Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
60. The end with extra part


__ADS_3

"Ini rumah kita, kamu suka?" Alif menunjukan pada Antyka rumah yang cantik, tidak terlalu besar. Tapi berada di tempat yang strategis. Rumah itu letaknya berada di tengah. Ke rumah Luthfi, ke rumah ayah Haris dan juga ke rumah sakit tempat Alif bekerja.


"Suka, terutama letaknya. kita bisa ke rumah bunda dan kak Luthfi lebih dekat, hanya tiga puluh menit tanpa macet" Antyka tersenyum senang.


Alif mengelus pundak istrinya. Dia tau betul. Antyka akan menyukainya. "Kita lihat ke dalam, ya" kemudian Alif menggandeng Antyka untuk masuk.


"Rumahnya sudah siap huni, aku minta di bantu oleh ahlinya. Aku harap kamu juga menyukai desain interiornya"


"Aku suka, pak Alif. Terima kasih"


"Ini kamar utama untuk kita, sebelah sini kamar Caya dan ini untuk kamar bayi kita nanti. Aku juga menyiapkan kamar untuk mama, Siapa tau mama mau ikut dengan kita" Alif menatap penuh arti. Antyka hanya mengangguk tanda mengerti.


Hari ini Alif sengaja membawa Antyka untuk melihat rumah yang akan mereka tempati. Mama Ajeng sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Menunjukan rumah ini pada Antyka adalah waktu yang tepat.


"Kapan kita pindah, Anty?"


"Terserah"


"Bagaimana kalau Minggu depan?" ucap Alif setelah selesai berkeliling melihat rumah baru mereka.


"Boleh" Antyka melirik kearah jam dinding. "Kita jemput Caya, sudah siang" Antyka lebih dulu keluar dari rumah. Ia terlihat tergesa gesa. Alif hanya bisa mengikuti langkah Antyka tanpa bisa menghentikannya


"Bisa lebih cepat sedikit, pak Alif. Nanti kita terlambat" Ucap Antyka seraya masuk kedalam mobil.


"Anty, Caya sudah di jemput supir bunda" ucap Alif saat melihat Antyka begitu cemas.


"Kenapa pak Alif tidak bilang dari tadi?"


"Kamu pergi duluan sebelum aku sempat memberitahumu"


"Kalau begitu kita pulang saja"


Alif menyalakan mesin mobilnya. Tidak terlalu kencang. Ia juga menyalakan lagu dari tape mobilnya. Lagu perfect dari Ed Sheeran yang akhir akhir ini sangat Alif sukai, padahal itu termasuk lagu lama. Siang ini tidak terlalu terik, ada banyak awan putih yang berarak di atas langit. Jalanan juga tidak terlalu padat semuanya lancar. Alif membelokan mobilnya kearah Apartemen lama mereka.


"Kenapa kita kesini?" Antyka sedikit heran.


"Bukankah kamu menginginkan Apartemen ini?Sudah lama jadi milik mu, tapi tidak pernah kamu masuki lagi. Kita bernostalgia, ya?" bujuk Alif.


"Mungkin sudah sangat kotor ya, pak Alif?" ucap Antyka ragu. Ada desir aneh yang menyelusuri perasaanya saat kembali menapaki halaman Apartement ini.


"Siapa bilang, meski tidak di tinggali, tapi aku selalu mengirimkan orang untuk membersihkannya setiap dua hari sekali"


"Benarkah?"


"Ayo kita lihat"


Mereka memasuki unit milik mereka yang berada di lantai sepuluh. Sudah hampir enam tahun Antyka tidak pernah memasuki Apartemen ini lagi.


"Kodenya masih sama ?" tanya Antyka saat melihat Alif menekan tombol untuk membuka pintu Apartemennya.


"Tentu saja, tapi kalau kamu mau merubahnya, boleh" Alif langsung mengajak Antyka untuk masuk.


Antyka tercekat, melihat segala yang ada di dalam ruangan ini masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Foto pernikahannya dengan Alif masih terpajang rapi, bunga kesukaanya ada di vas yang sama.


Alif memeluk Antyka dari belakang. Tangan kokohnya sudah membelit pinggang Antyka yang ramping.


"Aku masih menjaganya agar tetap sama, sampai pemiliknya datang, yaitu kamu " Ucap Alif sambil mengecup pipi Antyka.


"Pak Alif..." Antyka membeku, ia merasakan hangatnya pelukan Alif. Kembali kelebatan masa lalu yang begitu indah dapat ia rasakan.


"Aku selalu menantimu, Anty. Disini juga aku menangisi mu saat hampir menikahi Ibra. Jangan lakukan itu lagi" Kembali Alif mendekap tubuh Antyka.


Antyka membalas pelukan Alif erat. Ada rasa bersalah terbesit di hatinya. Ia merebahkan kepalanya di dada Alif. Keduanya saling menatap. Alif mengecup kening Antyka kemudian menyusuri seluruh wajah indah milik Antyka. keduanya dibuai rasa yang tidak bisa lagi di tepis.


"Anty, boleh ya?" Alif meminta kesedian Antyka untuk melaksanakan haknya sebagai suami. Antyka tidak menjawabnya tapi kembali menelusupkan wajahnya ke dada bidang Alif.


Alif mengerti, Ia menggendong Antyka memasuki kamar mereka. Merebahkan tubuh Antyka di atas tempat tidur. Menyentuh segala keindahan yang di damba. Keduanya hanyut dalam gelombang menuju puncak rasa. Alif dan Antyka bersatu menuntaskan Rindu yang begitu lama terpendam.


"Kita sudah terlalu lama di sini" ucap Antyka, setelah ia selesai mandi. Sedang Alif masih tergolek di atas tempat tidurnya.


"Aku sudah mengabari bunda, kalau kita pulang terlambat" Alif menenangkan Antyka.


" Aku lapar" ucap Antyka malu malu.


"Aku pesan dulu ya, sebentar" Alif segera meraih ponselnya dan memesan makanan untuk makan malam mereka.


"Apa di lemari ini masih ada bajuku?" tanya Antyka.


" Tidak ada, paling hanya baju milikku saja. Semua baju milikmu sudah aku pindahkan ke rumah bunda agar lebih terawat"


"Terus aku pakai baju apa?"


"Tidak usah pake baju, Anty" Alif terkekeh sambil memberikan selimut tebal pada Antyka. yang terlihat kedinginan


Antyka meletakan selimutnya, kemudian menuju lemari pakaian milik Alif. Mungkin ada yang bisa ia pakai untuk sementara. Antyka tersenyum saat mendapati kaos lengan panjang warna hitam milik Alif juga celana bokser yang cukup kecil. Ia memakainya, setidaknya ia punya baju yang bersih untuk semetara.


Saat Alif keluar dari kamar mandi, Ia tertawa lepas melihat penampilan Antyka. Kaos kebesaran yang hanya menutup sampai paha, belum lagi lehernya yang lebar selalu jatuh ke bahu Antyka yang putih. Sedang celana boksernya sesekali merosot. Meski kecil menurut Antika tetap saja tidak muat di pinggang rampingnya


"Pak Alif...." Antyka cemberut


"Nanti aku Carikan baju yang pas untuk mu, Anty"


Tidak lama bel berbunyi, Alif langsung keluar untuk membukakan pintu. Teryata pesanan makan mereka sudah sampai.


"Kita solat dulu trus makan"


Dua hari kemudian Antyka dan Alif pindah ke rumah baru mereka. Memulai hidup baru yang indah. Caya terlihat begitu senang dengan rumah barunya juga kamar barunya.


Alif selalu pintar membujuk Caya agar mau tidur sendiri di kamarnya. "Kalau mau adik, Caya harus bersikap dewasa" tentu saja Caya sangat patuh dengan ucapan Dadynya. Tiga bulan kemudian Antyka benar benar hamil lagi. Bulan madu ke Swiss yang mereka rencanakan hanya tinggal rencana saja.


Mendengar kehamilan Antyka, semua senang. Cayalah yang paling tidak sabar menanti kehadiran adiknya. Dia sering bertanya kapan adiknya datang. Apalagi saat diajak bertemu bayi Lira yang sudah lahir. Caya bahkan tidak mau pulang. Ia sampai menginap bersama Oma Amalia di rumah Mike dan juga Lira.


Sembilan bulan kemudian


"Dia sangat tampan dan sehat, Anty" ucap mama Ajeng saat pertama kali melihat cucunya yang baru lahir. Wajah mama tampak berseri dengan sorot mata yang teduh.


Mama memangku bayi mungil kemudian mendoakannya sembari mengusap tubuh mungil itu. Beliau terlihat takjub dan terus menatapnya tanpa berhenti.


"Nugra sangat mirip dengan kamu, Lif "


"Iya ma, tapi hidungnya sangat mirip dengan Anty, mancung" Alif terkekeh. Kemudian kembali meraih bayinya dan meletakan di dalam box bayi yang berada di dekat mama Ajeng. Alif tidak ingin mertuanya terlalu lelah.


"Kamu benar..." Mama pun ikut tersenyum bangga.


Kemudian Caya masuk kedalam kamar menemui Oma dan juga adik kecilnya.


"Oma, sekarang Caya sudah besar. Caya sudah punya adik"


"Iya, cucu Oma sudah jadi kakak. Kamu harus bantu momy jaga adek" Oma mengelus rambut Caya.


"Adek kerjaannya tidur terus sama nangis, Oma"


"Anak bayi memang begitu, Caya" Jelas Alif pada putrinya.


"Dulu Caya seperti ini juga, Dady?" tanya Caya penasaran. Sedang Wajah Alif tiba tiba berubah. Ia tidak tau harus berkata seperti apa. Ia tidak menyaksikan kehadiran Caya.


"I..iya" ucap Alif terbata bata.


"Lif, tolong antar mama ke kamar mama" pinta mama Ajeng pada menantunya yang terlihat gugup.


Alif langsung mendorong kursi roda mama ke kamar yang biasa mama tempati. Sejak dua minggu sebelum Antyka melahirkan mama sudah tinggal di rumah Antyka dan Alif.


"Mama mau kerumah Luthfi lagi, Lif"


"Kenapa ma, bukannya mama senang cucu mama bertambah?"


"Tentu saja mama senang, kalian pasti sibuk dengan bayi kalian. Mama tidak mau menambah kerepotan kalian"


"Alif kira, mama bakalan betah tinggal di sini. Mama bisa liat cucu mama, kapan saja mama ingin. Kami janji akan lebih memperhatikan mama" Ucap Alif sambil membantu mama pindah dari kursi roda ke kasurnya


Mama menggeleng, ia tersenyum pada Alif. "Kamu harus lebih perhatian pada Anty, dia baru saja melahirkan. Begitu juga dengan Caya, dia pasti akan merasa tersaingi. Kamu yang sabar, ya. Jangan pikirkan mama, mama baik baik saja, ada Luthfi yang biasa mengurus mama"

__ADS_1


"Iya ma, minta doanya semoga keluarga kecil kami selalu sehat"


Kesehatan mama semakin berangsur membaik, ia tampak sangat bahagia dengan kedatangan cucu cucunya. Tidak ada yang perlu dikawatirkan, seminggu sekali Antyka dan Alif datang menjenguk mama di rumah Luthfi.


Satu tahun kemudian


Saat pagi yang masih bergelung, Suasana rumah Antyka sedikit riuh, Nugra yang dari semalam rewel entah karena apa. Masih menempel di gendongan Antyka.


"Biar Nugra sama aku, kamu pasti lelah semalaman begadang. Kamu solat trus tidur. Biar anak anak aku yang urus. Akhirnya Nugra mau juga di gendong Dadynya.


Antyka cepat mengambil wudu dan solat. setelah solat ia merebahkan diri di atas kasurnya dengan nyaman. Anty tidak kawatir tentang Nugra, Alif cukup handal menangani anak anaknya. Caya juga sudah cukup besar dan mandiri.


Setelah Caya berangkat ke sekolah, Alif meminta baby siter untuk menjaga Nugra. Dia pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tapi dering telepon dari Luthfi terus terusan berbunyi.


"Iya kak, ada apa"


"Mama Lif...mama sudah pergi''


"Kak Luthfi...."


Alif bergegas masuk kedalam kamarnya untuk membangunkan Antyka yang sudah cukup lama terlelap. Saat sudah berada di dalam kamar, Alif seperti orang yang bingung. Ia tidak tega menyampaikan kabar buruk tentang mama Ajeng.


"Sayang bangun"


"Pak Alif...sudah mau berangkat?"


Alif menggeleng terus memeluk istrinya. Antyka heran dengan tingkah Alif. " Sayang kamu cepat ganti baju ya, kita kerumah kak Luthfi. Mama...."


"Mama sakit?" Alif mengangguk saja. sedikit berbohong tidak apa, ia tidak tega menyampaikan kabar duka.


"Kenapa di rumah kak Luthfi banyak orang?" tanya Antyka heran, saat sudah sampai di depan rumah Luthfi.


'Kita turun saja, Anty"


"Mama..." teriak Antyka, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Untuk yang terakhir kalinya, Antyka memeluk tubuh yang sudah dingin. Ditatapnya wajah mama dalam damai. Lutfhi sang kakak ada di sampingnya. Pria itu tampak lemah tak berdaya.


"Mama sudah pergi, Anty. Dia pergi dengan damai. Saat subuh ia masih ikut sholat berjamaah dengan kakak. Dia pergi saat sedang berdzikir mengagungkan nama sang pencipta. Jangan takut, mama orang yang sangat baik. Kita iklaskan, ya" meski berucap seperti itu tetap saja Air mata Luthfi berlinang.


Antyka masih bersimpuh diatas pusara yang masih basah, Ia mengusap nisan yang menancap di sana. Rasanya masih belum percaya, baru kemarin ia dan sang mama bercengkrama, mengecup pipinya yang hangat. Tapi kini sosok yang paling ia cintai sudah kembali pada sang pencipta.


Alif mengguncangkan bahu Antyka, meyadarkan istrinya agar tidak terlalu hanyut dalam duka.


"Ikhlaskan Anty, mama pergi karena memang sudah waktunya. Dia pergi tanpa rasa sakit, di genggamannya ada tasbih yang tidak pernah lepas dari tangannya"


"Iya, aku iklas" meski berkata demikian, di pipi Antyka tetap mengalir bulir bening yang tidak bisa ia tahan.


"Kita pulang, kasihan Nugra juga Caya. Mereka sudah menunggumu terlalu lama di mobil sejak tadi"


Antyka melihat sekeliling yang sudah sepi, prosesi pemakaman sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Terakhir Luthfi yang berpamitan, itupun sudah setengah jam yang lalu. Luthfi meminta Alif untuk menjaga istrinya dengan baik. Sekarang tinggal dia dan Alif.


Alih meraih tangan Antyka, membantu sang istri yang tampak lemah untuk sekedar berjalan .


" Maaf..." Antyka menyadari keteledorannya saat mendengar tangis Nugra.


Kemudian ia masuk kedalam mobil menemui putranya yang sudah menangis.


"Ini momy sayang, ayo sama momy. Nugra haus?". Antyka meraih Nugra dan kembali menyusuinya.


Setahun kemudian...


Jejak itu membekas, tapi kembali terhapus oleh deburan ombak yang datang. Dia masih duduk diantara bebatuan menatap arah laut yang tenang. Seorang pria mendekat sambil kerepotan menggendong bocah laki laki tampan.


"Kita pulang, sudah sore. Nugra juga sudah mengantuk" Pria itu membuyarkan lamunan sang wanita yang terlalu dalam. Kemudian tangannya terulur.


"Aku sedang mengingat mama" Kemudian meraih tangan kokoh yang terulur. Sebuah kecupan mendarat di kening


"Mama pasti sudah melihat kita bahagia"


"Pak Alif benar. Mama pasti ikut gembira melihat kita"


"Apa Caya menelepon kita?" tanya Antyka pada Alif saat mereka sudah berada di kamar hotel tempat mereka menginap. Alif memeriksa ponselnya,


"Caya hanya mengirimi pesan, agar kita tidak terlalu lama di Bali"


Antyka terkekeh, mengingat gadis kecilnya yang pencemburu setelah memiliki adik laki laki. Caya berharap adik perempuan agar bisa bermain bersama. Belum lagi Nugra yang sangat lincah dan selalu mengganggu Caya. Sebagai bentuk protes, Caya lebih memilih bersama uncle Luthfi dan juga aunty Karin, atau menjadi putri bungsu opa dan Oma Saat berada di rumah mereka, Caya merasa sangat di perhatikan.


"Pak Alif, kita pulang besok, ya?"


"Kenapa?"


"Kasian Caya, Kita bisa teruskan berlibur di rumah, Quality time" Alif menyetujui usulan Antyka yang tidak bisa jauh dari putrinya.


Saat keesokan paginya, Antyka dan Alif berkemas, Nugra masih terlihat tenang diatas kasur yang nyaman.


" Nugra tidur, dia akan bangun pukul tujuh pagi" Suara bisikan itu menggema di telinga Antyka. Pinggangnya sudah di tarik merapat ke dalam pelukan Alif.


"Nanti bangun" Antyka berusaha menghindar dengan berbagai alasan. Barang barang mereka belum terkemas semua. Sedang jam di dinding sudah menunjukan pukul lima tiga puluh menit. Sepertinya bukan waktu yang tepat.


"Sebentar saja, aku akan cepat" Alif merajuk seraya mengecupi wajah Antyka. Tanpa menunggu lama Alif sudah membawa Antyka ke ruangan sebelah, agar lebih leluasa.


Alif masih belum melepaskan Antyka, meski pergulatan mereka sudah selesai. Pria itu justru semakin erat memerangkap tubuh sang istri dalam kukungannya.


"Pak Alif dengar, kan? itu suara Nugra" Antyka segera meraih bajunya yang berserak dan memakai nya dengan cepat. Ia tidak bisa tenang, Nugra tidak sama dengan Caya. Anak lelakinya jika sudah marah akan menangis dengan kencang. Ia tidak mau itu terjadi.


Antyka segera menghampiri putranya yang sudah hampir menangis.


"Nugra sayang, momy disini"


"Momy ana? Ugla au cama momy'' ( Nugra mau sama momy)


"Momy dari kamar mandi, sayang" Antyka meraih Nugra dan menenangkan putranya. Usapan dan tepukan di punggung membuat Nugra nyaman. Terselip rasa bersalah, pagi pagi begini sudah membohongi Nugra.


Alif dengan santai datang dan mengecup anak lelakinya yang tampan. Nugra pun menjulurkan tangan, ingin di gendong oleh Alif.


"Ini anak Dady yang pintar" Alif mengangkat tubuh putranya keatas kemudian memutar. Nugra terlihat sangat senang. Sepertinya mereka sedang bermain wahana saja.


"Aku mandi dulu" Antyka segera berlalu meninggalkan keduanya. Ia harus segera bergegas sebelum ada gangguan yang kembali datang.


***


"Momy cuma sebentar?" Caya sudah memeluk momy dengan erat. Gadis itu terlihat manja meski sudah memiliki seorang adik.


"Momy kangen Caya, Caya tidak mau ikut sih" Antyka pura pura merajuk.


"Caya habis pergi ke Singapura sama opa dan Oma" Caya memamerkan dres cantik yang di belikan Oma di sana. " ini buat Nugra, Caya yang pilihkan. Bagus kan?"


"Iya, Caya ketemu kak Audrey?" keduanya duduk diatas kasur milik Caya.


"Kita nginep di di tempat kak Audrey, Aunty Lira, uncle Mike, adek Kevin juga ada di sana"


"Mereka memang tinggal di sana sekarang" Antyka mengusap kepala putrinya.


Sejak kelahiran putra ketiga, Lira dan Mike tinggal di Singapura. Hal itu membuat opa Haris dan juga Oma sering bolak balik kesana. Namun alasan tepatnya, Mike sudah mulai kawatir dengan putrinya Audrey. Berbeda dengan Jefrey yang lebih suka tinggal di Jakarta menempati rumah lamanya sendirian. Mike menilai, Jefrey sudah sangat cukup umur untuk di beri kebebasan.


*


Antyka merebahkan tubuhnya yang lelah. Setelah kedua anaknya tertidur setengah jam yang lalu. Alif belum bisa pulang karena ada pasien yang harus segera di operasi.


Antyka terlelap begitu saja. Ia merasa terganggu saat seseorang menciumi lehernya dengan rakus.


"Pak Alif sudah pulang?"


"Akhirnya kamu bangun juga" Ucap Alif setengah mengeluh.


"Ini jam berapa?" tidak terasa sudah tengah malam.


"Jam satu malam. Aku tidak bisa tidur, Anty" Antyka mengerti kode kode yang Alif ucapkan. Antyka memeluk suami tercinta. Menemaninya mereguk malam yang indah penuh cinta.


Alif sudah terlelap setelah mendapatkan yang ia inginkan. Perlahan Antyka mengecup prianya. "I love you, pak Alif" Alif yang terlelappun membalas dengan mengencangkan pelukannya. Menarik tubuh Antyka masuk dalam dekapannya yang hangat.

__ADS_1


Tamat


terima kasih untuk semuanya yang sudah mau membaca novel alakadarnya. Maaf tidak bisa terlalu panjang .


Bonus sedikit ...extra part


Alif mengentikan mobilnya di sebuah restoran yang baru saja di resmikan. Restoran yang di operasikan oleh para pegawai Antyka. Seratus persen profit dari restoran ini untuk membiayai panti asuhan peninggalan prof Damar. Sedang garmen yang pernah di rintis Mama Ajeng sudah mulai beroperasi lagi. Disana Antyka berkiprah untuk mengasah kemampuannya dalam berbisnis.


"Sudah lama menunggu?" tanya Antyka saat masuk ke dalam mobil.


Alif hanya mengangguk, tapi tidak memprotes sama sekali. "Kita langsung ke tempat pertunangan Zeindra" ucap Alif.


" Akhirnya keponakanku laku juga" Antyka terkekeh .


"Zeindra sudah lama menyukai Marinka?" tanya Alif pada Antyka.


"Sejak kita belum menikah, sembilan tahun lalu"


" Semoga semuanya lancar" ucap Alif.


"Selamat ya Zeind, Marinka" Antyka memeluk Marinka saat mereka sudah berada di gedung acara. Luthfi dan Karin terlihat sangat bahagia.


"Rin, hati hati dengan Zeindra. dia suka sekali usil. tapi tenang saja. Dia tipe pria yang setia" Antyka menggoda Marinka dan zeind.


"Anty....' seorang gadis menghampiri Antyka


"Livia ? kamu cantik sekali " Antika memeluk Livia si gadis kalem yang sangat mirip dengan Karin. Livia hanya tersenyum canggung saat di puji cantik.


"Anty bisa saja. Caya sudah datang sejak tadi dengan Nugra, Anty kok telat?"


" Habis nunggu pak dokter praktek dulu, Liv. terus Anty juga dari restoran, ngecek laporan. Maaf ya, sedikit telat. Untung anak anak sama Omanya"


"Oh"


Disudut sana ada Jefrey yang sedang menatap gadis cantik yang terlihat sangat kalem. Penampilannya simpel tapi membuat Jefrey tidak bisa berpaling.


"Kamu lihat siapa ?" Alif menepuk pundak Jefrey yang sedang Asik menatap seseorang.


"Itu yang sedang bicara dengan Anty, siapa?" Jefrey menatap tajam pada Alif.


"Dia Livia adik Zeindra. Jangan bilang kamu naksir dia, Jef. Dia keponakan yang paling di sayang Anty. Kamu tidak bisa main main" Alif mulai curiga.


Jerfrey hanya mengangkat bahunya acuh. Tidak menggubris ucapan Alif. Bahkan dia berjalan mendekati Livia dan Antyka yang sedang asik mengobrol.


Alif menarik tangan Jefrey. " Sudah ku bilang jangan main main" sentak Aif lagi.


"Hati aku yang maksa, uncle. Aku hanya ingin berkenalan saja"


"Modelan kaya kamu pasti di tolak Livia. Dia gadis kalem yang penuh sopan santun. Dia tidak cocok denganmu yang keras dan semaunya sendiri" tegas Alif lagi.


"Benarkah, aku jadi semakin tertarik uncle" Jefrey tetap mengayunkan langkahnya mendekat ke arah Antyka dan Livia berada


"Anty..." panggil Jefrey sambil berjalan mendekat pada Antyka.


"Jefrey... kamu terlihat tampan sekali malam ini. Mana kak Mike dan mba Lira?"


" Di sana " tunjuk Jefrey pada ayah dan ibunya yang sedang mengobrol dengan Luthfi dan Karin. "Dia siapa Anty"


" Oh ya, kenalkan ini ponakan Anty yang paling cantik, Livia" Anty memperkenalkan keduanya.


"Hai Liv, aku Jefrey. keponakan uncle Alif"


" Aku Livia"


"Livia, Jefrey, Anty mau ketemu ayah kalian dulu ya." pamit Antyka pada keduanya.


"Iya Anty" Jefrey melambaikan tangannya. Kemudian berbalik pada Livia. Teryata gadis itu pun sudah menghilang di telan kerumunan orang orang yang datang


"Sialan, dia menghindari ku" gerutu Jefrey sambil terus mencari sosok yang ingin ia dekati.


Senyumnya sangat cantik, apalagi dari dekat seperti tadi. Jefrey masih mencari cari dengan perasaan penasaran dan kesal .


Livia duduk di sebuah bangku taman. Ia nampak sedang menenangkan diri. Gadis itu seperti ketakutan. Dia tau sejak tadi Jefrey selalu menatapnya dengan tajam. Terus terang saja bagi perempuan lugu dan rumahan seperti Livia di perlakukan seperti itu sangatlah menakutkan. Ia memutuskan keluar dari gedung acara saat pria itu melambai pada Antyka.


"Sedang apa kamu di sini ?" Suara itu menyapa Livia. Livia menoleh mendapati seorang pria dengan tuksedo hitam sudah duduk di sampingnya.


"Kamu....?"


" Mungkin kita memang berjodoh, Liv. Kemanapun kamu menghindar, aku akan menemukanmu"


"Aku tidak menghindar, aku ..., aku hanya mencari angin. Di dalam panas" ucap Livia terbata bata. Jefrey hanya terkekeh, saat ketakutan seperti itu, Livia terlihat sangat imut dan manis. Jefrey semakin ingin melindungi gadis ini.


"Kamu sangat menggemaskan, Liv"


"Kamu masuk saja jangan di sini" Usir livia


"Di sini sepi, Liv. Kamu berani sendiri? kata penjaga hotel, di sebelah sana suka ada yang lewat"


"Kamu jangan menakutiku" Livia setengah ingin menangis. Wajahnya memerah...


" Jangan takut aku akan menemanimu, meski di luar sini banyak sekali nyamuk"


" Aku mau masuk saja. Kamu lebih menakutkan dari yang penjaga hotel ceritakan"


" What...jadi aku lebih serem dari hantu?" ucap Jefrey kesal.


" Kamu sendiri yang bilang bukan aku" Livia segera berdiri dari bangku taman. Namun dengan cepat, Jefrey mencekal tangan Livia.


" Kamu orang pertama yang berani beraninya mengejekku"


" Lepas aku mau masuk" Livia mulai ketakutan melihat sikap Jefrey yang tiba tiba dingin. "Aku bukan mengejekmu, maaf" suara Livia tampak melemah.


"Kamu terlihat manis saat ketakutan seperti ini. Saya suka kamu, Liv. bagaimana kalau kamu jadi pacarku?"


"Gak mau... aku tidak mau jadi pacar kamu"ucap Livia tegas


" Kamu nolak aku, Liv? aku tidak suka di tolak. Kita lihat saja nanti. Ayo"


Jefrey tidak melepaskan cengkeramannya dari tadi. Setengah memaksa, Jefrey membawa kembali Livia ke dalam gedung.


"Sebentar lagi aku dan kamu yang berdiri di sana, Liv. Kita bertunangan" Jefrey tersenyum sinis dan menunjuk ke arah Zeind juga Marinka yang ada di sana sedang saling bertukar cincin Livia sudah hampir menangis dengan tingkah Jefrey yang keterlaluan.


"Lepas Jef" Akhirnya bulir bening itu menetes juga


"Kamu menangis?" tanya jefrey sedikit kawatir kemudian melepaskan cekalan tangannya. Begitu terlepas dari jefrey, Livia langsung pergi meninggalkan pria itu.


"Sudah ku bilang jauhi dia, Jef. Kamu sama menyebalkannya dengan ayahmu, Mike.


Lagi pula dia masih terlalu kecil untukmu" Alif edatang menegur Jefrey keponakannya.


"Dia benar benar menggemaskan, Uncle. Aku tidak bisa menahan diri. Aku pasti bisa membuat Livia jadi milikku"


"Lihat saja siapa yang kau hadapi. Ayah Livia sangat menyayangi putrinya. Dia tidak akan melepas Livia pada pria pemaksa seperti kamu, Jef. Bersiap siaplah untuk patah hati. Itu sangat menyakitkan" Alif menepuk nepuk bahu Jefrey yang terdiam dengan ucapannya. "Saranku, Jef. Cari gadis lain" Kali ini Alif meninggalkan Jefrey, ia menuju pada putranya, Nugra yang sedang digendong oleh opa Haris.


Jefrey hanya mengelus dada, menatap dari jauh wanita yang sudah membuat perhatiannya teralih. Mungkin saran dari uncle Alif perlu ia pertimbangkan. Apakah karma patah hati itu akan menimpa dirinya.


Saat sudah hendak berpaling dan menjauh. Jefrey kembali bertemu Livia di sini, tempat yang tidak pernah terbayang bisa bertemu.


Gadis dengan perangai dan wajah lembut. Yang sudah mempesonanya sedang berjalan dengan baju hitam putih menenteng berkas yang cukup banyak.


"Siang pak, saya..."


"Livia...kamu magang di sini?"


cukup ya.... yang mau ada lanjutan kisah Livia dan Jefrey komen dong....


ada beberapa novel author loh udah tamat juga. 1 tetanggaku duren( duda keren,) 2. story' of silahkan dibaca


note: author baru belajar bikin novel. tentu banyak sekali kekurangan terutama dipemakaian tanda baca.


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2