Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
48.Labeled by society


__ADS_3

Mata Mike terbelalak, pagi buta Adik iparnya sudah datang. Setelah menyesap orange jus dari dalam gelas, ia melepas bathrobenya.. Dengan tatapan yang kesal ia membiarkannya Alif duduk diantara kursi santai miliknya yang berada di pinggir kolam renang pribadinya. Mike langsung masuk kedalam kolam renang.


Tiga puluh menit kemudian Mike naik ke daratan. Tubuh kekarnya terlihat bugar diusia yang matang. Ia duduk sambil tetap mengacuhkan Alif.


"Bagaimana bulan madu mu, apa sukses?" Alif membuka percakapannya


"Tentu saja, tunggu bulan depan kabar baik akan sampai ke telingamu"


"Kau tidak kasihan pada istrimu? usianya sudah rawan untuk memiliki bayi, Mike"


" Aku hanya mengabulkan keinginannya saja. Lira selalu mengeluh jenuh dan kesepian"


"Harusnya kau biarkan lira ikut membantu di perusahaan. Setidaknya dia punya kegiatan. Bukan malah memintanya untuk hamil lagi"


"Kau tau apa? di luaran sana terlalu berbahaya bagi wanita seperti Lira. Aku tidak akan membiarkan dia"


"Kamu terlalu pencemburu, Mike. Itu tandanya kamu tidak mampu menggenggam istrimu?"


"Kurang ajar" Mike memaki adik Iparnya kesal. "Aku tidak akan bertindak bodoh seperti mu, Lif. Kau tau ? Antyka hampir saja di celakai oleh orang di luaran sana. Beruntung anak buahku cepat tanggap"


"Jadi..."


"Aku sudah meringkus orang nya. Dia tidak akan pernah berani mengganggu Antyka lagi. Namanya Farid, dia melaporkan Antyka karena telah menamparnya. Farid meminta Antyka melayaninya dengan iming iming proyek receh. Antyka tersinggung dan menampar pria brengsek itu"


Alif mendadak begitu marah mengetahui hal buruk yang menimpa Antyka. Bahkan ia tidak tau detil kejadiannya. Mike memang memiliki banyak mata mata. Ia hampir mirip seperti mafia. Tapi beberapa kali justru Mike lah yang menyelamatkan keluarganya.


"Puas, aku menolong Antyka dengan barter datang makan malam di rumah bunda. Aku melakukan semua untuk bunda sebenarnya. Kamu tau? Bunda adalah orang yang sangat Lira jaga perasaannya. Apa pun yang membuat bunda senang aku akan melakukannya. Bukankah kau beruntung, memiliki kakak ipar sertiku?" Mike tersenyum pongah. Pria itu kembali duduk dengan tenang di kursi santainya. Tubuhnya yang basah dibiarkan menetes. sesekali ia mengusap dengan bathrobe yang tersampir di sisi tempat duduknya


"Terima kasih Mike"


"Sekarang pergilah! aku mau melanjutkan proses pembuatan bayiku. Semalam gagal gara gara bunyi telepon sialan mu. Sampai sampai aku harus berenang sepagi ini. untuk mendinginkan kepalaku" Mike merasa sudah cukup memberi penjelasan pada Adik iparnya. Sepertinya pria ini sudah tidak lagi mau di ganggu. Sengaja ia membuat ucapan yang mengakibatkan Alif kesal.


"Dasar pria mesum tidak tau malu" Umpat Alif sambil meninggalkan rumah kakak perempuannya.


Mike tertawa puas meledek adik iparnya. Pagi ini ia mendapat hiburan. Mike masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri. Setelah mengenakan bajunya dengan rapi ia menemui sang istri yang sedang menata meja makan.


"Pagi sayang" sebuah kecupan mendarat di pipi Lira kemudian Mike memeluknya tanpa bosan.


"Aku seperti mendengar suara Alif, apa dia datang kemari?" Tanya lira sambil berusaha melepas pelukan dari suaminya. Meski sudah menikah berpuluh tahun Lira belum bisa menerima sikap Mike yang terlalu vulgar di depan umum. Tapi Mike tidak perduli itu. Saat ia ingin memeluk atau mencium istrinya di manapun, ia bisa melakukan. Bagi Mike mencium pipi atau kening bahkan sebuah pelukan adalah suatu yang wajar. Bahkan ia sangat suka saat melihat istrinya yang malu malu dengan pipi memerah. Mike akan semakin gemas.


"Kamu salah dengar sayang, ayo kita sarapan. Aku sudah lapar" tapi Lira tidak mempercayai suaminya. Telinganya dengan jelas mendengar suara Alif. Tapi lira tau, Mike pria pencemburu yang selalu ingin menjadi prioritas utamanya tidak perduli siapa orangnya. Baik adik atau bahkan pada putranya sendiri. Lira mengalah tidak bertanya lagi.


***


"Caya mau langsung Daddy Antar ke rumah momy, atau mau ke tempat opa?" Tanya Alif pada putri semata wayangnya saat menjemput di sekolah. Minggu ini giliran Alif yang menjaga Caya.


"Boleh, Caya menunggu di rumah Opa dan Oma?"


"Boleh, tadi Daddy sudah minta ijin pada momy. Momy akan pulang malam, hari ini"


"Kenapa harus malam Daddy?"


"Momy harus bertemu klien di luar kota" Alif menjelaskan keberadaan Antyka pada putrinya. Terlihat reaksi kecewa di mimik wajah mungil putrinya. Semua ini membuat Alif sedikit kawatir. Alif tidak ingin Caya merasa tersisih atau kehilangan kasih sayang. "Kita kerumah Opa ya, oke?" Alif berusaha mengalihkan fokus Caya


"Hmm" Sahut Caya tidak terlalu bersemangat.


"Setelah Daddy selesai dari rumah sakit Dady akan cepat pulang, oke. Putri Dady harus tersenyum, dong"


Alif memasang seatbelt di tubuh putrinya. Setelah berdiskusi dengan Caya Alif segera memacu mobilnya menuju kediaman rumah ke dua orang tuanya. Begitu sampai, Caya sudah di Sambut oleh Oma.


"Cucu Oma baru pulang sekolah? sini Oma bawakan tas Caya, pasti berat" Caya terlihat sumringah. Langkah kecilnya mengikuti sang Oma masuk ke dalam rumah.


"Daddy ke rumah sakit dulu, Caya baik baik sama Oma" Alif mengelus pucuk kepala Caya kemudian memberikan pelukan perpisahan. Ia harus segera bergegas ke rumah sakit kembali.

__ADS_1


"Oma ...., opa dimana?" tanya Caya saat melihat keadaan rumah besar ini tampak sepi.


"Opa belum pulang kantor sayang. Tapi kalau Caya mau kita bisa pergi menjemput opa, mau?"


"Tidak boleh Oma, opa sedang bekerja kita tidak boleh mengganggu" tegas Caya bertingkah seperti orang dewasa. Oma Amalia hanya tersenyum gemas di peluknya gadis cantik itu dalam pelukannya.


"Caya mau ikut Oma memasak? kita buat kue untuk Daddy dan juga opa" Terlintas ide itu di benak Oma. Caya pasti akan sangat bosan jika hanya bermain dengan permainan boneka atau menyusun puzzle.


"Mau, ayok Oma. Caya mau,.. asiik..." gadis kecil itu melonjak lonjak girang. Sudah terbayang betapa adiknya bergulat dengan berbagai tepung dan adonan.


**


Antyka duduk di ruang tamu, sudah pukul sebelas malam. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati masuk ke rumah ini saat sudah larut malam. Terpaksa ia tetap harus datang demi rasa tanggung jawab.


"Ini sudah larut malam Anty. Aku bisa mengantarnya besok. Lagi pula Caya sudah tidur. Kasian kalau harus di bangunkan"


"Maaf, saya terjebak macet. Di sana ada hujan besar dan di beberapa titik ada pohon tumbang. Jadi saya ..."


"Tidak apa apa" potong Alif tidak tega. wanita ini berusaha tegar tapi Alif tau tubuhnya sudah terlihat sangat lelah.


"Kalau begitu biar aku bawa Caya pulang"


"Tidak Anty, jangan bawa Caya pulang. Kamu juga terlihat sangat lelah menginaplah di sini" suara bunda datang menimpali. wanita paruh baya itu duduk di samping Antyka. tatapannya lembut penuh kasih. Diusapnya punggung Antyka.


Rasa hangat dan usapan kasih dari bunda melemahkan keegoisan Antyka.


"Tapi Bun, Anty dan Caya harus pulang" mencoba masih menguatkan pendapat dan keteguhan hatinya. Bunda menatap hangat menantunya.


"Bunda mengkhawatirkan kalian. Menginaplah meski hanya semalam. Bunda tau kamu merasa tidak pantas menginap di rumah mantan suamimu. Tapi ini rumah bunda bukan rumah Alif. kamu menginap di rumah bundamu sendiri"


"Dengar tidak ada mantan bunda dan mantan putrinya, paham" bunda memeluk Antyka tulus.Dan Antyka luluh tidak lagi dapat menolak . Dan benar ia sudah sangat lelah tubuhnya.


"Ayo bunda antar ke kamarmu'


Antyka tidak bisa lagi mengelak. ia dibawa ke kamar Alif bersama Caya. Alif lah yang mengisi kamar tamu.


Antyka hanya bisa mengatupkan bibirnya. Ruangan kamar yang dulu pernah ia tempati bersama Alif, ia masuki lagi. Sedikit berubah sudah ada ranjang kecil milik Caya lengkap dengan dekorasi kas anak perempuan. Di sebelahnya ada ranjang yang sama tempatnya dulu tidur. Yang menghilang gaya satu set sofa yang berubah jadi ranjang Caya.


Foto pernikahan mereka pun masih terpasang di dinding.Perasaan Antyka bercampur aduk. Dia pernah sangat bahagia waktu itu di rumah ini. Antyka merebahkan tubuhnya setelah berganti baju. benar saja di sana masih tersimpan baju bajunya yang dulu. Bahkan ada beberapa yang masih baru dengan label yang masih terpasang.


**


"Bun, Anty pulang duluan terima kasih untuk semuanya" Antyka berpamitan sambil menggandeng putrinya.


"Hati hati di jalan. Kamu sengaja kan pulang begitu awal untuk menghindari Alif?"


"Tidak Bun, Caya harus pergi ke sekolah"


"Tunggu, aku akan mengantar kalian" Teryata Alif sudah bangun. " Minggu ini giliran ku untuk menjemput dan mengantar Caya ke sekolah"


Alif meminta kunci mobil dari Antyka. Tentu saja Alif memanfaatkan keberadaan sang bunda. Antyka akan lebih penurut saat ada bunda.


" Sepertinya Caya masih ngantuk Anty, Kamu gendong dia lagi saja biar aku yang menyetir" Alif membuka pintu mobil untuk Antyka dan Caya. Dan tanpa banyak protes Antyka mengikutinya.


Udara pagi masih cukup dingin Alif membuka jaketnya dan di berikan pada Antyka untuk menyelimuti Caya yang kembali tertidur.


Alif menatap putrinya dengan rasa sayang. Rasanya hidup ini terasa hanpa tanpa mendengar celotehan dari bibir mungil itu. Alif menjalankan mobilnya menuju rumah Antyka.


"Biar aku gendong Caya" Alif minta putrinya agar Antyka bisa dengan mudah keluar dari mobil "Teryata memiliki anak Semenyenangkan ini, Anty. Pantas saja Mike ingin memiliki bayi lagi" Alif mengajak Antyka bicara sambil masuk kedalam rumah.


"Kak Lira sedang hamil lagi?" Tanya Antyka sedikit terkejut.


"Program..., mereka sedang merencanakan kehamilan yang ke tiga" Antyka kembali mengagukkan kepalanya tanda mengerti ucapan Alif.

__ADS_1


"Aku mau ke dapur menyiapkan sarapan. Apa pak Alif mau ikut sarapan dengan kami?"


"Kalau kamu tidak keberatan, aku mau sekali. Apa yang bisa aku bantu?"


"Tunggu saja di sini bersama Caya"


Antyka keluar dari kamar Caya dan segera ke dapur membuat sarapan pagi. Akhir akhir ini hubungan mereka lebih baik. Ucapan ucapan sinis sudah jarang keluar dari mulut Antyka. Selain itu porsi kebersamaan dengan Caya semakin sering Alif dapatkan.


Semua terjalin saat Alif tidak lagi menyinggung tentang perasaanya pada Antyka. Mungkin Antyka ingin mereka bersahabat saja. Itu lebih membuatnya nyaman. Bahkan saat dalam kesulitan Antyka tidak mau menghubungi Alif. Wanita itu berusaha menyelesaikan sendiri. Beruntung mata mata Mike mengetahuinya. Dengan mudah Antyka terlepas dari proses hukum. Dengan suka rela Farid mencabut kembali tuntutannya.


Meskipun dalam posisi benar tetap saja proses hukum sangatlah melelahkan .Saat Antyka mengucapkan terima kasih, Mike mengundangnya untuk makan malam dengan Alasan bunda sangat merindukannya.


'Daddy bangun...! Caya mau mandi" Alif yang kesepian menunggu Caya ikut tertidur. Ia membuka matanya saat tangan kecil putrinya menepuk nepuk wajahnya pelan.


"Ya Caya, Daddy bangun. Ayo Dady mandikan"Alif sudah terbiasa mengurus Caya.Namun itu di rumahnya. Di sini ia tidak tau dimana letak perlengkapan Caya tersimpan.


Setelah mengeringkan tubuh Caya Alif mencari baju yang akan Caya pakai.


"Caya tunggu di sini, Daddy mau tanya momy. Hari ini Caya pakai seragamnya yang mana?" Caya menuruti ayahnya untuk menunggu di dalam kamar.


"Momy, hari ini Caya pake seragam apa?"


Antyka menoleh mendengar pertanyaan dari Alif dengan panggilan momy. Tapi Alif sepertinya sangat menghayati perannya sebagai ayah pagi ini. Terlihat dari celana dan kausnya sedikit basah di sana sini.


"Pakai seragam olah raga. bajunya ada di lemari Caya sebelah kiri. Jangan lupa suruh Caya pakai body lotion ya"


"Oke momy" Ucap Alif terkekeh dan kembali kekamar Caya.


Antyka sudah menata sarapan dan bekal Caya di atas meja makan. Namun ia belum melihat Alif dan Caya.


"Sarapan sudah siap" Sapa Antyka saat membuka pintu kamar Caya. Ia melihat Caya sudah memakai seragam olah raga nya dengan rapi. Tapi ia kemudian tertawa saat melihat Alif kesulitan saat mengikat rambut putrinya. Berulang kali selalu gagal dan di rasa tidak rapi sampai sampai Caya mulai protes.


"Dady lama momy, Dady tidak bisa mengikat rambut Caya" Caya merajuk pada Momynya.


"Biar momy yang ikat, ini sudah siang nanti terlambat" Antyka membereskan ikatan rambut Caya dalam sekejap mata.


" Dady lihat, momy lebih pintar dari Daddy...hi hi hi" Caya mengejek Dadynya dan tertawa geli. Alif hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sudah ayo sarapan Caya"


**


Alif mengantar Caya masuk kedalam kelas. Sedang Antyka menunggu di dalam mobil. Dari kaca mobil masih terlihat saat Alif di sapa oleh orang tua murid yang kebanyakan ibu ibu muda yang cantik dan modis. Maklum sekolah Caya termasuk sekolah elit.


Ada perasaan sebal menghinggapi Antyka saat Alif seolah terlihat lebih ramah pada wanita yang menyapanya. Antyka ingat betul Alif dulu paling tidak suka dengan wanita genit, cari perhatian atau yang mendekatinya. Alif hanya akan tersenyum pada dirinya saja. Tapi lihat sekarang bahkan Alif mengobrol dengan mereka tanpa sungkan.


Entah dorongan dari mana Antyka keluar dari mobil dan menghampiri Alif yang asik bercengkrama dengan ibu ibu muda.


"Pak Alif masih lama?" Antyka berdiri di samping Alif. Alif menoleh sesaat dan mengerutkan dahinya heran.


"Loh ada Momynya Caya toh, bukannya kalian sudah bercerai?"ucapan itu membuat wajah Antika memerah rasanya tidak nyaman sekali.


"Meski sudah bercerai kami tetap mengurus putri kami bersama" ucap Alif menenangkan suasana.


"Hati hati dr Alif, sekali pernah selingkuh pasti akan terus selingkuh. Selingkuh itu hoby" dasar wanita kurang kerjaan sukanya menggosip. Antyka tidak tahan. Tanpa memperdulikan Alif ia pergi meninggalkan kerumunan yang ada.


Hatinya sakit saat terus di tuduh selingkuh. Padahal ia tidak pernah melakukan hal tersebut. Antyka masuk ke dalam mobil dan mengusap pipinya yang sudah basah..


Alif mengejar Antyka kedalam mobilnya. Nafas nya terengah engah. Sepagi ini ia harus berurusan dengan mulut mulut tajam. Alif tidak menduga para wanita itu bisa berkata yang menyakitkan.


"Antyka...., maaf. Maafkan aku"


"Puas..? Sudah menuduhku yang tidak tidak"

__ADS_1


" Anty..., aku akan membersihkan namamu"


" Label tukang selingkuh itu sudah lekat padaku sekarang...., Aku benci kamu, pak Alif"


__ADS_2