
Antyka tidur di pangkuan mama. kemudian tubuhnya melengkung memeluk tubuh ringkih mama yang masih duduk bersandar di kepala ranjang. Tangan mama mengusap helai demi helai rambut hitam Antyka yang terurai di pangkuannya. Mama tau putrinya sedang gelisah.
"Ma..." panggil Antyka yang membuat belaian mama di rambutnya berhenti. Mata sayu mama menatap wajah sang putri.
" Ada apa Anty?"
"Apa mama menyetujui semua keputusan Anty?Besok Anty akan menikah dengan kak Ibra"
"Anty...., mama percaya, Kamu jauh lebih matang sekarang. Apapun keputusan kamu mama akan mendukung. Kamu melangkah atau berhenti" Ucapan mama membuat Antyka serta Merta bangkit dari pangkuan mama.
" Ma...."
" Iya, mama akan dukung yang terbaik buat kamu. Mama pernah ada di posisi sulit Anty, tapi karena dukungan orang orang yang mengasihi dan percaya pada mama, mama bisa melewati masa tersulit"
"Anty akan tetap akan menikahi kak Ibra. Dia sudah banyak berkorban untuk Anty. Meski mama pasti tau, masih ada perasaan yang tertinggal dari masa lalu Anty. Anty akan berusaha membahagiakan kak Ibra semampu Anty. Seperti ucapan Mama, menjalani hidup dengan benar. Tidak benar jika Anty meninggalkan kak Ibra karena pria yang telah lama menghilang dan mencampakkan Anty tiba tiba muncul" Antyka tertawa miris.
"Iya mama tau, tidak mudah mengambil keputusan untuk masa depanmu. Kalau kamu ada di jalan benar, mama yakin Tuhan akan memberi pertolongan, bahkan keajaiban yang kita tidak pernah bayangkan. Kamu adalah salah satu bukti keajaiban dalam hidup mama dan Ayah" mama menerawang jauh masa indahnya bersama prof Damar.
"Iya ma, terima kasih untuk dukungan dan restu mama" Antyka mengecup pipi mama
Saat berbincang, Luthfi mendekati mama dan adiknya. Pria matang itu memperhatikan interaksi keduanya. Di samping Luthfi ada Caya yang sedang menggenggam jemari Luthfi
" Ma, Anty, aku mau ajak Caya keluar"
" Caya mau kemana?"
"Caya mau beli es krim sama Uncle" jawab Caya dengan mimik gembira
"Hati hati, ya"
" Aku pulang agak sore Anty. mau ajak Caya sekalian jalan jalan"
"Mbak Karin ikut?" tanya Antyka saat melihat Karin sudah cantik di belakang Caya.
"Iya aku, Karin dan Caya"
"Kak Luthfi, kalian masih pantas punya anak lagi" goda Antyka pada Luthfi. Tapi kakaknya itu langsung menggelengkan kepala.
" Aku sudah bersukur punya dua anak yang sudah mulai besar. Lagi pula aku tidak tega setiap melihat Karin melahirkan"
"Mbak Karin...., kak Luthfi ini romatis banget sih.. "
" Brisik...Anty, jangan teriak teriak. Ma, Luthfi keluar dulu ya. Di depan ada Zein dan Livia kalau ada apa apa tinggal panggil mereka" Ucap Luthfi mencium punggung tangan mama. Di belakang Luthfi Caya dan Karin mentertawakan Antyka dan mengikuti Luthfi untuk berpamitan pada mama Ajeng.
Caya melambaikan tangan pada mama Ajeng dan Antyka. Ia terlihat sangat gembira saat bersama uncle dan aunty nya. Keduanya memperlakukan Caya melebihi anak mereka. Mungkin karena putra putri mereka sudah besar.
"Caya, uncle ada kejutan buat Caya" Ucap Luthfi sambil menggendong keponakannya yang cantik. Wajah mereka memang sangat mirip.Diluar sana orang yang melihat pasti mengira Caya putri dari Luthfi.
"Apa uncle?"
" Kita mau ketemu Daddy Caya"
"Mau, Caya mau ketemu Daddy"
***
Begitu melihat Daddynya, Caya langsung berlari mendekat. Alif langsung menyambutnya dengan pelukan rindu. Ia menciumi putri tercintanya sambil mengangkat tubuh kecil Caya dalam gendongannya.
"Daddy kenapa menangis?"
"Menangis...? Oh Daddy hanya sakit mata" Alif mencoba berbohong. Hati pria itu hanya nelangsa. Cuma Caya yang bisa ia miliki
"Di beri obat Dady, biar cepat sembuh matanya" Caya mengusap pipi Alif. Kemudian mulut kecilnya meniup niup mata Alif lucu
" Apa Caya kawatir sama Daddy'' Alif begitu kagum dengan perhatian buah hatinya
"Iya, Caya sayang Daddy. Caya mau Daddy sehat, tidak sakit" mata bening Caya mengerjap memperhatikan mimik muka Alif. "Apa Daddy sedih? gadis kecil itu melihat wajah Alif yang sendu.
"Caya..., uncle mau bicara bisnis dengan Daddy. Caya beli es krim sama Aunty Karin, mau" Luthfi melihat Caya bisa merasakan kesedihan Alif. Teryata Gadis kecil itu peka.
__ADS_1
Karin menggandeng tangan Caya ke gerai es krim kesukaannya. Ia tau ada hal yang ingin Luthfi sampaikan pada Alif.
Luthfi dan Alif memasuki privat room yang ada di restoran itu. Mereka memesan beberapa menu dan menyantapnya. Luthfi sengaja mengulur waktu untuk membuat persiapan. Selain itu dia pun butuh energi untuk percakapan yang akan menguras emosi.
"Aku sudah tau besok hari pernikahan Antyka. Apa kak Luthfi kesini untuk memberi aku undangan? Aku akan datang kak, aku janji" Suara Alif terdengar miris di telinga Luthfi.
Luthfi mendongakkan kepalanya dan berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ia tidak terkejut dengan ucapan Alif. Orang sekelas keluarga Alif sangat mudah untuk mendapatkan informasi apa pun.
Luthfi menarik nafas dan meletakan sendok makannya. Mengahiri acara makan siang. Di teguknya segelas air putih yang ada di depannya. Sedang Alif menjadi begitu pendiam, menantikan apa yang akan diucapkan oleh Luthfi.
"Kamu sudah tau?" tanya Luthfi basa basi yang di jawab anggukan oleh Alif.
"Lif..., Mike datang padaku beberapa hari lalu. Dia menceritakan semua yang menimpamu yang menjadi alasan mu menceraikan Antyka"
" Mike...? dia benar benar melanggar janjinya padaku. Kak Luthfi, aku tidak meminta pembenaran untuk semua tindakan ku. Aku tau aku tetap salah"
"Aku minta maaf Lif, kamu sedang berjuang dengan hidup dan mati sedang aku, waktu itu sangat membencimu. Kamu menciptakan jarak untuk kami bahkan luka untuk Antyka. Aku minta maaf. Aku membencinu karena melihat Adik kecilku begitu menderita. Dia selalu mempertanyakan kekurangannya, kesalahannya. Tapi dia tidak menemukan jawaban. Kalian semua menghilang tidak memberikan jawaban. Dia untuk pertama kalinya jatuh cinta dan hancur. Apa lagi dia kamu ceraikan dalam keadaan mengandung. Semua begitu datang tiba tiba di hidupnya"
"Kalau saja kamu berterus terang tentang keadaan mu waktu itu. Setidaknya kamu memberi kami pilihan untuk tetap menantimu atau pergi" Luthfi menatap mantan adik iparnya penuh simpati tapi ia tidak bisa mencegah sakit yang harus Alif tanggung karena keputusannya.
"Kak Luthfi..., untuk semuanya aku minta maaf. Aku tau Antyka sangat mencintaiku dan Aku tau dia akan lebih memilih menantiku. Aku tidak mau Antyka menyia nyiakan waktu. Aku ingin dia bahagia. Ayah dan bundaku milih meninggalkan Indonesia untuk mendampingiku, Karena mereka sangat menyayangi Antyka. Mereka tidak berani menatap wajah Antyka yang kecewa. Jauh di lubuk hati, kami juga tersiksa" Ujar Alif pada Luthfi.
"Semua sudah terjadi Lif, Besok Antyka akan menikah seperti keinginanmu. Melihat Antyka bahagia lagi"
"Iya...., aku masih bisa hidup dan akan melihatnya bahagia dengan pria lain" Ada hembusan nafas yang begitu berat dar rongga hidung Alif
"Kamu menyesal?" desak Luthfi pada Alif yang sudah terlihat hampir putus asa.
"Aku....., Cemburu, aku tidak menyukainya. Tapi aku harus menerima semua keputusanku sendiri"
"Aku tidak lagi membenci mu Lif, kita pernah menjadi satu keluarga. Aku harap kedepan Kita bisa berhubungan lebih baik lagi. Semoga kamu bisa bahagia dan satu lagi Aku tidak mengharapkan kehadiranmu di sana. Diacara pernikahan Antyka" tegas Luthfi
" Kak Luthfi takut, kalau aku mengacaukan pesta pernikahan Anty?" tanya Alif getir
" Tidak..., Aku sudah mengenalmu lama Lif. Kamu bukan orang yang seperti itu. Aku tidak ingin ikut sesak dada saat kau melihat Antyka bersanding dengan pria lain. Kamu pikir itu mudah? Lagi pula kamu dan Keluargamu orang terpandang begitu juga keluarga Tuan Hendro, akan banyak media yang meliput. Nama baik kalian di pertaruhkan di sana, terutama kamu Lif"
" Aku tetap akan datang dari detik ijab sampai resepsi. Agar hati dan rasaku percaya bahwa itu bukan mimpi. Agar hati ku hancur dan tidak merasakan lagi cinta pada Antyka yang sudah menjadi milik orang lain. Aku akan membuka lebaran baru setelah itu dengan hati yang mati" tegas Alif mantap dengan pendiriannya.
Alif mengangguk, mengiyakan keajaiban itu ada. Buktinya adalah keberadaan dirinya yang masih bernafas. Sakit yang menggerogotinya bisa musnah.
"Kak Luthfi..., boleh aku bersama Caya malam ini. Besok aku datang dengan Caya" Alif menatap Luthfi dengan penuh permohonan.
Luthfi menjadi bimbang, ia tidak ingin membuat kekacauan . Antyka akan sangat marah saat Caya tidak ikut kembali pulang. Selain itu, Luthfi masih gamang, tentu saja ia pun punya ketakutan Caya akan di bawa pergi oleh Alif.
"Kamu bercanda Lif? tentu aku tidak akan mengijinkan Caya ikut denganmu. Kamu bisa saja membawa lari Caya, untuk menggagalkan pernikahan Antyka"
"Apa aku sekotor itu di mata kak Luthfi? aku menerima keputusan Antyka. Caya disisiku agar aku bisa hidup dan bernafas untuk esok hari. Setidaknya aku memiliki Caya sebagai alasan hidupku. Apakah terlalu berlebihan permintaanku?" Alif masih terus memohon
"Ini hal terburuk yang akan aku lakukan, Lif. Aku mempertaruhkan kebahagiaan Antyka. Apa aku bisa mempercayai mu? "
" Caya putriku, aku tidak akan memisahkan Caya dari momy nya. Aku akan mengembalikannya besok. Aku akan meminta ijin bila perlu pada Antyka sekarang " Ucap Alif sungguh sungguh.
Luthfi masih terdiam, kemudian ia menghubungi Karin istrinya agar cepat kembali ke restoran membawa Caya.
Caya muncul langsung menuju Alif. Ia duduk di pangkuan Daddy nya sambil bersandar di dada Alif. Alif segera menawari Caya makan makanan kesukaannya, ikan gurami.
" Caya mau makan sama ikan yang besar? Daddy mau suapin Caya"
" Mau, Caya mau makan ikan besar" Caya terlihat senang. Alif segera memesan ikan yang diinginkan Caya.
Karin dan Luthfi juga tampak santai memperhatikan Interaksi antara Alif dan Caya. Terbesit rasa iba di hati keduanya. Luthfi menatap Karin dengan meminta pendapat istrinya. Mungkin naluri wanita lebih peka. Karin seolah mengerti dan mengajak Luthfi keluar sebentar untuk berbicara.
"Mas menurutku biarkan Caya dan Alif. Setidaknya Alif sedikit terhibur saat ada Caya di dekatnya. Alif membutuhkan Caya saat ini" ucap Karin setengah berbisik saat mereka sudah di depan pintu ruangan
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi aku takut Alif membawa Caya pergi "
" Dia tidak akan menyakiti Caya dengan memisahkan ibu dan Anak. Mas Luthfi tau kan, bahkan Alif rela melepas Antyka untuk bisa bahagia saat dirinya sakit. Apalagi Caya putrinya. Alif tidak akan berani berbuat konyol"
"Baiklah aku pertaruhkan kepercayaanku sekali ini pada Alif. Semoga dia bisa menjaga amanahku"
__ADS_1
" Mas Kita masuk aku lapar" rengek Karin setelah perundingan mereka selesai
" Ah iya , maaf sayang aku lupa. Mau pesan apa?"
" Aku mau kaya Caya, gurami panggang. Mas yang pisahin durinya ya?" Karin menatap Luthfi manja. Luthfi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Harus banget aku yang pisahin durinya?"Luthfi masih memastikan kalau Karin tidak sedang bercanda.
" Kalau mas gak mau gak papa. Aku mau..."
" Iya mau, sana masuk aku mau pesan pelayan dulu" ucap Luthfi yang di sambut gembira oleh Karin.
***
" Caya sudah sikat giginya, Daddy" Ucap Caya sambil meletakkan sikat gigi di tempatnya.
"Caya ganti baju dulu ya, pakai piyama tidur. Daddy akan temani Caya. Daddy mau peluk Caya sampai pagi" ucap Alif dengan tatapan sendu kemudian ia meraih Caya, didudukkan diatas ranjang.
Dengan telaten Alif mengganti baju Caya.Sambil terus menatap putrinya. Gemuruh rasa di dadanya begitu hebat. Wajah Antyka sangat jelas tercetak di diri Caya. tanpa terasa ada lelehan bulir bening yang mengalir.
" Daddy kenapa? mata Daddy sakit lagi?"
Alif tersenyum miris sambil mengangguk. "Caya bobo yang nyenyak Daddy akan jaga Caya disini" Caya menuruti permintaan Alif . gadis itu merebahkan tubuhnya dan memeluk boneka yang ada di sisi kirinya
" Daddy ...." Panggil Caya sambil tiduran di kasurnya.
"Hemn.." Alif ikut berbaring di sisi Caya sambil menepuk nepuk bokong Caya.
"Apa Daddy sedih?"
" Daddy sakit mata Caya" kilah Alif
"Daddy, berbohong itu dosa. Caya tau Daddy sedih. Dady mau menikah sama momy? Caya akan bilang pada momy kalau Daddy mau menikah sama mommy besok"
" Itu tidak bisa Caya. Karena momy mau menikah dengan Ayah ibra"
" Biar Caya bilang sama Ayah Ibra, kalau Daddy saja yang menikahi mommy, Kasian Daddy jadi nangis terus. Ayah Ibra pasti menuruti permintaan Caya"
" Tidak Caya, kasian juga ayah Ibra. Daddy baik baik saja kok"
" Daddy ....," Caya memeluk ayahnya erat seraya mengusap lagi lelehan bening yang mengalir di pipi Alif " Jangan sedih ada Caya. Daddy ..., kita berdoa semoga Daddy, Caya dan momy tetap bisa bersama"
" Iya Caya, semoga tuhan menyatukan keluarga kecil kita"
Setelah Obrolan itu Caya dan Alif terdiam. Mereka saling hening . Caya terpejam tapi bibir gadis kecil itu bergerak melafal kan doa. Sebaris permintaan tulus dari hatinya yang suci. Tanda cintanya pada Daddy dan mommy.
Begitu pula Alif, sambil tetap memeluk Caya bibirnya tergetar meminta keajaiban dengan kepasrahan yang dalam. Untaian kalimat yang menghiba dari kesakitan hatinya. " Tuhan beri kami keajaiban Mu, Satukanlah kami dalam sebuah keluarga"
Malam semakin larut, Keduanya saling memeluk menjemput mimpi mimpi indah yang mereka harapkan. Di sepertiga malam terakhir Alif terbangun. ia membuka mata dan mencari putrinya yang semalam ia peluk.
Alif terkejut saat tak mendapati Caya disisinya.. Ia langsung mencari cari. Mata Alif terpaku pada sosok kecil yang sedang menengadahkan tangan. sayup terdengar ucapan Caya yang memohon kebahagiaan untuk momy dan Daddy nya . Hati Alif makin trenyuh sambil mengaminkan setiap baris doa putrinya..
Alif hanya bisa membiarkan putri kecilnya berdoa. Hingga tertidur kembali diatas sajadah. Alif pergi ke kamar mandi untuk bersuci melakukan salat malam. Ia pun dengan kusyu memanjatkan doa doa meminta keajaiban di detik terakhir.
Saat matahari mulai terbit Caya menggeliat. ia terbangun dan menatap sang ayah yang ada di sisinya.
" Daddy sudah bangun?"
"Iya, Apa Caya berdoa untuk Daddy dan momy semalam" tanya Alif sambil memeluk putrinya. Caya mengangguk
" Oma bilang kalau berdoa di tengah malam akan mudah untuk di kabulkan. Caya sering melihat oma berdoa di tengah malam" ucap Caya polos
" Caya..., Daddy minta maaf. Daddy janji akan bahagia. Asal Caya selalu sayang Daddy" Alif merasa bersalah telah membebani hati putrinya yang peka. Dalam hatinya berjanji akan lebih tegar agar bisa menjadi sosok yang Caya banggakan
Caya mengangguk sambil memeluk erat ayahnya.
" Caya mandi, nanti kita antar momy ke tempat pernikahannya" Alif melirik jam di dinding
"Daddy tidak sedih lagi?"
__ADS_1
"Ada Caya yang sayang Daddy. Kenapa harus sedih?" Alif menunjukan senyum tulusnya pada Caya. Ia sudah tenang apapun yang terjadi iya akan menerima. Di genggamnya jemari mungil Caya. Gadis mungil ini benar benar seperti namanya, Cahaya.