
Ibra seperti menjauh, ia sangat sulit untuk di temui. Antyka hampir menyerah. Ia merusaha memperbaiki hubungan yang kemarin sempat terkoyak. Namun saat mami Hanna menemuinya dengan wajah yang memohon. Mengatakan Ibra sedang hancur. Antyka bergitu merasa bersalah
" Anty, tolong mami. Temui Ibra sekarang, ia ada di rumah. Ibra tidak mau melakukan apapun. Mami tidak bisa membujuknya"
" Mi, kak Ibra sedang marah pada Anty. Anty Sudah berulang kali menghubungi kak Ibra tapi kak Ibra selalu menolak bertemu Anty"
"Ikutlah dengan mami sekarang, Dia hanya butuh kamu ada saat ini. Ia seperti bukan Ibra yang mami dan kamu kenal" Mami Hanna nampak begitu sedih. Antyka hanya bisa menduga duga apa yang Ibra pikirkan hingga mempersulit keadaan. Antyka pun harus mengetahui keinginan pria itu dengan pasti.
"Baiklah mi, kita temui kak Ibra sekarang"
**
Ibra ada di dalam kamarnya, tubuhnya hangat dan lemah. Pria itu demam tapi tidak mau menyentuh obat atau makanan sama sekali.
ia hanya berbaring dan menatap langit langit kamarnya. Sepertinya Ibra sedang terguncang masalah pelik. Ia seperti segan untuk menatap orang sekitar. matanya sayu.
"Kak Ibra..." suara Antyka saat masuk dalam kamar Ibra yang pengap.
Ibra menatap kedatangan wanita yang sangat ia rindukan. Ada binar bahagia hanya menatap wajah ayunya.
" Anty, buka jendelanya ya?" tanpa menunggu jawaban Ibra Anty membuka jendela. Antyka terkejut satu Minggu ini ia tidak bertemu dengan Ibra. Pria ini sudah berubah banyak.
Ibra yang selalu bersemangat dan tersenyum begitu kusut dan pucat. Matanya sayu, bibirnya kering.dan tubuhnya lebih kurus. Batin Antyka menjerit tak tega. Sesakit itukah perasaan Ibra karena adanya Alif yang hadir malam itu.
Antyka mengusap rambut Ibra, menggenggam jemari Ibra hangat. Antyka bahkan menciumi jemari Ibra.
" Maaf kak Ibra..., aku sudah menyakitimu seperti ini. Kak Ibra jangan seperti ini. Maki saja Anty, jangan diam"
Ibra meneteskan air matanya mendengar ucapan Antyka. kepalanya menggeleng lemah ia meraih pipi Antyka dan mengusapnya lembut.
" Maaf...." suara Ibra serak.
Antyka memberikan air hangat untuk di minum Ibra. Pria itu hanya menuruti Antyka. Bahkan saat Antyka menyuapinya makan ia menurut. Mami Hanna melihat putranya begitu mencintai Antyka. Begitu besar pengaruh Antyka di kehidupan Ibra.
" Ibra, mami seka badan kamu ya? Ada Anty, malu kan kalau bau" Mami menggoda Ibra. Ibra hanya mengangguk dan menatap Antyka. Antyka mengerti, ia segera pergi dari kamar Ibra.
Antyka duduk di ruang tengah menunggu Ibra membersihkan diri. Ia berpapasan dengan tuan Hendro.
" Apa anak nakal itu sudah mau makan ?"
" Sudah Pi, sekarang sedang di seka sama mami"
"Apa kalian bertengkar hebat?" selidik tuan Hendro, tapi teryata pria itu hanya berbasa basi saja. kemudian meninggalkan Antyka tanpa menunggu jawaban.
Ibra keluar dari kamarnya dalam keadaan lebih segar. kemudian duduk di samping Antyka.
" Anty, aku minta maaf untuk ucapanku yang kemarin"
" Aku tau kak Ibra dalam pengaruh alkohol. Janji padaku kak, jangan pernah sentuh minuman haram itu lagi, eberat apapun masalah yang kita hadapi. Kak Ibra harus tau betapa aku sangat putus asa karena tidak bisa menghubungi kak Ibra. Beruntung mami datang, aku bisa menepis pikiran bahwa aku sudah dicampakan oleh kak Ibra"
"Aku yang berfikir akan ditinggalkan Anty, aku putus asa. Aku merasa keterlaluan padamu. Aku kira kamu tidak lagi sudi menemuiku"
"Aku tidak akan pergi selama kak Ibra tidak meninggalkan aku. Aku akan ada bersama kak Ibra selama kak Ibra menginginkan aku"
Mami Hanna datang dan ikut duduk di ruang tengah "Dengar Ibra, semua karena fikiranmu sendiri, Kamu harus percaya pada Anty. Kalau kamu tidak memberi kepercayaan, hubungan kalian akan sulit" Mami Hanna menasehati Putranya
Antyka mengerling ke arah Ibra, membenarkan ucapan mami Hanna. Wanita itu faham setiap hubungan harus dilandasi rasa percaya.
"Anty temani aku ke taman belakang" pinta Ibra ia merasa jengah berada di dalam rumah. Mami Hanna tau Ibra ingin melepas rindu dengan Antyka
Ibra mengajak Antyka mengobrol di taman belakang rumah Ibra yang luas. Semilir angin berhembus memberi rasa sejuk di siang yang cukup terik. Mereka duduk di sebuah gazebo.
" Apa kabar Caya? apa dia merindukan aku?"
" Caya baik. Dia sedang jatuh cinta dengan Daddynya. Jangankan kak Ibra, aku saja dia acuhkan. Satu Minggu ini aku kesepian, kak Ibra marah, tidak mau menemuiku. Sebenarnya akulah yang paling sedih disini" ucap Antyka merajuk
Ibra tertawa melihat Antyka yang merajuk, Pria itu mengusap pucuk kepalanya.
"Aku menyia nyiakan waktu, harusnya kita bisa pergi berdua untuk berkencan"
"Maka nya jangan terlalu sering marah, bisa cepat tua. Lihat, wajah kak Ibra sudah ada garis halusnya. Tiap marah akan bertambah garis keriputnya" ujar Antyka menggoda Ibra
" Mana ada, jangan suka bohong. Nanti hidungnya tambah panjang" Ibra menjepit hidung Antyka sampai memerah karena gemas.
"Sakit kak Ibra" rengek Antyka
__ADS_1
" Massa sih, coba mana? biar aku tiup" serta merta wajah Ibra mendekat memberi tiupan.
Saat menyadari wajah mereka begitu dekat, keduanya terbawa suasana, desiran halus menjalar. Wajah mereka merona dan panas di sertai deguban jantung yang cepat. Antyka mendorong dada Ibra. Menyadarkan mereka dari rasa yang melambungkan.
" Cepat sembuh, aku ingin jalan jalan dengan kak Ibra. Kak Ibra terlihat kurus juga"
Ibra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria itu merasa bodoh di depan Antyka.
" Beri aku waktu dua hari, aku pasti sudah pulih. Aku akan mengajakmu ke pantai. Sudah lama kita tidak makan ikan bakar sambil menikmati sunset"
" Aku tidak sabar menunggunya. Pasti akan sangat menyenangkan" Antyka tampak antusias dengan rencana Ibra.
"Apa mama tau kita bertengkar?"
" Tentu saja tidak, aku berbohong pada mama kalau kak Ibra sedang keluar negri. Aku tidak ingin mama tau. Beliau sudah terlalu tua untuk memikirkan masalah sepele kita. Cukup sekali aku mengecewakan mama. Saat percereaian ku dulu. Aku hanya akan memberi kabar baik untuk mama"
" Terima kasih Anty"
***
Anty sedang menyiapkan makan malam saat bunyi bel rumah terdengar. Antyka segera pergi kedepan dan membuka pintu. Alif sudah berdiri dengan senyuman di bibirnya.
" Maaf aku datang malam malam. Tolong berikan ini untuk Caya" Antyka belum sempat menjawab sapaan Alif.
" Daddy .." gadis itu mendengar suara Daddynya langsung mencari.
"Caya.." Alif memeluk gadis kecilnya.
" Daddy mau makan bareng Caya?"
" Tidak Daddy hanya mampir, Daddy harus kerumah sakit menolong orang"
" Iya Caya ngerti, Daddy mau selamatkan orang yang sakit. Caya sama Mommy dan Oma saja"
" Anak Daddy pintar dan baik. Daddy pamit dulu . Belajar yang pintar dan harus nurut sama Momy" Alif menurunkan Caya dari gendongannya.
" Iya Daddy"
" Caya ini dari Daddy" Antyka memberikan hadiah dari Alif" Caya langsung gembira dan masuk ke dalam rumah setelah mencium pipi Alif.
" Tunggu pak Alif..."
" Ya" Badan Alif berbalik menatap wanita yang memanggilnya
"Aku butuh bicara sesuatu. ini tentang Caya, aku dan pak Alif. Sepertinya Aku harus membuat peraturan yang jelas untuk mengasuh putri kita. Aku sudah berbaik hati mengijinkan pak Alif bertemu dengan Caya. Tapi harusnya tidak sebebas ini. Maaf, terus terang saja aku terganggu.Bagaimanapun Caya milikku. Aku yang paling berhak. Pak Alif tidak pernah ada saat dia hadir"
" Katakan yang jelas Anty , Aku harus bagaimana"
" Pak Alif boleh datang kemari tapi tidak seenak hati. Kita atur waku untuk pak Alif menemui Caya. Week end Caya boleh bersama pak Alif hanya Sabtu dan Minggu. Senin sampai Jum'at dia tidak boleh di ganggu. Tapi ada pengecualian saat saat Caya memang menginginkan bersama Daddynya. Kapan pun itu silahkan. Diluar keadaan emergecy hanya weekend"
"Baiklah, aku ikuti aturan mu" Ucap Alif tanpa mendebat semua aturan yang Antyka buat. ia tau betul Antyka memang lebih berhak. Alif tidak akan lagi melukai Antyka atau membuat wanita itu marah.
" Satu lagi, tidak usah masuk ke rumah ini lagi. tunggu di depan gerbang. Mama atau bik Asih akan mengantar Caya keluar rumah untuk bertemu pak Alif. Ingat Sabtu pagi sampai Minggu sore Caya boleh bersama Pak Alif. tidak boleh terlambat mengembalikan Caya harus tepat sore Hari"
"Aku mengerti, Anty. Apa ada lagi" wajah Alif makin sendu, hatinya semakin sakit. Ia tidak bisa lagi mencuri curi waktu hanya untuk bisa melihat Antyka.
" Tidak ada silahkan pergi"
" Anty..., terima kasih untuk semua" Alif membalikkan badannya. Tak terasa ada embun yang menetes di wajahnya. Dirinya sudah benar di hapus dari masa lalu Antyka. Ia mengikuti semua perintah dan keinginan Antyka. Apapun asal Antyka bisa bahagia. Alif akan berusaha untuk mewujudkannya.
Antyka menutup pintu rumahnya. Tubuhnya bersandar di balik pintu. Hati nya sakit dan kehilangan saat menatap wajah Alif yang begitu patuh menuruti perkataannya. Tak sedikitpun perlawanan Alif berikan.
" Sebaiknya ini yang aku lakukan. Agar kelak kita tidak saling menyakiti lagi, pak Alif. Kamu pikir aku tidak terluka saat terus terusan melihatmu. Maaf..."
Caya sedang membuka kotak yang Alif berikan tadi. Gadis kecil itu tampak antusias menanti hadiah apa yang Daddynya bawa
Mainan puzzle bergambar gadis kecil di sebuah taman bunga sedang mengejar kupu kupu. Caya tampak terpesona dengan mainan itu.
"Mommy ini bagus sekali, Caya suka"
" Iya Caya, mainan itu melatih Caya sabar dan teliti. Caya sudah tau cara memainkannya?" Caya hanya menggeleng saat di tanya oleh Antyka.
"Nanti, mommy ajarin sekarang kita makan dulu. Tolong panggilkan Oma"
"Oke mommy" Caya segera masuk ke kamar sang Oma.
__ADS_1
"Mommy.... momy....Oma kenapa ?" jerit Caya dari dalam kamar. Antyka segera berlari ke Kamar Oma
" Mama..." jerit Antyka mendapati mama Ajeng tergeletak dengan nafas terengah engah dan hampir hilang kesadarannya. Dengan gugup Antyka mengambil ponselnya.
Antyka bingung harus menghubungi siapa saat ini. Hanya Alif ya, mungkin Alif belum terlalu jauh. Menghubungi Luthfi pasti butuh waktu lebih lama. Dalam kebingungan hanya itu yang bisa ia pikirkan.
"Ya , Anty" suara lirih Alif saat menjawab panggilan telepon dari Antyka.
"Tolong bisa kembali kerumah? mama sakit....aku takut..." Suara Antyka terdengar panik.
" Iya aku datang, Aku masih di depan rumah belum pergi" ucapan Alif membuat Antyka lega. kemudian terdengar bunyi bel Antyka langsung berlari dan membukanya.
" Cepat pak Alif tolong"
Alif masuk ke dalam kamar mama Ajeng dan memeriksa sebentar.
"Anty, kita harus bawa mama ke rumah sakit sekarang. Tolong bukakan pintu mobilku" Alif memberikan kunci mobil.
Mereka bergegas membawa mama Ajeng dengan mobil Alif. Seketika rasa canggung atau sungkan diantara mereka mencair, teralihkan pada keselamatan mama. mama Ajeng berada di bangku tengah bersama Antyka sedang Alif mengemudi didepan bersampingan dengan Caya.
Alif membawa mereka ke rumah sakitnya karena memang rumah sakit itulah yang jaraknya paling dekat dari rumah Antyka. Antyka pun tidak menyadari hal itu, Konsetrasi Antyka hanya bagaimana mama Ajeng cepat mendapat pertolongan.
Sampai depan rumah sakit sudah ada beberapa petugas medis yang menunggu. Mama Ajeng langsung di berikan pertolongan. Antyka berada di ruang tunggu pasien. Ia sedang sibuk menghubungi kakaknya.
Tubuh Antyka terasa letih, Ia duduk di bangku dengan Cahaya di pangkuannya. Alif datang duduk di samping mereka.
" Mama sudah di tangani tapi belum bisa keluar dari ruangan ini. Menunggu semua hasil pemeriksaan" Ucap Alif sambil mengambil alih Caya dari pangkuan Antyka.
"Pak Alif, terima kasih untuk semuanya"
"Kamu bisa istirahat di ruanganku bersama Caya"
"Tidak, Aku akan menunggu mama di sini" tolak Antyka, ia sudah mulai merasa tidak enak hati sudah merepotkan Alif, padahal tadi ia baru saja begitu tegas melarang Alif bertemu putrinya di hari biasa atau masuk kedalam rumah. Tapi Alif tetap mau menolongnya.
Saat sedang berbincang datang seorang pria mungkin suruhan Alif menyerahkan kantung plastik putih pada Alif. Kemudian pria itu undur diri.
" Kalian belum makan malam kan? aku juga lapar. Kita makan dulu"
Alif menyerahkan box nasi ayam pada Antyka, juga Caya. Tanpa banyak penolakan Antyka yang memang lapar menerimanya. Ia buang jauh rasa malu dan gengsi.
"Anty, aku bawa Caya ke ruanganku ya? kasian kalau di sini?" Tanya Alif dengan tatapan memohon. Dan Antyka pun mengijinkannya. Antyka menatap punggung Alif yang meninggalkannya. Caya dalam gendongan hangat Daddynya tampak tenang, gadis itu hanya menatap sekilas pada Antyka, Kemudian kembali merebahkan kepalanya di bahu Alif.
Dalam ruangan Alif, Caya di bawa ke kamar mandi untuk menyikat giginya lebih dulu sebelum tidur.
"Daddy, apa momy akan ke mari?"
" Mommy sedang menjaga Oma, Caya tidur sama Daddy ya?" Caya terlihat bingung binar matanya tampak sedih.
"Daddy, tolong sembuhkan Oma, Caya mau Oma sembuh"
"Iya, Daddy akan berusaha. Caya bantu Daddy dengan doa ya" Alif memeluk putrinya menenangkan Caya yang hampir menangis.
Alif menunggu Caya sampai terlelap. Hari sudah semakin larut. Di tatapnya Caya yang sudah tertidur dengan damai. Alif hendak meninggalkan Caya untuk kembali ke ruang perawatan mama Ajeng. Ia meminta salah satu perawat untuk menjaga Caya di ruangannya.
Alif melihat Antyka yang duduk bersandar di bangku tunggu. Dua tangannya bersedekap, kaki jenjangnya sudah diangkat dan matanya terpejam. Masih ada air mata yang mengalir. Alif tau bagaimana perasaan Antyka. Dia pasti sangat sedih. Alif berdiri di depan Antyka sambil terus menatap mantan istrinya. Andai saja bisa ia ingin merengkuh menenangkan wanita itu, menghiburnya.
" Sedang apa kamu di sini?" suara itu mengagetkan Alif dari angannya. Ia menoleh teryata ada Luthfi yang sedang menatapnya dengan curiga.
"Kak Luthfi? saya ..." gugup Alif
" Masih belum puas melihatnya menderita masih ada rencana jahatmu lagi yang belum terlampiaskan?" Ucapan Luthfi begitu sinis. Keributan Luthfi membangunkan Antyka yang tertidur.
"Kak Luthfi ...., Dia yang menolong Anty membawa mama ke rumah sakit" Ucap Antyka bingung
" Kenapa kamu bawa mama ke rumah sakit ini? Kamu mau tunjukan betapa kamu kaya dan berkuasa. Aku masih bisa membiayai Mama. Ingat kamu jangan ikut campur" Tuduh Luthfi pada Alif yang masih terdiam.
" Aku tidak ada maksud begitu kak Luthfi , Rumah sakit ini paling dekat dari rumah. Mama harus cepat di tangani' Alif menjelaskan tindakannya.
Luthfi terdiam mendengar ucapan Alif. Tapi entahlah rasa kesal masih menyelimuti perasaan Luthfi saat bertemu Alif.
" Anty, kamu pulang biar kak Luthfi yang jaga mama. Dimana Cahaya?"
" Caya..." Antyka merasa tersudut melihat kemarahan kakaknya
"Ada di ruang saya, dia sudah tidur"
__ADS_1
Antyka menunduk, tidak berani menatap kak Luthfi......