" Caya kenapa, ada yang sakit" tanya Antyka. Sedang Caya hanya menoleh sebentar pada Antyka tanpa menjawab." Caya marah sama momy?" lagi lagi hanya gelengan kepala.


"Momy pernah dengar cerita cinderela?" tiba tiba saja Caya bertanya seperti itu. Antyka tersenyum Sepertinya hampir semua orang pernah dengar kisah klasik yang mendunia ini.


"Tentu saja pernah Caya, itu dongeng paling terkenal. kenapa ?"


" Caya tidak suka dongeng itu"


" Tidak suka?" Hampir sebagian wanita sangat menyukai kisah cinderela. Sosok cantik yang di pertemukan dengan pangeran tampan.


"Iya, Caya tidak mau punya saudara tiri jahat" Ucap Caya dengan mimik wajah yang hampir menangis. " Momy, boleh Caya telepon Daddy, Caya ingin bicara sama Daddy" Antyka hampir tidak percaya dengan ucapan putri kecilnya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Caya saat ini. Apa Caya tidak mau ia menikah dengan Ibra atau....


"Ada apa Caya, boleh momy tau kenapa Caya berpikiran seperti ini? tidak semua saudara tiri itu jahat " Antyka mencoba untuk memberi penjelasan.


"Momy boleh Caya telepon Daddy'' Suara Caya berubah dengan intonasi yang tinggi. kemudian embun bening mulai meleleh Antyka menjadi kalang kabut. ia kebingungan, bahkan dirinya tidak memiliki no ponsel Alif.


" Caya tenang ya, nak. Momy cari nomor ponsel Daddy dulu" Namun sayang tangis Caya semakin kencang


Terpaksa Antyka menghubungi mantan kakak iparnya Mike. Mudah mudahan ia tidak mengganggu pria itu. Dengan segenap keberanian yang tersisa, Antyka menekan nomor Mike. Antyka tau, Mike bukan orang sembarangan yang mudah untuk dihubungi.


" ya halo, Anty"


" Kak Mike ... maaf, bisa saya minta nomor pak Alif"


"Kebetulan, saya sedang bersama Alif, Anty. Sebentar saya berikan"


" Anty, ada apa?" Suara gugup Alif dan semakin panik saat mendengar suara Cahaya yang menangis kencang, hatinya serasa di remas remas. " Cahaya kenapa aku kesitu. Kalian di rumah kan?"


"Jangan pak Alif cahaya ingin bicara...." tapi ponsel Mike sudah menutup Antyka tidak di beri kesempatan untuk bicara. "Kebiasaan dari dulu sulit sekali berubah"


Antyka menggendong Caya, mendiamkan putrinya.


" Caya, Sayang berhenti nangisnya. Daddy Caya sudah mau kesini"


" Momy, Caya mau Daddy, Caya mau ketemu Daddy......"


Hanya lima belas menit Alif sudah datang ke rumah Antyka. Begitu pintu di buka ia langsung memeluk Caya dan menggendongnya. Alif lupa, sekarang ini dia adalah tamu bukan lagi menantu"


Antyka meninggalkan Caya dengan Alif. Ia keluar dari rumah. Kebetulan mereka hanya berdua di rumah, mama sedang berada di rumah kak Luthfi. Bik asih sudah pulang sejak sore tadi. Ia duduk di teras rumah sambil menatap langit malam.Udara malam terasa sangat dingin. Sepertinya akan turun hujan. Antyka sudah tidak lagi mendengar suara tangis Cahanya. Rupanya Alif berhasil menenangkan putrinya.


" Anty..." Suara Alif sudah berada di belakangnya. Antyka yang sedang melamun terlonjak kaget.


" Ada apa ?"


" Caya ingin tidur denganku apa aku boleh menginap?"


" Tidak bisa, di rumah cuma ada aku dan Caya"


" Aku tidak akan macam macam Anty, kamu pikir aku manusia tidak beradab. Kamu pernah jadi istriku bukan?. Aku dulu begitu sabar menunggu sampai kamu mengijinkan aku untuk menyentuh. Apa lagi sekarang memang kita tidak boleh melakukannya, Dosa"


" Bukan begitu, tetap saja tidak pantas. Sebaiknya kamu pergi sebelum hujan turun deras. Cahaya sepertinya sudah tenang"


Baru saja Antyka berucap. Kilat menyambar dengan gemuruh yang menggelegar disertai hujan yang sangat deras turun dan angin kencang. Antyka menatap Alif bingung tidak mungkin ia mengusir Alif saat ini juga. Tapi berdiam diri di luar rumah pun membuatnya kedinginan.


Terdengar Tangis Cahaya memanggil manggil Antyka dan Alif . Anak kecil itu rupanya ketakutan. Antyka setengah berlari menghampiri Cahaya dan memeluknya.


" Ada mommy disini jangan takut " Antyka menenangkan cahaya. Alif melihatnya dengan bahagia.


" Daddy, jangan pergi. Caya mau Daddy di sini"


"Caya.."


" Anty, biarkan saja " Alif menengahi perdebatan Caya dan Antyka "Daddy akan disini" ucap Alif bijak


" Mommy, Caya mau sama Daddy" Caya seolah takut kalau Alif akan meninggalkannya. Caya melepaskan diri dari pelukan Antyka dan beralih pada Alif.


Caya membawa Alif ke dalam kamarnya. Ia menempel begitu lengket.


" Daddy, kenapa Daddy tidak tinggal saja disini?" Caya merajuk tanpa berkedip menatap Dadynya penuh permohonan.

__ADS_1


" Tidak bisa Caya, Daddy dan mommy sudah berpisah"


" Kenapa berpisah, Daddy?"


" Karena Daddy nakal. trus mommy marah pada Daddy. Momy tidak mau lagi sama Daddy"


" Daddy minta maaf sama momy. Ayo Caya antar"


" No Caya. kesalahan Daddy besar sekali. Momy tidak akan menerima Daddy lagi. Caya sayangkan sama momy? Kalau Caya sayang, biarkan Momy dan Daddy seperti ini. Momy lebih bahagia tanpa Daddy"


" Tapi Caya lebih suka ada Daddy dan momy"


" Caya berdoa ya biar Daddy dan momy bisa bersama lagi. Tapi apapun yang momy lakukan, asal momy bahagia, Caya harus menerimanya. Daddy akan selalu ada buat Caya. Meskipun Daddy tidak tinggal di sini"


" Apa Daddy mau menikah lagi? Caya tidak mau Daddy menikah lagi. Caya tidak mau punya saudara tiri yang jahat, seperti cinderela"


"Daddy tidak akan menikah lagi. Dady sudah punya Caya, putri Dady yang cantik" Alif tertawa lebar mendengar penuturan dan pola pikir anaknya.


Caya akhirnya tertidur, setelah semua unek unek dalam hatinya keluar. Hujan mulai reda. Alif keluar dari kamar Caya.


" Anty, hujan sudah reda, aku akan pulang. kalau nanti Caya bangun dan mencariku katakan aku sedang di rumah sakit memeriksa orang. Kalau dia masih merengek telepon saja ke nomorku" Alif memberikan kartu namanya pada Antyka kemudian berpamitan untuk pulang.


Saat mobil Alif keluar dari rumah Antyka ada satu mobil mewah yang dari tadi terparkir di bahu jalan mengawasi pergerakan Alif. Di dalam mobil mewah itu Ibra masih duduk dengan rasa cemburu yang membara. ia merasa dihianati oleh Antyka. Mobil itu pun menyusul Alif dengan kekuatan penuh. hampir saja mobil Alif tertabrak .


Alif menghentikan mobilnya berlahan di sisi jalan sambil menenangkan diri. ia tak habis pikir dengan orang yang hampir menabraknya. Mungkin mereka orang mabuk yang tidak menyayangi nyawa mereka.


Ibra melaju tanpa arah hingga berhenti di sebuah club malam. Pikirannya yang kacau membawanya masuk kedalam. Hingar bingar musik memekakkan telinganya. Bukannya ia tenang tapi justru ia tambah pusing.


Ibra pun keluar dengan beberapa botol minuman setan, ia kembali melajukan mobilnya ke Apartemen. Ibra duduk sambil mengusap pelipisnya. Dalam benaknya ia membayangkan Antyka bersama Alif kembali. Bayangan buruk itu terus menggoda dan membuat dadanya sesak.


Meski sudah menjelang pagi ia masih belum bisa memejamkan matanya. Ia melirik botol minuman setan yang ia beli semalam. Berlahan ia meneguknya sedikit demi sedikit. Ibra roboh diatas lantai. Sambil memejamkan matanya. Ibra merasakan Antyka begitu kejam padanya.


Alisa sang sekretaris terus menerus menghubungi Ibra. Rapat penting yang harus dihadiri Ibra hari ini tidak boleh batal. Banyak kesepakatan besar di dalamnya. Alisa berulang kali menghubungi Ibra. Akhirnya Alisa terpaksa mendatangi apartemen Ibra.


Alisa membuka pintu apartemen perlahan. Ia memang terbiasa masuk ke mari untuk membantu urusan Ibra yang mendesak. Alisa mengedarkan pandangannya mencari sosok Ibra. Hingga saat melangkah kaki Alisa menyangkut sesuatu dan itu membuatnya terjatuh. Teryata kaki Ibra yang menjulur diantara sofa yang membuatnya tersandung


Ibra tergeletak di lantai, Alisa memeriksa keadaan Ibra , kemudian ia menghubungi tuan Hendro, melaporkan keadaan Ibra yang sebenarnya. Tuan Hendro meminta Alisa untuk mengurus Ibra. Sementara ia yang akan melakukan meeting yang sudah direncanakan.


**


" Dady di mana?"


" Daddy di rumah sakit sayang"


"Caya mau Daddy datang, Caya nggak mau sekolah"


" Kenapa Caya?"


" Teman Caya ...huwaaaaa huwaaa" Caya malah menangis kencang.


" Daddy segera datang, Caya jangan nangis ya"


Alif datang ke rumah Antyka. Saat putrinya masih terisak. Caya tidak mau pergi ke sekolah. Alif meraih tubuh Caya dan menggendongnya keluar rumah.


"Caya tidak mau sekolah kenapa? Caya tau kan, kalau mau pinter Caya harus rajin belajar"


" Teman Caya bilang, kalau Daddy sama momy pisah, Caya akan punya saudara tiri. Daddy akan menikah lagi dengan wanita jahat yang membawa anaknya" Sahut Caya, perkataan Caya membuat Alif tergelak.


" Yang mau menikah lagi itu momy Caya. Dady tidak akan menikah lagi jika bukan dengan Momy" gumam hati Alif miris.


" Itu tidak benar, Sekarang Caya ke sekolah ya nanti Dady Antar"


Caya masih menggeleng tidak mau pergi ke sekolah. Ia masih senang dalam pelukan sang Daddy.


" Kenapa masih tidak mau sekolah? Dady janji tidak menikah lagi"


" Teman teman Caya tidak percaya. Soalnya Dady tidak pernah datang. Mereka bilang Dady tidak sayang lagi sama Caya"


" Dady selalu sayang sama Caya. Apa yang baik buat Caya, pasti Dady lakukan. Kalau Caya tau, cinta Dady besar sekali " ucap Alif, ia merasa sedih telah membuat keputusan yang salah. hingga membuat cahaya merasakan perasaan yang seperti ini.


" Caya..., kita berdoa pada Tuhan, semoga kita bisa bersama. Daddy, momy dan Caya"

__ADS_1


" Daddy.. ,Caya akan terus berdoa"


" Putri Daddy memang terbaik, mau berangkat sekolah. Daddy akan antar Caya dan menunggu Caya sampai pulang. Daddy akan kasih tau teman teman Caya. Kalau Daddy sangat menyayangi Caya, mau?"


" Mau Daddy, Caya mau sekolah diantar Daddy "


" Ayo ambil tas Caya dan pakai sepatunya"


Caya masih memeluk leher Alif dan merebahkan kepalanya di dada Alif .


" Anty hari ini aku akan mengantar dan menjemput Caya, tolong ambilkan sepatu dan tasnya"


" Caya benar mau sekolah ?"


" Iya" Alif menerima sepatu Caya dan memakaikannya. Caya seperti terkena sihir, setelah berbicara dengan Alif. Dengan senang hati Caya mau berangkat ke sekolah lagi. Dengan riang Caya menggandeng lengan Alif menuju mobil yang akan mengantar mereka ke sekolah.


Alif mengantar Caya sampai ruangan kelas. Ia memperkenalkan diri pada teman teman Caya yang lucu. Mereka masih anak anak tapi terkadang ucapan mereka bisa melukai perasaan temannya tanpa sengaja.


Mereka tampak antusias berkenalan dengan Alif, Alif juga bercerita tentang profesinya sebagai seorang dokter. Hampir semua anak anak mengatakan ingin menjadi dokter. Menyenangkan sekali berinteraksi dengan malaikat malaikat kecil tanpa dosa, mereka sangat polos dan jujur. Cahaya pun tampak sangat bangga memiliki Dady seperti Alif. Binar mata Caya tampak bersinar. Perasaan bahagia terpancar di wajah putri cantiknya.


Bagi Alif senyum dan bahagia Caya adalah tujuan hidup Alif. Ia bisa melakukan apapun agar itu terwujud.


**


Antyka berkali kali menelepon Ibra. Seharian ini Ibra sulit sekali dihubungi. Akhirnya Antyka memberanikan diri untuk menghubungi mami Hanna. Beruntung mami Hanna memberi tahu keadaan Ibra yang katanya sedang sakit. Antyka berjanji akan menemui Ibra nanti sore di apartemennya.


Sore itu langit begitu cerah, Antyka memencet bel yang dihuni oleh Ibra. Tidak lama sosok Ibra muncul dengan wajah yang kusut. Tatapannya tajam menghunus. Antyka masuk dengan menenteng kotak makan.


" kak Ibra sakitt?" ujar Antyka sembari mengikuti Ibra masuk ke dalam ruang tengah. Ibra hanya mengangguk dan kembali merebahkan diri diatas sofa.


"Kak Ibra Anty mau bicara, Semalam Daddynya Caya datang. Caya sedang ingin bersama Daddynya. Sebenarnya aku sudah melarang, tapi ia tetap datang. Maaf ya kak Ibra, lagi sakit gini tapi Anty cerita yang tidak ingin kak Ibra dengar. Daddy Caya sampai malam karena terjebak hujan"


"Anty, Aku cinta kamu" Ibra memeluk Antyka erat. " Apa kamu benar ingin menikah denganku, Anty? Kamu yakin tidak ingin kembali dengan Daddynya Caya?" Pelukan Ibra melemah, jemari Ibra mengusap pipi, hidung dan terdiam di bibir. Ibra mendekatkan wajahnya. Menyentuh bibir yang membuatnya mabuk.


Antyka mendorong dada Ibra dengan cepat. Antuka tidak mau berbuat jauh dan tergoda.


" Kamu belum bisa menerima aku sepenuhnya, Anty. Hanya ciuman pun kamu tidak bisa. Bagaimana kamu bisa menyerahkan diri seutuhnya jadi istriku" ucap Ibra sendu


"Kak Ibra bukan kah ini tidak pantas, kita sudah melewati batas. Aku tidak bisa menyerahkan diriku pada orang yang memang tidak halal. Aku menyayangi kak Ibra. Mungkin sebentar lagi aku mencintai kak Ibra. Kak Ibra tau persis prinsip yang aku pegang dari dulu. Bukan kah kak Ibra juga sama?"


Ibra tersenyum sinis. Mendengar ucapan Antyka.


"Aku perlu bukti kalau kamu mencintaiku, Anty''


"Kak Ibra masih terus meragukan aku?"


"Aku mau kamu menyerahkan dirimu Anty, sebagai bukti, bahwa kau tidak pernah berpaling dariku"Ibra terus merangseg


Antyka, berdiri dan meletakan kotak makan.


"Kak Ibra bisa memegang janjiku, kita akan menikah. Aku mungkin datang di saat yang tidak tepat. Aku anggap tidak pernah mendengar ucapan tadi, dari mulut kak Ibra. Aku memaklumi kak Ibra saat ini masih dalam pengaruh alkohol. Kita bicara lagi jika kak Ibra sudah sehat"


Antyka setengah berlari keluar dari apartemen Ibra. Selalu sama, Ibra belum bisa mempercayai keputusannya untuk memilih Ibra. Bahkan Ibra dalam pengaruh alkohol memintanya untuk menyerahkan diri. Hal yang sangat menyakitkan.


Anty sampai rumah saat sudah malam. Ia disambut oleh tawa Caya yang terdengar sangat gembira. Seharian ini Alif benar benar menunggu Caya. Dan menemaninya bermain.


" Pak Alif masih di sini?"


" Aku menunggu kamu sampai pulang. Kamu terlihat sangat letih, Anty. Cepat mandi dan istirahat"


" Aku bisa mengurus diriku sendiri, tidak usah mencampuri urusan pribadiku" jawab Antyka ketus


" Maaf Anty, aku hanya berniat.." Alif mengunci mulutnya tidak ingin membuat masalah


"Terima kasih. Sekarang aku sudah pulang, silahkan kalau pak Alif mau pulang"


" Baiklah, aku akan berpamitan dulu dengan Caya"


Alif meninggalkan Antyka yang dalam keadaan bad mood. Mungkin wanita itu terlalu lelah dengan kegiatannya hari ini, mungkin. Itu yang ada di benak Alif.


" Caya, Daddy harus pulang. Caya ingat kan kalau Daddy ini harus kerja. Caya jangan nakal. dan rewel seperti tadi, Dan jangan ganggu Momy, momy sedang capek"

__ADS_1


" Iya Caya ingat. Caya mau jadi anak Daddy yang baik'' Caya memeluk Alif erat kemudian mengikuti telunjuk Alif di pipi kanan dan kiri dengan kecupan " I love you Daddy"


Alif tersenyum dan meninggalkan Caya dengan tenang. Ia berharap apapun yang sedang Antyka rasakan semoga cepat berlalu. Ia ingin wanita itu bahagia....


__ADS_2