Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
55. Mendapat restu


__ADS_3

"Pak Alif..." Antyka memeluk Alif dari belakang. Tangisnya pecah, dadanya nyeri di hujam rasa nelangsa. Perasaannya membuncah. Ia sudah tidak tahan lagi. Saat Alif hendak mengantarnya pulang. Ia berlari dan memeluk Alif dari belakang. Antyka menumpahkan rasa yang tertahan begitu lama.


"Kanapa tidak mengatakan dari awal?" Air mata Antyka merembes membasahi kemeja Alif. Tangannya masih memeluk tubuh Alif. Rasa hangat yang sangat ia sukai, Sejenak ia ingin egois menikmatinya meski salah. Batinnya berkata, tidak ingin kehilangan pria itu lagi.


Alif memutarkan badan, merengkuh Antyka yang masih terisak. Di usapnya punggung Antyka. Rasanya seperti mimpi saat bisa kembali memeluk wanita yang sangat ia rindukan. Hatinya menghangat, Luka yang mencabik perasaannya berlahan menutup.


"Anty ...., aku tidak ingin pisah lagi" suara Alif serak, gemuruh perasaan membuatnya terbata bata. "aku yang bodoh, karena terlalu mencintaimu" Dalam keheningan malam jarak itu terkikis. Tiba tiba saja rasa sakit itu menguar tak bersisa begitu pula, rasa benci dan segala yang membuat luka tak lagi ada. Hanya rindu tak ingin saling melepas lagi.


"Apa bunda yang sudah menceritakan semua?" tanya Alif saat mereka sudah ada di dalam mobil yang melaju di jalanan menuju rumah Luthfi. Antyka hanya mengangguk. tapi tatapan matanya tidak lepas dari sosok Alif.


"Anty....jangan menatapku seperti itu. Aku sedang menyetir" Alif merasa salah tingkah saat Antyka terus menatapnya. Aneh...harusnya dia senang. Tapi mendadak Alif seperti seorang bocah yang baru jatuh cinta, merasa salah tingkah saat di tatap oleh pujaan hati


"Maaf, aku hanya tidak percaya, pak Alif masih sama seperti yang dulu, maaf sudah pernah membencimu dulu" sesaat rona merah di wajah Antyka tampak kentara. Keduanya tampak canggung debaran jantung mereka terasa tidak beraturan. Alif berusaha mengendalikan diri dan melajukan mobilnya.


Di tengah kesunyian dalam mobil, Alif kembali menggenggam erat jemari Antyka. Mereka hanya bisa diam menikmati rasa hangat yang menyalur diantara jemari mereka, terasa begitu nyaman.


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah masuk di pelataran rumah Luthfi. Alif menghentikan mobilnya. Malam sudah larut saat mereka sampai. Antyka turun dari mobil Alif.


"Terima kasih, saya masuk dulu" Ucap Saat turun dari mobil Alif. Antyka kembali menoleh saat sudah melaju beberapa langkah. Dilihatnya Alif masih berdiri sambil menatapnya. Rasanya enggan berpisah, kalau saja pantas ia ingin kembali memeluk Alif. Antyka menundukkan pandangannya. tiba tiba tidak berani menatap wajah Alif. Ia hendak melangkah lagi.


"Anty" tiba tiba saja Alif sudah berada di dekatnya.Ia meraih tangan Antika


Kembali tatapan mata keduanya saling bertemu. Perasaan rindu itu masih menggunung. Entah siapa yang memuai tubuh mereka saling mendekat dan kembali saling merengkuh dalam dekapan.


"Anty...., Mari kita menikah lagi. Aku tidak sanggup berpisah seperti ini" Ucap Alif sambil terus mengeratkan pelukannya. Keduanya tidak sadar telah bertindak jauh. Hampir saja nafas mereka saling menyatu.


Suara dehaman dari Luthfi memisahkan pelukan mereka.


"Kalian ....!!!"


Sontak mereka tersadar dari gairah rindu yang ingin membuncah dan salah. Keduanya menunduk seperti tersangka yang tertangkap basah. Luthfi mendekat


"Anty..., masuk" perintah Luthfi membuat Antyka berjingkat dan langsung mengambil langkah cepat. Dari suaranya, Antyka tau Luthfi sangat marah.


Alif masih berdiri tidak bergeming, wajahnya masih menunduk tidak berani menatap Luthfi, Posisinya saat ini memang salah. Dia dan Antyka bukan lagi suami istri, tapi mereka berpelukan dan hampir saja berciuman jika saja suara dehaman Luthfi tidak mengagetkan, mungkin mereka akan terhanyut lebih jauh.


"Aku memberimu kepercayaan Lif, tapi kamu malah memanfaatkannya. Harusnya kamu menjaga Antyka, bukan malah...."


"Maaf..., Saya terbawa perasaan. Saya yang salah"


"Kamu...., pulang sekarang. Jangan membuat kepalaku semakin pusing"


"Kak Luthfi, tolong maafkan saya" Alif masih memohon namun Luthfi tidak menghiraukan mantan adik iparnya itu


Luthfi meninggalkan Alif yang masih merasa bersalah. Sejujurnya, Luthfi merasa senang Antyka bisa kembali dengan Alif, tapi tidak dengan adegan yang ia lihat tadi. Beruntung ia cepat datang setelah mendengar suara mobil dari halaman rumahnya.


Setelah Karin tidur, Luthfi tidak dapat memejamkan mata. Ia terus berkomunikasi dengan Mike tentang rencana besok pagi. Saat hendak kembali ke kamar ia mendengar suara mobil Alif memasuki halaman.


***


Antyka masih duduk di dalam kamar mama. Akhir akhir ini kesehatan mama memburuk. Antyka mengusap punggung mama yang katanya terasa panas dan pegal.


" Ma, makan dulu ya?" bujuk Antyka. Rasanya ia tak tega melihat mama kesakitan.


"Mama lagi puasa, Anty"


"Mama kan lagi sakit. puasanya besok lagi kalau mama sudah sehat" tapi mama hanya menggeleng lemah.


"Mama masih kuat, Anty. Mama hanya sakit punggung" mama tersenyum dan meminta Antyka menghentikan usapannya.


"Caya kapan diantar kemari?"


"Nanti sore ma, setelah pak Alif pulang dari rumah sakit. Pak Alif juga ingin ketemu mama"


"Mama kangen sama Cahaya" lirih mama


Antyka mengangguk, mengiyakan mama. Antyka pun merasakan hal yang sama. Kalau saja para pelaku kejahatan yang mengincarnya sudah tertangkap. Mereka bisa berkumpul kembali. Dan Antyka tidak akan terkurung di rumah kakaknya seperti saat ini.


"Caya sekarang sudah lebih mandiri, ma" Ucap Antyka dengan binar mata yang bangga.


"Alif, mengurusnya dengan baik. Mama lega, Anty"


Antyka membantu mama kembali tidur dengan posisi miring, agar punggungnya tidak terlalu lembab. Kemudian memasang selimut dan mengecilkan suhu ruangan. Mama mencoba untuk memejamkan mata seraya meminta Antyka keluar dari kamarnya. Sebelum keluar Antyka mengecup kening mama dan menutup pintu kamar dengan pelan.


"Anty, Oma tidur?" tanya Zeind yang baru datang dari kampus.


"Baru saja"


"Tadi pagi aku belum ketemu Oma, buru buru ada praktek"


"Kamu makin sibuk saja, Zeind ?"


"Begitulah...., demi masa depan" kelakar zeind


Keduanya berjalan menuju ruang makan dan bertemu Karin yang sedang menyiapkan makan siang.

__ADS_1


"Mbak Karin tidak ngantar makan siang buat, kak Luthfi?"


"Gak, mas Luthfi pagi sekali sudah berangkat ke luar kota"


"Ada urusan mbak?"


"Iya, tapi mbak juga gak di kasih tau urusan apa" ucap Karin sambil duduk di samping Zeind.


"Mau di suapin Zeind?"Karin mencoba meledek putranya yang sedang makan. Zeind tidak menjawab hanya menggeleng. Ia tau mamanya hanya sedang menggoda saja.


"Ya sudah kalau gitu, mama mau ke kamar Oma" Karin kembali berdiri sambil membawa nampan berisi makan siang untuk sang mertua.


"Mbak gak usah, mama lagi puasa. Tadi sudah Anty tawarin makan"


"Mama kan lagi sakit, kenapa puasa?" Karin merasa kawatir.


"Mama mau nya begitu. lagi pula sekarang mama tidur. Jangan di ganggu dulu"


***


"Saya sungguh minta maaf tuan Agra" Luthfi memasang wajah kusut dan memelas. Ia memperhatikan perubahan wajah Agra yang dingin. Namun Agra masih menutup mulutnya rapat. Pria itu masih senatap Luthfi tajam.


"Semua ini kecelakaan, harusnya barang pesanan tuan Agra bisa di kirim hari ini. Tapi orang orang yang tidak bertanggung jawab telah merusaknya. Kalau tuan Agra tidak percaya, lihat ini!"


"Sudah...., sebagai sesama pengusaha tuan Luthfi harus tau. Bukan hanya kata maaf dan semua masalah selesai" Agra masih menatap tajam Luthfi.


"Ada kompensasi dari pelanggaran perjannjian kita" Tegas Agra mengingatkan bisnis tetap bisnis.


"Jadi tuan Agra, ingin saya membayar kompensasi seperti yang tercantum di salah satu klausa perjanjian kita?. Jangan kawatir tuan, saya pasti membayarnya. Kesalahan ini memang ada di pihak saya" ucap Luthfi yakin.


Agra menghembuskan nafasnya kasar, ada hal yang membuatnya tidak nyaman.


"Tuan Luthfi, saya tau anda pebisnis yang hebat dan jujur. Saya menghargai itikat baik tuan Luthfi. Sepertinya saya akan bermurah hati karena tuan Luthfi orang yang bertanggung jawab. Selain itu, Saya juga mendengar beberapa musibah yang menimpa keluarga tuan Luthfi" Agra mulai menarik ulur


"Saya akan bebaskan biaya kompensasi untuk kerugian saya. Tapi saya minta sedikit bantuan, itu pun jika tuan Luthfi mengijinkan"


"Katakan saja tuan Agra, apa yang bisa saya bantu?"


Agra tampak berpikir sejenak, gestur tubuhnya terlihat bimbang. Luthfi hanya memperhatikan setiap gerak Agra. Agra berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju sebuah meja yang letaknya hanya beberapa langkah.


Agra menghampiri Luthfi kemudian menyodorkan sebuah undangan. Luthfi memperhatikan baik baik setiap baris kata yang tertera di undangan.


"Maksud tuan Agra bagaimana? Undangan ini..."


"Seperti yang terlihat saya butuh partner untuk menemani saya ke acara tersebut. Saya ingin meminta ijin mengajak Antyka untuk mendampingi saya" Agra mengungkapkan maksudnya. "Apa bisa?"


Terlihat raut wajah kecewa Agra. Luthfi hanya diam menantikan kearah mana permainan Agra.


"Maaf, jika tuan Luthfi menjadi tersinggung. Apakah tuan Luthfi juga berkenan datang dengan Antyka dan nyoya Karin? Saya akan menunggu di loby tempat acara, Lalu kita masuk bersama" Agra sepertinya tidak menyerah dengan keputusan Luthfi.


Sejenak Luthfi terdiam, Agra pandai membuat alasan. Di titik ini ia masih tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Agra.


"Baiklah, kami akan datang" Ucap Luthfi singkat.


"Terima kasih, tuan Luthfi" keduanya berjabat tangan.


Agra terlihat sumringah, ini tidak mudah tapi akhirnya dia bisa mendekati Antyka. "Tunggu kejutan yang akan aku berikan, sebaik apapun kamu menjaga, aku bisa membuatnya mendekat"


***


"Bagaimana pertemuannya?" tanya Mike sambil menyeruput kopi.


"Aku tidak bisa menolak, seperti saranmu aku ikuti keinginan Agra"


"jangan kawatir, orang orang ku akan bersiap di gedung itu. Kita hanya butuh bukti kuat untuk semua motif kejahatannya"


"Tapi..., kenapa harus membahayakan Antyka?"


Mike tertawa lepas, melihat Luthfi setengah marah padanya.


"Percayakan semua padaku. Aku tidak sembarangan. Aku sudah memperhitungkan semuanya, Antyka aku pastikan aman"


"Bagaimana dengan Alif?"


"Dia juga akan datang di acara itu"


"Dia tau rencana kita?"


Mike menggeleng sekilas. "Dia akan menolak mentah mentah rencana ini. Bisa bisa Alif akan mengacaukannya. Letakan ini di baju Antika!" Mike menyodorkan alat berukuran kecil pada Luthfi.


"Apa ini"


"Memudahkan kita melacak keberadaan Antyka, jika ada hal yang terjadi diluar kendali"


"Harus di bajunya atau bisa di tasnya?"

__ADS_1


"Harus di bajunya, tas atau dompet bisa saja tertinggal" Jelas Mike logis.


"Baiklah"


Mike mengangkat ponselnya, dari sebarang terdengar suara Lira yang meminta Mike cepat pulang.


"Aku datang, tunggu sebentar. Aku sedang bersama Luthfi di sini" Mike menutup ponselnya dan meminta diri dari hadapan Luthfi.


"Aku harus pulang, Lira membutuhkan aku"


"Ya, terima kasih untuk bantuannya. Apa terjadi sesuatu pada Lira?"


"Dia masih sering merasa mual, dan ingin dibuatkan makanan kesukaannya"


"Harus kamu Mike, yang buat?" Luthfi tertawa mengejek.


"Hanya aku yang bisa membuat makanan kesukaannya. Mualnya juga akan reda hanya saat melihatku" Jawab Mike dengan senyum penuh arti "Kamu, tidak ingin menyusulku?"


Luthfi jadi salah tingkah, dia tau ke arah mana pembicaraan mereka. Luthfi menggeleng lemah. Karin sudah menolak dengan keras rencana untuk hamil lagi.


Mike menepuk pundak Luthfi kemudian berpamitan. Akan menjadi ayah lagi, untuk anak ketiga membuat Mike sangat bahagia. Lira jadi begitu bergantung pada Mike. Itu yang membuat Mike begitu senang.


***


"Itu mobil Alif?" Tanya Luthfi pada istrinya Karinina saat ia baru sampai di rumah


"Iya, baru saja datang. Paling, baru sepuluh menit yang lalu" Karin mengikuti langkah Lutfi sampai masuk kedalam kamar


"Sekarang dimana orangnya?"


"Kamar mama, lagi ngecek kesehatan mama juga" Luthfi membuka kemejanya dan berganti dengan kaos. Tubuhnya terasa sangat lelah.


" Jangan biarkan mereka berdua duaan, Kita harus mengawasi mereka"


Karin menatap aneh pada suaminya. Sedikit terkejut dengan ucapan Luthfi. Setau Karin, Antyka dan Alif sangat pandai membawa diri. Lagi pula hubungan Antyka dan Alif belum sedekat itu lagi.


"Jangan menatapku seperti itu, aku sungguh sungguh. Mereka seperti remaja yang baru jatuh cinta lagi. Tidak ada salahnya kita berhati hati, Paham?" tegas Luthfi.


Di kamar mama, Alif sedang mengecek kesehatan mantan mertuanya.


"Tensi mama rendah, kenapa mama memaksak puasa?"


"Tapi mama merasa baik baik saja, Lif" mama Ajeng berusaha untuk bangkit dari posisi tidur di bantu Alif. wanita ringkih itu ingin memperlihatkan kesungguhan ucapannya. Alif tersenyum, memaklumi.


"Lif...., Mama lihat kamu dan Antyka sudah baikan?" Mata sayu mama menatap Alif.


"Iya ma, saya dan Antyka....ingin kembali bersama, Dengan restu dan ijin dari mama tentunya"


Mama masih diam, namun sudut matanya berembun. Kemudian bulir itu mengalir merambat di pipi tirusnya. Sempat terkejut saat melihat mama Ajeng menangis. Alif tercekat tidak dapat berbicara. Di sudut hatinya menumpuk rasa bersalah.


"Titip Antyka ya Lif, tolong jangan buat menderita lagi. Mama memberimu kesempatan kedua"


"Ma, maafkan Alif. Alif yang salah" Alif menggenggam tangan mama, ada rasa lega yang bercampur dengan penyesalan.


"Suatu saat, jika ada masalah, kamu harus jujur pada Antyka. Biarkan dia yang memutuskan sendiri. Untuk memilih jalan hidupnya. Jangan kamu bohongi lagi. Seburuk apapun kenyataan lebih sakit saat di bohongi"


"Alif janji, Ma"


"Mama tau, kehidupan tidak mudah. Tapi jika kalian menjalani dengan benar. Semua kesulitan bisa di hadapi bersama, mama harap ini pernikahan kalian yang terakhir dan bahagia bersama"


"Amin...,ma".


"Kamu boleh datang kemari, tapi harus tau batasan" Luthfi meminta Alif dan Antyka datang ke ruang kerjanya. Sepertinya dia perlu mengingatkan sesuatu pada Alif dan Antyka.


Sebagai orang yang paling bertanggungjawab di rumah ini. "Lebih sopan lagi, kalau kamu minta ijin dulu padaku. Antyka masih jadi tanggung jawabku"


Antyka menunduk ia merasa sangat malu, begitu juga dengan Alif. Peristiwa malam saat mereka terciduk sedang saling memeluk. Sebenarnya tidak ada maksud untuk berbuat seperti itu tapi, keduanya larut terbawa suasana.


"Kamu Antyka, apa kamu tidak malu? Harusnya kamu..."


"Kak Luthfi..., saya yang memulainya" Alif tidak tega, saat Antyka mendapat teguran keras dari kakaknya.


"Sama saja, kalian sudah melebihi batas" suara Luthfi meninggi.


"Saya akan segera menikahi Antyka kembali" Ucap Alif terbata bata


"Kamu pikir semudah itu? kamu tidak menganggap saya?" ketus Luthfi seolah tersinggung.


"Maaf saya lancang..., tolong restui kami kak" Alif terlihat memohon.


"Apa jaminannya? kalau kamu tidak akan mencampakan adikku lagi" Tatapan Luthfi tampak tajam kali ini. "Aku ingin lihat sejauh apa usahamu, Lif. Sebelum aku mengijinkan kalian bersama lagi. Buat aku yakin, kalau kamu sangat pantas menjaga Antyka"


"Kak Luthfi....,"Panggil Antyka. dengan nada keberatan.


"Kenapa....? kamu sudah tidak sabar? Aku tunggu itikad baik dari mu Lif"

__ADS_1


***


__ADS_2