Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
54. Jebakan untuk Agra.


__ADS_3

"Kamu gak bisa main pergi begitu saja, Antyka. Sekarang ini masih bahaya" ucap Luthfi sembari duduk dan menyeruput teh hangat yang Karin suguhkan.


Luthfi mencegah Antyka untuk bepergian sendiri. Antyka baru saja sembuh dari sakitnya. Luthfi sangat tau di luar sana bahaya masih mengintai adiknya.


"Terus Anty harus gimana ? masa iya, Anty diam terus dirumah kak Luthfi. Anty harus membiayai hidup Anty juga Caya. Belum lagi urusan restoran dan garmen milik mama"


"Kamu gak usah kawatir, soal biaya hidup. Untuk sekarang Caya, ada Ayahnya. Kamu masih punya kakak. Keadaan belum aman buat kamu bepergian. Urusan restoran dan garmen, kakak sedang cari investor yang mau membantu. Sudah ada beberapa orang yang mengajukan tapi masih aku pertimbangkan"


"Tapi kak, Anty tidak bisa terus terusan begini. Mengandalkan kakak"


"Ya mau gimana lagi, Keselamatan kamu lebih penting, Anty. Lagi pula kamu cuma punya kakak. Lain halnya kalau kamu punya suami" Tegas Luthfi pada Antyka. Luthfi tau ucapannya akan membuat Antyka merasa terpojok.


Antyka terdiam dengan ucapan Luthfi. "Apa kak Luthfi ingin Anty, menikah lagi?" suara Antyka lirih ia kembali menunduk.


Luthfi mengusap kepala Adiknya. pria itu tau, Antyka merasa tidak enak hati telah membuatnya repot


"Tentu saja, Anty. Kakak ingin kamu menikah lagi. Bukan karena kakak tidak mau mengurusimu. Kakak ingin kamu ada yang menjaga, melindungi dan menyayangimu tanpa kamu harus merasa sungkan. Kakak sangat menyayangimu" Luthfi mengusap kepala Adiknya penuh kasih sayang. Ada harapan yang besar dalam benak Luthfi tentang masa depan adiknya ini.


"Tadi kakak sudah menghubungi Alif, Supir Alif akan datang untuk menjemput Caya, kalau kamu ingin keluar, kamu bisa ikut. Tidak usah sungkan, ini untuk keselamatan kamu dan Caya"


Antyka duduk diantara bangku yang ada di area taman dekat tempat sekolah Caya. Matanya menatap lurus kearah jalanan yang lumayan sepi. Lima belas menit lagi Caya keluar. Antyka tidak bisa sebebas dulu, sebelum kejadian kejadian buruk menimpanya. Ia bisa leluasa bepergian sendiri tanpa supir.


Semilir angin berhembus, menerpa wajah cantik Antyka. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sebuah mobil hitam mewah terparkir. Di dalamnya Agra sedang duduk memperhatikan Antyka. Ada denyut rasa, yang terus menelisik di dada Agra. Pria itu bimbang, setelah dua misi menghancurkan usaha Antyka selesai, tapi hatinya masih enggan untuk berpaling.


Agra terus memantau dalam mobilnya. Kemudian ia turun untuk menghampiri Antyka. Baru beberapa langkah, seorang pria mendekati Antyka. Pria dengan seragam hitam hitam menatap lurus pada Agra.


Agra mengurungkan niatnya untuk mendekati Antyka. Sepertinya keberadaannya sudah terdeteksi. Agra kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Sepanjang perjalanan, Agra memaki kesal, sulit sekali mendekati Antyka. Kemudian terlintas di kepalanya tentang Luthfi..


Caya terlihat senang sang Momy akhirnya bisa kembali menjemputnya di sekolah.


"Momy, sudah sehat?" gadis itu segera meraih jemari Antyka dengan senyum sumringah.


"Sudah sayang, momy sudah sehat. Caya..., momy kangen" Antyka memeluk putrinya erat.


"Maaf Bu Antyka, saya diminta tuan Alif untuk mengantar ibu dan non Caya ke restoran. Tuan Alif bilang, ia ingin makan siang dengan ibu dan non Caya" ucap sopir saat mobil sudah mulai melaju


"Ya sudah gak papa, ikuti saja permintaan pak Alif, saya tidak keberatan"


"Selamat siang, Anty" sapa Alif saat mereka sudah ada di dalam restoran. Alif terlihat tampan dengan kemeja warna navy. Ia mengambil tempat duduk di depan Antyka dan Caya.


"Siang, pak Alif sudah selesai dinasnya?" tanya Antyka basa basi, untuk mengurai rasa canggung dan debaran jantungnya yang tidak karuan. Sedang Caya langsung berpindah mendekati Alif. Gadis kecil itu seolah tau dan memberi kesempatan ayahnya agar lebih leluasa memperhatikan Momynya


"Belum, aku hanya ambil jam makan siang. Kalian sudah pesan?"


"Kami menunggu pak Alif"


"Ya sudah, aku saja yang pesan" Alif memanggil pelayan untuk memesan menu yang Caya dan Antyka sukai..


Antyka menatap Alif lekat, saat pria itu asik bercengkrama dengan Caya. Alif masih menjadi pribadi yang sama. Ia memperlakukan dirinya sangat baik bahkan istimewa. Ada rasa hampa yang membuat sisi hati Antyka kosong merindu. Ruang yang dulu terisi sosok Alif. Antyka menepis perasaannya. Ia terlihat gugup sendiri.


"Kamu kenapa terlihat gelisah?" Alif memperhatikan perubahan mimik wajah Antyka. Antyka hanya menggeleng dan menatap ke arah lain. Menatap beberapa orang yang lalu Lalang melewati meja mereka


Alif menarik nafas, hatinya menebak apa yang ada di pikiran wanita yang selalu membuatnya terpaku. Tidak lama pesanan mereka datang.


"Ini sup iga kesukaan mu, meski tidak sama rasanya dengan yang ada di restoran Ayah" Alif mendorong mangkuk ke depan Antyka.


"Terima kasih" singkat Antyka menghindari kontak mata dengan Alif.


"Caya mau yang ini, Daddy" Caya menunjuk gurami bakar di atas meja.


"Iya, nanti Daddy bantu pisahin durinya, ya" Sambil mengusap kepala Caya. Caya hanya tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya.


Alif mulai sibuk memilah duri dari ikan dan meletakan dagingnya ke piring Caya. Sesekali ia melirik Antyka yang sedang makan dengan tenang. Selesai makan Caya sudah merengek meminta pulang. Mungkin setelah makan Caya mengantuk.


Dengan sigap, Alif menggendong Caya menuju tempat parkir.


"Kamu ikut Caya kerumah bunda dulu, tadi bunda juga sudah pesan, ingin ketemu kamu. Bunda butuh teman ngobrol"


"Iya"


" Aku langsung ke rumah sakit dulu. Kalian hati hati di jalan" Ucap Alif berpamitan setelah memastikan Caya dan Antyka memasang seat belt mereka. Caya melambaikan tangan saat mobil mulai melaju.


**

__ADS_1


" Akhirnya kamu datang Anty, bunda sudah ingin ketemu kamu tapi Alif bilang, kamu sakit? Kamu harus istirahat, tidak boleh di ganggu"


"Cuma pusing dan sedikit demam saja, Bun. Mungkin karena terlalu banyak pikiran"


"Sabar ya, Anty. yuk, ikut bunda ke taman samping rumah, bunda mau nunjukin kamu sesuatu"


"Bun, Anty mau bantu Caya ganti baju dulu"


"Tidak usah, sekarang Caya sudah biasa ganti baju sendiri. Iya kan, Caya?" Oma menoleh pada cucunya


"Iya momy, Caya sudah bisa ganti baju sendiri" Caya antusias memamerkan kemandiriannya, langsung masuk ke kamarnya. Antyka hanya mengekori Caya dan memperhatikan Caya meletakkan tas kemudian membuka bajunya dan mengganti dengan baju yang sudah di sediakan diatas tempat tidur. Tangan kecilnya sudah cukup mahir, ia juga meletakan baju kotor di tempat yang sudah di sediakan.


Baru dua minggu Antyka tidak bersama Caya, putri kecilnya sudah mengalami banyak kemajuan. Alif mendidiknya dengan sangat baik. Meski di rumah ini banyak sekali pelayan yang siap untuk membantu.


"Kamu lihat sendiri, kan. Caya sudah semakin pintar" Bunda menggandeng Antyka ke taman yang ada di samping rumah. Sedang Cahaya di temani oleh suster Ana.


Mereka duduk di teras menghadap taman yang memang Asri. Ada beberapa koleksi anggrek milik bunda yang sedang bermekaran, Cantik.


"Apa kamu masih menyimpan rasa marah pada Alif?" tiba tiba bunda bertanya hal ini lagi.


Antyka gugup, gelisah dengan tatapan bunda Amalia. Wanita paruh baya itu terus menatapnya lekat. Ingin memindai perasaan matan menantunya.


"Bunda akui, Alif yang salah. Wajar saja kamu sakit hati, Antyka. Tapi semua yang dia lakukan untuk kebaikan kamu waktu itu. Sejak kecelakaan, ia jadi lebih sensitif. Dia berjuang agar bisa kembali pulih" bunda menghentikan ucapannya, Ia menarik nafas dalam membuang rasa sakit yang ada di dadanya. Kelebat bayangan Alif saat harus mengalami banyak kesakitan.


"Alif sakit, tapi ia tidak ingin membebani mu. Apalagi ia seperti tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Saat Farah memberinya fotomu dan Ibra. Ia semakin merasa bersalah. Harusnya kamu bisa bahagia. Bukannya ....." Bunda terisak. Suaranya hilang, hanya linangan air mata yang terus mengalir.


"Lihat ini Anty, Alif harus dioperasi berulangkali akibat jaringan ganas yang bersemayam di tubuhnya. Dia hampir menyerah, tapi kelahiran Cahanya memecutnya untuk kembali berjuang. Foto bayi yang Mike kirim memberi harapan dan kekuatan bagi Alif. Terima kasih sudah melahirkan Cahaya" Bunda memperlihatkan keadaan Alif dari waktu ke waktu perubahan tubuhnya lewat gambar yang ada di ponselnya.


Dada Antyka terasa sesak, perasaan hancur dan bersalah, membiarkan Alif berjuang sendiri dalam sakitnya. Bahkan ia sangat kecewa pada awalnya.


"Kenapa tidak memberitahu Anty dari awal, bunda?"


"Alif terlalu mencintaimu. Alif takut, kamu terlalu dalam mencintainya dan tidak bisa lepas dari nya. Alif ingin kamu memiliki masa depan yang lebih pasti. Harapan Alif sembuh hanya berapa persen, Anty"


"Dia memilih kamu membencinya, dari pada melihat kamu meratapinya. Maafkan Alif, Anty"


"Setelah sembuh ia belum ingin kembali, dia tidak ingin kamu menatapnya dengan perasaan iba, terlalu menyakitkan, Karena tubuhnya berubah total. Dia berusaha membuat tubuhnya kembali normal. Genap lima tahun kami menghilang"


" Bunda....." Antyka terisak dalam pelukan bunda Amalia.


"Bunda sudah mengatakan yang seharusnya bunda katakan dari dulu. Kamu pasti tersiksa dengan ulah kami. Maaf...., kami sudah mencoreng nama baikmu. Hingga orang berpandangan buruk"


"Bunda sudah patah harapan saat kamu benar benar akan menikahi Ibra saat Alif sudah kembali. Teryata tuhan berkehendak lain di detik terakhir pernikahan kalian batal. Maaf saat itu bunda terus terang saja lega. bunda tau bunda salah dan egois. Merasa lega saat kamu harus kembali menelan rasa malu dan pahit"


"Bunda berdoa, semoga jodohmu memang Alif, Anty. Mungkin badai ini bisa lebih menguatkan perasaan dan kedewasaan kalian. Itu harapan bunda. Semua kembali pada kalian yang akan menjalaninya"


***


Sampai di hotel Agra menghubungi orang kepercayaannya. Ia kembali mengatur strategi untuk bisa mendekati Antyka. Ia masih merasa penasaran. Agra berjalan mondar mandir di ruangannya. Sampai sebuah ketukan di pintu membuat Agra beranjak untuk membukanya


"Kami datang tuan" mereka membungkuk di depan Agra menunggu perintah.


"Duduk, dengarkan arahanku!" Agra berjalan mendekati sofa "Buat pengiriman barang tuan Luthfi gagal untuk bulan ini. Kalian hanya perlu membuat barang itu rusak dan tidak layak kirim. Ini alamat workshop milik tuan Luthfi" Agra menyodorkan sebuah Alamat pada orang suruhannya.


"Kalian tidak usah kawatir, kita tidak mencelakai orang, hanya membuat tuan Luthfi meminta pertolongan padaku. Itu tujuanku. Apa kalian paham?" Tegas Agra


"Baik tuan, kami akan lakukan sesuai perintah?"


"Ingat jangan ada orang yang terluka" Kembali Agra mengingatkan anak buahnya.


"Kami mengerti tuan"


"Ini untuk biaya oprasi kalian. Jika sudah berhasil aku akan memberi dua kali lipat dari jumlah ini" Agra melempar amplop tebal pada dua orang suruhannya sambil tersenyum licik.


Dua orang itu dengan senang hati menerima pemberian Agra.


"Tunggu..., aku memberi waktu hanya dua hari. Kalian harus cepat bergerak dan menemukan alamatnya"


"Tentu saja tuan, kami pasti bisa. Tuan tidak akan kecewa dengan hasil kerja kami"


" Bagus..., saya percaya pada kalian. Dua misi kemarin juga kalian berhasil. Kalian boleh pergi sekarang. Saya sedang sibuk" Agra mengusir dua orang suruhannya, setelah selesai memberikan arahan.


Agra menyeringai senang, rasanya tidak sabar. Ia membayangkan Luthfi menghadap padanya untuk memohon batuan darinya. Tentu saja Agra akan membantu tapi tidak dengan cuma cuma. Agra ingin mendekati Antyka dengan leluasa.

__ADS_1


Saat malam menjelang, Agra kembali dilanda perasaan resah. Ia sudah tidak sabar menanti hari berganti. Kabar yang akan membuatnya gembira. Agra memutuskan untuk pergi ke club tempatnya menghabiskan malam yang sepi. Juga untuk menghilangkan rasa resah yang mengusik nuraninya. Agra menghanyutkan diri pada minuman keras dan hingar bingar dunia malam.


***


Luthfi sedang berada di ruang tengah bersama Karin. Ia menikmati waktu santai saat malam merambat. Dimana Livia dan Zeindra asik dengan kegiatan belajar mereka.


"Mas.."


"Hmmm"


"Matikan saja televisinya, sudah malam" Ujar Karin sambil bangkit dari duduknya. Beberapa kali ia sudah menguap.


"Kamu mau ngajakin aku tidur?" Tanya Luthfi dengan senyum genit.


"Iya, aku sudah ngantuk" Karin kembali menguap tidak memperhatikan kode dari sang suami


"Biar tidak ngantuk kita olah raga dulu yah?"


"Apa sih mas?, gak jelas banget" Karin meninggalkan Luthfi. Ia berjalan lebih dulu ke dalam kamarnya.


Luthfi mengikuti Karin setelah mematikan televisi terlebih dulu.


"Nin, Lira istri Mike sedang hamil lagi" Ucap Luthfi saat mereka sudah merebahkan diri di atas kasur. " Lira kan usianya sama, sama kamu, Nin"


"Trus...., mas mau aku hamil juga?"


"Kayanya lucu, Nin. Kita punya anak kecil lagi" Luthfi terkekeh membayangkan memiliki anak lagi


"Mas, jangan keseringan ngobrol sama Mike. Jadi gak karuan kaya gini"


"Mau ya, Nin" Luthfi merajuk. Tangannya sudah bergerilya kemana mana.


"Gak" ucap Karin tegas sambil menepis tangan Luthfi yang mengganggu ketenangannya.


"Nin ....." Kembali luthfi merajuk dan semakin berusaha mendapatkan keinginannya.


"Gak mau"


"Kriiiiiing " Dering ponsel diatas nakas menghentikan kegiatan Luthfi.


Dari seberang sana, Suara panik dan gugup mengabarkan bahwa barang yang akan di kirim telah di rusak oleh orang tak dikenal. Luthfi menarik nafas panjang. Ia teringat perbincangannya dengan Mike kemarin siang. Luthfi meminta pekerjanya untuk tidak mengacaukan TKP, besok pagi ia akan pergi kesana.


Di sampingnya Karin yang tadi hampir terlelap langsung kembali segar. Ia tau ada masalah yang sedang menimpa suaminya.


"Kenapa mas, ada apa?"


"Tidur saja sudah malam" Ucapnya sambil mengusap kepala Karin. Luthfi tetap menyembunyikan keadaan. Ia tidak ingin membuat istrinya cemas


"Mas...., aku dengar. Kamu ada masalahkan?"


Luthfi menatap istrinya. Dan mengajak Karin untuk istirahat.


"Mas....." Karin masih saja penasaran tentang apa yang terjadi.


"Sudah tidur, semua baik baik saja"


"Tapi mas .."


"Kalau kamu tidak mau tidur, aku akan menidurimu, Nin" ancam Luthfi pada Karin. Karin langsung menghadiahi suaminya cubitan panas. Luthfi mengerang kesakitan.


Bisa bisanya dalam keadaan genting, Luthfi masih memikirkan hal seperti ini. Karin mendengus kesal. Namun semua sudah terlanjur. Aktifitas yang sedari tadi Luthfi damba, belum juga tercapai. Tanpa persetujuan Karin, Luthfi langsung eksekusi saja.


"Mas mau kemana?" tanya Karin saat terbangun dari tidurnya. Ia melihat Luthfi sudah berpakaian rapih.


Luthfi mendekati istrinya yang baru membuka mata. Wajahnya masih kusut, tapi tidak mengurangi kecantikannya justru wanita di hadapannya terlihat semakin imut.


"Mas mau ke workshop yang ada di luar kota. Aku titip mama dan anak anak. Kalau ada apa apa kamu cepat hubungi Alif, ya"


"Kok tidak bilang dari semalam. Benarkan ada masalah di sana?" Sungut Karin


"Kamu jangan kawatir, aku bisa menanganinya. Terima kasih untuk yang semalam. Aku sangat suka" Kembali Karin mencubit pinggang sang suami yang tiba tiba menjadi genit. Luthfi kembali mengecup kening Karin dan memeluknya sambil berpamitan.


Luthfi segera mengirim pesan pada Mike. Kemudian Luthfi tersenyum saat mendapat respon balik dari Mike. Ia meminta sang sopir untuk segera melajukan mobilnya. Teryata dua orang pria dingin dan pendiam itu, sudah mengatur strategi untuk menjebak Agra.

__ADS_1


__ADS_2