
"Sayangnya momy, susunya di minum dulu ya! momy mau bereskan kotak bekal kamu"
"Momy, Caya gak suka susu vanila maunya yang rasa coklat"
"Tunggu sebentar ya, momy buatin lagi" ucap Antyka sabar. Ia tau menghadapi Caya yang suka berganti ganti selera. Dia hafal betul jika putri cantiknya meminta perhatian lebih. Antyka tetap menuruti agar mood anak kecil itu terjaga dan bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan lancar.
"Tapi momy, susu vanilanya buat siapa?" Caya merasa bersalah saat sang bunda tidak protes dengan penolakan halusnya. Rasanya ia sangat bosan meminum susu setiap pagi.
"Buat momy saja, gak papa" Antyka tersenyum sambil menyodorkan gelas baru berisi susu rasa coklat.
Senyum lega terpancar di wajah gadis cilik dengan rambut panjang yang diikat dua. Matanya bening dengan iris mata coklat, hidung kecil yang mancung dan satu lagi tambah cantik saat ia tersenyum lesung Pipit di kedua pipinya.
"Suka ..?" tanya Antyka.
"MMM momy, boleh gak kalau besok Caya gak minum susu?"
"No, susu sangat baik untuk anak momy yang sedang bertumbuh" tegas Antyka sambil memasukan kotak bekal Caya dalam tas.
"Momy..., Caya bosan. Boleh minum yang lainnya?"
"Betul sudah bosan sama susu?" Antyka mencoba diskusi.
"Momy bagaimana kalau Caya minum vitamin untuk mengganti susu" Anak ini juga negosiator yang ulung. Antyka berpikir sejenak mungkin satu Minggu ini dia bisa menghilangkan jadwal minum susu dan di gantikan dengan vitamin cair. Logic anak kecil ini memang cerdas.
"Oke deal, satu Minggu ini Caya boleh tidak minum susu tapi janji minum vitamin sebagai gantinya dan makan yang teratur, big no untuk rewel"
"Deal momy" Kembali Caya memamerkan lesung pipinya.
"Kalau sudah selesai, momy mau antar Caya ke sekolah"
"Selesai momy" Caya meletakan gelas setelah menyelesaikan tegukan susunya yang terakhir.
Caya membawa tasnya sendiri. Dengan seragam TK warna biru dan putih, tubuh kecilnya terlihat sangat menggemaskan.
"Tunggu momy sebentar, momy harus ambil tas momy di kamar. Caya bisa pamit dulu pada Oma"
Caya menghampiri Oma yang sudah berada di teras. Gadis kecil itu berteriak memanggil omanya yang sedang menikmati suasana pagi.
" Oma...Caya mau berangkat sekolah, Salim" Caya mengulurkan tangannya.
"Cucu Oma kok Cantik banget ya. Sekolahnya jangan lama lama Oma sendirian di rumah"
"Oma, Caya itu sekolah biar pinter" Caya bertingkah menasehati Omanya yang merajuk karena ditinggal sekolah. Mimik wajah gadis itu terlihat serius membuat Oma menahan tawa karena geli.
" Oh...oke Caya, Oma tunggu Caya sambil lihat kartun" Masih menahan senyum dengan tingkah sok dewasa Caya.
"Oma jangan lihat kartun, lihat drama yang untuk orang dewasa. Kartun untuk Caya" Ucap Caya dengan gaya sok tau membuatnya terlihat selalu menggemaskan.
" Oma mau baca buku saja Caya, biar pinter kaya Caya"
"Tapi kalau baca buku Oma sering tertidur" Protes Caya lagi. Oma hanya bisa melongo mendengar perkataan gadis kecil itu. Beruntung Antyka datang.
" Caya sudah Salim sama Oma? kalau sudah ayo berangkat"
" Sudah momy"
" Ma, Anty berangkat dulu. Hati hati di rumah jangan terlalu cape" Anty berpamitan dan mengecup pipi yang mulai di penuhi keriput.
__ADS_1
Rutinitas Antyka di pagi hari setelah mengantar Caya ke sekolah ia akan pergi ke restoran peninggalan sang ayah. setelah itu ia akan pergi ke pabrik garmen. Antyka sudah menjelma jadi wanita karir yang cekatan. Di bantu para pekerjanya ia bisa mengembangkan restoran dan usaha garmen menjadi lebih besar.
Di sela kesibukannya ia tidak pernah absen untuk menjadi orang pertama bagi Cahaya yang biasa di panggil Caya. Setelah makan siang Antika membereskan isi tasnya untuk segera menjemput Caya dari sekolah. Ponsel Antyka bergetar, telepon dari Ibra.
"Ya halo kak Ibra?" Sapa Antyka ramah.
"Aku di depan sekolah Caya, boleh aku ajak Caya keluar sebentar? hanya beli es krim"
"Jangan terlalu memanjakannya Caya, kak"
"Aku suka Anty, Sudah satu Minggu aku tidak bertemu putriku yang cantik. Please ...hanya satu jam. Setelah itu aku antar dia pulang" Ibra masih membujuk Antyka untuk memberi ijin. Padahal mereka berdua sudah berada di gerai eskrim terkenal. Sedang menikmati eskrim bersama.
"Harusnya kak Ibra istirahat bukan malah keluyuran bareng Caya, Kalian pasti sudah di gerai es krim, kan? baru minta ijin" Antyka terus mengomel pada Ibra dan pria itu hanya bisa terkekeh mendengar Antyka meluapkan emosinya
"Ayah, apa momy mengijinkan?"tanya Caya sambil menyuapkan satu sendok es krim stroberi ke dalam mulut kecilnya. "Suthjh..," Ibra memberi kode pada Caya agar jangan berisik. Caya tidak perduli kode dari Ibra.
"Momy, jangan marah sama Ayah. Caya yang minta Ayah beli es krim" Caya merebut ponsel dari tangan Ibra. Bocah itu seolah ingin melindungi sosok pria yang ia kenali sebagai Ayah.
Dari sebrang sana Antyka hanya bisa mendengkus kesal. Caya selalu membela Ibra. "Momy tidak marah sama Ayah, harusnya Caya ijin dulu sama momy. Beruntung momy belum pergi ke sekolah Caya"
"Momy, kata ayah mau es krim yang rasa apa? punya Caya rasa stroberi" Caya tak menghiraukan ucapan sang momy, dia malah menawari untuk membelikan es krim
"Tidak usah Caya, bilang pada ayah, Momy bukan anak kecil lagi yang suka es krim. Caya..., jangan lupa bilang terima kasih pada Ayah" Antyka mengajari Caya untuk bersukur dan sopan
" Tentu momy, Caya pasti akan bilang terima kasih. Assalamualaikum" Caya menutup ponsel Ibra tanpa menunggu jawaban dari Antyka.
Caya memberikan ponselnya pada Ibra. Mereka melanjutkan makan es krim berdua. Menikmati waktu kebersamaan. Mereka sama sama rindu dan saling menyayangi.
Antyka tidak menutup mata, ia sangat tau perasaan Ibra padanya. Ibra begitu sabar menanti perasaan Antyka. Meski berulangkali Antyka meminta Ibra untuk mencari gadis yang lebih sepadan tapi pria itu selalu sabar menanti. Hingga tiga bulan yang lalu. Antyka menyerah, Alif tak pernah lagi ada kabar, Mama yang semakin tua, Hingga nyonya Hanna yang terlalu baik pada Antyka dan Caya. Antyka akhirnya menerima bertunangan dengan pria yang terlalu baik.
"Kak Ibra, belum pulang?" Sapa Antyka saat Ibra sedang memasang selimut.
"Anty...,tumben kamu pulang lebih awal?"
"Kak Ibra, di tanya malah balik tanya" Antyka meletakan tas diatas meja. Kemudian duduk di samping Ibra.
"Aku juga kangen sama kamu Anty, rencananya mau nunggu kamu sampai pulang di sini" Ibra menatap lekat wanita pujaannya yang terlihat lelah.
"Aku buatin kopi ya, kak Ibra pasti kangen kopi buatanku. Tunggu sebentar" Antyka merasa canggung saat mereka hanya berdua.
Entahlah rasanya aneh sejak Ibra mengungkapkan perasaannya. Antyka merasa tidak nyaman kalau hanya berdua saja. Antyka menyeduh secangkir kopi yang mengeluarkan aroma yang kas, kemudian meletakan diatas meja di depan Ibra.
"Terima kasih" Ibra mengambil cangkir kopi dan meresapi bau kas kopi yang diseduh. " kopi buatanmu selalu enak, Anty" menyeruput sedikit demi sedikit kopi buatan Antyka
"Kak Ibra sampai sini jam berapa?" Antyka mengusir kecanggungan.
"Jam sebelas, langsung ke sekolah Caya. Aku kangen sekali dengan Caya"
" Kalian berdua sama saja, lihat kalender ini, Setiap hari dilingkari oleh Caya, ia menghitung sudah berapa lama Ayah Ibra pergi" Antyka memperlihatkan kalender yang diisi bulatan pada tanggal kepergian Ibra.
Ibra terkekeh merasa bahagia, begitu dinantikan oleh gadis kecilnya. Tapi ada sebagian hatinya yang masih hampa. Melihat mimik muka Antyka yang masih biasa saja. Padahal Ibra ingin sekali mendengar Antyka juga merindukannya.
" Anty....emmm, Aku ingin mengajakmu kencan nanti malam, bisa ?" Ibra menatap Antyka penuh harap. Sebagai tunangan yang baik tentu saja Antyka harus menyanggupi. Satu Minggu ini mereka tidak bertemu. Setelah pulang Ibra meluangkan waktunya untuk menemani Cahaya. Kini giliran Antyka yang harus menunjukan sikap sebagai tunangan yang baik.
"Ia tentu saja bisa, jam berapa?"
"Aku jemput kamu jam tujuh. Oh ya aku ada hadiah kecil untuk kalian" Ibra menyiapkan oleh oleh yang ia beli dari luar negri. "Aku ingin kamu pakai ini nanti malam" sambil menyerahkan tiga paper bag pada Antyka. "Aku sudah membayangkan kamu akan sangat cantik dengan gaun itu. Aku pulang dulu" Ibra berdiri untuk pamit setelah menyesap kopi buatan Antyka sampai tandas. Sebelum pergi Ibra mendekat pada Antyka mengecup pucuk kepala Antyka yang terhalang hijab, Seraya berucap " Anty...., aku sangat mencintai mu. Aku tidak sabar untuk hari pernikahan kita"
__ADS_1
Antyka terhenyak ada rasa yang membuatnya gamang. Ibra begitu berharap bahagia dengannya. Sedang ia masih terbelenggu oleh masa lalunya. Nama Alif tidak pernah usai dari hatinya. Antyka menatap punggung Ibra hingga menghilang di balik pintu. Anty tidak mau Ibra terluka olehnya. Pria itu terlalu baik.
Antyka merenung setelah Ibra meninggalkannya. Langkahnya memasuki kamar Cahaya. Putri kecilnya sangat membutuhkan sosok Ayah, dan Cahaya sudah memiliki itu di sosok Ibra. Ibra mencintai cahaya seperti anaknya sendiri.
"Momy cantik sekali dengan gaun itu, momy mau pergi dengan Ayah?" Caya bertanya saat Antyka sedang memantas diri di depan cermin .
"Iya, Caya mau ikut?"
"No, kata Oma itu acara orang dewasa. Oma mau dongeng yang banyak untuk Caya"
"Serius ? padahal ayah sudah belikan gaun yang sama untuk Caya pakai" Antyka masih terus membujuk Caya agar mau ikut.
"Anty, kasian Ibra. Kamu harus lebih pengertian sedikit. Pergilah tanpa Caya, kalian butuh waktu untuk saling mendekatkan diri sebelum menikah"
"Tapi ma, kak Ibra juga tidak keberatan" Antyka masih bersikukuh.
"Caya mau kan Oma kasih dongeng yang banyak?" mama Ajeng beralih pada gadis kecil di sisinya.
" Mau Oma, Caya tidur di kamar Oma ya?" jawab Caya seolah ia sudah faham kode kode dari sang Oma untuk membiarkan Antyka pergi berdua dengan Ibra.
Caya menggandeng tangan Oma sambil berlalu meninggalkan Antyka yang masih bersiap. Antyka melirik jam yang ada di dalam ponsel. Sudah pukul tujuh, sebentar lagi Ibra pasti datang. Baru saja ia keluar dari kamar, Ibra sudah ada di ruang tengah, menatap Antyka penuh puja dan cinta.
" Kak Ibra" Anty sedikit terkejut. Pria di depannya menatap lekat. Antyka merasa salah tingkah. " Sudah dari tadi? maaf aku kira, kak Ibra belum datang"
"Aku datang dari lima menit yang lalu. Apa Caya tidak ikut?"
"Iya, Caya tidak mau ikut"
"Kita dinner romantis ya, berdua" Ibra menggoda Antyka. "Ayok nanti keburu malam" ucap Ibra meminta Antyka untuk bergegas. Setelah berpamitan pada Caya dan mama Ajeng mereka benar benar pergi berdua.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka pergi hanya berdua. Sebelum mereka bertunangan pun mereka sering pergi hanya berdua walau hanya sekedar nonton atau pergi ke pesta yang mengharuskan Ibra membawa pasangan. Antyka pasti dengan senang hati menemani Ibra.
Tapi kali ini suasananya berbeda. Mereka sudah resmi bertunangan. Setidaknya mereka memiliki hubungan yang jelas arahnya. Ada perasaan takut pada Antyka setiap Ibra berbicara tentang tahap paling penting hubungan mereka yaitu pernikahan.
Ibra menyeret kursi untuk Antyka duduk. Ibra semakin terbuka mengungkapkan rasa cintanya. Malam itu Ibra mengenakan kemeja hitam yang terlihat kontras dengan kulit bersihnya. Apalagi tubuh Ibra yang menjulang juga paras yang tampan. Sedikit banyak menyita perhatian lawan jenis.
Suasana restoran yang di pilih Ibra memang romantis. mereka memesan tempat dengan view yang cantik, suasana tenang di iringi musik yang mengusung lagu cinta.
Tiba tiba Ibra menggenggam jemari Antyka. Mengecup nya berlahan.
"Anty, kalo boleh aku ingin mempercepat hari pernikahan kita. Apa kamu keberatan?, toh kita mau menunggu apa lagi. Mama Ajeng juga mami sih memintaku secepatnya" Ibra memperhatikan mimik wajah Antyka yang terlihat gamang "Itu kalau kamu setuju, aku gak buru buru kok" suara Ibra kembali melemah. Ia faham betul menekan Antyka sama dengan menghancurkan rencana.
"Ehm kak Ibra, hanya tinggal tiga bulan lagi, kan? itu sudah dekat. Kenapa harus dipercepat lagi? Aku sedang sibuk menyiapkan projek untuk hari raya. Setelah projek itu selesai aku lebih konsen untuk persiapan pernikahan kita. Dan aku tidak bisa menunda projek yang sudah di buat perjanjiannya, jauh hari sebelum kita bertunangan"
"Oh...,gitu ya. Kapan projek mu selesai?"
"Paling cepat dua bulan lagi"
"Biar aku jelaskan pada mami, tapi Mami ingin kita mulai menyiapkan pernikahan kita. Bagai mana kalau kita mulai menemui pihak WO yang akan kita pakai, Hmm?"
" Boleh kak, kita sesuaikan saja dengan jadwal kita. Jangan sampai berbenturan" ucap Antyka yang membuat Ibra begitu plong.
"Sungguh, aku senang mendengarnya anty" Ibra tidak menyangka kalau Antyka benar benar mau andil untuk menyiapkan pernikahan. "Besok aku kirim jadwal jadwal kosongku, Anty."
Antyka menyetujui keinginan Ibra. Keduanya pun melanjutkan makan malam mereka dengan tenang. jauh di lubuk hati Antyka, sebenarnya kalau pun menikah lagi ia ingin pernikahan sederhana. Tapi semua itu tidak mungkin. Ibra adalah putra tunggal tuan Hendro. Tentu saja mereka ingin merayakan pernikahan putra mereka dengan pesta yang mewah.
Antyka menatap binar bahagia di mata Ibra. Ibra memang harus bahagia. Pria di depannya ini. Hampir seluruh waktunya selalu berusaha membuat Antyka dan Cahaya bahagia. Ia sudah banyak berkorban untuknya.
__ADS_1