Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
36. Menghadapi masa lalu


__ADS_3

Malam kian larut, saat Antyka membetulkan letak selimut Caya. Di pandangnya wajah mungil yang begitu damai dalam tidur. Sebait doa ia panjatkan untuk buah hati tercinta. Caya menggeliat mencari guling untuk di peluknya. Bahagia sekali melihat Caya sudah tumbuh sebesar ini.


Sejak sore, Caya terlihat begitu bahagia setelah bertemu dengan Daddynya. Mulut kecilnya bercerita. Betapa Caya sangat menikmati waktu kebersamaan mereka. Saat tidur pun Caya masih terus mengigau menyebut nama sang Daddy. Seberat itu rasa rindu yang Caya tanggung selama ini.


Antyka ingin menghapus segala kenangan. Hatinya kembali terusik. Terbayang sosok Alif yang sangat ia cintai. Seberat apapun Antyka mencoba menghapus masa lalunya, Namun sayang, kisah itu meninggalkan jejak. Anugrah terindah dalam kisah hidupnya. Berwujud malaikat mungil yang sekarang menjadi sumber kekuatannya. Antyka harus membayarnya dengan rasa sakit. Cahaya adalah jejak abadi dari kisah cintanya dengan pria Alif. Jauh Antyka menerawang, dalam benaknya dipenuhi dengan sejuta kata tanya.


" Kamu belum tidur?" teguran mama Ajeng membuat Antyka kembali ke alam nyata.


" Belum ma. Mama juga kenapa belum tidur. Ini sudah sangat larut, ma" Antyka berdiri dan menyambangi sang mama yang berdiri di ujung pintu.


Wajah mama tampak basah, Mungkin mama baru saja mengambil wudu untuk solat malam di mushola rumah.


"Mama baru bangun, Anty. Mama mau sholat dulu. Kamu istirahat, jangan terlalu banyak berfikir" Ucap mama sambil menatap putrinya yang masih berdiri di depannya. Antyka mengangguk dan masuk kedalam kamarnya.


Dalam kamar, mata Antyka belum juga mau terpejam. Hatinya terasa gelisah, tak bisa di pungkiri ada sedikit rasa ingin tau. Tentang kabar Alif yang telah kembali. Hatinya berperang saat bayangan Ibra yang selalu ada dalam setiap kesulitannya. Berulangkali merasa bersalah. Meski terbesit sedikit rasa penasaran saja.


Saat pagi menjelang Antyka sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama Caya. Ibra datang memberinya kejutan di pagi yang cerah.


"Kak Ibra?" pekik Antyka saat membuka pintu. Ia menatap pria yang ada di depannya tidak percaya.


Ibra hanya tersenyum dengan seikat mawar merah di tangannya.


"Selamat pagi Anty" Ibra menyodorkan mawar merah pada Antyka. Antyka menerima seikat mawar pemberian Ibra. Ibra selalu bersikap manis dan tulus padanya.


" Terima kasih,. masuk kak Ibra, kita sarapan bersama" Antyka mempersilahkan Ibra masuk dan membawa bunganya ke dalam rumah.


"Caya .... Caya...Ayah datang ..." Mendengar suara orang yang sangat ia kenal Caya langsung berhambur mencari Ibra.


Begitu mereka bertemu Caya langsung memeluk Ibra erat.


" Ayah mau antar Caya ke sekolah?"


" Iya , Caya suka?"


" Suka..., kalau sama Ayah lebih cepat sampainya. Ayah bisa ngebut" ucap Caya pada Ibra


"Stttth..., nanti momy dengar" Ibra meletakan jari telunjuknya di diatas bibir. kemudian keduanya tertawa tergelak


Antyka meletakkan secangkir kopi panas di depan Ibra juga beberapa potong sandwich untuk di nikmati Ibra sebagai sarapan pagi. Antyka mengerutkan dahi melihat Ibra dan Caya tergelak.


"Ada yang lucu, kok momy gak di kasih tau?"


" No, momy it's our secret" timpal Cahaya.


Ibra menikmati cangkir kopi hangat dan mulai mengunyah sandwich pemberian Antyka.


" Kak Ibra dari rumah?" Antyka duduk di samping Ibra menemani pria itu menikmati sarapannya.


"iya aku kangen Caya, juga kamu" Ibra terkekeh. Ucapannya membuat Antyka salah tingkah.


"kita berangkat Caya" ajak Ibra setelah menyelesaikan sarapannya. Caya langsung menggandeng jemari Ibra. Berjalan berdua tanpa mempedulikan Antyka yang sibuk dengan tas Caya.


Setelah mengantar Caya ke sekolah, Ibra membawa Antyka ke sebuah kafe kecil di pinggir jalan.


" Kok, ke sini kak Ibra, Kita kan sudah sarapan?"


"Aku ingin bicara berdua denganmu. Apa Caya kemarin jadi bertemu dengan Daddynya?"


"Kak Ibra ingin bicara tentang ini?. Caya kemarin bertemu Daddynya dengan kak Luthfi. Aku sudah janji pada kak Ibra. Aku menepatinya. Kak Ibra percaya kan sama aku?


Antyka menatap Ibra lekat. Manusia memang unik, kemarin saja Ibra bersikap baik baik saja tapi hari ini. Di wajah Ibra tersirat rasa cemburu.


"Maaf Anty, aku....., aku akui kemarin perasaanku gelisah. Aku hampir gila saat membayangkan kalian bertemu lagi. Maaf aku cemburu buta. Aku cinta kamu Anty, aku tidak mau lagi kehilangan kamu"


"Iya Aku tau yang kak Ibra rasakan. Itu juga yang membuat Aku tidak enak hati untuk berterus terang pada kak Ibra tentang kedatangan Daddynya Caya. Aku mohon kita saling percaya. Aku sudah memilih masa depanku bersama kak Ibra. kita bahkan sudah memesan gaun pengantin" Rasanya sakit ketika di ragukan. Tapi Antyka sadar Ibra hanya cemburu karena pria di depannya tidak ingin lagi kehilangan.

__ADS_1


Ibra mendekat, menatap Antyka yang terluka dengan sikap kekanakannya. Tapi ia juga lega telah mengutarakan perasaan yang ia rasakan selama seharian kemarin.


"Maaf Anty, kekawatiran dan ketakutanku terlalu berlebihan" Antyka mengangguk. Saat saat seperti ini pasti Adan menghantui hubungan mereka. Setidaknya, keduanya harus saling jujur untuk mengungkapkan rasa tanpa saling menghakimi. Di butuhkan kedewasaan untuk hubungan mereka selanjutnya.


"Ia, Aku tau keadaan seperti ini pasti akan terjadi cepat atau lambat" ucap Antyka pada Ibra .


"Kita akan saling menguatkan dan terbuka. Kita hadapi bersama. Apa ada masalah dengan pertemuan Caya dan Daddynya?"


"Tidak ada, hanya Daddy Caya ingin di beri waktu untuk bertemu lebih sering"


"Apa kamu takut Caya akan mereka bawa?"


"Ada terselip di pikiranku. Terus terang saja semua ini membuatku tidak nyaman. Aku ingin fokus hanya dengan hubungan kita. Aku merasa serba salah"


"Maaf Anty, Aku belum terlalu kuat saat membayangkan kalian bertemu. Tapi aku janji kita akan saling bicara jika kita merasa tidak nyaman. Tentang Caya, Aku akan jadi pelindung kalian. Aku tidak akan membiarkan mereka membawa Caya dari sisimu"


"Aku akan melibatkan kak Ibra jika keadaan mengharuskan aku bertemu Daddy Caya. Selama ini semua urusan Caya dan Daddynya kak Luthfi yang menangani"


Saat sedang berbincang ponsel Ibra berdering terus menerus. Dengan malas Ibra mengangkatnya.


"Ya...., aku kesana sekarang juga. Tolong handle sebentar. Tiga puluh menit lagi aku sampai" ucap Ibra menjawab telepon dari asisten pribadinya.


" Siapa kak Ibra?"


" Aku harus ke kantor sekarang, Alisa mengabarkan tuan Smith ingin meninjau kembali kesepakatan kami"


" Kak Ibra bisa pergi sekarang. Urusan kantor lebih penting. Aku bisa naik taksi"


"Ikut saja denganku, Nanti dari kantorku kamu bisa pergi diantar pak Abdi supir ku" tawar Ibra merasa tidak nyaman meninggalkan Antyka sendiri. Merasa bersalah seperti menterlantarkan Antyka saja.


" Tidak usah, aku akan langsung ke restoran. Tujuanku berlawanan arah dengan rute kantor kak Ibra, tidak efisien"


" Anty..., hati hati ya" ucap Ibra saat memasuki mobilnya.


Ibra pergi ke kantornya dengan tergesa karena ada urusan mendesak dengan Mr Smith. Ia tidak bisa mengabaikan Mr Smith, karena dia adalah salah satu partner penting Ibra .


**


"Mi, ini juga bagus, simpel dan elegan" ucap Antyka pada mami Hana saat mereka memilih tema untuk dekorasi pelaminan untuk pesta pernikahan nanti


" Ia sih, tapi mami mau yang sedikit ceria, Anty. Bagai mana kalau yang ini"


"Boleh mi, itu juga bagus tidak terlalu ramai tapi berkesan hangat. Anty mau yang ini mi "


"Iya mami juga suka ini" ucap mami Hana mengahiri diskusi mereka dengan pihak WO.


"Ibra katanya mau menyusul ke sini, Anty?. kok belum sampai juga.. Apa Ibra tidak keberatan dengan pilihan kita?"


"Kak Ibra pasti setuju, asal kita suka. Mi, kak Ibra tidak bisa datang. Ada meeting dadakan. Barusan Alisa yang mengirim pesan mi"


" Oh ..., ya sudah"


" Mi, Anty mau ajak mami jalan jalan mau?'' ucap Antyka malu malu. Ia ingin lebih mengenal ibu mertuanya dengan baik.


" Ayo, mami juga bosan di rumah. Kita ke mall ya?"


"Iya mi, boleh"


" Kita cari makan dulu ya mi, sudah siang soalnya. Kak Ibra bilang, mami suka sekali dengan Sushi. Mami mau makan Sushi, atau mau menu lainnya ?" tanya Antyka sopan


" Mami mau makan Sushi saja. Anty, duduk sini dekat mami. Mami mau ngobrol ngobrol tentang Ibra. Meski mami ini ibunya, tapi banyak sekali waktu yang terlewatkan. Mami tidak sempat melihat pertumbuhan Ibra. Bagaimana Ibra waktu masih di panti asuhan?"


" Kak Ibra keras kepala dan sangat gigih. Dia juga rajin, sabar dan bertanggung jawab. Selain itu, ia kakak yang sangat memanjakan Anty "


" Karakter Ibra sangat mirip dengan papinya, Meski terlihat sangat tegas, papi orang yang sangat penyayang dan juga sabar. Mami bersukur Ibra di temukan oleh orang yang tepat . Ia bisa memiliki pendidikan yang cemerlang. Dulu kala mami sempat mengkhawatirkan keadaan Zigra" obrolan seputar Ibra terus mengalir. mami banyak bertanya pada Antyka.

__ADS_1


" Mi..., maaf. sebenarnya Anty ingin bertanya pada Mami" ucap Antyka ragu.


" Tanyakan saja Anty, ada apa?"


" Mami kan tau kalau Anty ini sudah memiliki Cahaya. Apa mami dan papi tidak keberatan?" Antyka langsung menunduk tidak berani menatap Mami Hana.


Mami Hanna terkesiap mendengar pertanyaan Antyka padanya. wanita paruh baya itu menggenggam erat tangan Antyka. Jauh di lubuk hatinya ia merasakan kegamangan hati Antyka untuk putranya. Mami Hana mengerti perasaan Antyka. Tapi bagi mami Hana kebahagian Ibra adalah segalanya


" Anty, Mami hanya menginginkan Ibra bahagia. Dia selalu menatapmu penuh cinta. Tentu saja mami akan lakukan hal yang membuat Ibra bahagia. Ibra tidak salah menilai . Kamu wanita yang sangat pantas untuk Ibra, Anty. Mami hanya minta . Tolong jangan kecewakan Ibra. Hanya itu permintaan mami. Buat Ibra bahagia bersama mu" Ucapan mami Hana membuat Antyka lega.


" Anty akan berusaha jadi yang terbaik untuk kak Ibra, mi"


"Terima kasih Anty." ucap mami Hana tulus.


" Pesanan kita sudah datang. Di makan dulu, mi"


Selesai makan keduanya pergi melihat lihat koleksi baju baju cantik. Mami Hana membelikan beberapa potong baju dengan harga fantastis untuk Antyka dan juga Caya. Antyka merasa sangat sungkan. Tapi mami Hana sedikit memaksa agar Antyka mau menerima hadiah darinya.


Usai berbelanja baju, Antyka mengajak mami Hana pergi ke salon. Keduanya menikmati perawatan sambil berbincang tentang rencana besok hari untuk bertemu dengan pihak catering. Mami Hana adalah sosok yang hangat. Tidak jauh berbeda dari Ibra. Meski karakternya kuat, tapi mereka penuh dengan kasih sayang. Antyka hampir tidak percaya diri berhadapan dengan Mami Hana, Semua karena setatusnya yang pernah menikah dan memiliki Cahaya.


Tapi teryata mami Hana benar benar iklas menerimanya sebagai calon menantu. Ia ingat ucapan Mami Hana " Tidak ada manusia yang sempurna. kalian dipertemukan karena memang sudah takdirnya. Saya akan menerima wanita yang Ibra pilih. Tidak ada alasan untuk menolakmu, Antyka. Takdir yang membuatmu dalam posisi ini. Mami juga tau kamu wanita baik baik"


***


Antyka pulang kerumah saat sudah mengantar mami Hana ke rumahnya. Mami Hana sebenarnya meminta Antyka untuk masuk kedalam rumah. Terlihat sekali ia merindukan seorang teman yang bisa ia ajak bicara. Sikap Antyka yang sopan dan menghormati juga menyayangi mami Hana. Membuat wanita itu ingin selalu berdekatan.


Antyka memarkirkan mobilnya di depan rumah. Saat itu hari sudah mulai sore. Kehadirannya di sambut oleh Caya. Gadis kecil itu duduk di salah satu bangku yang ada di teras dengan Oma.


" Caya, momy pulang. Wah anak momy cantik sekali, sudah mandi? emh harum harum, momy suka" Antyka menciumi Caya yang sedang duduk. Caya mencoba menepis Antyka sambil tertawa tawa kegelian.


"Momy bawa apa?"


" Ini?" Antyka meletakan beberapa paper bag diatas meja. " Ini baju dari Oma Hana, buat Caya juga ada loh"


" Mau lihat...., mau lihat ..." Caya tampak antusias.sambil melonjak lonjak


" Ini dua paper bag milik Caya. Kita coba di dalam rumah ya" bujuk Antyka.


" Oke bunda" Caya langsung melesat masuk kedalam rumah. bocah kecil itu sudah tidak sabar untu menjajal baju barunya.


Antyka mengikuti Caya akan masuk kedalam rumah tapi mama Ajeng menghentikannya.


" Anty tunggu!"


" Iya ma, ada apa?"


" Tadi Luthfi telepon mama. Alif menghubunginya lagi. Orang tuanya ingin melihat Cahaya" ucap mama yang terlihat gusar. " Mama sebenarnya tidak ingin berurusan dengan mereka Anty. Bagaimana menurut mu?"


Sejenak Antyka terdiam ia masih belum bisa memberi keputusan.


" Mereka dan Caya berhak untuk saling mengenal ma. Kita tidak bisa menyembunyikan Caya terus menerus. Tapi anty juga tidak ingin bertemu mereka lagi. Apa kak Luthfi ada waktu untuk mengantar Caya ?"


" Luthfi sedang banyak pekerjaan Anty, kamu tidak bisa meminta kakakmu untuk melakukan hal yang seperti ini terus menerus. Kamu harus berani untuk bertemu mereka" mama memberikan pandangannya.


" Anty takut membenci mereka dan bersikap di luar kendali ma, Anty tidak ingin menyakiti mereka dengan ucapan kasar yang mungkin tidak sengaja anty lakukan. Luka ini masih ada meski waktu sudah lama berlalu"


"Mama akan menemani kamu Anty, kita akan saling menguatkan di sana. Cepat atau lambat kita harus berhadapan dengan mereka. Berdoa saja semoga kita bisa menjaga diri dari ucapan buruk dan emosi"


Terdengar suara Caya yang memanggil manggil Oma dan Momynya, Gadis itu tidak sabar menunggu untuk memperlihatkan gaun cantik yang sedang ia coba.


" Oma, momy.., kemari. Lihat baju Caya cantik sekali"


" Iya momy datang"


Meski cuma cerita halu tapi gak gampang loh untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Aku berusaha tetep semangat nulis. Pernah nih, aku udah nulis sampe satu bab, sebelum aku up diedit dulu sambil rebahan taunya ketiduran. Tau gak guys?.... waktu bangun tulisanku hilang semua ..... aku jadi huwaaaaaaaa......

__ADS_1


__ADS_2