
Alif selesai dengan jam kampusnya langsung menuju kampus Antyka. Sedikit banyak kabar tentang pernikahan nya sudah tersebar. Seperti tadi pagi saat ia berada di ruang dosen. Dengan senang hati para sesama dosen memberi ucapan selamat.
Alif sudah tidak ragu lagi untuk masuk ke area fakultas ekonomi, untuk menjemput Antyka. Tadi pagi saat berangkat ke kampus bersama, Antyka meminta Alif untuk menemui prof Damar di restorannya.
Langkah Antyka terhenti saat melihat sosok sang suami sedang duduk di bangku kantin. Tubuh tegapnya terlihat begitu beda dari pria pria yang ada disana. Antyka juga melihat beberapa mahasiswi yang mencoba menarik perhatian sang suami yang terlihat acuh.
Antyka tersenyum saat suaminya begitu terganggu dengan para mahasiswi yang nekat menggodanya. Wajah Alif langsung berubah dingin. Antyka berlari kecil agar lebih cepat sampai.
"Pak Alif, sudah lama?" Antyka pura pura bertanya
"Hmmm" sambil meraih tangan Antyka dan berdiri dari duduknya." Kemana dulu ?"
"Langsung ke restoran Ayah saja, Anty mau makan sup buntut yang hangat" Mata Antyka mengerjap membayangkan rasa sup yang sudah lama tidak ia santap.
" Lapar...?" masih menggenggam lengan Antyka
"Iya" Kemudian langkah mereka berhenti di depan mobil hitam milik Alif "Pak Alif nanti pulang ke apartemen ya"
"Iya"
Siang itu cukup cerah. Bahkan mungkin menyengat. Meski matahari sudah mulai condong ke barat. Sepanjang perjalanan Alif memperhatikan Antyka yang menirukan suara penyanyi dari tape mobil. Kadang ekspresinya lucu, apalagi saat menyanyikan lagu barat.
"Pak Alif senyum senyum sendiri?" tanya Antyka saat menoleh pada Alif.
"Kenapa berhenti nyanyinya?"
" Iya tau, suara Anty emang fals kalo lagi nyanyi. Mama juga bilang begitu"
"Siapa bilang fals. Itu bukan fals tapi funny voice "
"Sama saja, fals dan funny voice. Mereka kakak Adek"
" Tapi aku suka"
"Tidak usah muji jika itu hanya dusta" Antyka menyikapkan lengan di dada.
Ponsel Antyka berdering, Kemudian Antyka segera menerima panggilan telepon. ada nama bunda Amalia di layar ponselnya
"Ya, Bun"
"Nanti nginep lagi di rumah bunda?"
" Kayaknya enggak, Bun. Kita langsung ke Apartement, Antyka ada tugas kuliah, maaf ya bun "
"Oh ya sudah hati hati"
Antyka menutup ponselnya.
" Dari bunda ?" tanya Alif sambil pandangannya lurus ke jalan.
"Iya"
Saat ini Antyka dan Alif sudah sampai di restoran. Antyka langsung masuk dan meminta menu yang sangat ia rindukan. Tingkahnya masih seperti anak kecil, bahkan ia meninggalkan Alif yang masih memarkirkan mobilnya.
Alif sampai bertanya tanya pada karyawan restoran, di mana istrinya berada. Kemudian karyawan itu mengantar Alif di ruangan kusus milik prof Damar.
" Alif mana Anty, kok kamu sendirian ?. Tadi bilangnya mau bareng Alif"
" Sama pak Alif kok, yah. Tuh orangnya " tunjuk Antyka pas sekali Alif muncul membuka pintu
" Apa kabar Lif?"
" Baik yah, Ayah sehat?"
__ADS_1
"Alhamdulilah, sehat. Duduk dulu, sebentar lagi mamamu datang" Prof Damar memberikan tangannya saat Alif ingin menyalim.
Pelayan datang membawa pesanan menu permintaan Antyka dan meletakan diatas meja. Wajah mupeng Antyka terlihat lucu
"Pak Alif kita makan dulu, Cobain menu kesukaan Antyka di sini"
"Ya, kalian makan saja dulu, Ayah mau turun ke bawah. Sepertinya mama sudah datang"
"Jadi kalian akan mengadakan resepsi pernikahan? Mama setuju saja, tapi mungkin mama tidak bisa banyak bantu persiapan kalian. Kalian tau sendiri kan, Ayah masih dalam masa pemulihan" Tanya mama Ajeng saat Alif dan Antyka sudah selesai makan
" Iya ma, Semua urusan sudah di tangani pihak WO. Kita juga,tidak banyak terlibat. Kami minta doa restu Ayah dan mama"
"Tentu saja, doa kami selalu bersama kalian. Jadi kapan resepsinya diadakan?"
"Minggu depan ma. Tempatnya di ballroom hotel Pradipta. Apa ada orang orang tertentu yang ingin ayah undang?"
"Orang kampus pasti sudah kamu undang kan, Lif? Paling hanya kerabat dekat kami saja tambahannya dan beberapa kenalan Ayah. Tidak banyak" timpal prof Damar
" Sudah yah, Besok Alif kirim untuk undangan kerabat dan kenalan Ayah"
"Oh iya, Ayah dan bunda punya hadiah untuk kalian" prof Damar menyerahkan Amplop coklat yang cukup besar dan tebal.
" Apa yah ?"
"Buka saja"
Dengan Antusias mereka membukanya. Sertifikat rumah juga foto rumah mungil yang estetik.
"Rumah" ucap Antyka dan Alif bebarengan
"Iya, rumah peristirahatan, letaknya di puncak. Ayah tau, pasti Alif memiliki banyak vila di mana mana. Tapi tolong diterima, itu tanda cinta dari kami untuk kalian. Kami kusus membangun rumah itu untuk Antyka yang sangat suka dengan bunga. Kalian lihat saja sendiri. Ayah harap kalian mau menempatinya sesekali"
"Pasti yah, setelah resepsi saya akan bawa Antyka ke sana untuk berlibur"
"Yah, Anty masih kuliah"
" Maaf Antyka, setelah kamu menikah. Ayah jadi serakah, Ayah ingin segera memiliki cucu"Prof Damar terkekeh
Alif langsung menggenggam Tangan Antyka erat. Tidak cuma prof Damar yang ingin punya cucu. Alif pun ingin segera memulai proses pembuatan cucu yang belum terlaksana sampai sekarang.
" Sayang, meski hamil kamu masih bisa tetap kuliah. Kalau memang berat kamu bisa cuti dulu. Setelah putra kita lahir kamu masih bisa meneruskan. Biar aku yang mengurus bayinya" ucap Alif tegas
Prof Damar dan mama Ajeng menganggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan ucapan Alif barusan. Hanya Antyka yang masih cemberut
" Bagaimana Anty, mau ya cepet punya baby? kita tidak usah menundanya lagi." Alif kembali mendesak
Saat tegang seperti itu, ponsel milik prof Damar berdering.
" Ya, benar saya prof Damar. Anda siapa ?" hening " Tuan Hendro ingin bertemu? oh bisa , silahkan datang saja ke restoran saya. Sebentar saya kirim lokasinya. Baik saya tunggu "
" Tuan Hendro siapa yah ?"tanya mama Ajeng
" Tuan Hendro pemilik SIENA CORP "
" Ayah kenal ?"
" Tidak juga. Beliau bilang, ingin memberikan donasi buat yayasan milik ayah "
" Oh ..."
Antyka dan Alif melambaikan tangan saat mereka berpamitan pulang. Kemudian mobil hitam Alif melaju ke jalanan di sore hari yang cerah. Jalanan cukup lancar dan Alif membawa mobilnya cukup kencang. Beberapa kendaraan yang ada di depannya ia salip.
***
__ADS_1
Tuan Hendro didampingi oleh Ardy Asistennya duduk berhadapan dengan prof Damar.
"Prof Damar saya Hendro, Senang bertemu dengan Anda" Tuan Hendro mengulurkan tangannya
"Saya Damar"
" Mungkin prof Damar terkejut dengan kedatangan saya yang tiba tiba. Ini semua tentang putra saya Ibra"
" Ibra..., tuan yakin?"prof Damar mengernyitkan dahinya
"Maaf sebelumnya jika saya lancang. Puluhan tahun yang lalu kami mengalami kecelakan. Menyebabkan putra kami hilang" Kami sudah menyisir lokasi kecelakaan tapi kami tidak menemukannya. Ini foto putra kami "Tuan Hendro menyodorkan sebuah foto anak kecil.
Prof Damar ingat betul itu adalah Ibra kecil yang ia temukan di jalan saat pulang dari perjalanan dinasnya dulu.
" Ini mirip sekali dengan Ibra waktu kecl"
"Dan ini Album kenangan kami prof, dari Ibra bayi hingga hilang"
Prof Damar dengan teliti mengamati foto foto Ibra dengan cermat .
" Waktu itu saya melapor pada kantor polisi terdekat. Jika ada orang yang mencari anak dengan ciri ciri yang saya sebutkan. Saya menunggu cukup lama. Tapi tidak pernah ada orang yang menghubungi saya kembali" Tegas prof Damar.
" Kami mencari carinya prof. Namun kami kehilangan jejak putra kami. Semua orang beranggapan jika putra kami sudah meninggal. Kami bahkan sering tertipu dengan orang orang yang memanfaatkan kami. Mengaku ngaku sebagai putra kami yang hilang. Ketika hampir putus asa, Saya di pertemukan dengan Ibra di rumah sakit, beberapa Minggu lalu. Hati saya sangat yakin saat melihatnya. Mata Ibra sangat mirip dengan istri saya. Maaf, saya sudah menyelidiki dan juga sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok" Tuan Hendro sudah berkaca kaca.
"Sudah sejauh itu?"
"Iya, terima kasih telah merawat putra saya dengan baik prof. Dia menjadi pria yang sangat hebat dan cerdas. Sampai kapanpun saya tidak bisa membalas kebaikan prof Damar"
" Tuhan yang mentakdirkan kita bertemu. Sedari kecil dia memang sudah sangat pintar dan juga pekerja keras"
"Benarkah..? oh ya nama sebenarnya adalah Zigra"
" Oh ...dulu saat saya menanyakan nama padanya, dia menyebut iba dengan lidah yang tidak terlalu jelas. Karena itu saya memberi nama Ibra"
"Saya mohon, prof Damar mau mendampingi saya, untuk memberitahu Ibra tentang fakta ini. Semoga Ibra tidak merasa di sia siakan"
"Tentu saja tuan Hendro, saya bahagia untuk Ibra. Teryata dia masih memiliki keluarga. Saya akan meminta Ibra untuk pulang dan memberi tahu kabar gembira ini"
" Prof Damar, bisakah menceritakan sedikit kesukaan atau hal hal yang cukup berkesan tentang Ibra?"
"Ibra anak yang tenang, Dia paling senang membaca buku. Tapi dia akan sangat melindungi pada orang orang yang ia sayangi. Dia sangat menyukai makanan manis, selera makannya hampir mirip dengan putri saya, Antyka"
Prof Damar menceritakan tentang kebiasaan kebiasaan Ibra sejak kecil. Air mata tuan Hendro akhirnya tumpah. Perasaan bersalah dan tidak berdaya. Hanya ucapan terima kasih.
Saat tuan Hendro ingin memberikan sumbangan bagi yayasan. Prof Damar menolaknya. Ia masih mampu untuk membiayai dan sudah ada donatur tetap di sana.
"Aku lelah sekali Anty, Seharian ini" Ucap Alif sambil duduk di sofa, begitu masuk dalam Apartemennya.
"Pak Alif mau dibuatin kopi?"Ucap Antyka.
" Ehmm ..., boleh" Tangan Alif meraih remot menyalakan AC ruangan tamu
Antyka masuk ke dapur membuat secangkir kopi hitam. Aroma wangi kopi langsung tercium, begitu Antyka menyeduhnya dengan air mendidih.
"Ini kopinya" Antyka meletakan secangkir kopi di atas meja. Tidak ada sahutan dari Alif.
Antyka menoleh dan memperhatikan wajah Alif, Matanya tertutup rapat dan juga suara hembusan nafas yang teratur. Rupanya Alif tengah tertidur.
Kemudian Anty mengikuti Alif duduk dan bersandar di sofa. Memejamkan matanya, mengusir penat. Antyka hanyut di dalam mimpi
Antyka membuka matanya berlahan, Ia terbangun karena suara deru nafas dan hawa panas begitu dekat di wajahnya. Ia terkejut mendapati wajah tampan Alif sudah tidak berjarak di atasnya persis.
" Pak Aliiiiiiiif"tanpa sadar menjerit, namun itu hanya beberapa detik, setelah itu bibir Antika terkatup. Sapuan basah sudah membungkan jeritan Antyka.
__ADS_1