
Nyonya Hana mengetuk pintu kamar Ibra. Dari dalam, Ibra mempersilakan siapapun itu untuk masuk. Ibra masih duduk diatas ranjangnya dan juga laptop di pangkuannya.
"Zigra, ini baju kamu ya" mami Hanna menggantung setelan jas berwarna abu tua.
"Iya mi, terima kasih"
"Kamu lagi sibuk sayang"
"Sedikit, ada kasus yang belum selesai. Jadi Ibra harus pantau terus mi "
"Mami ke bawah dulu, mau bantuin papi bersiap"
"Iya, nanti Ibra nyusul" Panggilan mereka memang lucu. tuan Hendro dan istrinya tetap memanggil Zigra sedang Ibra lebih terbiasa dengan nama pemberian prof Damar. Tidak terlalu jadi masalah senyaman mereka.
Ibra menutup laptopnya, kemudian ia melangkah ke dalam kamar mandi. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Membasuh mukanya agar terasa segar. ia keluar dari kamar mandi dan kebetulan terdengar ketukan di pintu kamarnya.
" Iya, sebentar" Ibra membukakan pintu. Seorang asisten rumah tangga membungkukkan badannya
" Maaf tuan muda, nyonya Hanna dan tuan Hendro sudah menunggu di bawah"
"Katakan pada mami, sebentar lagi saya turun"
"Baik, saya permisi"
Ibra kembali menutup pintu dan segera mengganti bajunya. Perasaannya kembali gundah dan sakit. Wajahnya menunduk semoga saja nanti ia bisa mengendalikan diri.
Ibra menuruni tangga, di sambut decak kagum oleh kedua orang tuanya. Mata nyonya Hana begitu berbinar bahagia.
"Zigra, kamu sangat tampan nak. Pasti banyak gadis gadis yang akan bertekuk lutut padamu"
"Mami bisa saja" ujar Ibra kalem sambil terus menuruni tangga
" Apa yang mami bilang, adalah kenyataan nak, kamu memang sangat gagah dan tampan"
"Kita berangkat sekarang Pi, mi. Nanti terlambat"
Mereka memasuki mobil mewah yang sudah bertengger persis di depan rumah. Angin malam mengantar kepergian Ibra menuju tempat acara resepsi Antyka dan dr Alif di hotel Pradipta..
**
Antyka malam ini terlihat sangat bersinar dengan gaun cantiknya. Mereka duduk berdampingan di pelaminan. Alif pun sangat tampan malam ini. Keduanya saling memandang dengan tatapan saling memuja. Mungkin ini yang dinamakan cinta.
Sambutan dari kedua belah pihak dan juga ucapan selamat menjadi momen yang mengharu. Banyak doa juga pujian. Namun disudut sana ana dr Farah yang menatap tidak suka. Aura benci dan juga rasa dendam.
Sepasang pengantin tidak menyadari ada hati yang juga terluka di sudut sana. Meski euforia proklamasi tentang status dirinya yang semakin meningkat dengan label putra dari tuan Hendro yang nota bene sejajar dengan Haris Pradipta. Tapi semua itu tidak membuat hati Ibra terhibur.
Ibra menatap sendu, harusnya dialah yang berdiri disana bukan Alif. Dialah orang yang paling mengerti Antyka. Dia juga merasa cintanya yang paling berhak memiliki Antyka
Getaran itu membuat sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Beruntung Luthfi segera menghampiri Ibra.
" Ibra ..." Luthfi membawa Ibra untuk duduk
Teryata sedari tadi Luthfi mengawasi Ibra, dia sangat cemas dengan perasaan Ibra
" Harusnya kamu tidak usah datang, Aku faham posisimu. Maaf, aku tidak bisa mencegah ayah, untuk mengundangmu. Kamu pasti merasa sungkan pada Ayah" Luthfi duduk berhadapan
" Aku baik baik saja, tidak mungkin aku menolak undangan ayah"
"Ibra, jangan memaksakan diri. rasanya tidak tega melihat kamu tersiksa seperti ini. Bahkan tanganmu terasa dingin"
"Aku disini tidak hanya untuk Ayah Damar, tapi juga untuk kedua orang tua kandungku"
"Kau ...,maksudmu kamu sudah menemukan orang tua kandungmu?"
"Iya, apa ayah Damar belum bercerita?"
__ADS_1
" Belum, mungkin belum sempat " Luthfi menggeleng lemah.
" Itu mereka, maksudku orang tua kandungku " ujar Ibra sambil menunjuk sepasang suami istri yang tengah berbicara. Dan mereka begitu familiar di kalangan pengusaha.
" Maksud kamu, tuan Hendro?" Lutfhi belum yakin.
" Benar" Luthfi mengunci bibirnya. Ia benar benar terkejut. Tuan Hendro merupakan salah satu konglomerat di Indonesia. " Jangan heran, ini fakta yang sebenarnya. Aneh kan?" Ibra tersenyum tipis. Mentertawakan jalan hidupnya.
"Ya, nasib orang tidak pernah tau, bisa bisanya kamu terlantar di pinggir jalan waktu itu"
"Benar, takdirku memang luar biasa, tidak hanya tentang hidupku. Tapi juga tentang asmaraku. Akulah yang mencintai Antyka lebih dulu. Aku lah yang sering menggendongnya dulu, akulah orang yang paling dekat dengannya. Tapi takdir lah yang memilih pria itu menjadi pemilik hati Antyka"
"Kamu orang yang sangat baik Ibra, Kamu akan segera bertemu dengan seorang wanita yang lebih baik segalanya dari Antyka"hibur Luthfi sambil menepuk bahu Ibra
Tuan Hendro menghampiri Ibra yang sedang berbincang dengan Luthfi.
" Ibra, kita keatas pelaminan. giliran kita memberi selamat pada prof Damar dan juga putrinya"
"Baik pi, oh ya, kenalkan ini kak Luthfi putra prof Damar "
"Oh, putra prof Damar. Senang bertemu dengan mu. Terima kasih sudah jadi kakak yang baik untuk putraku, Zigra" Tuan Hendro menyalami Luthfi erat. Kata katanya begitu tulus saat berterima kasih.
Luthfi mempersilahkan tuan Hendro dan Ibra untuk naik ke pelaminan. Luthfi hanya bisa bersukur. Ditengah sakit hatinya Ibra dan saat itu juga Ibra menemukan keluarganya.
***
" Pak Alif, pestanya luar biasa. Anty tidak menyangka akan semeriah ini'' Antyka berbisik
"Kamu suka ? ini tidak seberapa Anty, persiapannya cukup mendadak"
"Suka tapi cape juga"
"Sabar ya, sebentar lagi juga selesai" Alif menenangkan Antyka. Padahal antrian tamu begitu mengular.
"Selamat Alif, jaga Antyka" suara Ibra bergetar menahan rasa.
" Tentu, aku akan menjaga istriku dengan baik"
" Kak Ibra, akhirnya kak Ibra datang juga. Anty tidak bisa menghubungi kak Ibra. Apa kak Ibra sibuk?"
"Iya, kak Ibra benar benar sibuk. Maaf, kak Ibra tidak bisa menepati janji. Selamat ya Anty, adik kecilku kini sudah dewasa. Kak Ibra doakan semoga Anty selalu bahagia"
"Terima kasih doanya kak Ibra" ucap Antyka dan seperti biasa Antyka tidak sadar sudah ingin memeluk Ibra. Namun lengan kokoh Alif menarik Antyka.
Ibra berjalan meninggalkan pelaminan dan meminta pada orang tuanya untuk segera kembali. Nyonya Hanna melihat semua gerak gerik Ibra. Mata tua Hana baru menyadari. Ibra begitu terluka saat berada di sana. Apalagi saat momen Antyka hendak memeluk Ibra.
Sepanjang perjalanan pulang, Ibra semakin terlihat murung.
" Zigra, maafkan mami dan papi. Tidak seharusnya kami egois membawamu ke resepsi putri prof Damar. Mami lihat kamu dan putri prof Damar sangat dekat. Apa kamu menyukai putri prof Damar?" nyonya Hana menatap putranya yang semakin salah tingkah dengan pertanyaannya.
"Kalau kamu berterus terang, pasti kami akan mengerti, Zigra. Yang terpenting buat mami dan papi saat ini, adalah kebahagian kamu nak. Kalau kamu bahagia, kami pasti lebih bahagia. Kalau kamu terluka seperti ini. Kami pun lebih terluka. Maafkan mami"
Nyonya Hanna menggenggam tangan putranya hangat. Bulir bening mengalir, ia memeluk putranya. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
"Kamu pasti kesulitan diluar sana, tanpa ada kami yang seharusnya ada di sisimu. Maaf, mami minta maaf, Zigra"
"Mi, Ibra tidak menyalahkan mami. Semua sudah menjadi garis kehidupan Ibra. Izinkan Ibra kembali ke singapura, mi"
"Ia mami ijinkan. Tapi boleh kan kalau mami dan papi menemani mu disana. Sampai rasa kangen mami hilang. Mami tau kamu pria dewasa yang butuh privasi. Atau bagaimana kalau kita berlibur? kemana saja yang kamu inginkan"
" Tidak mi, Ibra tidak butuh itu. Cukup ijinkan Ibra tinggal sementara di sana saja"
***
"Pak Alif kita pulang ke Apartemen?"tanya Antyka setelah acara resepsi selesai.
__ADS_1
Tangan Alif masih menggandeng erat jemari Antyka, Alif tidak segera menjawab. Ia membiarkan Antyka terus bertanya tanya.
" Pak Alif" Antyka menghentikan langkahnya. Tanda protes karena Alif tetap membisu.
Alif pun ikut menghentikan langkahnya. Tatapannya tajam dan rahangnya mengeras.
"Ikut saja kemana suamimu pergi" ketus ucapan Alif tidak seperti biasanya.
Antyka melihat Alif yang sepertinya sedang menahan marah. Kebingungan dan takut. Sampai depan kamar, Alif membuka pintu dan meminta Antyka untuk masuk lebih dulu. Tanpa protes Antyka memasuki kamarnya.
Alif membiarkan Antyka sendirian dalam kamar. Ia pergi menemui orang tuanya dan berbincang sebentar. Kemudian berpamitan lagi ke kamarnya.
Antyka baru selesai berganti baju dan bersiap naik keatas tempat tidur saat Alif membuka pintu. Alif melepaskan jas dan masuk kedalam kamar mandi.
Hati Antyka bertanya apa yang membuat Alif marah. Lama Antyka menunggu Alif keluar namun yang di tunggu tidak juga keluar. Akhirnya ia terlelap karena bosan.
Alif berbaring di samping Antyka, Menatap istrinya yang sudah terlelap. Wanita ini sudah membuat dunianya jungkir balik. Ia harus meredam amarah saat Antyka yang selalu bersikap tidak dewasa. Sembarang ingin memeluk Ibra tepat di depan matanya saat resepsi tadi malam. Apakah selama satu bulan kebersamaan mereka tidak ada artinya.
Alif menghembuskan nafas kasar. Tiba Antyka memeluk ya dari samping.
" Pak Alif belum tidur. Pak Alif marah sama Anty? maaf ...." Antyka membenamkan kepalanya di punggung Alif.
Alif merasakan punggungnya basah. Antyka menangis. Hati Alif jadi tidak tega.
"Aku tidak suka, kamu memeluk pria lain" ucap Alif seraya memeluk Antyka.
" Maaf, Anty tidak bermaksud apapun. Kak Ibra sudah seperti kakak kandung bagi Anty. dulu kami sangat dekat" Antyka baru sadar sumber amarah Alif.
"Tetap saja aku cemburu, Anty"
"Pak Alif juga jangan suka tebar pesona dengan perempuan lain" Alif langsung mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Antika.
"Aku tidak pernah tebar pesona Anty, kapan aku seperti itu. Aku paling tidak suka ada perempuan lain mendekatiku" Antyka mencebikkan bibirnya. Kemudian pelukan mereka terurai
Saat resepsi, banyak sekali teman wanita Alif yang datang. Mereka menempel pada Alif seperti perangko saat berfoto ria. Mana pakaian mereka kurang bahan semua.
"Jadi kamu sudah mulai cemburu?" Suasana hati Alif berubah menjadi senang. saat tau Antyka juga memiliki rasa cemburu.
"Sakit kan, kalau cemburu? itu yang sering aku rasakan. Saat kamu tanpa berdosa ingin memeluk pria lain, didekati pria lain, di tatap pria lain. Kamu cuma milik aku, Anty. Sudah jangan nangis, nanti mata kamu bengkak. Orang akan mengira yang tidak tidak tentang kita"
"Pak Alif juga, jangan suka marah marah gak jelas. Lebih baik kasih tau Anty, salah Anty yang mana. Kalau seperti tadi, Anty justru bingung. Pak Alif juga kelihatan menyeramkan"
"Enak saja, aku ganteng seperti ini di bilang menyeramkan"
"Makanya jangan galak galak, biar ganteng ya tidak pergi"
"Berani beraninya kamu bilang aku galak lagi, ini hukuman buat kamu" Alif menggelitik Antyka. Antyka terus menghindari serangan dari Alif hingga terpojok pada Ujung ramjang.
Mereka begitu dekat, Tatapan Alif mulai lain. Alif memajukan wajahnya pangutan lembut di bibir Antyka seketika terjadi. Deru jantung yang terus berdetak, disertai hawa panas yang membuat keduanya mabuk kepayang. Sentuhan Alif sudah menjalar dari tengkuk hingga punggung.
.
.
.
Hmm napas dulu bersambung Yach ........
terima kasih yang sudah mau komen, like dan favorit jadi mood booster Author loh. yang masih gabut nunggu lanjutan silahkan baca karya author lainnya yang masih acak adul. tapi sudah tamat semua loh ketiganya . Siapa tau suka
1.Kesempatan kedua
2.Story of ....
3.Tetanggaku duren (Duda keren)
__ADS_1