Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
41. Membekas dan Angan


__ADS_3

Luthfi menatap Alif dengan tajam. Dua pria itu duduk berhadapan. Terlihat gestur gelisah dari Alif. Tampak ia tidak tenang berhadapan dengan mantan kakak iparnya. Suasana lenggang, keduanya berbincang di ruangan Alif. Mereka sengaja membuat pertemuan ini.


Alif menghela nafas kemudian kembali menatap Luthfi.


" Aku tidak punya waktu kalau hanya menunggu orang yang ragu. Apa maksudmu memintaku untuk bicara berdua?" Luthfi sudah bosan dengan Alif yang terus mengunci mulutnya. Sudah hampir sepuluh menit, ia menunggu Alif bicara.


" Mungkin kak Luthfi akan tetap mengatakan aku salah. Tapi setidaknya aku memiliki alasan untuk semua keputusanku. Aku tidak ada niat buruk sama sekali pada Antyka. Aku hanya bersukur bisa bertemu kalian lagi"


" Aku tetap kesal setiap melihatmu Lif. Kamu tau kalau kamu sudah membuat malu keluarga kami. Tiba tiba menceraikan adikku dengan tuduhan keji. Antyka kau campakkan hanya dalam hitungan bulan. Saat adikku mulai mencintai suaminya. Tidakkah kamu bayangkan betapa hancur perasaan Antyka"


" Saya tau kak Luthfi, Saya sedang menuai semua kesalahan yang saya perbuat. Apapun itu saya ikuti aturan dari Antyka asal dia bahagia"


" Dia benar benar bahagia saat kamu belum melukainya Lif. Kalau saja waktu itu kamu ada di depanku. Mungkin muka mu sudah tidak berbentuk"


"Maaf..."


"Ingat jangan mengganggunya lagi dia sudah memilih masa depannya denga Ibra. Kamu bisa menemukan wanita lain yang akan kamu sakiti. " Luthfi meninggalkan Alif dalam ruangannya. Mantan kakak iparnya tetap tidak memberi respon yang baik,meskipun dia sudah berusaha meminta sedikit pengertian.


" Aku mencintainya, dan akan tetap seperti itu. Aku ingin Antyka bahagia. Aku hanya akan melihatnya dari jauh. Aku cukup tau diri untuk itu" Ucap Alif menjawab


Luthfi membalikkan badannya. Menatap Alif yang sendu. Tapi ia tidak mau tertipu dengan tatapan penuh luka Alif. Kali ini Luthfi akan sangat menjaga Antyka.


Mama Ajeng berangsur membaik, tubuh lemahnya di papah oleh Luthfi untuk duduk di sebuah sofa.


" Mama mulai sekarang tinggal dengan Luthfi''


" Tapi adik mu Fi, mama kasian"


" Antyka sudah dewasa ma, tidak usah kawatir. Lagi pula ada bik Sumi akan menginap dan menemani Antyka. Toh bulan depan Antyka akan menikah dengan Ibra. Mama tidak usah kawatir"


" Iya, mama tau Fi, Alif masih baik ya Fi, sama mama?"


" Iya, tapi tetap kita harus hati hati ma"


" Menurut mama dia tulus Fi, Dia selalu datang saat Antyka atau kamu tidak ada. Kalau saja dia tidak melakukan kesalahan itu. Mama ingin mereka tetap bersama. Yang mama pikirkan itu Cahaya. Sepertinya cahaya akan bernasib seperti kamu " mama menatap Luthfi putranya dan hanya diam.


" Mama tau kamu dulu kesulitan memilih kami. Andai saja bisa, tentu kamu ingin mama tetap bersama papa, kan?"


" Ma sudah, kita ikutin jalan takdir yang membawa kita saja. Semua itu sudah berlalu. Aku sudah bahagia dengan Karin dan anak anakku. Semua pasti ada hikmahnya, ma"


" Kamu anak baik, Fi. Mama Rido semoga kamu dan keluarga kecilmu selalu bahagia"


" Amiin ma, Amiin ..., Hari ini mama sudah boleh pulang. Zein, Livia juga Karin akan datang sebentar lagi"


"Oma..." Caya berlari kecil mendekat. Rupanya ia datang bersama Ibra juga Antyka. Gadis kecil itu langsung mencium tangan Oma. Wajahnya tampak ceria sekali. kemudian beralih pada Uncle Luthfi. Tangannya membuka minta di gendong.


"Kalian sudah datang? kebetulan sekali. Tolong jaga mama sebentar. Aku mau ke ruang administrasi" Sambil menyambut Caya dalam gendongan nya.


"Sudah beres kak, kak Ibra yang memaksa membayar semuanya"


"Kami merepotkan mu Ibra"


"Tidak seperti itu kak, itu tidak seberapa di banding dengan kasih sayang ,ayah dan mama padaku"


" Kami berterima kasih pada mu Ibra, Oh ya Anty, mulai sekarang mama akan tinggal denganku. Kamu konsentrasi saja mengurus persiapan pernikahan kalian"


"Anty terserah mama, Kalau itu yang terbaik, Anty setuju saja, kak. Itu mbak karin datang dengan Zein dan Livia"


Karin mencium punggung tangan mertuanya. Kemudian memberi pelukan hangat.


" Sudah baikan ma ?"


" Sudah Rin, sini Livia Oma kangen kamu" Livia langsung mendekat dan memeluk Omanya.


" Oma sama Zeind gak kangen" Zeindra merajuk merasa diabaikan.


" Oma kira kamu tidak datang Zeind, Ayah mu bilang kamu lagi sibuk ambil spesialis. kapan kamu nikahnya ?"


" Buat Oma, Zeind pasti datang. Nikahnya nanti Oma, nunggu di bolehin papa. Nunggu Zein sukses dulu, Minimal punya tempat praktek yang bagus" Zeindra terkekeh sambil menatap papanya. Zeind berwajah seperti Luthfi tapi berkarakter ceria seperti Karin. Sedang Livia berwajah Karin tapi sangat pendiam seperti Luthfi papanya.


" Sudah Zeind, kamu bawa tas Oma ke mobil papa" Luthfi menghentikan candaan putranya


Caya sudah di tuntun oleh Livia, Ibra mendorong kursi roda mama Ajeng bersama Antyka. Sedang Luthfi sedang merasa rindu dengan istrinya bergandengan tangan, hampir satu Minggu mereka tidak bersama, karena Luthfi harus berada di rumah sakit.


Dari jauh Alif melihat rombongan keluarga besar Antyka. Ia hanya bisa berdiri dan membeku. Orang orang yang pernah begitu dekat dengannya kini mengabaikannya.


" Kamu menyesal, bukan?" ucap Mike yang melihat perubahan wajah adik iparnya. Kebetulan Mike sedang berada di rumah sakit adik iparnya.


"Jujur saja, iya"


"Dan kau hanya ingin seperti ini saja? Sama sekali tidak bisa merubah keadaan?. Aku bingung denganmu Lif. Kamu masih bisa membuat Antyka jadi milikmu. Apa perlu aku bantu" Mike mulai tidak sabaran dengan sikap Alif yang membiarkan wanita yang di cintai ya di miliki oleh orang lain. Bagi Mike sikap Alif adalah ketidakwarasan yang hakiki.


"Jangan ikut campur Mike"


"Terserah, Jangan lupa Audry dan Jefrey malam ini ingin kamu datang kerumah bersama Oma opanya. Mungkin Jefrey akan stay disini membantu Oppa mengurus perusahaannya" Mike mengingatkan Alif tentang acara keluarga nanti malam. dua anak Mike dan Lira baru kembali dari Jerman untuk liburan.


"Aku pasti datang"

__ADS_1


" Aku pergi dulu. Bawalah Caya kalau bisa, bukankah ini hari Sabtu? Biar Caya mengenal saudara dari Daddynya "


Alif baru sadar jika hari ini dia boleh membawa Caya bersamanya. Antyka sudah berjanji. Segurat senyum bahagia mengembang. Ia bisa bersama putrinya seharian ini sampai besok sore.


**


Alif menunggu di depan gerbang rumah Antyka, ia sudah memberi pesan pada Antyka untuk menjemput Caya.


"Mommy, Caya boleh pergi sama Daddy sampai besok"


" Iya, Caya boleh tidur di rumah Daddy. Minggu sore Caya harus sudah pulang. Caya harus sekolah, oke"


" Oke, Caya tau" Caya menjulurkan kakinya saat Antyka membantunya memakai sepatu. Setelah semuanya siao. Antyka mengantar Caya sampai gerbang. Ia melihat mobil Alif sudah terparkir disana.


Alif keluar dan membukakan pintu untuk cahaya serta memasang seatbelt. Setelah selesai ia kembali menutup pintu mobilnya. Caya tampak senang saat akan pergi dengan Alif. Dalam pikiran Caya ia akan bersenang senang.


"Pak Alif, aku titip Caya. Tolong perhatikan Caya. Ia biasa tidur pukul sembilan atau paling telat pukul sepuluh malam. Caya setiap pagi minum susu. dan menjelang siang biasa aku beri potongan buah. Caya juga tidak suka makanan pedas atau asam. Ehm...,satu lagi, Jangan biarkan Caya terlalu banyak makan coklat nanti ia batuk. Ia sangat menyukai coklat. Caya juga harus tidur siang. Sebelum tidur siang tolong baju Caya di ganti. Ia banyak aktifitas jadi cepat berkeringat" Antyka tampak gelisah. Seolah ia begitu berat melepas Caya dengan Alif.


" Kamu tenang saja Anty, aku pasti merawatnya dengan baik. Akan aku ingat semua pesanmu"


" Aku hanya takut saja, ini pertama kali kami berpisah. Kamu tidak akan menghilang dengan cahaya kan? " Suara Antyka bergetar


" Anty...., Itu tidak akan terjadi" Alif buru buru menenangkan Antyka.


"Kalau kau melakukannya, lebih baik kau bunuh aku dulu"


"Anty ...kalau kamu belum percaya denganku. Aku tidak akan membawa Caya" Ucap Alif kaget dengan ucapan Antyka.


"Maaf, aku masih sangat trauma saat semua orang menghilang. Perasaan itu sangat membekas, sampai saat ini aku masih merasakan sakitnya. Aku kehilangan jiwaku. dan hampa"


"Anty, aku minta maaf"


"Aku tidak pernah selingkuh dengan kak Ibra. Dia menemukan aku saat pingsan di taman. waktu itu teryata sudah ada Caya di perutku. Aku tidak menyadarinya" tiba tiba saja Antyka mengungkit kejadian yang sudah berlalu. Disadari atau tidak, di dadanya masih di penuhi sejuta tanya kenapa dan apa


"Anty, Waktu itu ...ah maaf Anty ...aku hanya minta maaf. Aku akan Antar Caya tepat waktu"Alif tidak mungkin menceritakan keadaannya.. Biarlah semua terjadi, anggap ini buah dari keputusan yang harus ia dapat.


Antyka menyerahkan tas milik Caya yang akan di bawa. Wanita itu masih berurai air mata saat mengenang kembali masa lalunya. Antyka akui perasaan itu tidak pernah hilang. Hanya saja keadaan sudah berbeda. Ada banyak hati yang harus ia jaga.


"Daddy ayo cepat"


"Iya Caya, Daddy datang"


Alif meninggalkan rumah milik Antyka bersama Caya. Hatinya sedikit teralihkan dengan celoteh Caya yang terus bercerita tentang Oma Ajeng yang baru sembuh. Tidak lupa bocah kecil itu mengucapkan terima kasih dan pujian.Karena rumah sakit ayahnya telah membuat Oma kesayangannya sehat kembali.


Akhirnya Caya sampai di rumah orang tua Alif. Bunda Amalia sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan cucunya. Ia sudah menyiapkan kejutan untuk Caya.


" Baik Caya, Oma senang Caya akhirnya bisa datang ke rumah Oma"


" Caya juga..." Caya melihat omanya tersenyum bahagia, langsung mengerutkan dahinya.


"Kenapa Caya, ada yang aneh di wajah Oma ?"


Caya kemudian tertawa sambil menunjuk pipi omanya.


" Oma sama kaya Caya, pipinya kempot"


"Iya semua anak Oma punya lesung pipi seperti Caya. Daddy, dan juga aunty lira. Ayo masuk, Oma punya hadiah untuk Caya"


" Oppa di mana?" Caya mencari sosok opa yang tidak tampak.


" Ada di halaman belakang, Caya mau ketemu Opa?" Caya seraya mengangguk jemari kecilnya menggenggam tangan Oma.


Alif membawa tas milik Caya ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah ia sulap menjadi kamar anak anak.Berharap Caya menyukainya dan nyaman saat tinggal bersamanya. Masih ada foto fotonya bersama Antyka juga foto Caya saat baru lahir. Semua terpasang rapi di dinding. Alif menjalani hidup dengan kenangan.


**


Antyka sedang duduk di tepi pantai bersama Ibra. Keduanya menikmati kencan setelah segala permasalahan yang datang silih berganti datang.


"Lihat langit senja di sana, indah sekali" Ucap Ibra sambil menatap lurus ke arah lautan.


"Iya, warna jingganya juga memantul dari air laut. Aku suka sekali melihatnya" ucap Antyka membenarkan ucapan Ibra.


" Aku akan sering membawamu ke tempat tempat indah seperti ini nanti. Bahkan setelah anak anak kita lahir" Ibra tersenyum membayarkan suasana indah kelak.


"Kak Ibra, masih satu bulan lagi"


"Aku sudah tidak sabar. Caya akan memiliki dua adik yang akan terus menggodanya. Aku bayangkan Caya dengan tegas menegur adik adiknya dengan bibirnya yang terus mengomel. Dia akan mencariku dan mengadu, Lalu aku akan membujuk Caya, membawanya ke gerai es krim kesukaan kita"


" Kak Ibra sudah membayangkannya sejauh itu?" Antyka tertawa mendengar cerita hayalan Ibra.


"Iya..., dua adik Caya laki laki. Mereka akan menjaga Caya. Caya tetap akan menjadi putriku yang paling cantik" Kembali Ibra menceritakan hayalannya.


"Kak Ibra tidak ingin anak perempuan?"


" Aku sudah memiliki kamu dan Caya. Itu sudah cukup. Apa impianmu saat bersamaku kelak" Ibra menoleh kearah Antyka yang membeku.


Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan sejauh itu.

__ADS_1


" Aku ..., hanya akan hidup tenang bersama kak Ibra. Menjadi pendamping kak Ibra yang terbaik. Membuatkan kopi yang selalu kak Ibra puji enak. Maaf aku belum berpikir terlalu jauh saat bersama kak Ibra" Antyka merasa tidak enak sendiri


"Tidak apa, aku memang akan selalu memintamu membuatkan kopi yang enak. Saat aku jenuh dan lelah dengan pekerjaan, yang terbayang di otakku adalah meminum kopi buatan mu dan melihatmu ada di sisiku itu sudah sangat cukup untuk ku"


"Kak Ibra..."


" Hmmm "


" Aku lapar "


Ibra langsung menoleh pada Antyka yang memasang wajah tak berdosa. Di tengah keromantisannya justru mengeluh lapar. Ibra tersenyum dan mengusap pucuk kepala Antyka dengan gemas. Ia pergi memesan makanan untuk berdua.


Ibra kembali duduk di samping Antyka dan menyerahkan satu botol air mineral dan dua potong kue manis sebagai pembuka.


"Aku sudah pesan, tunggu sebentar. Anty..., kamu masih sama walau sudah memiliki Caya. Kamu tidak berubah. Kamu selalu merengek memintaku membelikan makanan yang kau inginkan" Ibra tertawa mengingat kebiasaan Antyka.


"Apa benar aku seperti itu?"


" Apa perlu aku ingatkan?"


" Jangan itu aib" Antyka pun tergelak.


" kita langsung pulang?" Tanya Ibra pada Antyka saat mereka sudah selesai makan malam.


"Aku minta diantar ke rumah kak Luthfi saja. Di rumah sepi juga, cuma sendiri"


" Mau aku temani?" Ibra menggoda Antyka


" Belum muhrim" Ujar Antyka cemberut


**


Caya terlihat Sangat cantik, Rambutnya di kepang susun menjadi satu di hiasi dengan jepit jepit kecil warna warni. Berulang kali Oma Amalia meminta cucunya berputar. Caya hanya menuruti saja membuat senang sang Oma.


" Cucu Oma Cantik sekali " Oma sangat takjub dengan hasil karyanya.


" Ayo Opa gendong" Haris mengulurkan tangannya.


"Caya mau di gendong Daddy"


"Daddy biar setir mobil, Caya sama Opa, Oma dulu"


" Okey.."


" Caya, Opa akan terus merindukan Caya. Caya mau kan sering sering kerumah Opa" Ujar Opa saat Caya sudah dalam gendongannya. Mereka berjalan menuju mobil.


"Kata momy, Caya boleh kerumah Daddy kalau week end saja. Caya harus sekolah biar pintar, Opa"


"Oke, Opa mengerti. Kita akan buat acara setiap week end dengan Caya" Caya hanya mengangguk senang mata bening nya menatap Opa Haris yang masih menangkunya di dalam mobil.


Mobil terus bergerak melintasi jalan saat sudah menjelang malam. Caya memperhatikan keadaan diluar.


"Kita akan pergi kemana Opa?" tanya Caya penasaran


" Ke rumah Uncle Mike. Di sana Caya akan bertemu dengan kak Jefrey dan Audry" jawab Opa


"Uncle Mike?"


"Caya pasti suka kalau bertemu mereka" Oma Amalia menimpali obrolan mereka


"Uncle Mike matanya biru"


" Ya Caya, uncle Mike memiliki mata biru karena papa uncle Mike orang Jerman" ujar Opa Haris menerangkan sedang Caya hanya menganggukan kepala. Entah ia tau atau tidak.


Mobil Alif sudah sampai di rumah Mike yang lebih megah. Beberapa penjaga mendekat dan membukakan pintu. Hal ini sudah biasa bagi keluarga Haris Pradipta. Caya melihat para penjaga yang bertubuh tinggi besar dan wajah yang datar dan seram mengeratkan pelukannya pada opa Haris.


"Tidak apa apa, Caya. mereka hanya menjaga rumah ini"


"Caya takut Opa"


"Kalian pergilah!..jangan menampakkan diri lagi. Cucu ku takut" Ucap Haris dan di turuti oleh para penjaga. Mereka membubarkan diri dari hadapan Keluarga Haris.


" Sekarang Caya tidak takut?" ujar Haris sambil terus berjalan memasuki rumah menantunya.


Dari dalam rumah, Mike dan Lira menyambut kedatangan mereka. Jefrey dan juga Audry juga tampak gembira melepas kangen dengan Oma Opanya.


Opa Haris tertegun melihat Jefrey yang sangat tampan dengan mata biru seperti milik Mike tapi cucunya terlihat lebih ramah dan hangat. Meski secara gestur merupakan copy paste Mike.


Sedang Audry cucu keduanya. Sangat cantik seperti Lira, Wajahnya lembut dan hangat hanya saja kulit dan matanya menuruni Mike.


" Caya ini kak Audry dan ini kak Jefrey" ucap Lira memperkenalkan dua anaknya


" Hai...halo Caya, selamat datang. you look like a princess" Ujar Audry gemas saat melihat Caya


" Really..?" Caya tampak malu malu dengan pujian sepupunya.


" Yes dear " Audry tertawa dengan sikap Caya yang menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2