Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
58.Sikap Agra dan persiapan pernikahan


__ADS_3

Kabut pagi mulai berpendar, semburat matahari mulai memancar. Langkah kecil Caya menerobos sisi samping taman di rumah opa Haris. Gadis kecil itu begitu bangun dari tidurnya langsung mencari sosok Alif. di belakangnya ada Oma yang mengikuti sambil terus manggil namanya.


"Caya..tunggu Oma nak" nafasnya tersenggal meski langkahnya kecil tapi begitu lincah dan cepat. membuat Oma tertinggal di belakang.


"Caya mau sama Daddy" Caya menoleh. bibir tipisnya mengerucut. Sepertinya Caya sedang manja.


"Daddy kamu ada di belakang, mari Oma antar" akhirnya Oma bisa meraih jemari kecil Caya.


Caya menghentikan langkahnya, ia merasakan genggaman hangat tangan Oma. kemudian gadis kecil itu tertawa "Tangan Oma rasanya hangat"


"Oh ya, tangan Caya juga halus, lembut, Oma suka" keduanya menuju kolam renang untuk menemui Alif.


Caya duduk di pinggir kolam sambil memanggil Alif yang sedang asik berenang.


"Daddy...Caya mau sama Daddy" Caya mulai merengek.


"Anak Dady sudah bangun?" Alif menyembul dari kolam renang dan menepi. Ia mendekati putrinya.


" Daddy ayo...."


"Mau kemana Caya?"


"Caya mau ke tempat momy" Alif langsung naik ke daratan. tubuhnya yang basah segera di keringkan.


"Caya kangen sama momy? Daddy juga" Alif terkekeh, Caya sudah dalam gendongan Alif, kepalanya bersandar di bahu.


"Dady..., dingin" Caya mengeluh.


"Duduk disini dulu, Dady mau pakai handuknya" tapi Caya menggeleng, gadis kecil itu seperti tidak mau lepas dari Alif.


**


Alif mencium punggung tangan mama Ajeng. ia memperhatikan calon mertuanya yang sudah terlihat rapi.


"Mama mau kemana?"


"Besuk Agra" jawab mama Ajeng sambil tersenyum. Alif mengerutkan dahinya, heran.


"Untuk apa, Ma?"kembali Alif bertanya.


"Ada yang perlu mama jelaskan pada Agra, setidaknya Agra memiliki cerita dari dua sisi. Kasian kalau hatinya hanya di penuhi amarah. Mama tau seperti apa ayahnya"


"Tapi ma..."


"Mama di antar Luthfi, jangan kawatir"


Antyka muncul dengan nampan berisi kopi. Perhatian Alif teralih pada sosok yang sedang meletakkan kopi di meja. Mengenakan kerudung hitam intstan dan baju rumahan yang sangat sederhana, Tapi tidak mampu menutupi kecantikannya. Tetep saja, keanggunan dari tubuh semampai, wajah bulat telur dengan kulit putih bersih juga bibir kecil yang penuh merona merah terlihat basah. Mampu memompa jantung Alif lebih cepat. Alif menghela nafas sejenak, tatapannya masih tertuju pada Antyka.


"Diminum Lif" suara mama membuyarkan konsentrasi Alif.


"iya, ma"


***


"Mau minta mahar apa, Anty?" Ucap Alif saat mereka hanya duduk berdua di ruang tamu rumah Luthfi. Mama baru saja pergi dengan Luthfi. Padahal sebelum pergi, Luthfi sudah mewanti wanti pada Karin, agar jangan membiarkan Antyka dan Alif hanya berduaan saja. Tapi rasanya Karin tidak memiliki nyali sebesar itu, untuk ikut bergabung di ruang tamu dengan dua adik iparnya.


Antyka berpikir sejenak dengan pertanyaan Alif. Kemudian terlihat ragu untuk berucap.


"Katakan saja" Alif tau wanita di depannya terlihat sungkan untuk berterus terang.


"Aku mau cincin pernikahan dan Apartemen kita yang dulu. Apa pak Alif masih menyimpan cincinnya? Aku juga rindu tempat kita pernah bersama. Setiap kali aku melewati gedung itu rasanya ada sesuatu yang telah hilang, separuh hatiku" Antyka menunduk


"Tentu saja aku menyimpannya Anty, dan Apartemen itu memang milik kamu. sudah jadi milikmu dari dulu. Katakan mahar yang belum kamu miliki"


"Kalau itu, terserah pak Alif"


"Emhhmm..., yakin terserah aku? kamu tidak akan menyesal?" Alif mengerlingkan matanya. "Bagaimana kalau maharnya hatiku saja?"


"Gombal..." Cubitan Antyka mendarat di tangan Alif. Tanpa sadar, Alif mengerang.


"Setelah menikah Aku akan bawa kamu ke Swis. Aku ingin menyusul Mike, Aku ingin anak kembar. Caya pasti suka, langsung punya dua adik yang lucu"


"Kita tidak punya keturunan kembar, pak Alif. Mana bisa?"


"Ya usaha terus sampai berhasil, Dunia kedokteran sudah sangat maju"

__ADS_1


"Sudah berhayalnya, ijab juga belum sudah mau anak kembar" Karin datang menghampiri mereka. "Lif, sebaiknya kamu pulang. Dirumah ini tidak ada orang. Aku harus ke kantor mas Luthfi untuk menggantikannya"


Terpaksa Karin harus mengusir Alif untuk saat ini. Luthfi akan marah besar saat tau Karin meninggalkan dua orang yang sedang di mabuk cinta hanya berdua.


Dengan enggan Alif terpaksa harus pergi, Bagaimanapun memang Antyka belum menjadi istrinya lagi. Setelah berpamitan dengan Caya, Alif pun pulang.


***


"Saya tidak ingin menemui mereka" Agra tak menolak tamu yang akan menemuinya. tapi pengacaranya tetap memaksa Agra.


"Tuan Agra, mereka datang baik baik. Ingin berbicara dan memberi tau sesuatu pada tuan Agra. Jika tuan kooperatif mungkin tuntutan bisa di cabut"


Agra tertawa renyah, "Meskipun di cabut. Aku sudah melakukan kejahatan kriminal yang tanpa tuntutan pun, aku tetap akan meringkuk di penjara ini"


"Setidaknya tuan, hukuman itu bisa lebih ringan. Tuan...."


" Baik lah.." akhirnya Agra menyerah dan mengikuti pengacaranya untuk menemui tamu yang akan membesuknya.


Wanita yang sudah ringkih sedang duduk, Menatap nanar ke arah Agra. Namun Agra membalas tatapan itu dengan sorot kebencian.


"Siang tuang Agra..." sambut Luthfi saat mereka sudah duduk berhadapan.


"Tidak usah berbasa basi, katakan apa yang ingin kalian katakan" Agra memalingkan mukanya tidak ingin bersitatap dengan wanita yang seusia dengan Almarhumah ibunya.


"Agra....., kamu sangat mirip dengan mas Kris. Ucap mama Ajeng sembari menghela nafas. "Kamu salah jika mendendam dengan keluargaku"


"Kamu....tau betapa menderitanya, mami? Itu karena pria yang Mami cintai justru menyerlantarkannya karena memilihmu"


"Agra..., mami mu wanita yang cantik, penuh semangat dan Ambisi. Kami berteman waktu itu. Airin sangat menginginkan mas Kris. Tapi Kris memang tidak pernah memiliki perasaan pada Airin. Hingga sebuah kejadian yang menjebak aku, Kris dan Airin. Aku di selamatkan oleh ayah Antyka. Pria yang sangat aku cintai. Sedang Airin dan Kris terjebak karena kebodohan mereka"


"Kris menghukum Airin karena menyeretnya kedalam jebakan. Dia pun pergi ke luar negri. Beberapa taun kemudian Kris kembali. Aku sempat bertemu, Kris mengungkapkan keinginannya untuk mencari Airin ia ingin melihat anak yang Airin kandung. Kris menyesal karena terlalu lama menghukum Airin"


"Kami terlunta lunta di sana. Kamu bohong kan kalau pria itu mencari kami?" Agra tidak mempercayai cerita mama Ajeng.


"Dia mencarimu Agra, sampai akhir hayatnya ia tidak menikah. dia merasa bersalah sepanjang hidupnya telah mengabaikan kalian. Aku tidak ada kaitannya dengan kalian. justru aku hampir jadi korban Jebakan Airin"


"Bohong....., Mami bukan orang seperti itu" Agra menggebrak meja di depannya. Mama Ajeng tersentak kaget, dia memegang dadanya. Luthfi yang melihat itu semua terkejut dan langsung panik.


"Ma..., Mama baik baik saja, Mama sakit?"


"Iya...mama hanya kaget. Dada mama sedikit nyeri"


Agra tertegun, ia merasa bersalah telah membuat wanita ringkih di depannya terkejut. Meskipun hati nya membenci tapi ia manusia yang memiliki nurani. Agra kembali duduk, dia resah.


"Agra, kamu masih muda...tolong bersihkan hatimu. Ini Untuk ketenangan jiwamu, nak. Ikhlaskan apa yang pernah menimpamu. Jangan kau turuti emosi dan dendam. Hidupmu akan di penuhi kegelisahan. Kamu tau ada pengadilan yang paling adil? semua kesalahan kita akan di pertanggung jawabkan kelak" tangan mama Ajeng menyentuh jemari Agra yang ada di atas meja.


Agra meleleh, dengan perlakuan mama Ajeng. Dia telah membakar restoran, garmen dan hampir mencelakai putrinya. Tapi wanita di depannya menyentuh dengan perasaan hangat. Seperti sentuhan seorang ibu yang kawatir dengan putranya.


"Saya tidak mendendam, kamu adalah korban dari keserakahan, keegoisan orang tuamu, nak. Maafkan papimu yang tidak berhasil menemukan mu. Maafkan juga mamimu untuk keegoisannya, dan dendam yang sudah ia tanam. Tolong renungkan kata kata ku. Aku akan mencabut perkara ini. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menolong putra Kris dan Airin. Kedepannya semoga kamu bahagia, nak''


Agra tidak dapat berkata kata. Hatinya yang dingin tiba tiba menjadi rapuh dan sakit. Untuk pertama kalinya ia merasakan ketulusan dari orang yang sudah ia celakai. Saat Luthfi memapah tubuh ringkih dari hadapannya, Agra hanya bisa membeku dengan hati yang bergemuruh.


"Aku akan terima hukuman ini. Terima kasih " Agra kembali di bawa keruang tahanan.


***


Dalam perjalanan pulang tiba tiba kondisi tubuh mama menurun drastis. Mama Ajeng memegang dadanya sambil menahan sakit. Suhu tubuhnya naik.


"Mama harus kuat, sebentar lagi sampai rumah sakit. Luthfi nyesel udah nurutin mama untuk ketemu Agra brengsek" Luthfi menggenggam jemari tangan mama.


Mama menggelengkan kepalanya. Menatap penuh kasih pada putra yang sangat berbakti.


"Jangan marah, Fi. Mama memang sudah tua. Setidaknya diakhir hidup mama, bisa memberi lentera pada anak Airin dan Kris. Tolong cabut gugatan perkara Agra. Apapun yang terjadi pada mama, itu takdir, Fi. Jangan membenci atau menyalahkan"


"Mama akan baik baik saja'' tegas Luthfi, mencoba menepiskan gelisahnya.


Begitu sampai rumah sakit, mama Ajeng langsung mendapat tindakan medis. Luthfi sudah memberi tahu Antyka agar datang ke rumah sakit.


Luthfi masih mondar mandir dengan gelisah, ia menanti dokter yang tengah memeriksa Mama.


"Lif..., tolong mama" teriak Lutfi saat Alif baru saja datang. Kewibawaan nya menghilang begitu saja. Luthfi terlihat sangat rapuh.


Alif tau bagaimana perasaan Luthfi. Ia pasti sangat sedih jika terjadi sesuatu pada mama Ajeng.


"Kak Luthfi jangan panik. Kita berdoa yang terbaik untuk mama. Tim dokter akan bekerja keras untuk memulihkan keadaan mama"

__ADS_1


"Aku tidak tau harus mengatakan apa pada Anty, harusnya aku tidak mengikuti keinginan mama, kalau kejadiannya akan seperti ini"


"Apapun itu kak, Mama sudah melakukan hal yang menurutnya baik. Semua rahasia Tuhan kak. Jangan berfikir buruk. Saya akan masuk"


Kembali Luthfi tersentak saat sendirian di tinggal Alif. Hatinya riuh dengan rasa bersalah atas kondisi mama Ajeng. Namun ia harus tawakal atas segala kejadian yang terjadi, tidak semata karena manusia, di sana ada takdir, campur tangan Tuhan. Luthfi bangkit dan segera mengambil wudu. Hidup ini ada yang memiliki. Ia akan bermunajat pada Sang Pencipta.


Antyka mengais keberaniannya untuk masuk dalam ruang perawatan mama, di sana sudah ada sang kakak, juga Alif. Dadanya terasa sesak. Ada ketakutan yang yang mendera batinnya. Kenyataan yang sangat ia takutkan, kembali akan kehilangan orang yang sangat ia cintai.


"Masuk" perintah Alif yang menatapnya penuh kekawatiran. Tapi Antyka menunduk, tubuhnya setengah tak bertenaga membeku di depan pintu. Mata Antyka berembun dan menahan Isak.


Alif mendekat, meraih tangan Antyka. "Mama ingin bertemu, keadaannya sudah baik. jangan takut" Ucap Alif dengan nada lembut. Keduanya mendekati ranjang dimana mama terbaring.


Mata mama mengerjap, menatap teduh putrinya. Seulas senyuman ia berikan. Antyka langsung menghambur menggenggam jari mama yang hangat.


"Ma....," suara itu hampir tak terdengar, tenggorokan Antyka terasa kering.


"Anty...." tangan itu mengusap kepala Antyka. Menenangkan sang putri.


Rasa lega menyusup dalam hati Antyka, seolah ia terlepas dari himpitan yang menyesakan. Melihat mama baik baik saja saat ini.


"Mama baik baik saja, duduk dekat mama, sini. Mama ingin bicara. Kamu juga Lif" Mama menatap pada keduanya. Ia melihat gurat kekawatiran yang berlebihan pada putrinya dan juga calon menantu. "Lanjutkan rencana pernikahan kalian, jangan di tunda lagi"


"Tapi mama masih sakit" Ucap Antyka menatap sendu sang mama.


"Mama ingin melihat kalian menikah, kasian Caya setiap saat harus kesana kemari hanya untuk bertemu kalian. menikahlah besok seperti rencana semula"


"Sudah nurut saja Anty, Aku juga lebih tenang saat kamu sudah menikah. Semua persiapan sudah di atur oleh Karin dan juga keluarga Alif. Pernikahan kalian akan diadakan sesederhana mungkin, ya kan Lif ?"


"Kamu tidak masalah kan, Anty. Kalau pernikahan kita sederhana?" Alif menatap Antyka.


"Iya, tidak apa apa" Akhirnya Antyka menyetujui rencana tersebut. Ia ragu bukan karena sederhananya, Antyka ragu tapi karena keadaan mama yang masih terbaring di rumah sakit.


" Sekarang kalian pulang, untuk persiapan besok. Biar Aku yang jaga mama di sini"


"Anty juga ingin menjaga mama, kak"


"Tidak, ini keinginan mama. Kita harus membuatnya senang, Anty. Kamu ingin mama sembuh, kan?"


Antyka seperti merasa egois, ia menatap ragu pada sang kakak, kenapa selalu tidak bisa berbakti di saat yang tepat.


"Kak Luthfi, saat Ayah sakit, aku tidak bisa menemaninya, mama sakit, aku justru mempersiapkan pernikahan. Aku seperti anak yang tidak berguna" Lirih Antyka.


"Mama ingin kamu menikah, ia masih ingin menyaksikan pernikahanmu, Anty. Itu caramu membuat mama senang. Apa lagi?" Luthfi megusap pucuk kepala Antyka. "Sudah sana pergi. Alif sudah menunggu"


Antyka hanya bisa mendesah, kemudian berpamitan dan mencium mama yang mulai tertidur lagi.


"Anty pulang kak. Maafkan adik kecilmu ini" Pamit Antyka sambil mencium cukup lama punggung tangan kakak lelakinya. Luthfi hanya menghembuskan nafas.


"Hati hati di jalan. bilang Karin aku akan bermalam di sini. Suruh Zeind mengantar baju gantiku"


"Iya kak..." Antyka tersenyum tipis, ada rasa berat untuk melangkah keluar dari ruangan mama.


"Anty...." Alif kembali melongok ke dalam kamar setelah menunggu cukup lama di luar.


"iya sebentar" Kemudian keduanya pergi meninggalkan ruang rawat mama.


"Sekalian mampir ke rumah bunda, ya?" ucap Alif sambil menghidupkan mesin mobilnya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Antyka tampak tidak merespon ucapan Alif. Tapi Alif berusaha tidak mengganggu. Dia tau , ini hari yang berat bagi Antyka.


Antyka menatap keluar jendela sepanjang perjalanan. Bahkan dia tidak memprotes saat Alif membelokkan mobilnya ke arah rumah Alif. Dia tetap asik dalam lamunannya sendiri. Alif menunggu Antyka beberapa saat, sampai Antyka menyadari sendiri dia ada di mana.


"Bukankah ini rumah pak Alif?" Alif terkekeh kemudian mengangguk.


"Baru sadar..." Alif membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa di suruh Antyka pun mengikutinya.


"Untung kamu datang tepat waktu, ini Sarah, Anty" bunda memperkenalkan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan pada Antyka. "Dia yang urus baju dan juga make up kamu besok"


"Saya Antyka, mbak " Antyka mengulurkan tangan dan di sambut oleh Sarah.


"Saya Sarah, senang berkenalan dengan mbak Anty" Menyambut tangan Antyka sembari memperhatikan Antyka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kesannya tidak sopan, bahkan Antyka tampak kikuk sendiri saat di tatap seperti itu. Sarah menyadari gestur Antyka yang merasa tidak nyaman "Maaf ya mba Anty, kalau saya tidak sopan, Saya hanya sedang mengamati postur dan juga bentuk wajah mbak Anty. Ini memudahkan saya untuk menentukan gaun dan juga make up apa yang akan saya aplikasikan untuk mbak Antyka"


"Oh begitu" Antyka baru memahami tingkah Sarah.


"Mari mbak Anty, kita coba baju pengantinnya" Ucap Sarah, wanita itu sudah punya gambaran untuk memilih baju yang cocok untuk Antyka.


"Bunda..., gaunnya sederhana saja, kan? Anty tidak mau berlebihan" Antyka menoleh ke arah bunda Amalia.

__ADS_1


"Iya, Anty. Gak berlebihan kok . Gaun simple, untuk acara Akad. Meski sederhana tetap saja harus berkesan" mereka masuk keruangan yang sudah di siapkan untuk fiting baju, tanpa Alif.


***


__ADS_2