Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
19.Pertemuan Ibra dan keluarganya


__ADS_3

" Cepat mandi, sudah sore" Alif melepaskan pelukannya, Padahal gemuruh hasratnya sudah mendidih di sana. Tidak ingin menyakiti wanita yang dicintainya. Bisa saja ia memaksa Antyka, toh dia adalah suaminya. Tetapi ia memilih untuk menaham diri, lagi dan lagi


Antyka bernafas lega, sengatan sengatan seperti aliran listrik di tubuhnya mereda. Untuk kesekian kali Alif berhasil mencuri kesempatan, sekedar mencumbu dengan gairah. Rasa asing yang membuat khilaf dan takut.


Setengah berlari ia masuk dalam kamar. Sudah bisa di pastikan wajah Antyka mirip kepiting rebus. Antyka menatap cermin mengamati dirinya yang terus salah tinggkah.


Antyka meletakan piring yang sudah berisi nasi dan juga lauk di depan Alif saat akan makan malam.


" Makan dulu pak Alif" panggil Antyka pada Alif yang masih asik dengan laptopnya.


Mencuri curi pandang, saat Alif sedang bekerja dengan serius. Debar debar halus di dadanya mulai muncul. Antyka mengakui, suaminya terlihat sangat keren saat ini. Padahal hanya mengenakan kaos putih dengan celana pendek.


Alif menutup laptopnya melirik kearah piring yang sudah ada di depannya. Dahinya mengerut.


"Sup dari restoran ayah?" tanya Alif sambil menyendok nasi.


"Iya, tadi Anty bawa banyak"


"Enak, aku juga suka. Oh ya, kamu ijin satu Minggu ya, untuk acara pernikahan kita"


"Kok lama pak, tiga hari kan cukup. Anty bakal ketinggalan materi dong, pak Alif"


"Tidak bisa Anty, aku mau satu minggu. Aku punya banyak cuti yang tidak pernah aku ambil. Ini saatnya. Aku mau liburan. Quality time sama istri, mumpung aku belum mulai praktek lagi. Aku tau kamu pintar Anty, tidak akan tertinggal" tegas Alif tidak ingin di bantah.


Pagi harinya, seperti biasa Alif sudah rapi, mengenakan celana kain dan kemeja panjang warna coklat muda. Semalaman ia mempersiapkan materi untuk bahan ajar selama satu minggu kedepan saat ia cuti itu pun belum selesai semua.


"Anty, mungkin nanti aku pulang sore, gak papa kan?"ucap Alif sambil memasang dasi di lehernya.


"Iya. Anty bisa kok, pulang sendiri"ucap Antyka sambil menghampiri Alif yang masih belum selesai memasang dasi.


" Anty bantu ya?" Antyka mengambil alih simpul dasi yang belum sempurna dengan kaki sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi Alif.


"Atau mau di jemput sama supir bunda?" reflek Alif sambil membungkukkan badannya. Aroma parfum lembut milik Antyka mulai menggoda Alif.


"Tidak usah, Anty pulang sendiri saja" Anty menggeleng dan menepuk dada bidang Alif setelah selesai memasang dasi.


Antyka memundurkan tubuhnya. Namun lengan kokoh Alif menahan pinggangnya dengan erat. Mata mereka saling beradu, kemudian hening.


"Sudah siang pak Alif, nanti kita terlambat" ucap Antyka mengingatkan. Sedang Alif langsung melepaskan Antyka. Tapi ...cup, kecupan sekilas yang cukup membuat Antyka menegang. Alif terkekeh dengan reaksi Antyka.


"Sayang, ayo kita berangkat" Suara Alif membuyarkan ketegangan Antyka. Mereka menuruni lift bersama menuju tempat parkir.


"Mau telepon siapa?" tanya Alif begitu melihat Antyka mendial satu nomer, saat sudah berada di dalam mobil.


"kak Luthfi"


" Oh..., mau ngabarin pesta pernikahan kita?"


"Iya"


"Jangan lewat telepon, besok saja kita kesana. Gak sopan Anty"


"Ya sudah, Anty ngabarin saja besok mau kesana, biar mas Luthfi ya gak pergi pergi"


Saat sudah di pelataran parkiran kampus fakultas ekonomi, Antyka turun. Ia menyodorkan tangannya pada Alif.


"Salim pak Alif"


"Panggilannya dirubah Anty! aku sudah jadi suami, bukan ayah mu" Sambil memberikan tangannya pada Antyka.


"Nggak mau, itu panggilan spesial Anty untuk suami" ucap Anty sambil melambaikan tangan usai berpamitan pada suaminya.


Alif melajukan kembali mobilnya kearah fakultas kedokteran, tempatnya mengajar.


Pukul dua belas siang ponsel Antyka berdering. Ia baru saja selesai membereskan bukunya bukunya yang berserak di meja.


"Ya, pak Alif" sahut Antyka begitu membuka ponsel


"Aku tunggu di parkiran"


"Katanya tidak bisa jemput?"

__ADS_1


"Cepetan, jangan banyak tanya"


" Iya ...iya.."gugup Antyka


Langkah Antyka tergesa menuju parkiran. Mendapati Alif yang masih di dalam mobil, kemudian Antyka masuk mobil.


" Kita mau pulang ? Anty masih ada satu mata kuliah lagi nanti jam satu, pak Alif "


"Makan siang, gak lama kok"ucap Alif santai


"Owh ..."


"Nanti pulangnya bareng Zeindra. Aku sudah bilang, agar dia jemput kamu. Langsung saja ke rumah Zeind. Aku jemput kamu di sana, sekalian minta restu untuk acara resepsi kita"


"Iya"


***


Ibra di jemput oleh dua orang utusan dari tuan Hendro. Awalnya Ibra menolak. Tapi setelah menghubungi prof Damar, akhirnya Ibra setuju mengikuti mereka.


Tidak buruk, dua orang utusan tuan Hendro sangat sopan dan memperlakukan dia dengan sangat baik.


" Ini bukan arah kerumah prof Damar. Sebenarnya siapa kalian?" Ibra tetap waspada dan berjaga jaga.


" Tenanglah tuan, kami tidak bermaksud buruk. Ini jalan menuju rumah tuan Hendro"


" Saya kemari hanya akan menemui ayah saya, prof Damar. Saya tidak perduli siapa itu tuan Hendro" Ibra mendengus kesal. Sepertinya ia sedang terjebak.


Rasa curiga dalam hatinya tetap ada sebagai sinyal untuk membangun kewaspadaan.


Saat mobil masuki pelataran rumah yang begitu megah. Ibra semakin waspada.


"Silahkan ....tuan muda Ibra, selamat datang kembali ke rumah" membukakan pintu dan mengangguk hormat " ikuti saya, tuan''


Ibra mengikuti langkah seorang pria yang membawanya ke sebuah ruangan pribadi milik tuan Hendro.


Pelayan itu mengetuk pintu beberapa kali, kemudian pintu terbuka. Pria dengan kaca mata minus yang pernah Ibra temui di rumah sakit.


"Ayah" seru Ibra, dua orang itu langsung menoleh pada Ibra.


Ibra menuju pada prof Damar dan menggenggam erat tangannya. Wajahnya dipenuhi oleh banyak tanya. Tentang keberadaan prof Damar di rumah ini dan apa hubungannya dengan dirinya


"Duduk Ibra, jangan takut. Ayah baik baik saja" ucap prof Damar saat melihat kepanikan diwajah ibra


" Kenapa Ayah ada di sini?" Ibra masih bingung


"Kamu sudah kenal dengan tuan Hendro?"Prof Damar malah bertanya pada Ibra


"Kita pernah bertemu satu kali di rumah sakit, yah "


" Dengarkan Ayah baik baik Ibra, Sebenarnya tuan Hendro adalah ayah kandungmu" Prof Damar memperhatikan reaksi Ibra yang bingung. "Ibra, puluhan taun yang lalu mobil yang membawamu dalam perjalan pulang mengalami kecelakaan. Dan beruntungnya kamu terlempar dan selamat. Hingga ayah menemukanmu di pinggir jalan"


Ibra masih diam menatap prof Damar juga tuan Hendro bergantian, nafasnya terasa memburu. Ia sangat terkejut dengan cerita ini. Karena seumur hidupnya, ia mengira bawa dirinya adalah seorang yatim piatu.


Kemudian tuan Hendro mendekat memegang bahu Ibra dengan lembut. Membiarkan Ibra yang masih merasa asing terhadap dirinya.


Prof Damar memberikan foto foto Ibra saat kecil bersama tuan Hendro dan juga foto Ibra saat berada di panti Asuhan bersamanya.


Tangan Ibra bergetar, jarinya mengusap tiap foto yang terpajang. Ada foto dirinya bersama tuan dan nyonya Hendro.


"Ini ibuku ....?" lirih Ibra saat menunjuk nyonya Hendro .


"Iya Ibra, itu mami. Maafkan papi, tidak bisa cepat menemukanmu" air mata tuan Hendro menetes. Ingin sekali memeluk pria muda di depannya. Tapi ia menahan diri. Ibra belum bisa menerima kenyataan itu.


" Dimana ....ma..mi?" Ibra ingin melihat wanita yang telah melahirkannya.


Tuan Hendro mengangguk pada Ardy. untuk segera memanggil Hanna istrinya.


"Ibra ..." panggil tuan Hendro " Maukah kamu memelukku ?" Ibra menatap dalam pria diatas kursi roda dengan mata yang sudah berembun. Tiba tiba hatinya terasa sakit dan ingin berhambur menenangkan pria itu. Tatapan Ibra beralih pada prof Damar. kemudian prof Damar mengangguk dan tersenyum


" Papi...." sebut Ibra saat memeluk tuan Hendro.

__ADS_1


Perasaan hangat dan terlindungi saat kulit mereka saling bersentuhan dan nyaman.


" Zigra, namamu Zigra nak ....maafkan papi. Papi sangat menantikan saat saat seperti ini. papi bahagia bisa melihatmu lagi"


Wanita paruh baya memasuki ruangan itu. Menyaksikan tuan Hendro sedang di peluk pria muda yang sangat gagah. Hanna tertegun menatap lekat dan memperhatikan dengan seksama.


Ibra mengurai pelukannya dan berbalik menatap wanita cantik dengan mata teduh. "Apakah ini wanita yang telah melahirkanku?" gumam hati Ibra.


"Hanna kemarilah, lihat siapa yang datang" Ucap tuan Hendro pada istrinya.


Tatapan teduh dan menyelidik milik Hana terus saja memeriksa pria muda yang ada di depannya. Pria itu sangat mirip dengan Hendro muda hanya saja, matanya teduh sangat mirip dengan milik nya. Perasaan Hanna membuncah "Mungkin kah?"


Langkah nyonya Hanna terus mendekat bahkan mengusap wajah Ibra dengan jemarinya. Meneliti dan matanya terpejam."Apakah kamu Zigra nak, putra mami?" lirih Hanna tanpa melepaskan usapan tangan dari pipi Ibra.


" Mami..." Ibra tidak tahan, ia memeluk nyonya Hana. Jauh di benak hatinya ia sangat tidak asing dengan suara itu. Suara yang selalu mengantarnya saat tidur. Ia sangat yakin.


" Zigra...., mami tidak mimpi kan? mami selalu memimpikan mu. Mami rindu, Zigra" pelukan Hanna semakin erat.


Prof Damar ikut berlinang menyaksikan keharuan yang ada di depannya.


"Tuan Hendro, sebaiknya saya permisi, kalian pasti butuh waktu untuk saling bercerita dan mendekatkan diri" ucap prof Damar sambil berdiri.


Hanna dan Ibra pun mengurai pelukannya. Ibra mengusap bulir bening yang mengalir di pipi sang Mami.


"Ibra, Ayah ikut bahagia. Kamu bisa kembali berkumpul dengan keluargamu. Jaga mereka dengan baik"


"Ayah, terima kasih" Ibra memeluk prof Damar.


Asisten tuan Hendro mengantar prof Damar sampai rumah. Mereka memberikan ruang dan waktu untuk Ibra dan kedua orang tuanya melepas rindu yang sudah lama mereka tahan selama berpuluh tahun


***


"Mbak Karin, Anty datang" teriak Antyka saat masuk kedalam rumah ziendra.


" Wah, Adek nya mba Karin makin cantik saja"


" Jelek gitu ma, dibilang cantik. Udah nikah lagi. kaya ibu ibu" ledek Zeind saat ibunya datang


"Sudah sudah, masuk sana! Mama mau masak dulu, keburu papa mu pulang" ucap Karin pada putranya


"Kak Luthfi ada di kantornya mbak?"


" Iya, mas Andre ada kok di kantornya"


" Zeind, kita ke tempat kak Luthfi yuk"


"Ogah paling kamu mau malak papa"


"Kak Luthfi itu sayang sama Anty, tiap Anty minta sesuatu pasti dikasih"


" Sayangan ke aku lah, aku kan anaknya" sengit Zeindra.


"Sayangan ke aku lah aku kan adeknya" Antyka tidak mau kalah


" Ehemmm ..., kalian bisa tenang tidak !" Tiba tiba saja Luthfi sudah berdiri di belakang Zeind dan Antyka.


" Kak Luthfi baru pulang?" Antyka mencium punggung tangan kakaknya. kemudian menggandeng manja.


" Zein kamu itu laki laki ngalah gak usah ikut ribut'' Ucap Luthfi pada putranya.


Zeindra langsung diam dan masuk kamar. Ide untuk mengerjai Antyka akan gagal jika sedang ada papa Luthfi.


Luthfi langsung kebelakang mencari istrinya setelah Antyka duduk di sofa ruang tengah. Ia faham kalau sore begini istrinya pasti sedang ada di dapur.


" Nina..." Luthfi memeluk istrinya dari belakang sembari mengecup pipinya.


"Mas Andre, malu ih ada anak anak" Karin mematikan kompor.


"Aku kangen" bisik Luthfi pada karinina istrinya


"Ehemm, bisa gak sih romantisannya di kamar" suara Antyka membuat Andrean Luthfi Al Habsy melepaskan pelukannya dari istrinya. Mukanya sedikit merah karena tertangkap basah oleh adik kecilnya Antyka, yang usianya sepantaran dengan putra pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2